Share

Terluka Lagi

Penulis: Risca Amelia
last update Tanggal publikasi: 2026-10-01 17:35:22

Roman mempercepat langkahnya dengan pincang, menerobos kerumunan anak-anak yang memenuhi area Play Zone. Matanya terkunci tajam pada sesosok gadis remaja yang memakai topi baseball merah.

Sedari tadi gadis itu memperhatikan wahana simulasi balap mobil. Dan sekarang, ia berjalan pelan menuju kursi paling ujung, tempat Ares sedang asyik memegang setir mainan simulator mobil.

Dari kejauhan, Roman melihat tangan gadis remaja itu merogoh saku mantelnya. Sontak, instingnya sebagai seorang pimpinan ma
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Setelah Aku Tiada, Tuan Mafia Memohon Cinta   Pertemuan Penuh Ketegangan

    Tak terasa, akhir pekan yang dinanti-nanti akhirnya tiba.Hari ini adalah hari digelarnya resepsi pernikahan Enzo, sebuah acara akbar yang mempertemukan para elit sosial dan relasi bisnis dari Elegance Jewelry.Pagi yang cerah di apartemen Sabiya mendadak berubah sibuk ketika ponsel wanita itu berdering.Di ujung sambungan, Oliver meminta Sabiya untuk datang ke kantor pusat. Ada beberapa hal yang harus dikoordinasikan, terkait dengan penyambutan tamu penting dan relasi bisnis di acara resepsi.Mendengar permintaan itu, Sabiya bergegas merapikan diri. Sebelum berangkat, ia menghampiri si kembar di ruang tengah, berpamitan sambil berpesan agar mereka tidak nakal selama dirinya pergi."Mama harus ke kantor sebentar. Jangan ke mana-mana, tunggu Mama pulang," pesan Sabiya lembut.Roman, yang baru saja keluar dari kamarnya dengan bantuan kruk, tersenyum menenangkan."Tenanglah, Sabiya, ada aku di sini yang akan menjaga anak-anak."Sabiya menatap Roman sesaat, lalu bergegas melangkah keluar

  • Setelah Aku Tiada, Tuan Mafia Memohon Cinta   Tes Kesetiaan

    Setelah berbicara dengan Roman, Sabiya kemudian berbalik menuju kamar si kembar. Ia membantu mereka mandi, berganti pakaian, lalu memeluk kedua putranya satu per satu."Anak-anak, kalian tidak perlu takut lagi, ya. Penjahatnya sudah ditangkap polisi. Tidurlah yang nyenyak," bujuk Sabiya lembut.Ares dan Altair mengangguk patuh, merasa aman dalam lindungan sang ibu.Usai dibacakan dongeng, mereka pun perlahan memejamkan mata. Tak lagi mencemaskan peristiwa menakutkan yang terjadi di Play Zone.Ketika Sabiya berjalan keluar dari kamar si kembar, ia mendapati Roman telah duduk manis di atas kursi roda. Pria itu menanti di depan pintu kamarnya."Ini akan menjadi kamarku, kan?" tanya Roman dengan nada setengah menggoda. "Aku ingin beristirahat sekarang, kakiku sudah kaku."Tanpa menanggapi rengekan Roman, Sabiya mendorong kursi roda pria itu ke dalam kamar tidurnya sendiri.Begitu ia memasuki kamar, Roman langsung mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan.Semula, ia mengira bahwa di kam

  • Setelah Aku Tiada, Tuan Mafia Memohon Cinta   Terluka Lagi

    Roman mempercepat langkahnya dengan pincang, menerobos kerumunan anak-anak yang memenuhi area Play Zone. Matanya terkunci tajam pada sesosok gadis remaja yang memakai topi baseball merah.Sedari tadi gadis itu memperhatikan wahana simulasi balap mobil. Dan sekarang, ia berjalan pelan menuju kursi paling ujung, tempat Ares sedang asyik memegang setir mainan simulator mobil.Dari kejauhan, Roman melihat tangan gadis remaja itu merogoh saku mantelnya. Sontak, instingnya sebagai seorang pimpinan mafia bangkit."Ares! Awas!"Suara bariton Roman menggelegar menembus bisingnya ruangan.Meski pergerakannya terbatas akibat bergantung pada kruk, Roman tidak menyerah. Dalam sepersekian detik, ia menerjang maju.Dengan tumpuan satu kaki yang kuat dan lemparan tubuh yang terukur, Roman menepis tangan gadis remaja itu.Prang!Aksi sigap tersebut berhasil mengubah arah tusukan pisau. Namun, bilah tajam yang berkelebat tetap menyayat jemari tangan kanan Roman hingga berdarahAres, yang baru saja dike

  • Setelah Aku Tiada, Tuan Mafia Memohon Cinta   Sehari Bersama Keluarga

    Mendengar pertanyaan Altair yang kelewat kritis itu, Sabiya menghela napas sejenak. Ia tahu betul, dalam menghadapi putranya yang berotak jenius itu, ia harus bisa memberikan penjelasan yang paling masuk akal."Sayang... yang akan pindah ke rumah ini adalah Paman Roman, bukan Mama. Jadi, Mama tetap tidur di kamar apartemen kita."Ares, yang sejak tadi bosan mendengarkan tanya jawab serius itu, langsung berinisiatif menaiki anak tangga."Ares, pelan-pelan! Jangan berlari di tangga, nanti jatuh!" seru Sabiya berusaha menyusul, sebelah tangannya menggandeng erat jemari Altair.Mendengar peringatan ibunya, Ares berhenti sejenak di tangga. “Aku sudah biasa naik turun tangga di sekolah, Ma. Tidak akan jatuh!"Begitu Ares menginjakkan kakinya di lantai atas, Roman segera menyambutnya. Pria itu mencondongkan tubuhnya dengan tumpuan kruk, lalu mengusap puncak kepala Ares."Bagaimana sekolahmu hari ini, Ares?" sapa Roman ramah.Ares terbelalak senang bukan kepalang. Mata bulatnya mengerjap tak

  • Setelah Aku Tiada, Tuan Mafia Memohon Cinta   Kamar Tidur Mama

    Sabiya menoleh sekilas ke arah Altair. Putranya itu masih menunjukkan raut wajah penasaran bercampur tidak nyaman. Ia lantas tersenyum lembut, mencoba mencairkan suasana."Mungkin 'Tante' itu hanya merasa kagum melihatmu yang sangat rajin membaca, Sayang," ucap Sabiya dengan nada bijak. “Atau, dia ingin berkenalan dengan anak cerdas sepertimu." Altair menggeleng, bibirnya mengerucut tipis. "Tapi caranya melihat aku sangat aneh, Mama. Tatapannya tajam dan tidak biasa. Aku kurang suka."Mendengar kejujuran dari putranya, Sabiya mengulurkan tangan kanannya. Ia mengelus puncak kepala Altair dengan penuh kasih sayang. "Iya, Mama mengerti. Lain kali, kalau ada orang asing yang melihatmu seperti itu, tidak usah diambil pusing. Cukup senyum saja atau sapa dengan sopan,” tutur Sabiya.“Nah, sekarang... Mama mau mengajak kalian ke sebuah tempat yang sangat bagus. Kalian mau ikut?"Di kursi belakang, Ares yang tadinya asyik mengetuk-ngetuk layar ponselnya langsung mendongak. Mata bulat bocah i

  • Setelah Aku Tiada, Tuan Mafia Memohon Cinta   Siapa Dia?

    Untuk sesaat, bocah lelaki itu mendongak. Manik mata abu-abunya yang dingin dan tajam beradu pandang langsung dengan Clara.Waktu di sekitar mereka mendadak terasa berhenti. Saraf-saraf di sekujur tubuh Clara seketika menegang, mengirimkan sengatan dingin ke ujung jemarinya. Tatapan ini terlalu identik dengan sosok pria yang paling ia kenali.Refleks, Clara hendak melangkah mendekat untuk memastikan, tetapi sebuah suara ramah memecah lamunannya."Permisi, Nona? Anda mencari seseorang?" Seorang guru wanita menyapa Clara dengan senyuman penuh tanya.Clara tersentak kaget. Ia menarik napas dalam-dalam, lalu mengalihkan pandangannya dari si bocah."S-saya akan ke gedung administrasi untuk melamar pekerjaan sebagai guru piano.""Oh, mari saya antar. Gedung administrasi ada di sebelah sana," ujar guru itu menawarkan bantuan.Clara mengangguk lantas mengekor langkah guru tersebut hingga tiba di depan gedung administrasi.Setelah mengucapkan terima kasih, Clara mendekati meja resepsionis dan

  • Setelah Aku Tiada, Tuan Mafia Memohon Cinta   Acuh Tak Acuh

    Di lantai bawah, Sabiya membawa kardus tersebut menuju ruang makan utama. Ia meletakkan benda itu tepat di dekat ujung meja makan panjang.Bunyi debuman kardus yang mendarat di lantai seketika menarik perhatian Martha dan Mia. Kedua pelayan itu menatap Sabiya dengan ekspresi heran yang bercampur de

  • Setelah Aku Tiada, Tuan Mafia Memohon Cinta   Menghapus Jejakmu

    Ponsel di tangan Sabiya kembali bergetar, menampilkan rentetan foto berikutnya yang dikirimkan oleh Clara. Kali ini adalah foto meja makan yang dipenuhi oleh berbagai macam hidangan. Ada omelet truffle, buah-buahan segar, pancake madu, sosis premium, serta segelas susu.[Semua makanan ini dipesan

  • Setelah Aku Tiada, Tuan Mafia Memohon Cinta   Berlari untuk Wanita Lain

    Tangan besar Roman langsung bergerak melepas baju yang membungkus tubuh Sabiya hingga terlepas sepenu. Namun, Sabiya tetap memejamkan matanya rapat-rapat, membiarkan tubuhnya sekaku patung lilin.Jakun Roman naik-turun saat melihat istrinya yang kini hanya mengenakan bra hitam berenda. Pakaian dala

  • Setelah Aku Tiada, Tuan Mafia Memohon Cinta   Menginginkan Tubuhmu

    Kali ini, pria di seberang sana terdiam lebih lama. Sabiya bisa mendengar suara napas Jetro Falcone yang turun naik. Mungkin, pria itu sedang memijat pangkal hidungnya, seperti yang selalu ia lakukan saat menghadapi masalah rumit."Kenapa, Sabiya? Apa kau sudah sadar?"Mendengar pertanyaan yang me

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status