Agus tersenyum getir, “Aku sudah mengerti. Kamu nggak perlu mengatakannya lagi.”Dia mengambil pena, tapi tangannya terus gemetar.Dulu, saat kami menikah, tangan Agus juga gemetar seperti ini.Pria yang bisa berbicara dengan lancar di hadapan puluhan ribu orang saat mengajar, malah kehilangan ketenangannya di hadapan ratusan tamu di pesta pernikahan kami.Dia berkata, “Angel, akhirnya aku bisa menikahimu.”Dulu, cintanya memang nyata.Begitu pula kebencianku sekarang.Pada akhirnya, ketika cinta telah sampai di penghujung jalan, semuanya bergantung pada hati nurani.Pada akhirnya, Agus tetap menandatanganinya.Dia mendorong surat cerai itu kembali kepadaku. Suaranya terdengar serak.“Angel, setelah kita bercerai, aku masih boleh menemui anak kita?”Aku menatapnya, lalu mengangguk.“Boleh. Tapi kamu nggak boleh membawanya menemui orang-orang yang nggak berhubungan.”Agus terlihat lega, tetapi kesedihan yang tak berujung juga terpancar di wajahnya.“Baik, terima kasih.”Setelah masa ten
อ่านเพิ่มเติม