Mag-log inSelama dua jam berikutnya, area Thunder Zone menjadi saksi semangat Altair dan Ares yang tak ada habisnya. Mereka berjalan ke sana kemari sambil menjajal berbagai permainan yang memacu adrenalin.Barulah pada pukul empat sore, Ares dan Altair berlari kecil menghampiri Sabiya. Wajah kedua anak itu tampak berkeringat, tetapi binar kebahagiaan terpancar jelas di mata mereka.Tanpa kata, Sabiya merentangkan kedua tangannya. Ia memeluk erat tubuh mungil si kembar secara bersamaan, menghirup aroma khas anak-anak yang bercampur keringat ringan.Bagi Sabiya, dekapan hangat ini adalah sumber kekuatan yang ia miliki di tengah kerumitan hidup."Sayang, kalian sudah puas bermain?" tanya Sabiya sembari menggandeng si kembar meninggalkan area permainan. "Sudah, Ma! Seru sekali!" seru Ares girang."Kalau begitu kita beli makanan dulu, lalu pulang ke apartemen. Paman Dominic akan menjemput kita untuk menonton konser malam ini," pungkas Sabiya. Altair dan Ares mengangguk patuh bersamaan.Tak bersela
Layar laptop menyala, menampilkan rekaman video berkualitas tinggi dari sudut pandang kamera tersembunyi di dalam ruang eksekusi.Sabiya langsung mengenali tokoh yang ada dalam rekaman. Jantungnya berdegup kencang dan napasnya tertahan seketika.Di dalam video bisu tersebut, tampak adegan tegang antara Jetro dan Roman yang tak kenal takut.Roman berdiri dengan tubuh babak belur, pakaian robek, dan jejak darah kering di sekujur wajahnya. Sementara Jetro berdiri tegak dengan ekspresi dingin.Sabiya terus menonton dengan debaran jantung yang semakin menggila.Adegan dalam video beralih memperlihatkan meja panjang di tengah ruangan, dengan kotak mahoni yang berisi empat pistol identik.Dengan suara dialog yang terdengar samar, visual di layar memperlihatkan bagaimana Jetro menyodorkan tantangan maut. Pria itu memperlihatkan sebuah lembaran dokumen, sampai akhirnya Roman melangkah maju tanpa keraguan.Detik selanjutnya, Sabiya menutup mulutnya dengan kedua tangan saat melihat Roman mengang
Sabiya menutup sambungan telepon dengan tangan yang terasa dingin. Kemudian, ia berjalan menghampiri Dante.“Aku harus pergi sekarang," pamit Sabiya.“Baik, Nyonya. Kapan Anda akan datang lagi?”“Belum tahu. Kabari saja kalau Roman sudah sadar.”Usai berpamitan, Sabiya melintasi koridor lantai lima rumah sakit dan menekan tombol lift dengan cepat.Pikirannya bercabang. Di satu sisi, bayangan Roman yang terbaring tak berdaya masih menghantui batinnya. Namun di sisi lain, ketegangan baru sedang menanti di apartemen.Begitu pintu lift terbuka di lobi rumah sakit, Sabiya langsung menjemput Ares dan Altair yang masih menunggu di sofa."Ares, Altair, kita pulang sekarang!" panggil Sabiya.Si kembar yang sedang bermain ponsel langsung berdiri dan menghampiri ibu mereka."Cepat sekali, Ma!" protes Ares sambil mengerucutkan bibir. "Apa Mama sudah mengambil foto Paman Roman?” imbuh Altair.Sabiya membungkuk sejenak, merapikan kerah baju Altair dan Ares.“Maafkan Mama, Sayang... Mama tidak semp
Di ujung lorong, Dante berdiri mondar-mandir dengan wajah kuyu. Begitu melihat langkah Sabiya di koridor lantai lima, ia langsung memandu wanita itu ke ruang rawat VIP.Pintu tebal ruang rawat tertutup rapat di belakangnya, menyisakan keheningan yang hanya diisi oleh bunyi mesin pemantau medis. Sabiya terpaku di tempatnya berdiri. Manik matanya menatap nanar ke arah brankar.Pemandangan yang terbentang di hadapannya meremukkan hati Sabiya.Terakhir kali ia makan malam dengan Roman di hotel, pria itu masih terlihat gagah dalam balutan jas mahalnya. Namun kini, sosok itu hancur berkeping-keping.Kulit Roman tampak pucat pasi dan selang oksigen menutupi hidungnya. Selain itu, ada bekas lebam dan luka gores di beberapa bagian tubuhnya. Akan tetapi, yang lebih menyedihkan adalah lengan kiri dan kaki kanan Roman yang digips penuh. Sudah pasti pria itu mengalami patah tulang yang cukup parah. Melihat kondisi sang mantan suami, perasaan Sabiya berkecamuk. Saat bangun nanti, Roman akan kesu
Perjalanan dari apartemen menuju St. Jude Memorial Hospital diliputi oleh keheningan.Di kursi belakang mobil, Ares dan Altair sesekali melongok keluar jendela, mengamati gedung-gedung tinggi kota Denver yang diterpa cahaya matahari pagi. Tidak ada percakapan berarti.Sabiya sibuk bergulat dengan pikirannya sendiri, sementara si kembar menyimpan rasa penasaran yang besar mengenai "Paman Roman" yang hendak mereka kunjungi.Ketika mobil Sabiya memasuki area parkir rumah sakit elite tersebut, ketegangan di dada Sabiya semakin menjadi. Ia menarik napas dalam-dalam, menata ekspresi wajahnya agar tampak tenang di hadapan anak-anaknya."Ayo, turun," ujar Sabiya lembut sambil membuka pintu mobil.Sabiya memegang tangan Ares dan Altair, lalu berjalan beriringan memasuki pintu utama rumah sakit. Baru saja mereka melangkahkan kaki ke area lobi, dua pria berbadan tegap langsung menoleh cepat.Begitu mengenali sosok wanita yang mendekat, kedua pengawal setia klan Valeriano itu berjalan menghampir
Mendengar permintaan Dante, Sabiya meremas ponselnya di keheningan pagi.Di satu sisi, nuraninya berteriak cemas ingin melihat langsung kondisi pria yang hampir meregang nyawa demi dirinya. Namun, di sisi lain, ia sudah membangun dinding pembatas yang terlalu tinggi.Sabiya tidak ingin kehadirannya disalahartikan. Ia takut jika Roman siuman dan mendapati dirinya berdiri di sisi ranjang rumah sakit, pria itu akan berharap lebih.Suara Dante kembali terdengar. "Mungkin dengan kehadiran Anda, Tuan Roman bisa segera sadar dan mendapatkan kekuatan untuk bertahan."Sabiya menggigit bibir bawahnya, menahan pertentangan batin di dalam dirinya sendiri."Aku tidak janji akan datang," jawab Sabiya datar. "Seharusnya, Roman dibawa pulang ke Aldena, berkumpul bersama keluarga besar dan orang-orang terdekatnya supaya cepat sembuh. Bukan malah membawanya ke Denver dan mencampur-adukkan hidup kami lagi.""Tapi, Nyonya, saya hanya—"Klik.Sebelum Dante sempat merampungkan kalimat pembelaannya, Sabiya
Di lantai bawah, Sabiya membawa kardus tersebut menuju ruang makan utama. Ia meletakkan benda itu tepat di dekat ujung meja makan panjang.Bunyi debuman kardus yang mendarat di lantai seketika menarik perhatian Martha dan Mia. Kedua pelayan itu menatap Sabiya dengan ekspresi heran yang bercampur de
Hampir satu jam berlalu, mobil yang dinaiki Sabiya memasuki kawasan pinggiran kota yang lebih lengang. Kendaraan beroda empat itu melintasi jalanan menanjak, menuju sebuah rumah yang berdiri kokoh di atas perbukitan pribadi.Kediaman yang ditempati Roman dan Sabiya sengaja dibangun di lokasi yang t
Alih-alih memberi sanggahan, Roman justru meletakkan gelasnya di meja. Dengan tatapan lembut yang belum pernah Sabiya lihat sebelumnya, pria itu menoleh kepada Clara."Jangan dengarkan mereka, Clara." Suara Roman rendah dan menenangkan. "Aku punya hadiah untukmu malam ini. Aku tidak mau kau bersedi
Tiga tahun menikah dengan Roman Alister, pewaris tunggal keluarga Valeriano, Sabiya tidak pernah diajak ke acara publik.Meski begitu, ia tidak pernah merajuk atau menuntut. Sabiya percaya sang suami melakukan itu sebagai bentuk cintanya yang luar biasa."Klan musuh selalu mencari kelemahanku, Saya







