Share

Bab 7

Author: Olif S
last update publish date: 2026-07-23 20:58:25

“Aarrgghh ….” Lisa merintih pelan. Rasa sakit di kepalanya terasa semakin menyiksa. Matanya menelusuri ruang rapat, mencari keberadaan tas kecilnya, tempat dia menyimpan obat.

“Ah, sial.” Lisa merutuk dalam hati. Ia lupa meninggalkan tasnya di ruang kerja karena terburu-buru menghadiri rapat direksi tadi. Ia benar-benar tidak menyangka serangan tumor di kepalanya akan datang secepat ini.

Ruang rapat telah kosong, menyisakan dirinya dan Saka di dalam ruangan, Lisa memaksakan diri untuk tetap berdiri tegak, menyembunyikan rasa sakitnya.

Baru saja Lisa membalikkan badan, hendak melangkah meninggalkan ruang rapat, Saka mencegatnya tepat di depan pintu. Pria itu menyeringai lebar.

“Jangan buru-buru senang dulu, Lisa. Hari ini para direksi mendukungmu, bukan berarti kau benar-benar telah memenangkan permainan ini.” Saka menatapnya tajam. Dia sengaja memajukan wajahnya, berusaha mengintimidasi Lisa. “Pameran privat dua minggu lagi? Jangan harap kau akan berhasil melakukannya.”

“Aish,” batinnya bersungut kesal. Tidak ada waktu untuk meladeni keparat ini sekarang. Lisa harus segera pergi sebelum rasa sakitnya semakin tak tertahan, dia tidak boleh sampai ambruk di kantor.

Lisa mengangkat wajahnya, balas menatap mata Saka tak kalah tajam. “Terserah,” jawabnya singkat tak peduli. Tanpa menungu balasan lagi, Lisa mendorong bahu Saka agar menyingkir dari hadapannya.

Begitu berhasil melewati Saka, Lisa melangkah cepat menyusuri lorong kantor yang mendadak terasa panjang. Langkah kakinya menyeret. Begitu sampai di ruang kerjanya, Lisa langsung masuk dan mengunci pintu.

Namun, daya tahan tubuhnya akhirnya mencapai batas.

Bruk!

Tubuh Lisa ambruk tepat setelah dia berhasil mengunci pintu. Pandangan matanya semakin kabur.

“Aaarrrggghhh ….” Lisa mengerang kesakitan, memegangi kepalanya. Dia menyeret tubuhnya di lantai, memaksanya agar sampai di meja dan mengambil obatnya.

“Lisa? Kau kenapa?!”

Lisa mengangkat kepalanya. Rey. Dia tengah menatap Lisa dengan wajah tegang. Tangannya terulur, mencoba membantu Lisa untuk berdiri.

“Obat … tolong obatku … di tas” rintih Lisa dengan sisa kesadarannya yang hampir habis. Telunjuknya yang gemetar terangkat, menunjuk samar ke arah meja kerja., tempat dia menaruh tasnya.

Rey melangkah cepat ke sana. Tangannya buru-buru mengeduk isi tas Lisa, mencari obat yang Lisa maksud. Ketemu.

“Berapa butir?” Suara Rey terdengar bergetar. Lisa mengangkat jemarinya. Dua. Nafasnya tersengal.

Rey dengan sigap mengeluarkan dua butir obat, lalu meraih segelas air putih yang ada di meja. Ia kembali berlutut di samping Lisa, menyangga punggung wanita itu, membantunya menelan obat tersebut.

Lisa menenggaknya sekaligus.

Tiga puluh detik, rasa sakitnya perlahan berkurang, nafasnya juga mulai teratur. Satu setengah menit, Lisa kembali berdiri. Rey memapahnya, melangkah pelan menuju sofa.

“Terima kasih, Rey.” Lisa berkata pelan, mencoba kembali tersenyum tipis. Dia tidak ingin terlihat lemah.

Rey mengangguk pelan sebagai jawaban. Namun, raut wajahnya masih terlihat khawatir. “Kau tidak apa-apa?” tanya Rey lirih.

“Yeah, sekarang sudah lebih baik. Berkatmu.” Lisa mengangkat bahunya, tersenyum. Mencoba terlihat santai. “Tapi … apa yang kau lakukan di ruang kerjaku?”

Bukannya menjawab pertanyaan Lisa, Rey malah memelototinya.

“Kau sering sakit kepala? Apa kau sakit parah? Kau nekat pergi bekerja dengan kondisi seperti ini? Bagaimana kalau kau tiba-tiba pingsan dan tidak ada yang menolongmu?” Rey tidak mampu menahan pertanyaannya.

Pria yang biasanya dingin dan tidak peduli kini mengomel, memberondongnya dengan serentetan pertanyaan. Menatap Lisa dengan raut frustasi, separuh marah, separuh khawatir.

“Stop.” Lisa mengangkat tangannya, menghentikan pertanyaan Rey. “Aku baik-baik saja, okey? Tadi hanya efek samping kecelakaan kemarin dan aku lupa meminum obatku. Jadi hentikan pertanyaan tidak pentingmu itu, dan jawab pertanyaanku. Kenapa kau ada di sini?” Lisa menekan suaranya pada kalimat terakhir.

Rey berdehem pelan. Dia juga baru saja menyadari bahwa dirinya terang-terangan mengkhawatirkan Lisa.

Rey buru-buru memalingkan wajahnya, kembali memperbaiki ekspresinya. Berdehem sekali lagi. “Yeah, aku baru saja dengar kau diangkat menjadi CEO Adhitama Gallery. Jadi aku mampir untuk menyapa?”

Lisa semakin mengerutkan keningnya. Hah, menyapa? Dia tidak salah dengar? Pria ini hanya menjawabnya asal. “Jangan mengada-ada, Rey. Kau bukan tipe orang yang suka menyapa. Katakan maksudmu yang sebenarnya,” cibirnya.

Lisa benar. Rey memang tidak ke ruang kerja Lisa hanya untuk menyapa. Dia menatap Lisa dengan tatapan serius. “Berikan Folder X kepadaku,” ucapnya tegas tanpa basa-basi.

Lisa menyeringai. Rupanya itu yang diinginkan pria ini. Bisa ditebak, Rey telah menggeledah kantor Lisa, tetapi tidak menemukannya. “Untuk apa? Kau mau melenyapkannya?” Lisa bertanya menyelidik.

Rey mengeratkan jemarinya yang terkepal, rahangnya terlihat mengeras. “Folder itu terlalu berbahaya di tanganmu, Lisa!”

Lisa menyilangkan tangannya di depan dada. “Kau khawatir aku akan menghancurkan perusahaan dengan folder itu? Tak perlu khawatir, Rey. Aku tidak sebodoh yang kau kira. Dan asal kau tahu, Kakek telah mengijinkanku.”

“Kau tidak bisa membacanya, apalagi memahami isinya.”

Lisa menelan ludah. Itu benar, Lisa hanya tahu bahwa folder tersebut berisi jejak perbuatan curang Saka. Tapi dia tidak benar-benar memahami isinya. “Aku bisa meminta seseorang melakukannya untukku,” jawabnya sedikit gugup.

Rey menarik nafas dalam. Terlihat dia benar-benar menahan kesal. “Kau tidak bisa sembarang memercayai orang, Lisa.” Rey menyugar rambut tebalnya ke belakang, menatap Lisa dengan geram. “Apapun mungkin bisa terjadi di sini. Semua orang di perusahaan ini adalah bawahan Saka. Pikirmu kau akan baik-baik saja kalau Saka tahu kau mencuri folder rahasia miliknya?”

Lisa terdiam, yang Rey katakan sepenuhnya benar. Wajah tegangnya perlahan mengendur. “Lantas bagaimana menurutmu? Jangan katakan aku harus mundur dan diam saja. Itu tidak akan pernah terjadi.”

“Mari lakukan bersama. Kau bisa memercayaiku.” Rey berkata mantap, tidak ada ekspresi bercanda di wajahnya.

“Benarkah?” Lisa menyipitkan mata, menyelidik. “Kau tidak memiliki kepentingan atas ini. Apa tujuanmu sebenarnya?” Dia masih belum bisa percaya sepenuhnya.

Rey menatapnya lekat-lekat. “Kamu.”

Deg.

Desir hangat yang terasa asing perlahan menjalar menembus dada Lisa. Jantungnya berdetak lebih cepat dari seharusnya.

Apa maksud pria ini?

Olif S

Hallo readers, terima kasih banyak sudah mengikuti bab ini sampai selesai. Gimana nih pendapat kalian tentang cerita ini? Jangan lupa tinggalkan jejak lewat kritik, saran, atau kesan kalian di kolom komentar ya! Sending you big love from the author!

| Like
Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Setelah Dendam Usai, Aku Melupakanmu   Bab 27

    Bab 27Ruang kerja pribadi milik Rey yang tersembunyi di balik perpustakaan apartemennya menjadi markas operasi senyap malam itu. Tirai tebal tertutup rapat, membendung pendar cahaya kota. Di atas meja kaca berukuran besar, tiga buah laptop canggih menyala terang, memancarkan pendar biru yang menerangi wajah empat orang yang sedang berkumpul mengelilinginya: Lisa, Rey, Juna, dan Hana.“Aku sudah menceritakan semuanya,” ujar Lisa, memecah keheningan yang tegang. Matanya menatap Juna dan Hana secara bergantian dengan pendar ketegasan yang dingin. “Kakek memilih untuk membungkam kejahatan Saka demi menjaga nama baik Adhitama Group. Jadi, kita tidak punya pilihan lain. Kita tidak bisa lagi berharap pada keadilan korporasi. Kita akan mencuri seluruh dana gelap milik Saka sebelum dia sempat menggunakannya.”Hana menyandarkan punggungnya di kursi, menyilangkan tangan di dada. Mula-mula dahi wanita itu mengernyit, namun senyum tipis yang sarat akan ide gila perlahan terukir di bibirnya. “Ide

  • Setelah Dendam Usai, Aku Melupakanmu   Bab 26

    Bab 26“Adhitama Gallery.” Lisa berkata mantap, menatap Ketua Adhitama tanpa keraguan. “Berikan kewanangan penuh kepada Lisa atas kendali manajemennya,” sambungnya.Suasana meja makan seketika berubah tegang. Semua mata menatap Lisa terperangah. Sama sekali tidak menyangka Lisa akan meminta hal sebesar itu.“Lisa! Apa-apaan kamu?!”Saka tiba-tiba berdiri kasar hingga kursi jati yang didudukinya terdorong ke belakang. Wajahnya memerah padam, matanya melotot tajam menatap istrinya.“Kau gila, hah?!” bentak Saka dengan suara memburu. “Adhitama Gallery itu anak perusahaan di bawah naungan Adhitama Group! Bagaimana mungkin kamu dengan lancangnya meminta unit bisnis sebesar itu hanya untuk dirimu sendiri?!”Ibu Saka tidak tinggal diam. Wanita itu ikut berdiri, menatap Ketua Adhitama. “Tidak bisa, Ayah. Adhitama Gallery itu milik Saka. Ayah telah berjanji akan mewariskannya pada Saka.” seru Sinta tak terima.Tentu Saka dan ibunya menentang habis-habisan permintaan Lisa. Adhitama Gallery adal

  • Setelah Dendam Usai, Aku Melupakanmu   Bab 25

    Pameran itu benar-benar sukses besar. Semua stok koleksi produk fashion Adhitama Gallery langsung terjual habis begitu dirilis. Antrean panjang mengular di setiap cabang butik yang tersebar di berbagai kota besar.Nama Adhitama Gallery terus menjadi perbincangan hangat di dunia mode internasional. Wajah Jess sebagai brand ambassador muncul di halaman terdepan majalah mode, sosial media, spanduk-spanduk, hingga layar megatron yang terpasang di gedung-gedung pencakar langit.Pesan berisi berbagai tawaran kerja sama tak henti-hentinya masuk ke surel resmi Adhitama Gallery. Nilai saham bahkan naik hingga lima kali lipat, jauh lebih besar dari perkiraan awal.Papa Lisa tertawa lebar saat menelponnya, mengucapkan selamat dan memujinya. Mamanya juga ikut senang, ribut meminta Lisa untuk mempertemukannya lagi dengan Jess, Rose, dan Jenny. Lisa hanya balas tertawa lebar, menjelaskan bahwa mereka sudah kembali sibuk dengan urusan masing-masing.Foto Lisa bersama Jenny, Rose, dan Jess di acara pa

  • Setelah Dendam Usai, Aku Melupakanmu   Bab 24

    Tepat pukul 10.00 a.m., Pameran Privat Adhitama Gallery resmi dimulai.Lisa duduk di barisan kursi VIP bersama keluarganya, di dampingi Rey, Juna, dan Hana. Ia menahan napas, mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan.Tamu yang hadir bukan orang sembarangan. Mulai dari investor besar kelas internasional, pengusaha korporasi multinasional, hingga para pesohor papan atas. Wajah-wajah mereka tidak asing, biasa mengisi halaman majalah-majalah bisnis dengan kisah suksesnya.Ting!Lampu hall diredupkan. Musik pengiring mulai diputar.Seluruh pandangan tamu undangan seketika tertuju pada panggung. Decak kagum dan tatapan terpesona seketika memenuhi ruangan begitu model pertama melangkah anggun di atas catwalk.Pameran berlangsung dengan lancar hingga akhir acara, kemudian dilanjutkan dengan pesta perayaan.Para tamu tertawa puas, menyalami Lisa, serta mengucapkan selamat dan berbagai kalimat pujian. Bahkan tidak sedikit yang langsung menawarkan kerja sama dengan Adhitama Gallery. Lisa m

  • Setelah Dendam Usai, Aku Melupakanmu   Bab 23

    Hari-H Pameran Privat Adhitama GalleryKesibukan telah dimulai sejak pagi buta. Bahkan, ada beberapa kru yang belum sempat tidur dan beristirahat sejak gladi bersih kemarin. Petugas keamanan acara telah bersiap di berbagai titik krusial dengan setelan jas dan celana hitam, lengkap dengan earpiece yang terpasang di telinga mereka.Begitu pula dengan Lisa. Raut wajahnya tampak sangat serius saat melangkah cepat di lorong Grand Hotel menuju ballroom tempat pameran diadakan. Hana juga tak kalah seriusnya, tangannya menggenggam erat sebuah tablet seraya berjalan cepat mengimbangi Lisa.Sesekali mereka berpapasan dengan satu dua kru yang juga tengah mempersiapkan detail acara. Mereka mngangguk kecil, tersenyum tipis menyapa Lisa. Lisa balas tersenyum tipis.“Semua kru telah bersiap di posisinya, Bu Lisa. Para model juga telah selesai di-makeup,” ujar Hana seraya memeriksa layar tabletnya. “Media sudah berdatangan sejak kemarin malam. Saat ini mereka tengah bersiap di ballroom.”Lisa mengang

  • Setelah Dendam Usai, Aku Melupakanmu   Bab 22

    H-1 Pameran Privat Adhitama Gallery.Ballroom megah Adhitama Grand Hotel telah disulap menjadi area pameran privat bernuansa musim panas. Videotron raksasa di latar panggung menampilkan pemandangan pantai yang hangat, dipadukan dengan sorotan warm spotlight yang memancar tepat di atas area catwalk. Rangkaian bunga segar tersusun rapi di sekeliling panggung, menghadirkan kesan indah dan elegan yang memikat.Di kanan kiri panggung, kursi-kursi di susun rapi, berbaris memanjang mengelilingi panggung. Papa Lisa telah hadir bersama mamanya, duduk di kursi VIP. Begitu juga Ketua Adhitama Group dan kedua mertua Lisa, mereka duduk bersisian.Saka belum terlihat batang hidungnya, entah ada dimana pria itu saat ini. Mungkin sedang mengamuk melihat persiapan gladi bersih hari ini tetap berjalan dengan semestinya tanpa adanya kepanikan.Lisa dan Hana masih sibuk, berjalan ke sana ke mari memeriksa setiap detail, memastikan semuanya sempurna.Rey dan Juna terlihat memasuki ruangan.Pandangan Rey l

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status