Se connecter
Naura telah mempersiapkan malam itu jauh - jauh hari. Perayaan lima tahun pernikahannya dengan Farhan bukan hanya sekedar sebuah acara makan malam biasa ini adalah simbol perjalanan cinta mereka, bukti bahwa badai kecil yang pernah datang tak mampu meruntuhkan rumah tangga yang ia bangun sepenuh hati.
Sejak pagi, ia sudah sibuk mengawasi setiap detail. Rangkaian bunga mawar putih dan baby's breath menghiasi ruang tamu. Lilin - lilin aromaterapi tersusun rapi di atas meja panjang berbalut taplak satin krem. Lampu gantung kristal memantulkan cahaya hangat, menciptakan suasana elegan sekaligus intim. Gaun yang akan ia kenakan sudah tergantung anggun di kamar warna champagne favorit Farhan. Di atas meja rias, sebuah kotak kecil berlapis beludru navy tersimpan rapi. Di dalamnya, jam tangan edisi terbatas yang diam - diam ia pesan sebulan lalu. Hadiah itu bukan hanya benda, melainkan simbol harapannya agar waktu terus berpihak pada cinta mereka. Naura tersenyum membayangkan ekspresi Farhan nanti. Dengan langkah cepat namun anggun, ia turun ke ruang utama dan menepuk tangan pelan untuk menarik perhatian para pelayan. "Ayo, jangan sampai kacau. Semuanya harus terlihat sempurna. Aku ingin suamiku dan para tamu terkesan malam ini," ujarnya tegas namun tetap lembut. "Sebentar lagi jam lima. Farhan pasti segera pulang, dan para tamu juga akan mulai berdatangan." Seorang pelayan mengangguk gugup, memastikan susunan kursi kembali sejajar. Yang lain memeriksa ulang hidangan pembuka yang tersaji di atas meja panjang. Naura menarik napas dalam. Jantungnya berdebar bukan karena lelah, melainkan karena bahagia. Lima tahun bukan waktu yang singkat. Ia telah melewati masa - masa sulit bersama Farhan awal pernikahan yang sederhana, perjuangan membangun karier, hingga mimpi - mimpi yang mereka rajut bersama di ruang keluarga ini. Baginya, malam ini adalah pembuktian bahwa cinta mereka tetap utuh. Ia melirik jam di dinding. Jarumnya hampir menunjuk angka lima. Senyumnya mengembang, membayangkan Farhan masuk melalui pintu utama, terkejut melihat dekorasi megah dan semua orang berseru, "Surprise!" Tanpa ia sadari, di balik semangat dan harapannya yang menggebu, takdir tengah menyiapkan kejutan - kejutan lainnya yang sama sekali tak pernah ia bayangkan. Dan malam yang ia susun dengan penuh cinta itu. perlahan bersiap menjadi malam yang akan mengubah hidupnya selamanya. **** Suara mobil memasuki halaman rumah membuat jantung Naura berdegup lebih cepat. "Itu pasti Mas Farhan!" bisiknya, menahan senyum yang hampir tak bisa ia sembunyikan. Lampu ruang utama diredupkan. Para tamu yang sudah datang bersembunyi di balik dinding dan tirai, menahan tawa. Naura berdiri di tengah ruangan, memegang kotak kecil berlapis beludru itu dengan kedua tangan yang sedikit gemetar bukan karena gugup, melainkan karena bahagia. Pintu terbuka. Langkah kaki Farhan terdengar mantap memasuki rumah. "Naura?" panggilnya pelan. Dan dalam hitungan detik, lampu dinyalakan. "Surprise!" Tepuk tangan dan sorakan memenuhi ruangan. Naura menatap suaminya dengan mata berbinar, berharap melihat keterkejutan dan kebahagiaan di wajah lelaki itu. Farhan memang terlihat terkejut namun entah mengapa, senyumnya terasa kaku. Tatapannya tak sepenuhnya fokus pada Naura. "Selamat ulang tahun pernikahan kita yang kelima, Mas sayang," ucap Naura lembut, melangkah mendekat. "Terima kasih sudah menjadi bagian terindah dalam hidupku." Farhan tersenyum tipis dan memeluknya singkat. Pelukan yang biasa terasa hangat, kini entah mengapa terasa hambar. Acara berlangsung sangatlah meriah. Gelas - gelas berdenting pelan, tawa para tamu bersahutan, dan alunan musik romantis memenuhi udara. Naura berdiri di antara mereka dengan senyum yang terus ia jaga, meski sejak tadi ada perasaan asing yang mengusik hatinya. Farhan beberapa kali terlihat menjauh. Katanya menerima telepon penting. Naura mencoba tidak curiga. Malam ini terlalu indah untuk dirusak prasangka. Namun ketika ia menyadari suaminya tak kembali cukup lama, hatinya mulai gelisah. "Permisi sebentar," pamitnya pada seseorang tamu, lalu melangkah pelan menyusuri lorong menuju tangga yang mengarah ke rooftop tempat yang biasanya sepi dan jauh dari keramaian. Angin malam menyambutnya saat ia membuka pintu rooftop sedikit. Dari balik celah itu, ia melihat pemandangan yang membuat tubuhnya membeku. Farhan berdiri di sana. Bukan sendirian. Seorang wanita bergaun merah marun berdiri sangat dekat dengannya. Terlalu dekat untuk sekadar rekan kerja. Mereka tertawa pelan, suara mereka terdengar sangatlah akrab hangat intim. Tangan Farhan dengan santai melingkar di pinggang wanita itu, seolah itu adalah hal yang biasa ia lakukan. Naura refleks bersembunyi di balik tembok, jantungnya berdegup tak terkendali. Tangannya gemetar hebat. Lalu, di bawah cahaya lampu temaram rooftop dan langit malam yang menjadi saksi, Farhan menunduk dan mencium wanita itu. Ciuman yang bukan sekadar singkat. Bukan sekadar salah paham. Ciuman yang penuh kesengajaan. Hati Naura hancur seketika. Rasanya seperti ada sesuatu yang merobek dadanya dari dalam. Lima tahun kebersamaan, doa - doa yang ia panjatkan, kesetiaan yang ia jaga semuanya runtuh dalam satu adegan yang tak pernah ia bayangkan. Ia menahan napas, berusaha tidak bersuara. "Mas Farhan, jangan lupa besok waktumu bersamaku sampai lusa ya?" suara wanita itu terdengar manja, jemarinya memainkan kancing jas Farhan. Farhan tersenyum - senyum yang dulu hanya Naura kenal sebagai miliknya. "Iya, kamu tenang saja," jawabnya pelan. "Jangan sampai Naura dan semua orang tahu tentang hubungan kita. Aku akan atur semuanya." Hubungan kita. Dua kata itu menggema di kepala Naura seperti petir yang menyambar tanpa ampun. Jadi ini bukan sekadar kesalahan sesaat. Bukan khilaf. Ini hubungan yang sudah direncanakan. Disembunyikan. Dijaga rapi di balik senyum dan janji manis yang setiap hari ia ucapkan pada istrinya sendiri. Air mata akhirnya jatuh tanpa bisa ia tahan. Ia menutup mulutnya dengan tangan agar isaknya tak terdengar. Tubuhnya terasa lemas, namun ia memaksa dirinya tetap berdiri. Di dalam rumah, para tamu masih merayakan cinta yang ternyata hanya sepihak. Perlahan, Naura mundur menjauh dari pintu rooftop. Setiap langkah terasa berat, seolah lantai berubah menjadi jurang yang siap menelannya. Ia kembali ke ruang utama dengan wajah yang sudah ia hapus dari jejak tangis, berusaha terlihat baik - baik saja. Namun di dalam dirinya, sesuatu telah mati. Malam itu, Naura akhirnya mengerti bahwa pengkhianatan paling menyakitkan bukan hanya tentang berbagi tubuh, tetapi tentang berbagi waktu, perhatian, dan janji yang seharusnya hanya milik seorang istri. Beberapa menit kemudian, Naura melihat Farhan kembali memasuki ruang utama. Wajahnya sudah rapi seperti biasa, dasinya diluruskan, ekspresinya tenang seolah - seolah tak terjadi apa - apa di rooftop tadi. Namun sorot matanya tampak gelisah. Ia seperti mencari seseorang. Dan akhirnya, tatapan itu berhenti pada Naura. Farhan tersenyum. Senyum yang dulu selalu membuat hati Naura hangat kini terasa seperti topeng yang menyakitkan. Refleks, Naura menoleh ke belakangnya. Barangkali wanita itu berdiri tak jauh, mungkin mengikuti dari belakang. Namun tak ada siapa pun. Harapannya untuk melihat bukti nyata lagi entah untuk menguatkan kemarahan atau memastikan ia tidak berhalusinasi gagal.Beberapa minggu setelah masalah perusahaan selesai, keadaan kembali tenang.Nama perusahaan Naura kembali dipercaya para investor. Proyek yang sempat diterpa masalah justru mendapatkan banyak perhatian positif karena berhasil melewati krisis tanpa menghentikan operasional.Naura juga kembali fokus pada kuliahnya.Pagi kuliah.Siang hingga sore mengurus perusahaan.Malam mengerjakan tesis.Rutinitas itu membuatnya semakin yakin bahwa hidupnya sudah jauh berbeda dari beberapa tahun lalu.Suatu sore, setelah kelas selesai, Naura duduk di taman kampus sambil membuka laptop.Ponselnya bergetar.Pesan dari Harsa.Aku ada di dekat kampusmu. Kalau kamu belum ada rencana, boleh aku temani makan?Naura tersenyum.Ia mengetik balasan.Boleh.Tidak lama kemudian Harsa datang."Kamu sudah selesai?""Sudah.""Capek?""Sedikit."
Keesokan paginya, Naura, Harsa, dan Keenan kembali berkumpul di ruang rapat.Di atas meja sudah terdapat beberapa dokumen dan hasil pemeriksaan sistem.Keenan membuka laptopnya."Aku sudah mendapatkan identitas orang yang menggunakan jaringan lama perusahaan."Naura menatap layar."Siapa?""Namanya Dimas. Mantan kepala bagian keuangan."Harsa mengerutkan kening."Dia sudah keluar sejak kapan?""Hampir enam bulan lalu."Naura terdiam."Kenapa dia diberhentikan?"Keenan membuka dokumen lain."Karena ada selisih laporan keuangan. Tapi waktu itu tidak cukup bukti untuk menyatakan dia melakukan penggelapan."Harsa langsung berdiri."Berarti dia punya alasan untuk membalas.""Tapi belum tentu dia pelakunya," kata Naura.Keenan mengangguk."Benar. Makanya aku tidak mau kita langsung menuduh."Beberapa jam kemudian, mereka
Launching proyek akhirnya selesai.Tepuk tangan dan ucapan selamat masih terdengar di seluruh ruangan ketika Naura turun dari panggung bersama Harsa dan Keenan.Proyek yang mereka kerjakan selama berbulan-bulan akhirnya resmi berjalan.Namun kebahagiaan itu hanya bertahan beberapa jam.Malam harinya, ketika Naura baru saja sampai di rumah, ponselnya berdering berkali-kali.Naura mengernyit.Pesan dari salah satu direktur perusahaan masuk.«Bu Naura, segera buka berita. Ada masalah besar.»Naura langsung membuka salah satu tautan berita.Wajahnya berubah.Judul berita itu terpampang besar."PROYEK BESAR PERUSAHAAN NAURA DIDUGA MELAKUKAN MANIPULASI DANA DAN KEBocoran DATA INVESTOR.""Ini apa?"Naura segera membaca isi beritanya.Ada dokumen yang terlihat seperti laporan internal perusahaan.Di dalamnya terdapat angka investasi, pembagian keuntungan, ba
Hari-hari Naura kembali dipenuhi kesibukan.Pagi untuk kuliah, siang hingga sore untuk perusahaan, dan malam untuk menyelesaikan tugas-tugas S2 yang semakin menumpuk.Dulu, rutinitas seperti itu mungkin akan membuatnya mengeluh.Namun sekarang Naura justru menikmatinya.Ia merasa hidupnya kembali menjadi miliknya.Suatu sore, setelah menyelesaikan rapat, Naura keluar dari ruangannya sambil membawa beberapa berkas.Di lorong, ia melihat Harsa sedang berbicara dengan salah satu karyawan.Begitu melihat Naura, Harsa tersenyum."Sudah selesai?""Sudah.""Kamu mau langsung pulang?"Naura mengangguk."Aku masih harus mengerjakan tugas kuliah."Harsa tidak menahannya."Kalau begitu, pulanglah. Jangan terlalu malam."Naura tersenyum."Terima kasih."Baru beberapa langkah ia berjalan, suara Keenan terdengar dari belakang."Naura!"
Pagi itu, Naura datang ke kampus lebih awal dari biasanya.Bukan karena ada ujian atau tugas yang harus dikumpulkan. Ia hanya ingin menikmati sedikit ketenangan sebelum kembali menghadapi kesibukan di perusahaan.Beberapa minggu terakhir, hidupnya terasa jauh lebih tertata.Kuliah tetap berjalan. Perusahaan juga mulai stabil. Hubungannya dengan kedua orang tuanya semakin dekat. Dan yang paling penting, Naura mulai belajar bahwa dirinya tidak harus selalu terburu-buru menentukan masa depan hanya karena orang lain menunggu jawabannya.Setelah kelas selesai, Naura berjalan menuju parkiran sambil membuka ponselnya.Ada dua pesan masuk.Dari Keenan.«Jangan lupa makan. Hari ini aku ada meeting sampai sore.»Lalu dari Harsa.«Kuliahmu selesai? Kalau belum, jangan buru-buru pulang. Fokus dulu.»Naura tersenyum kecil.Dulu, pesan seperti itu mungkin akan membuatnya bingung.Sekarang t
Makan siang bertiga berjalan jauh lebih tenang dari yang Naura bayangkan.Tidak ada perdebatan.Tidak ada sindiran.Harsa dan Keenan bahkan beberapa kali membicarakan pekerjaan tanpa membawa urusan pribadi.Naura memperhatikan keduanya sambil tersenyum kecil.Ternyata mereka memang bisa bekerja sama.Hanya saja selama ini ego dan rasa cemburu sering membuat semuanya menjadi rumit.“Kalian berdua kalau begini sebenarnya cocok jadi partner,” ujar Naura tiba-tiba.Keenan tertawa.“Jangan terlalu memuji. Nanti Harsa besar kepala.”Harsa menatapnya.“Yang besar kepala siapa?”“Kamu.”Naura tertawa kecil.Untuk pertama kalinya setelah beberapa hari, ia merasa benar-benar ringan.---Setelah makan siang, mereka kembali ke kantor.Naura langsung menuju ruangannya.Di atas meja sudah ada beberapa dokumen kuliah yang harus ia selesai
Naura tanpa sadar terlalu banyak bercerita tentang pernikahannya dengan Farhan. Dari awal mereka menikah muda, lima tahun menjalani rumah tangga bersama, hingga akhirnya Farhan ketahuan berselingkuh dan ia tetap mencoba memberikan kesempatan kedua.“Aku tidak menyangka Farhan sudah menya
“Aku kenal seseorang detektif swasta,” lanjut Iris pelan. “Dia profesional. Tidak sembarangan. Kalau memang ada sesuatu, dia pasti bisa menemukan jejaknya.” Kata detektif swasta membuat jantung Naura berdegup lebih cepat. Selama ini, perselingkuhan itu masih berupa potongan adegan di rooftop,
Naura sudah duduk di sudut kafe dengan secangkir kopi yang sudah lama kehilangan uapnya. Tatapannya kosong, menembus kaca jendela tanpa benar - benar melihat apa pun. Pikirannya berputar pada satu pertanyaan yang sejak tadi tak berhenti menghantuinya. Apa kurangnya aku??? Ia menikah muda atas
Wanita itu sudah menghilang. "Sayang, kamu ke mana saja dari tadi? Aku mencarimu," tanya Farhan sambil mendekat, nadanya terdengar wajar. Naura menatapnya lekat - lekat. Wajah yang ia hafal setiap garisnya. Wajah yang baru saja ia lihat mencium wanita lain. "Aku dari tadi di sini," jawabnya t







