ANMELDEN*POV Nadya*
Aku pernah berpikir bahwa hari ketika Farhan kembali ke rumah adalah hari yang akan mengubah hidupku.Dulu, ketika dia masih berada di penjara, aku sering membayangkan bagaimana rasanya melihatnya berjalan melewati pintu rumah. Aku membayangkan akan menyambutnya dengan air mata bahagia, memperlihatkan anak kami yang tumbuh semakin besar, lalu mendengar Farhan berkata bahwa dia menyesal telah membuatku melewati semuanya sendirian.Aku membayangkan dia aka*POV Farhan* Penyesalan Yang Datang TerlambatAku tidak menyangka Nadya akan mengatakan semua itu kepadaku.Selama ini, aku selalu berpikir bahwa Nadya akan tetap berada di sisiku. Entah seberapa sering aku menolak perasaannya, entah berapa kali aku membuatnya menangis, aku selalu menganggap perempuan itu akan kembali seperti sebelumnya.Menungguku.Memaafkanku.Mencintaiku tanpa meminta balasan.Aku tahu dia telah melewati banyak hal ketika aku berada di penjara. Mama pernah menceritakan bagaimana Nadya berjuang selama kehamilannya, bagaimana dia melahirkan putra kami lebih awal, dan bagaimana dia harus menjalani operasi pengangkatan rahim setelah didiagnosis kanker serviks.Aku tahu semua itu.Namun, mengetahui sesuatu ternyata berbeda dengan benar-benar memahami penderitaan seseorang.Aku baru menyadari betapa lelahnya Nadya ketika dia berdiri di hadapanku sore tadi, dengan air mata di pipinya, lalu
*POV Nadya*Aku pernah berpikir bahwa hari ketika Farhan kembali ke rumah adalah hari yang akan mengubah hidupku.Dulu, ketika dia masih berada di penjara, aku sering membayangkan bagaimana rasanya melihatnya berjalan melewati pintu rumah. Aku membayangkan akan menyambutnya dengan air mata bahagia, memperlihatkan anak kami yang tumbuh semakin besar, lalu mendengar Farhan berkata bahwa dia menyesal telah membuatku melewati semuanya sendirian.Aku membayangkan dia akan memeluk putranya.Aku membayangkan dia akan menatapku dan akhirnya menyadari bahwa aku adalah perempuan yang tetap bertahan ketika hidupnya berada di titik terendah.Namun, kenyataan ternyata tidak seindah bayanganku.Farhan memang telah kembali.Dia sudah bisa duduk di meja makan bersama kami. Dia bisa melihat putranya bermain di ruang tengah. Dia bahkan sesekali menggendong anak itu ketika Mama Diah memintanya.Tetapi ada sesuatu yang tidak pernah
*POV Nadya*Malam itu, aku terbangun karena rasa sakit yang menjalar di perut bagian bawah.Awalnya aku mencoba menahannya. Aku duduk di tepi ranjang, mengatur napas, berharap rasa sakit itu akan mereda seperti sebelumnya.Namun, kali ini berbeda.Rasa sakit itu datang berulang kali, semakin kuat hingga membuatku kesulitan berdiri.“Mama…”Suara lirihku membuat Mama Diah yang sedang beristirahat di kamar sebelah segera menghampiri.“Nadya? Kenapa, Nak?”Aku mencengkeram selimut. Air mataku mulai mengalir.“Perutku sakit, Ma. Sakit sekali.”Wajah Mama Diah langsung berubah. Beliau membantuku bangun, lalu segera menghubungi rumah sakit.Dalam perjalanan, aku terus menggenggam tangan beliau. Tubuhku gemetar, sementara pikiranku dipenuhi ketakutan yang sulit kujelaskan.Usia kandunganku belum cukup bulan.Aku tahu kondisiku bukan kehamilan biasa. Dokter sudah menjelaskan
Tujuh bulan.Tujuh bulan aku membawa kehidupan kecil yang tumbuh di dalam rahimku, sementara ayahnya bahkan belum tentu ingin mengakui keberadaanku sebagai bagian dari hidupnya.Aku sudah berhenti bertanya kepada Mama Diah tentang jawaban Farhan. Bukan karena aku tidak ingin tahu, melainkan karena aku mulai takut mendengar jawaban yang sama.Belum.Farhan belum bersedia menikahiku.Entah sampai kapan kata itu akan menjadi jawaban untuk semua harapanku.Pagi itu, aku sedang merapikan pakaian bayi di kamar ketika rasa nyeri menjalar di bagian bawah perutku. Aku berhenti melipat baju mungil berwarna putih, lalu duduk perlahan di tepi ranjang.Awalnya kupikir itu hanya kelelahan.Beberapa hari terakhir, tubuhku memang lebih mudah lemas. Aku juga beberapa kali melihat bercak darah yang tidak biasa. Aku mencoba meyakinkan diri bahwa semuanya mungkin terjadi karena kehamilan, tetapi jauh di dalam hati, aku tahu aku tid
Beberapa bulan sebelum Farhan dibebaskan.Suara jarum jam terdengar memenuhi ruang tengah rumah Mama Diah.Nadya duduk di sofa dengan kedua tangan bertumpu di atas perutnya yang mulai membesar. Di hadapannya, ada beberapa lembar pakaian bayi yang baru saja selesai dia lipat. Warnanya bermacam-macam, sebagian dibelikan Mama Diah, sebagian lagi merupakan pemberian tetangga yang mengetahui keadaannya.Usia kandungannya telah memasuki bulan keenam.Enam bulan pula dia menjalani hari-harinya di rumah itu, jauh dari laki-laki yang menjadi ayah dari anak yang sedang dikandungnya.Farhan masih berada di penjara bersama Tommy.Sejak pertama kali mengetahui dirinya hamil, Nadya sudah mencoba meyakinkan diri bahwa semuanya akan baik-baik saja. Dia mengatakan kepada dirinya sendiri bahwa Farhan hanya membutuhkan waktu untuk menerima keadaan. Bahwa mungkin setelah keluar dari penjara, Farhan akan berubah. Bahwa mungkin suatu hari nanti laki-l
Farhan berdiri di depan jendela rumahnya, menatap halaman yang mulai gelap. Ponsel di tangannya baru saja berhenti berdering setelah sebuah panggilan singkat dari temannya mengabarkan sesuatu yang tak pernah benar-benar siap dia dengar.Naura akan menikah lagi.Perempuan yang pernah menjadi istrinya selama lima tahun. Perempuan yang pernah dia khianati, dia sakiti, dan dia kecewakan berkali-kali. Perempuan yang pada akhirnya memilih pergi setelah terlalu lama bertahan dalam pernikahan yang dipenuhi perselingkuhan.Dan sekarang, Naura akan memulai kehidupan baru bersama laki-laki lain.Farhan tidak mengetahui kabar itu secara langsung dari Naura. Dia bahkan tidak tahu apakah mantan istrinya masih mengingat pertemuan terakhir mereka di reuni sekolah. Pertemuan singkat yang meninggalkan begitu banyak hal yang tidak sempat dia katakan.Namun, satu kabar dari seorang teman sudah cukup untuk membuat pikirannya kembali pada perempuan itu.
“Aku kenal seseorang detektif swasta,” lanjut Iris pelan. “Dia profesional. Tidak sembarangan. Kalau memang ada sesuatu, dia pasti bisa menemukan jejaknya.” Kata detektif swasta membuat jantung Naura berdegup lebih cepat. Selama ini, perselingkuhan itu masih berupa potongan adegan di rooftop,
Naura sudah duduk di sudut kafe dengan secangkir kopi yang sudah lama kehilangan uapnya. Tatapannya kosong, menembus kaca jendela tanpa benar - benar melihat apa pun. Pikirannya berputar pada satu pertanyaan yang sejak tadi tak berhenti menghantuinya. Apa kurangnya aku??? Ia menikah muda atas
Wanita itu sudah menghilang. "Sayang, kamu ke mana saja dari tadi? Aku mencarimu," tanya Farhan sambil mendekat, nadanya terdengar wajar. Naura menatapnya lekat - lekat. Wajah yang ia hafal setiap garisnya. Wajah yang baru saja ia lihat mencium wanita lain. "Aku dari tadi di sini," jawabnya t
Naura telah mempersiapkan malam itu jauh - jauh hari. Perayaan lima tahun pernikahannya dengan Farhan bukan hanya sekedar sebuah acara makan malam biasa ini adalah simbol perjalanan cinta mereka, bukti bahwa badai kecil yang pernah datang tak mampu meruntuhkan rumah tangga yang ia bangun sepenuh ha







