Share

Bab 4

Author: Steve
Sekarang anak kami sudah lahir, tetapi masa depan yang dulu dia janjikan kepadaku tidak akan pernah terwujud lagi.

Suara kunci diputar terdengar dari pintu. Melia masuk sambil merangkul lengan Agus.

Keceriaan di wajah mereka langsung menghilang begitu melihatku.

“Kok kamu pulang?”

Aku memegang koper.

“Ini rumahku, aku nggak boleh pulang?”

Seketika wajah Agus berubah dingin.

“Kalau mau pulang, setidaknya bilang dulu. Untuk apa malah menyindirku begitu?”

Pandangannya tertuju pada koper di tanganku, “Kamu nggak membawa anak kita kembali? Mau tinggal di rumah Ibu selamanya?”

“Surat cerainya sudah kamu lihat, ‘kan? Kamu yang berselingkuh, jadi anak dan rumah menjadi milikku.”

Agus tidak menunjukkan reaksi apa pun. Justru raut wajah Melia yang berdiri di sampingnya tiba-tiba berubah.

“Bu, bagaimana bisa kamu seperti ini?”

“Aku dan Pak Agus nggak ada hubungan apa-apa! Tapi malah kamu sendiri, beberapa hari lalu aku melihat...”

Melia tiba-tiba menutup mulutnya.

“Aku bukan sengaja mengatakannya, tapi...”

Sikap Melia yang seolah ingin mengatakan sesuatu tetapi menahannya membuat wajah Agus ikut menegang.

“Kamu melihat apa?”

“Aku melihat Bu Angel di bar bersama beberapa pria, memainkan semacam permainan ciuman. Mungkin aku salah lihat.”

Melia mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan foto itu kepada Agus.

Setelah melihatnya, tatapan Agus yang tertuju kepadaku berubah setajam pisau.

“Jadi, ini alasan kamu bersikeras ingin bercerai denganku?”

“Kamu sudah berubah hati, Angel!”

Aku menatapnya dengan tidak percaya.

“Kamu percaya begitu saja pada perkataannya?”

“Aku baru saja melahirkan. Selama sebulan ini aku menjalani masa nifas di rumah. Bagaimana mungkin aku pergi ke bar?!”

Agus terdiam.

Melia terisak, “Pak Agus, anggap saja aku salah lihat. Jangan bertengkar dengan Bu Angel.”

Tiba-tiba terdengar suara notifikasi dari ponselnya. Dia seolah melihat sesuatu yang sangat mengejutkan, lalu menjerit dan bersembunyi di pelukan Agus.

“Ada... ada orang yang menemukan kontakku. Mereka memakiku, bilang aku perempuan murahan dan perebut suami orang.”

Air mata mengalir di wajahnya saat menatapku.

“Bu Angel, kamu tahu jelas aku dan Pak Agus nggak ada hubungan apa-apa. Kenapa kamu tega memperlakukan aku seperti ini?”

Agus menatapku dengan jijik, “Kamu yang melakukan ini?”

Kayaknya dia sedang bertanya, tapi nadanya seolah sudah menjatuhkan sanksi padaku.

Aku menjelaskan dengan tak berdaya, “Bukan aku.”

“Kalau bukan kamu, siapa lagi yang akan melakukan hal seperti ini? Angel, apa gunanya menyudutkan gadis yang lima tahun lebih muda darimu?”

Dia menyodorkan ponselnya tepat ke hadapanku, matanya dipenuhi kekecewaan.

“Atas dasar apa kamu bilang aku yang melakukannya?”

“Bukankah kamu pulang sekarang hanya karena ingin melihat Melia menderita?”

“Angel, sejak kapan kamu jadi sejahat ini? Cepat minta maaf pada Melia!”

Aku menggigit bibir dan tetap bersikeras tidak mau menundukkan kepala.

“Buktinya mana? Kamu punya bukti bahwa aku yang melakukan semua ini?”

Agus terdiam. Tapi, melihat air mata Melia, dia malah meraih tanganku dan memaksaku berlutut.

Begitu lututku menyentuh lantai, rasa sakit yang menusuk tiba-tiba menjalar dari perut bagian bawah.

Pandanganku menghitam karena menahan sakit, tetapi aku tetap menggertakkan gigi dan tidak mengeluarkan suara sedikit pun.

Tangan Agus masih mencengkeram pergelangan tanganku erat-erat, begitu kuat seolah ingin meremukkan tulangku.

Dia menatapku dari atas dengan sorot mata asing dan dingin yang belum pernah kulihat sebelumnya.

Seolah-olah aku adalah penjahat paling keji di dunia.

“Minta maaf pada Melia!”

Dia mengulanginya lagi, suaranya penuh perintah yang tidak bisa dibantah.

Melia bersembunyi dalam pelukannya sambil tersenyum penuh kemenangan.

Aku tertawa. Tertawa sampai air mataku mengalir.

Aku tiba-tiba mendorong Agus, lalu melemparkan dokumen yang kuselidiki ke hadapannya.

“Agus, buka matamu lebar-lebar dan lihat baik-baik!”

“Lihat sebenarnya seperti apa mahasiswi yang selama ini kamu kasihani itu!”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Setelah Dia Pergi, Aku Tak Menoleh   Bab 10

    Agus tersenyum getir, “Aku sudah mengerti. Kamu nggak perlu mengatakannya lagi.”Dia mengambil pena, tapi tangannya terus gemetar.Dulu, saat kami menikah, tangan Agus juga gemetar seperti ini.Pria yang bisa berbicara dengan lancar di hadapan puluhan ribu orang saat mengajar, malah kehilangan ketenangannya di hadapan ratusan tamu di pesta pernikahan kami.Dia berkata, “Angel, akhirnya aku bisa menikahimu.”Dulu, cintanya memang nyata.Begitu pula kebencianku sekarang.Pada akhirnya, ketika cinta telah sampai di penghujung jalan, semuanya bergantung pada hati nurani.Pada akhirnya, Agus tetap menandatanganinya.Dia mendorong surat cerai itu kembali kepadaku. Suaranya terdengar serak.“Angel, setelah kita bercerai, aku masih boleh menemui anak kita?”Aku menatapnya, lalu mengangguk.“Boleh. Tapi kamu nggak boleh membawanya menemui orang-orang yang nggak berhubungan.”Agus terlihat lega, tetapi kesedihan yang tak berujung juga terpancar di wajahnya.“Baik, terima kasih.”Setelah masa ten

  • Setelah Dia Pergi, Aku Tak Menoleh   Bab 9

    Akun media sosialnya dilaporkan hingga akhirnya diblokir. Bahkan artikel-artikel yang dulu memujinya satu per satu kembali diungkit dan kini justru dijadikan bukti bahwa dia hanyalah seorang munafik.Pada akhirnya, Agus tidak punya pilihan selain muncul dan menerima wawancara dari media.Dia tidak menyangkal bahwa dirinya memang telah berselingkuh secara emosional. Dia juga mengungkapkan semua perbuatan Melia sebelumnya kepada publik.“Aku selalu menganggap diriku sebagai orang yang berintegritas. Tapi pada akhirnya, aku tetap kalah oleh kelemahan yang ada dalam diri seorang pria.”“Aku pikir aku hanya memberikan perhatian lebih kepada seorang mahasiswa. Tapi ternyata, hatiku sudah terombang-ambing di antara dua perempuan.”“Aku bersalah kepada istriku. Aku juga sudah nggak pantas lagi mengajar dan mendidik orang lain.”Setelah itu, Agus mengajukan pengunduran diri kepada pihak kampus.Sedangkan Melia, berkat terus menjual kisah penderitaannya, berhasil mengumpulkan cukup banyak pengik

  • Setelah Dia Pergi, Aku Tak Menoleh   Bab 8

    “Aku benar-benar mengira keluarganya miskin, orang tuanya lebih menyayangi anak laki-laki. Aku hanya merasa kasihan kepadanya.”Ini sudah keempat kalinya Agus berlutut di hadapanku.Namun, kali ini hatiku tidak lagi bergejolak. Yang tersisa hanya rasa lelah yang tak berujung.Aku menarik tanganku perlahan.“Agus, di dunia ini masih banyak orang yang jauh lebih membutuhkan belas kasihan daripada dia.”“Kalaupun semua yang dikatakan Melia itu benar, dia bisa mengajukan beasiswa atau mencari pekerjaan paruh waktu.”“Kamu hanya gurunya. Tapi apa yang kamu lakukan untuknya sudah jauh melampaui batas seorang guru.”“Bangunlah, lututmu nggak seharusnya direndahkan seperti ini.”Aku berbalik masuk ke kamar dan menutup pintu, memisahkan diriku dari tangisan dan permohonan Agus di luar.Hari-hari berikutnya, Agus bertindak seperti orang gila.Setiap hari dia datang ke bawah apartemen tempat Ibu tinggal, menunggu dari pagi hingga malam.Sarapan yang dia beli tidak kubuang. Aku langsung memberikan

  • Setelah Dia Pergi, Aku Tak Menoleh   Bab 7

    “Mana mungkin aku nggak kenal? Mantan istriku meninggalkanku dan membawa pergi anak kami karena gadis itu.”“Dulu dia bilang keluarganya memaksanya menikah. Aku sudah memberinya kurang lebih enam miliar dari awal.”“Setelah itu, mantan istriku mengetahui semuanya. Rumah tanggaku hancur berantakan. Jangan-jangan kamu juga ditipu olehnya?”Setiap kata itu terasa seperti hantaman keras yang menghantam hati Agus.Dia menutup telepon, lalu menghubungi nomor kedua dan ketiga.Jawaban yang didapat semuanya sama.Cara yang sama, alasan yang sama dan akhir yang sama, yaitu keluarga yang hancur berantakan.Agus menatap gadis yang dulu begitu dia kasihi dan ingin lindungi itu. Seketika, perutnya terasa mual.Dia bahkan meninggalkan istrinya saat nyawa sang istri berada di ujung tanduk hanya demi perempuan penuh kebohongan dan kelicikan seperti ini. Bahkan dirinya sendiri yang mendorong istrinya semakin dalam ke dalam penderitaan.“Pergi!”Dia menggeram kata itu.Agus langsung mengusir Melia yang

  • Setelah Dia Pergi, Aku Tak Menoleh   Bab 6

    Pintu lift menutup, seolah-olah menggambarkan hubungan antara aku dan Agus yang sejak awal memang sudah berjalan ke arah yang berbeda.Sesampainya di rumah Ibu, dia sedang menenangkan anakku.Begitu melihatku pulang, Ibu segera mengambil koper dari tanganku.“Kamu sudah membicarakan semuanya dengannya?”Aku mengangguk sambil mencubit pipi kecil putriku.“Bu, mulai sekarang aku harus merepotkan Ibu untuk menjaga si Lulu.”“Dasar kamu, kita ini keluarga. Apa yang perlu direpotkan?”Ibu pura-pura marah, lalu masuk ke dapur dan mengambilkan semangkuk sup ayam yang masih hangat untukku.“Justru kamu, kamu kurus sekali setelah melahirkan. Harus makan lebih banyak supaya tubuhmu cepat pulih.”Mataku terasa panas, nyaris saja air mata jatuh. Aku hanya menjawab pelan, “Iya.”…Di saat yang sama, Agus dan Melia sedang bertengkar hebat.Agus menepis tangan Melia dengan jijik.Dorongannya begitu kuat hingga wanita itu terhuyung dan membentur pintu.Mendengar suara keributan, tetangga buru-buru mem

  • Setelah Dia Pergi, Aku Tak Menoleh   Bab 5

    Aku menatap Agus dengan dingin, menunggu dia mengambil dokumen yang kulemparkan.Namun, Melia lebih dulu panik dan berusaha merampasnya.“Jangan sentuh!”Agus membentaknya dengan tegas, lalu mengambil dokumen itu dan mulai membacanya.Semakin banyak halaman yang dibacanya, ekspresi wajahnya perlahan berubah. Dari marah, menjadi terkejut, lalu akhirnya memucat karena tidak percaya.“Ini pasti kamu palsukan, ‘kan?”Suaranya terdengar bergetar, “Teknologi sekarang begitu canggih, foto editan seperti ini juga bisa saja dibuat.”Aku menatapnya sambil tersenyum tipis, membuat Agus terdiam.Dia tiba-tiba teringat bahwa tadi Melia hanya mengatakan dirinya mendapat pesan pribadi berisi makian dan disebut sebagai pelakor, tetapi dia langsung menuduhku sebagai pelakunya.Kenapa saat itu dia tidak mengatakan mungkin saja pesan-pesan itu palsu?Raut wajah Melia yang tadinya pucat perlahan kembali normal setelah melihat Agus masih memercayainya.“Pak Agus, Bu Angel memang nggak menyukaiku sejak dulu

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status