Share

Bab 2

Author: Aldo Kapak
"Nggak check-in kamar?"

Radit mengulangi tanpa sadar. Jawaban ini di luar dugaannya.

Dia tahu bahwa lantai dua Hotel Internasional Mario adalah restoran makanan Barat, tapi pikirannya tidak terpikir ke situ.

"Betul. Dua orang ini baru saja masuk dan belum melakukan check-in." Resepsionis itu tersenyum, suaranya sangat lembut.

Mungkinkah mereka hanya datang untuk makan?

Radit mengembuskan napas pelan, tapi segera tersenyum sinis. Bagaimanapun juga, adegan mesra di depan pintu hotel itu bukan khayalannya saja.

Seorang wanita yang sudah menikah membohongi suaminya dan secara terang-terangan menggandeng lengan pria lain di depan umum. Itu adalah pengkhianatan.

Radit tidak terima.

"Terima kasih."

Dia berbalik menuju lift, tapi langkahnya jauh lebih ringan dibandingkan saat masuk tadi.

...

Di lantai dua Hotel Internasional Mario, restoran makanan Barat.

Tempat ini sangat tenang. Alunan musik yang elegan mengalir seperti mata air. Tidak ada banyak tamu, dan kebanyakan berbincang dengan suara pelan.

Lilian duduk berhadapan dengan seorang pria muda dan tampan di dekat jendela.

"Lilian, bagaimanapun juga, Grup Sudibyo bukan sepenuhnya milikmu. Bergabunglah dengan proyekku ini. Investasi satu miliar minimal bisa berlipat ganda. Kekayaanmu bisa meningkat lagi."

Pria itu tersenyum ringan, nada suaranya penuh percaya diri.

Lilian tersenyum tipis mendengarkannya, menggoyang gelasnya, lalu mengangkat tangan. "Kak Victor, terima kasih sudah memberiku kesempatan ini. Aku ingin bersulang untukmu."

Pria itu tersenyum, mengambil gelas anggurnya, dan bersulang dengan gelas Lilian. Dia menenggak setengah anggur merahnya dalam sekali teguk.

"Sudah, sudah. Aku akhirnya berhasil membujukmu makan keluar denganku. Jangan bicara soal pekerjaan lagi. Ngomong-ngomong, kita sudah kenal cukup lama. Kamu sudah tahu perasaanku kepadamu. Jadi, apa jawabanmu?"

Pria itu berkata dengan nada menggoda, memandangi wajah cantik Lilian dari atas ke bawah, tatapan tulusnya menyimpan hasrat yang dalam.

Lilian mengusap rambutnya dan berkata sambil tersenyum, "Kamu menggodaku lagi. Bukannya kamu dikelilingi wanita cantik? Yang beberapa hari yang lalu, siapa namanya itu ... pasti belum putus, 'kan?"

"Haha, wanita-wanita biasa itu, mana bisa dibandingkan denganmu? Aku serius. Asal kamu bercerai dengan si kutu buku itu, aku akan langsung bilang ke ayahku aku mau menikahimu!"

Si kutu buku tentu saja merujuk pada Radit.

Lagi pula, seorang pria yang seharian di perpustakaan, dan bahkan masih menghabiskan waktu dengan membaca buku setelah pulang ke rumah, memang pantas disebut kutu buku.

Saat memikirkan Radit, senyuman di wajah Lilian sedikit kaku, tapi dia segera menyembunyikannya.

Dia menunduk dan meneguk segelas anggur merah, berkata, "Tolong jangan bercanda begitu. Kalau aku bercerai pun, aku tetap nggak pantas untukmu. Keluargamu juga nggak akan setuju. Kita bicarakan soal investasi saja ...."

"Kalau belum dicoba, tahu dari mana nggak bisa? Atau kamu nggak rela berpisah dengan si kutu buku itu? Menurutku nggak mungkin. Aku hampir yakin perasaanmu nggak sedalam itu kepadanya."

Lilian ingin mengalihkan pembicaraan, tapi pria itu langsung memotongnya. Tubuhnya condong ke depan, matanya menatap lekat, penuh tekanan.

"Perasaan ...."

Lilian berpikir sejenak, menatap pria itu dengan datar. "Bahkan burung peliharaan pun pasti menimbulkan perasaan setelah dipelihara bertahun-tahun."

"Tapi, burung peliharaan itu nggak bisa membantumu, bahkan malah bisa jadi batu sandunganmu. Pergi saja denganku! Nantinya, kamu jadi berkesempatan punya kekayaan triliunan, bukan cuma miliar!"

Pria itu tidak menyerah, dan malah mengulurkan tangan menggenggam tangan Lilian yang putih dan lembut.

Lilian mengerutkan kening, diam-diam menarik tangannya. Saat hendak berbicara, dia melihat pria itu menatap sesuatu di belakangnya dengan ekspresi agak terkejut.

Lilian menoleh dengan bingung. Ekspresinya langsung berubah dan dia berseru kaget, "Radit, kenapa ... kenapa kamu di sini"

Di belakangnya, ada Radit yang baru saja datang.

Melihat keduanya berkencan layaknya sepasang kekasih, Radit merasa sakit hati dan berkata dengan dingin, "Kenapa? Apa aku mengganggu waktu indah kalian?"

"Kamu menguntitku?"

Lilian menarik napas dalam-dalam, menanyainya dengan nada menuduh.

Radit mendengus sinis merasakan nada tidak terima dalam suara Lilian. Wanita jalang ini sekali lagi membuatnya takjub.

Tertangkap basah berselingkuh, masih berani mempertanyakan apakah dia menguntitnya. Dia pun mencibir, "Lilian, Lilian. Aku nggak nyangka sama sekali kamu wanita semacam ini. Yang kamu bilang lembur itu lembur di ranjang orang lain?"

Kata-kata yang terang-terangan itu membuat wajah Lilian berubah lagi. Di seluruh restoran itu, sudah banyak orang yang diam-diam memandangi mereka sambil berbisik-bisik, bahkan ada yang mengeluarkan ponsel untuk merekam.

Pria di seberang sana tidak berkomentar apa-apa melihat situasi ini. Dia hanya menyilangkan tangan sambil bersandar di kursi, menatap dengan ekspresi yang seolah-olah tersenyum namun tidak sepenuhnya.

"Jangan kelewatan! Aku di sini membicarakan bisnis, bukan hal-hal kotor yang kamu bayangkan. Pulanglah dulu, nanti aku jelaskan di rumah." Wajah Lilian bersemu merah, nada suaranya tegas dan tidak memberi ruang untuk kompromi.

Dia memiliki kepribadian yang dominan. Selama lima tahun terakhir, Lilian-lah yang memegang keputusan atas sebagian besar urusan dalam keluarga. Radit jarang menyampaikan pendapatnya.

Jadi, menghadapi situasi saat ini, Lilian tetap mengikuti pemikirannya sendiri dan meminta Radit pergi terlebih dahulu untuk meredakan keributan ini.

Namun, dia kali ini salah perhitungan.

Tanpa ragu sedikit pun, Radit langsung meraih lengannya. "Pulang denganku."

Lilian mencoba menarik tangannya, tapi tidak dapat bergerak sama sekali dan dia pun berteriak kaget, "Radit, apa yang kamu lakukan!"

Radit merasakan perlawanan Lilian, dan hal itu membuatnya merasa sakit hati.

Tepat pada saat itu, sebuah tangan menepuk bahu Radit, dan pria itu tertawa ringan sambil berkata, "Memaksa wanita itu nggak baik, ya 'kan?"

Sikapnya sangat angkuh, seolah-olah dia sudah jadi pemenang.

Lagi pula, Lilian menolak pulang menunjukkan bahwa wanita itu jelas berpihak padanya.

Namun, tidak ada yang menduga satu hal.

Yaitu, Radit saat ini seperti sebuah granat, dan pria itu kebetulan menarik sumbunya.

"Kamu itu siapa? Minggir!"

Lalu, tanpa berpikir dua kali, Radit menendang perut pria itu dengan keras dan sekuat tenaga.

Tubuhnya memang tinggi besar. Selain membaca buku, dia juga rutin berolahraga, jadi kekuatan fisiknya tidak perlu diragukan. Apalagi, tendangan itu tanpa menahan diri sama sekali.

Pria itu mengerang kesakitan dan langsung terpental, meluncur sejauh empat atau lima meter di lantai yang licin.

"Kamu sudah gila, ya?"

Lilian berseru terkejut. Semuanya terjadi begitu cepat, tidak ada yang menyangka Radit akan menggunakan kekerasan.

Setelah menendang pria itu, tatapan dingin Radit kembali kepada Lilian. "Pergi atau tetap di sini, itu pilihanmu."

Setelah berkata begitu, dia langsung berbalik dan keluar dari restoran.

Lilian menatap kosong sosoknya yang menjauh.

Dia belum pernah melihat Radit seperti ini sebelumnya.

Kasar dan dingin.

Selama lima tahun, Radit selalu rendah hati.

Dalam benak Lilian, tertanam kesan bahwa dia pria yang lembut, perhatian, dan matanya selalu memancarkan cinta yang tidak pernah goyah.

Tanpa disadari, di hati Lilian, Radit menjadi sosok yang lemah.

Namun, pemandangan di hadapannya ini mengguncang hati dan mengubah persepsi Lilian.

Begitu Radit menghilang dari pandangan, Lilian tiba-tiba bergidik dan segera berdiri.

Hatinya sangat gelisah. Ekspresi Radit tadi membuatnya merasa panik.

...

Keluar dari hotel.

Radit menyalakan sebatang rokok.

Dua menit kemudian, suara langkah sepatu hak tinggi terdengar dari belakang.

Radit menoleh dan meliriknya, mencibir, "Nggak mau berduaan dengan selingkuhanmu lagi?"

Lilian sedikit kesal. "Bisa nggak kamu berhenti bicara sembarangan? Aku cuma makan dengannya, bukan seperti yang kamu pikirkan. Aku bilang mau lembur karena takut kamu salah paham. Kamu tahu nggak dia siapa? Menendangnya bisa berakibat serius. Kamu terlalu impulsif."

"Haha, dia selingkuhan istriku, tapi aku harus hati-hati jangan menyinggungnya?"

"Jangan asal bicara selingkuh-selingkuh terus. Aku istrimu, apa kamu nggak punya rasa percaya sedikit pun kepadaku?"

"Sebelum hari ini, aku percaya semua kata-katamu tanpa syarat .... Sudahlah, kita bicarakan di rumah. Urusan ini belum selesai."

Radit membuang puntung rokoknya, lalu berjalan menuju mobilnya.
Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Setelah Cerai, Aku Jadi Raja Bisnis   Bab 50

    Pukul 10 pagi, Radit tiba di depan kantor Bahtera Konstruksi.Begitu masuk, pemandangannya menakjubkan. Para karyawan tampak sangat bersemangat, bekerja dengan giat.Area kantor dipenuhi suara ketikan keyboard.Tampaknya, pernyataan Rosie dalam konferensi pers itu sangat efektif dan menginspirasi.Radit menggelengkan kepala, berpikir dalam hati, ‘Kalian belum tahu, bos kalian sebenarnya sudah kehabisan uang. Semua itu cuma janji-janji kosong.’‘Tapi, selama aku ada di sini, aku akan mengubah janji-janji kosong itu menjadi kenyataan.’Setelah masuk ke ruang kantor Rosie, gadis itu berseru gembira, "Pak Radit!"Radit mengangguk dan bertanya, "Bagaimana situasinya sekarang?"Rosie menggelengkan kepala. "Kurang optimis. Di rekening perusahaan cuma ada 20 miliar, dan aku sendiri punya 40 miliar. Ditotal pun cuma 60 miliar. Belum ada apa-apanya sama sekali, nggak cukup untuk memulai proyek."Bahkan chef terhebat pun tidak bisa memasak tanpa nasi. Sebagus apa pun rancangan arsitekturnya, tida

  • Setelah Cerai, Aku Jadi Raja Bisnis   Bab 49

    Sambil berbicara, Lilian mengulurkan jari-jarinya yang halus dan menggambar lingkaran-lingkaran di dada Radit.Radit tidak bergeming. Dia hanya mengeluarkan kotak itu dan memperlihatkannya. "Lihat, ini gaun tidurmu bukan? Aku dapat paket ini tadi siang."Lilian merasa bingung. Dia membuka kotak itu, dan ekspresinya seketika berubah. Dia langsung membuangnya ke tempat sampah sambil berkata, "Siapa kirim barang begitu? Menjijikkan.""Harusnya aku yang tanya. Itu kan gaun tidurmu?" Radit menanyai dengan nada menuduh.Sikapnya membuat Lilian marah. Sambil menuding tempat sampah, dia berkata, "Apa maksudmu? Kamu nggak bisa lihat jebakan segampang itu? Itu cuma baju bekas, bahkan belum tentu milikku, tapi kamu langsung curiga dan ingin memancingku bicara. Aku bahkan sudah lupa gaun tidur ini, mungkin sudah kubuang sejak lama. Kalau nanti orang lain mengirim celana dalam padamu, apa kamu akan menceraikanku? Radit, kamu benar-benar membuatku kecewa!"Radit mengibaskan tangannya. "Jangan marah.

  • Setelah Cerai, Aku Jadi Raja Bisnis   Bab 48

    Pengirimnya tidak diketahui, membuat Radit merasa bingung. Dia tidak membeli apa-apa.Tanpa berpikir lebih lama lagi, dia langsung membuka kotak itu dan menemukan sebuah gaun tidur sutra yang kusut, dengan secarik kertas di dalamnya.[Gaun tidur Lilian nggak sengaja tertinggal di tempatku. Tolong bantu kembalikan padanya, terima kasih.]Mata Radit berkedut, wajahnya mendung.Ini adalah gaun tidur berwarna merah muda, bahannya lembut dan sangat halus, tapi sekarang dipenuhi noda-noda yang mengeras, membuat gaun tidur itu kusut dan berkerut-kerut.Ini gaun tidur milik istrinya, tentu saja dia tahu.Karena istrinya dulu sangat menyukai gaun tidur tanpa lengan ini. Radit juga suka melihatnya mengenakan ini, membungkus tubuhnya yang montok, sangat cantik dan seksi.Namun, dia sudah lama tidak pernah melihat istrinya mengenakan gaun tidur ini.Tak disangka, hari ini muncul lagi."Awas saja kalau aku tahu siapa orangnya!" Radit mendesis tajam.Kemungkinan besar bukan Victor, karena istrinya k

  • Setelah Cerai, Aku Jadi Raja Bisnis   Bab 47

    Seseorang seperti ayah Rosie seharusnya tidak berpikiran sempit, bukan?Seorang tokoh besar di dunia bisnis seharusnya dapat melihat keuntungan di balik ini, apalagi gambar desainnya sudah diberikan kepadanya.Dia pun berkata, "Oke, aku mengerti. Soal uang, kita tunda dulu. Hari ini istirahat, besok kita bicarakan lagi."Dia menutup telepon, masih benar-benar bingung.Jika proyek ini berjalan lancar dan hasil rancangan dapat ditampilkan dengan sempurna, manfaatnya bagi Bahtera Konstruksi tentu saja sangat besar.Bahkan bisa menjadi tolok ukur industri konstruksi.Karena ini adalah proyek yang akan mengangkat nama Selanta, bahkan gubernur dan pejabat pemerintah tidak akan berpandangan sempit.Nantinya, Bahtera Konstruksi akan jadi terkenal. Semua orang tahu akan tahu perusahaan ini hanya mengerjakan bangunan berkualitas tinggi. Dengan begitu, proyek-proyek yang diterima di masa depan pasti juga berkualitas tinggi. Menghasilkan uang pun akan menjadi hal yang mudah.Empat ratus miliar ini

  • Setelah Cerai, Aku Jadi Raja Bisnis   Bab 46

    "Ketiga, kapan proyek ini akan selesai?""Ini adalah satu hal yang sangat saya sesalkan. Karena Bahtera Konstruksi mengutamakan kualitas, Panti Jompo Asri tidak dapat diresmikan tepat waktu. Saya akan bertanggung jawab penuh atas segala konsekuensi yang timbul akibat keterlambatan ini. Mari kita lihat bersama ...."Sambil berbicara, Rosie menekan tombol remot di tangannya.Di layar besar di belakangnya, muncul gambar-gambar visualisasi desain Panti Jompo Asri setelah selesai dibangun nanti.Seketika itu juga, suasana menjadi riuh.Seiring bergulirnya gambar-gambar tersebut, para hadirin semakin terkejut, bahkan terpesona!Sebuah pikiran muncul di benak mereka. Jika selesai dibangun, pasti akan menjadi bangunan ikonik di Selanta!Dibandingkan dengan rancangan sebelumnya, bisa dibilang perbedaannya bagaikan langit dan bumi.Para pejabat pun tercengang, mulut mereka menganga lebar.Rosie tersenyum lembut dan berkata, "Ini rancangan yang dipesan oleh Bahtera Konstruksi dengan biaya sepuluh

  • Setelah Cerai, Aku Jadi Raja Bisnis   Bab 45

    Luna masuk dan tersenyum tipis kepada Rosie.Wajah Rosie pun memerah, dia batuk pelan dan berkata, "Gambar rencananya sudah ada, jadi selanjutnya bagaimana?"Radit mengembuskan napas panjang, perasaannya yang bergejolak perlahan mereda. Dia berkata, "Saatnya keluarkan kartu as kita. Besok kita adakan konferensi pers, perlihatkan rancangannya, dan tekankan bahwa semua biaya pembangunan ditanggung oleh Bahtera Konstruksi. Setelah konferensi pers, semua opini negatif akan mereda, dan selanjutnya akan berjalan lancar!""Ya!"Rosie setuju, lalu mereka mendiskusikan beberapa detail lagi sebelum Radit pergi.Dia tidak berani berlama-lama di sana. Luna tidak bisa diandalkan, dan dia sendiri cacat. Dia harus waspada hadapan Rosie, tidak boleh ada kesempatan untuk berdua saja.Setelah keduanya pergi, Rosie buru-buru berlari ke ruang istirahat di dalam kantor.Dia mengingat kejadian tadi dan menunduk malu-malu. "Pantas saja istrinya nggak mau melepaskannya ...."Tiba-tiba, dia terpikir sesuatu da

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status