LOGINDi dalam kamar hotel, Dominic Sterling sedang menghadap layar laptop yang menyala terang. Jemarinya bergerak lincah di atas papan ketik, merangkum strategi bisnis sekaligus memantau pergerakan kekuasaan di klan besar yang sedang ia incar.Di sisi meja kerja, Julian berdiri tegak dengan postur siaga, menunggu instruksi lanjutan. Tak lama kemudian, keheningan di kamar itu dipecahkan oleh suara dering gawai milik Julian.Pria itu segera menggeser layar, dan mendengarkan laporan dari seberang sana dengan saksama. Bibirnya menyunggingkan senyuman tipis penuh kemenangan.Ketika sambungan telah terputus, ia menoleh ke arah Dominic."Tuan, tugas sudah selesai dijalankan," lapor Julian tegas. "Apa instruksi selanjutnya?"Dominic menghentikan ketikannya. Ia menyandarkan punggung pada kursi, sementara sepasang matanya menatap tajam ke luar jendela."Bawa langsung perempuan tua itu ke bandara, sebelum anak buah Roman sempat melacak keberadaannya," perintah Dominic dengan nada dingin."Regina haru
Sabiya berjalan mendekati area dapur dengan kantong makanan yang masih menggantung di tangannya. Ia menatap sosok yang kini tengah sibuk di meja dapur.Roman Valeriano, pria yang selama ini angkuh, diktator, yang terbiasa hidup dilayani puluhan pelayan, kini berdiri di dalam dapur apartemennya. Dengan satu kruk logam yang menopang tubuh, pria itu tampak sibuk mengaduk isi panci di atas kompor.Di sampingnya, Bibi Elma dan Thomas berdiri siaga. Mereka memperhatikan gerakan Roman sambil memberikan beberapa petunjuk."Roman, apa yang sedang kau lakukan?" tanya Sabiya sambil berjalan dengan langkah gusar. Roman menoleh perlahan ke arah Sabiya. Wajahnya tampak serius, bercampur peluh tipis di pelipisnya akibat menahan beban tubuh.Dengan senyuman tipis yang dipaksakan, ia menjawab, "Aku sedang membuat sup krim ayam jamur untuk makan malam."Sabiya segera meletakkan kantong makanan yang ia bawa, sambil menghela napas dengan frustrasi."Kau tidak pernah memasak seumur hidupmu, Roman! Dan ta
"Baiklah, Jagoan. Sampai jumpa akhir pekan nanti. Jaga diri kalian baik-baik," tutur Jetro sebelum akhirnya mengakhiri panggilan.Layar tablet Altair kembali padam, menyisakan keheningan yang tak biasa di dalam ruang tengah apartemen Sabiya."Altair... barusan siapa yang meneleponmu?" tanya Roman tiba-tiba. Meskipun ia sudah mendengar sebagian percakapan, Roman masih berharap pendengarannya salah.Altair mendongak, menatap Roman dengan ekspresi serius. "Papa Jetro. Dia akan datang hari Sabtu.”Mendengar konfirmasi telak itu, dada Roman terasa seperti ditusuk ribuan jarum. Jetro akan datang.Pria itu akan melangkah masuk ke wilayah pribadi Sabiya, dan menghabiskan akhir pekan bersama anak-anaknya. Sementara dirinya sendiri hanya bisa duduk di atas kursi roda dengan tubuh yang belum sempurna.Roman terpejam sejenak, berusaha mencari cara untuk mengatasi keadaan ini.Bagaimanapun, ia tidak boleh kalah dari Jetro Falcone. Ia harus bisa mengambil hati anak-anaknya sebelum pria lain meramp
Roman mengerjap dengan kening yang mengernyit dalam. "Rahasia apa maksudmu, Altair?"Altair melangkah lebih dekat lagi ke sisi ranjang sambil menegakkan dagunya. Bocah itu menatap Roman tanpa berkedip. "Bukankah Paman yang selama ini menyewa para peretas untuk menembus data karyawan?" tukas Altair. Nada bicaranya terdengar seperti seorang detektif cilik."Dan, Paman tahu siapa yang menghalangi mereka?" Altair menunjuk dadanya sendiri dengan bangga. "Aku-lah yang melacak balik IP address mereka dan memblokir semua serangan ke Elegance Jewelry!" Jantung Roman serasa berhenti berdetak.Pantas saja, peretas bayaran paling handal yang ia sewa sekali pun, selalu gagal menembus sistem keamanan Elegance Jewelry. Ternyata, itu adalah ulah dari anak kandungnya sendiri, yang masih berusia lima tahun.Sebelum Roman sempat memulihkan diri dari rasa syoknya, Altair mencondongkan tubuh ke depan. Ia melontarkan pertanyaan pamungkas yang membuat Roman benar-benar tak berkutik."Kenapa Paman melakuk
Sabiya tercengang, merasakan kehangatan napas Roman yang masih menggelitik permukaan kulit lehernya. Ia bisa mencium aroma maskulin khas pria itu, begitu pula dengan denyut jantung Roman yang terasa kencang.Sebelum dirinya terbawa oleh suasana, Sabiya mengerjap. Ia menarik napas dalam-dalam, lalu menolak tubuh Roman secara perlahan dengan kedua tangan."Lepaskan, Roman," pinta Sabiya, berusaha keras menegakkan kembali wibawanya. "Jangan mencoba menarik simpatiku dengan menggunakan kelemahan fisikmu seperti ini."Roman mendongak perlahan. Sorot matanya memancarkan kesungguhan yang teramat dalam. "Aku tidak sedang bersandiwara atau mencari simpati, Sabiya. Jika aku sampai melanggar syarat yang kau berikan untuk kedua kalinya, aku berjanji akan pergi meninggalkan apartemen ini secara sukarela.”Mendengar ucapan Roman, hati Sabiya terbelah antara rasa benci karena masa lalu dan kelemahan melihat kondisi pria di hadapannya.Beberapa detik berlalu dalam keheningan, sampai akhirnya Sabiya m
Mendengar pengakuan Bibi Elma di ujung telepon, Sabiya tersentak kaget. Rasa terkejut itu langsung disusul oleh gelombang amarah yang mendidih di dalam dada.Ternyata, baru di hari pertama, Roman sudah berani melanggar syarat yang ia berikan. Pria itu dengan sengaja melangkahi batas, mengajak Altair dan Ares tanpa sepengetahuannya.Seketika itu pula, seberkas rasa khawatir melanda benak Sabiya. Jantungnya berdegup tak karuan, dipicu oleh ketakutan terdalam seorang ibu.Ia khawatir Roman akan membawa si kembar pergi jauh. Sebagai seorang penguasa dunia bawah, bukan hal yang sulit bagi Roman untuk melarikan anak-anaknya ke tempat yang tidak terlacak.Rasa panik membuat suara Sabiya bergetar saat ia kembali berbicara di ponsel."Bibi Elma... di restoran mana anak-anak berada sekarang?"Di ujung sambungan, Bibi Elma menyebutkan nama restoran pizza tempat mereka singgah.Tanpa pikir panjang, Sabiya langsung memberikan instruksi tegas. "Dengarkan aku, Bibi. Tunggu aku di depan pintu masuk r
Alih-alih memberi sanggahan, Roman justru meletakkan gelasnya di meja. Dengan tatapan lembut yang belum pernah Sabiya lihat sebelumnya, pria itu menoleh kepada Clara."Jangan dengarkan mereka, Clara." Suara Roman rendah dan menenangkan. "Aku punya hadiah untukmu malam ini. Aku tidak mau kau bersedi
Tiga tahun menikah dengan Roman Alister, pewaris tunggal keluarga Valeriano, Sabiya tidak pernah diajak ke acara publik.Meski begitu, ia tidak pernah merajuk atau menuntut. Sabiya percaya sang suami melakukan itu sebagai bentuk cintanya yang luar biasa."Klan musuh selalu mencari kelemahanku, Saya
Di lantai bawah, Sabiya membawa kardus tersebut menuju ruang makan utama. Ia meletakkan benda itu tepat di dekat ujung meja makan panjang.Bunyi debuman kardus yang mendarat di lantai seketika menarik perhatian Martha dan Mia. Kedua pelayan itu menatap Sabiya dengan ekspresi heran yang bercampur de
Ponsel di tangan Sabiya kembali bergetar, menampilkan rentetan foto berikutnya yang dikirimkan oleh Clara. Kali ini adalah foto meja makan yang dipenuhi oleh berbagai macam hidangan. Ada omelet truffle, buah-buahan segar, pancake madu, sosis premium, serta segelas susu.[Semua makanan ini dipesan







