Share

Hati yang Mati

Author: Risca Amelia
last update publish date: 2026-06-10 00:18:06

Roda mobil Roman perlahan menjauh, meninggalkan pertengkaran dan kesalahpahaman yang belum selesai. Namun, tak ada secuil pun keinginan di hati Sabiya untuk mencegahnya.

Ia tidak mau tahu ke mana Roman pergi terburu-buru, atau seberapa panik pria itu mengkhawatirkan goresan di tangan Clara. Yang ia pikirkan sekarang hanyalah bagaimana caranya membuat patung elang kembali utuh seperti semula.

Dengan keteguhan hati yang luar biasa, Sabiya meletakkan patung tersebut di ruang tamu. Ia bertekad akan
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (2)
goodnovel comment avatar
Inak Asna
ceritanya bagus
goodnovel comment avatar
rasha
lanjut kak....
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Setelah Aku Tiada, Tuan Mafia Memohon Cinta   Berani Menghadapinya

    Roman sudah menautkan ponselnya dengan akun perusahaan, sehingga ia bisa mengetahui setiap surel baru yang masuk.Begitu ia membukanya, terdapat sebuah lampiran video pendek berdurasi sepuluh detik.Roman menekan tombol putar dan di layar terlihat Diana yang tampak tertunduk lemas dengan tangan terikat.Seketika, darah Roman mendidih hingga ke ubun-ubun. Kepalan tangannya bergetar hebat.Tidak berhenti sampai di situ, di bawah video tersebut tertulis sebuah kalimat tantangan yang dingin:[Jika kau ingin ibumu dan sepupumu tetap bernyawa, hentikan seluruh pergerakan pasukanmu. Datanglah dan selamatkan mereka sendirian. Atau mungkin, kau ingin aku mengambil anggota keluargamu yang lain?Hubungi nomor ini sekarang juga: xxxx. Waktumu terbatas.]Melihat nomor telepon khusus yang sengaja dicantumkan di dalam email tersebut, Roman tidak membuang waktu sedetik pun. Ia meminta ponsel cadangan, lalu tanpa ragu menekan deretan angka tersebut dan menempelkannya ke telinga.Hanya butuh sepuluh de

  • Setelah Aku Tiada, Tuan Mafia Memohon Cinta   Tiba di Sarang Musuh

    Suasana di depan gerbang utama Bright School tampak begitu sibuk. Kendaraan jemputan sekolah berbaris rapi, sementara para orang tua dan pengasuh tampak lalu-lalang menjemput anak-anak.Di antara kerumunan tersebut, Bibi Elma sudah berdiri menanti kedatangan Ares dan Altair."Bibi Elma!" panggil Ares ceria sambil melambaikan tangan kecilnya. Altair menyusul di belakang dengan membawa ensiklopedia sains. Bibi Elma tersenyum hangat, membentangkan tangan untuk menyambut kedua bocah kembar itu. Namun, sebelum Ares dan Altair sempat mendekat, langkah mereka mendadak terhenti.Sebuah mobil dengan kaca gelap tiba-tiba menepi tepat di samping trotoar. Pintu mobil terbuka secara bersamaan, dan keluarlah Zavier bersama dua orang pengawal berpakaian hitam.Mereka adalah pengawal kepercayaan yang langsung ditugaskan oleh Roman untuk memperketat pengamanan si kembar.Zavier menghalangi jalur si kembar menuju mobil jemputan, lalu membungkuk hormat."Selamat siang, Tuan Muda Ares dan Tuan Muda Alta

  • Setelah Aku Tiada, Tuan Mafia Memohon Cinta   Mencari Kesempatan

    Suasana di halaman Bright School menjadi riuh rendah begitu bel istirahat berbunyi. Anak-anak bersorak gembira, berlarian ke sana ke mari untuk menikmati waktu bebas mereka sebelum jam pelajaran berikutnya dimulai.Di bawah rindangnya pohon besar, Ares duduk di atas bangku taman. Ia menikmati sekotak susu cokelat dan sepotong sandwich sambil bersenandung kecil. Tanpa ia sadari, ada sepasang mata yang terus mengawasi gerak-geriknya tanpa berkedip.Sejak tadi, Clara memperhatikan Ares untuk mencari kesempatan mendekatinya. Dan, sekarang-lah waktu yang paling tepat untuknya bergerak, tanpa harus terganggu oleh anak-anak lain.Dengan senyuman paling ramah yang bisa ia pasang di wajahnya, Clara berjalan melintasi lapangan rumput. Ia menghampiri bangku taman tempat Ares duduk."Halo, Ares." Melihat guru musik baru berdiri di sampingnya, bocah itu sontak bangkit berdiri. "Miss Clara! Halo!" sapa Ares riang.Clara pun menepuk ruang kosong di sebelahnya agar Ares duduk kembali. Ia memasang ek

  • Setelah Aku Tiada, Tuan Mafia Memohon Cinta   Permohonan untuk Roman

    Tepat pada detik yang sama, lonceng kecil di atas pintu masuk restoran berdenting nyaring, menandakan ada seseorang yang baru saja melangkah masuk.Sabiya tersentak kaget. Refleks, tubuhnya menegang dan matanya membelalak lebar menatap ke arah pintu masuk. Namun, alih-alih sosok asing berwajah menyeramkan yang muncul, figur yang tertangkap oleh pandangannya adalah sosok yang familiar.Pria tinggi berpostur tegap dengan setelan jas hitam melangkah menghampiri mejanya. Itu adalah Dante, asisten pribadi sekaligus tangan kanan kepercayaan Roman.Melihat kedatangan Dante, Sabiya terkejut sekaligus lega. Dengan cepat, ia mengisyaratkan agar Dante mendekat dan duduk di kursi kosong yang berhadapan dengannya.Sabiya menatap asisten setia itu dengan sejuta tanda tanya besar. "Dante, kenapa kau ada di sini? Bukankah seharusnya kau menemani Roman terbang ke Lisea?"Dante membungkuk hormat kepada Sabiya, sebelum menarik kursi."Selamat siang, Nyonya. Tuan Roman sendiri yang memerintahkan saya un

  • Setelah Aku Tiada, Tuan Mafia Memohon Cinta   Merasa Diawasi

    Sebelum Ares sempat membuka mulut untuk menjawab pertanyaan Clara, suasana di atas karpet beludru mendadak riuh rendah.Anak-anak lain yang sudah lama mengantre dan merasa bosan mulai berteriak protes. Mereka berebut ingin mendapat giliran bermain piano bersama guru baru mereka."Miss Clara! Giliran aku!" seru seorang anak laki-laki dari barisan depan, melompat-lompat kecil tidak sabar.Bahkan, seorang anak perempuan berambut kepang bernama Isabelle maju tanpa ragu. Ia menarik lengan baju Ares agar mundur dari bangku piano."Ares, minggir! Giliranku sekarang! Kau sudah terlalu lama di sana!"Ares yang tidak ingin berkelahi dengan teman sekelasnya hanya mengerjap. Ia kemudian tersenyum ramah tanpa beban.“Oke, Isabelle. Aku akan turun dari kursi," kata Ares santai.Bocah lelaki itu menoleh ke arah Clara sambil melambaikan tangan kecilnya. "Miss Clara, nanti lagi kita bicara, ya. Isabelle ingin bermain piano juga."Setelah berkata demikian, Ares berbalik dan mundur dengan tertib. Ia kem

  • Setelah Aku Tiada, Tuan Mafia Memohon Cinta   Siasat Penuh Muslihat

    Selesai memanggil semua anak yang namanya tertera di lembar presensi, Clara berdiri di depan papan tulis putih.Sembari menatap anak-anak didiknya dengan senyuman ramah, Clara memegang sebuah spidol hitam. Tangannya menuliskan deretan notasi angka yang sederhana."Baiklah, anak-anak, perhatikan ke depan," suara Clara mengalun merdu, mengisi setiap sudut ruangan."Sebelum kita mulai bernyanyi, kita harus mengenal dasar notasi. Coba tirukan Miss Clara… Do-Re-Mi-Fa-Sol."Anak-anak berusia lima tahun itu serempak menirukan suara Clara dengan penuh antusias. Suara-suara kecil bernada tinggi bergemerincing memenuhi ruangan.Clara mengangguk-angguk puas. Ia membiarkan suasananya tampak menyenangkan di permukaan, sementara pikirannya terus berputar mencari cara untuk segera mendekati Ares.Setelah beberapa menit menjelaskan dasar-dasar teori lagu, Clara menutup buku catatannya dengan anggun."Nah, teori saja tidak cukup. Sekarang, mari kita pindah ke ruang musik. Di sana ada piano besar yang

  • Setelah Aku Tiada, Tuan Mafia Memohon Cinta   Berlari untuk Wanita Lain

    Tangan besar Roman langsung bergerak melepas baju yang membungkus tubuh Sabiya hingga terlepas sepenu. Namun, Sabiya tetap memejamkan matanya rapat-rapat, membiarkan tubuhnya sekaku patung lilin.Jakun Roman naik-turun saat melihat istrinya yang kini hanya mengenakan bra hitam berenda. Pakaian dala

  • Setelah Aku Tiada, Tuan Mafia Memohon Cinta   Menginginkan Tubuhmu

    Kali ini, pria di seberang sana terdiam lebih lama. Sabiya bisa mendengar suara napas Jetro Falcone yang turun naik. Mungkin, pria itu sedang memijat pangkal hidungnya, seperti yang selalu ia lakukan saat menghadapi masalah rumit."Kenapa, Sabiya? Apa kau sudah sadar?"Mendengar pertanyaan yang me

  • Setelah Aku Tiada, Tuan Mafia Memohon Cinta   Bantu Aku, Paman

    Hampir satu jam berlalu, mobil yang dinaiki Sabiya memasuki kawasan pinggiran kota yang lebih lengang. Kendaraan beroda empat itu melintasi jalanan menanjak, menuju sebuah rumah yang berdiri kokoh di atas perbukitan pribadi.Kediaman yang ditempati Roman dan Sabiya sengaja dibangun di lokasi yang t

  • Setelah Aku Tiada, Tuan Mafia Memohon Cinta   Menghilang dari Hidupmu

    Alih-alih memberi sanggahan, Roman justru meletakkan gelasnya di meja. Dengan tatapan lembut yang belum pernah Sabiya lihat sebelumnya, pria itu menoleh kepada Clara."Jangan dengarkan mereka, Clara." Suara Roman rendah dan menenangkan. "Aku punya hadiah untukmu malam ini. Aku tidak mau kau bersedi

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status