LOGINMendengar permintaan Dante, Sabiya meremas ponselnya di keheningan pagi.Di satu sisi, nuraninya berteriak cemas ingin melihat langsung kondisi pria yang hampir meregang nyawa demi dirinya. Namun, di sisi lain, ia sudah membangun dinding pembatas yang terlalu tinggi.Sabiya tidak ingin kehadirannya disalahartikan. Ia takut jika Roman siuman dan mendapati dirinya berdiri di sisi ranjang rumah sakit, pria itu akan berharap lebih.Suara Dante kembali terdengar. "Mungkin dengan kehadiran Anda, Tuan Roman bisa segera sadar dan mendapatkan kekuatan untuk bertahan."Sabiya menggigit bibir bawahnya, menahan pertentangan batin di dalam dirinya sendiri."Aku tidak janji akan datang," jawab Sabiya datar. "Seharusnya, Roman dibawa pulang ke Aldena, berkumpul bersama keluarga besar dan orang-orang terdekatnya supaya cepat sembuh. Bukan malah membawanya ke Denver dan mencampur-adukkan hidup kami lagi.""Tapi, Nyonya, saya hanya—"Klik.Sebelum Dante sempat merampungkan kalimat pembelaannya, Sabiya
Sabiya menarik napas dalam-dalam. Ia berusaha keras meredam gemetar di ujung jemarinya, sebelum ia kembali memasukkan ponsel ke dalam tas. Sabiya mengangkat wajah, menatap lurus ke arah Dominic Sterling dan Oliver yang masih menanti respons darinya.Oliver berdehem pelan, memecah keheningan singkat di meja makan. "Bu Rosella, Tuan Sterling masih menunggu jawaban Anda mengenai ajakan akhir pekan ."Sabiya mengerjap, meneguk ludah yang terasa kesat di tenggorokan sebelum membuka suara. "Maafkan saya, Tuan Dominic... saya belum bisa memenuhi undangan Anda untuk menonton konser.”"Sabiya merangkai kata dengan hati-hati, mencoba terdengar sesopan mungkin. "Saya dan kedua anak saya sudah memiliki rencana keluarga di akhir pekan."Mendengar penolakan itu, rasa kecewa yang kentara melintas di wajah tampan Dominic. Pria itu terdiam sejenak, menyandarkan punggungnya pada kursi."Pertunjukan orkestra itu hanya berdurasi dua jam, Nona Rosella. Tidak akan menghabiskan waktu terlalu lama dari h
Sisa jam kerja di kantor Elegance Jewelry terasa berputar lebih cepat.Ketika satu per satu staf mulai membereskan meja mereka dan meninggalkan ruangan, Sabiya masih duduk terpaku di balik meja kerja. Panggilan dari pengacara pribadi Jetro tadi sore terus menggema di kepalanya.Besok, sang pengacara akan datang ke Denver untuk mengurus perceraian. Itu artinya status istri yang disandangnya akan segera berakhir di atas kertas.Sabiya pun menyandarkan punggungnya pada kursi kerja. Ia menarik napas, mencoba menata kepingan-kepingan perasaan yang berkecamuk di dalam dada.Di lubuk hatinya yang paling dalam, ia tahu perpisahan ini adalah satu-satunya jalan yang terbaik. Meski terasa pahit, tetapi Jetro berhak mendapatkan wanita yang mencintainya dengan segenap jiwa raga.Jujur, Sabiya selalu menganggap Jetro sebagai panutan, sosok yang jauh lebih dewasa darinya. Pria itu juga merupakan tempatnya bersandar setelah sang ayah tiada.Namun, perasaannya pada Jetro lebih condong pada rasa hormat
Sabiya mendesis pelan, membiarkan air dingin dari keran wastafel membasahi telapak tangan dan jarinya.Belum sempat ia mematikan keran, Altair sudah berlari kecil mendekat dengan kotak P3K transparan di pelukannya. Di sampingnya, Ares mengekor sambil memegang botol obat pembersih luka."Tangan Mama kenapa? Biar kami obati," seru Altair cemas.Dengan jemari kecilnya yang cekatan, Altair mengambil salep luka bakar dari kotak. Sementara itu, Ares menuntun Sabiya untuk duduk di kursi makan. Bocah itu mulai meniup pelan telapak tangan ibunya yang memerah."Mama sih, melamun terus dari tadi," tegur Ares mengerucutkan bibir. "Mama memikirkan pekerjaan di kantor ya?"Altair ikut menatap ibunya dengan mata membulat. "Apa ada orang yang mengganggu Mama?”Sabiya tertegun mendengarkan rentetan pertanyaan dari kedua buah hatinya. Rasa perih di tangannya seketika kalah oleh rasa hangat yang meluap di dada. "Mama tidak apa-apa, Sayang. Cuma sedikit kurang konsentrasi saja," bisik Sabiya lembut. Ia
Udara di dalam ruang kerja Jetro terasa sesak, terkuras habis oleh ketegangan yang sedang terjadi.Jetro menyuruh Luca menyimpan kembali surat perceraian itu, sementara Roman masih berdiri tegak dengan sisa-sisa tenaganya. "Aku tidak ingin lantai ruang kerjaku kotor oleh darah," tegas Jetro memecah keheningan. "Bawa dia ke ruang eksekusi!”Luca mengangguk patuh. Ia melangkah maju, lalu mempersilakan Roman keluar dari ruangan. Mereka menuruni tangga besi berputar, menuju tingkat yang lebih dalam di markas besar klan Falcone. Sebuah ruangan isolasi khusus, yang dirancang untuk memberi hukuman pada para pengkhianat.Ruangan tersebut berdinding baja tebal dengan penerangan lampu gantung tunggal. Di tengah ruangan, terdapat meja panjang yang di atasnya terhampar sebuah kotak hitam. Kotak tersebut berisi empat bilah pistol semi-otomatis yang identik. Dari balik salah satu dinding ruangan, terpasang panel kaca dua arah—tempat di mana Jetro Falcone nantinya akan duduk di kursi pengamat. I
Jari-jari Sabiya terasa sedingin es saat ia memegang ponsel. Sementara Dante menatapnya dengan penuh harap.Tut... tut... tut...Nada sambung itu berbunyi lambat, seolah sengaja mempermainkan irama jantung Sabiya yang berdegup kencang. Tidak ada jawaban. Panggilan pertama itu berakhir dengan suara operator otomatis. "Tidak diangkat, Tuan Dante," bisik Sabiya."Coba lagi, Nyonya," pinta Dante dengan nada parau. "Tuan Roman mungkin sedang dalam bahaya.”Dengan telapak tangan yang berkeringat, Sabiya kembali menekan layar ponsel. Ia mengulang panggilan yang sama untuk kedua kalinya, sambil menahan napas.Di dalam hati, Sabiya berdoa agar Jetro bersedia mengangkat teleponnya di tengah ketegangan yang menyelimuti markas besar klan Falcone.Akhirnya, suara sambungan berubah. Nada tunggu terputus, digantikan oleh helaan napas berat dari seberang sana."Ada apa, Biya?" Suara bariton Jetro yang rendah menyapa indra pendengaran Sabiya.Tenggorokan Sabiya tiba-tiba terasa perih. Ia membuka bibi
Alih-alih memberi sanggahan, Roman justru meletakkan gelasnya di meja. Dengan tatapan lembut yang belum pernah Sabiya lihat sebelumnya, pria itu menoleh kepada Clara."Jangan dengarkan mereka, Clara." Suara Roman rendah dan menenangkan. "Aku punya hadiah untukmu malam ini. Aku tidak mau kau bersedi
Tangan besar Roman langsung bergerak melepas baju yang membungkus tubuh Sabiya hingga terlepas sepenu. Namun, Sabiya tetap memejamkan matanya rapat-rapat, membiarkan tubuhnya sekaku patung lilin.Jakun Roman naik-turun saat melihat istrinya yang kini hanya mengenakan bra hitam berenda. Pakaian dala
Kali ini, pria di seberang sana terdiam lebih lama. Sabiya bisa mendengar suara napas Jetro Falcone yang turun naik. Mungkin, pria itu sedang memijat pangkal hidungnya, seperti yang selalu ia lakukan saat menghadapi masalah rumit."Kenapa, Sabiya? Apa kau sudah sadar?"Mendengar pertanyaan yang me
Hampir satu jam berlalu, mobil yang dinaiki Sabiya memasuki kawasan pinggiran kota yang lebih lengang. Kendaraan beroda empat itu melintasi jalanan menanjak, menuju sebuah rumah yang berdiri kokoh di atas perbukitan pribadi.Kediaman yang ditempati Roman dan Sabiya sengaja dibangun di lokasi yang t







