ANMELDENNaura menatap kosong ke arah jendela.
Pikirannya melayang jauh kembali ke masa ketika semuanya belum serumit ini. Ke awal. Ke Farhan. Ia pertama kali mengenal Farhan saat masih duduk di bangku SMP. Sore itu, rumahnya lebih ramai dari biasanya. Aroma teh hangat dan kue buatan ibunya memenuhi ruang tamu. “Naura, kemari,” panggil ayahnya. Naura turun dari tangga, lalu berhenti saat melihat tamu yang datang. Sepasang suami istri dan seorang anak laki-laki seusianya. “Ini Om Tomi, Tante Diah, dan anak mereka, Farhan,” ujar ayahnya. “Minggu depan dia pindah ke sekolahmu.” Naura tersenyum sopan. “Salam kenal, Om, Tante.” Lalu pandangannya jatuh pada Farhan. Anak laki-laki itu lebih banyak diam. Wajahnya tenang, tatapannya tajam namun tidak dingin. “Aku Naura,” katanya sambil tersenyum kecil. Farhan sempat terdiam sesaat, lalu membalas, “Farhan.” Singkat. Tapi cukup. Naura tidak tahu, perkenalan sederhana itu akan menjadi awal dari cerita panjang dalam hidupnya. Cerita tentang cinta dan luka. Hari pertama Farhan di sekolah langsung menarik perhatian. Murid pindahan. Wajah tenang. Sikap dewasa. Saat guru memperkenalkan, bisik-bisik kecil terdengar di seluruh kelas. Naura hanya mengamati dari bangkunya. Saat istirahat, ia melihat Farhan duduk sendiri di taman, membuka bekalnya tanpa bicara. Ada dorongan kecil dalam hatinya. Ia mendekat. “Sendirian saja?” Farhan mendongak, sedikit terkejut. “Masih belum kenal siapa-siapa.” Naura langsung duduk di sampingnya. “Kalau begitu, sekarang kamu kenal aku.” Farhan tersenyum tipis. “Berarti aku beruntung.” Sejak hari itu, semuanya terasa mudah. Mereka pulang bersama. Belajar bersama. Tertawa dalam hal - hal kecil yang terasa sederhana, tapi sangatlah berarti. Sampai suatu sore, saat hujan turun deras. Mereka terjebak di halte sekolah. Farhan membuka payung. “Kamu duluan saja, Ra.” Naura menggeleng. “Bareng saja.” Mereka berjalan di bawah satu payung kecil. Bahu mereka bersentuhan. Dan jantung Naura berdetak lebih cepat dari biasanya. Di situlah semuanya berubah. Namun ada satu hal yang Naura tidak pernah benar - benar pahami. Farhan dibesarkan dengan sebuah ambisi. Masa depan. Status. Kendali. Cinta bukan prioritas utama. Waktu berlalu. Mereka tumbuh. Dan perasaan itu ikut tumbuh bersama mereka. Sampai suatu hari Semuanya runtuh. Telepon itu datang di malam hari. Suara di seberang panik. Tergesa. Menghancurkan. Nama ayahnya disebut. Noel. Disebut dalam kasus kematian seorang perempuan. Dan yang lebih menghancurkan Perempuan itu adalah kekasih gelapnya. Naura membeku. Ponsel terjatuh dari tangannya. Dunia yang selama ini ia percaya runtuh dalam sekejap. “Tidak ini tidak mungkin.” Tangisnya pecah. Ayahnya bukan seperti itu. Tidak mungkin. Tapi berita terus bermunculan. Bukti semakin kuat. Dan yang paling menyakitkan Selama ini ayahnya memiliki kehidupan lain. Farhan datang malam itu. Tanpa banyak bicara, ia langsung berlutut di depan Naura yang terisak di lantai. “Aku di sini,” katanya pelan. Naura menggenggam tangannya erat. “Han ini semua bohong, kan?” Farhan tidak menjawab. Ia hanya memeluknya. “Setelah lulus nanti, kita menikah,” ucapnya tegas. “Aku akan jaga kamu. Selamanya.” Kalimat itu terdengar seperti penyelamatan. Seperti tempat berlindung. Namun Naura perlahan menjauh. “Kita masih muda.” “Aku serius,” potong Farhan. Tatapannya penuh keyakinan. Dan di saat itu Naura yang sedang kehilangan pegangan memilih percaya. Sejak saat itu, hidupnya berubah. Rumahnya tidak lagi hangat. Ibunya mengurung diri. Nama ayahnya menjadi bahan pembicaraan. Dan di tengah semua itu Farhan selalu ada. Selalu. Sampai suatu malam, Farhan berkata, “Aku sudah bicara dengan Papaku.” Naura menoleh. “Tentang kita?” Farhan mengangguk. “Aku mau kita menikah setelah lulus.” Hening. “Kamu butuh tempat yang aman, Ra. Dan aku bisa kasih itu.” Kalimat itu terdengar lembut. Tapi tanpa disadari Ada sesuatu yang mulai terbentuk. Ketergantungan. Pernikahan itu terjadi lebih cepat dari yang seharusnya. Banyak yang iri. Cinta pertama. Pria mapan. Hidup terjamin. Dan di awal Semua terasa sempurna. “Aku akan jadi tempat paling aman buat kamu,” bisik Farhan di malam pertama mereka. Naura percaya. Sepenuhnya. Namun perlahan Hal - hal kecil mulai berubah. “Pakai yang ini saja, lebih cocok.” “Banyak teman yang itu kurang baik.” “Kamu tidak perlu kerja.” Semuanya terdengar seperti perhatian. Seperti kasih sayang. Padahal Itu adalah kendali. Dan Naura yang masih lelah oleh luka masa lalu Mengalah. Mengikuti. Tanpa sadar Dunianya kembali mengecil. Dari rumah ayahnya. Ke rumah suaminya. Naura membuka mata. Kembali ke masa kini. Dadanya terasa sesak. Kini ia mengerti. Ini bukan pertama kalinya ia hidup dalam kebohongan. Ia hanya berpindah dari satu luka ke luka lainnya. Dan kali ini Ia tidak akan tinggal diam.Tujuh bulan.Tujuh bulan aku membawa kehidupan kecil yang tumbuh di dalam rahimku, sementara ayahnya bahkan belum tentu ingin mengakui keberadaanku sebagai bagian dari hidupnya.Aku sudah berhenti bertanya kepada Mama Diah tentang jawaban Farhan. Bukan karena aku tidak ingin tahu, melainkan karena aku mulai takut mendengar jawaban yang sama.Belum.Farhan belum bersedia menikahiku.Entah sampai kapan kata itu akan menjadi jawaban untuk semua harapanku.Pagi itu, aku sedang merapikan pakaian bayi di kamar ketika rasa nyeri menjalar di bagian bawah perutku. Aku berhenti melipat baju mungil berwarna putih, lalu duduk perlahan di tepi ranjang.Awalnya kupikir itu hanya kelelahan.Beberapa hari terakhir, tubuhku memang lebih mudah lemas. Aku juga beberapa kali melihat bercak darah yang tidak biasa. Aku mencoba meyakinkan diri bahwa semuanya mungkin terjadi karena kehamilan, tetapi jauh di dalam hati, aku tahu aku tid
Beberapa bulan sebelum Farhan dibebaskan.Suara jarum jam terdengar memenuhi ruang tengah rumah Mama Diah.Nadya duduk di sofa dengan kedua tangan bertumpu di atas perutnya yang mulai membesar. Di hadapannya, ada beberapa lembar pakaian bayi yang baru saja selesai dia lipat. Warnanya bermacam-macam, sebagian dibelikan Mama Diah, sebagian lagi merupakan pemberian tetangga yang mengetahui keadaannya.Usia kandungannya telah memasuki bulan keenam.Enam bulan pula dia menjalani hari-harinya di rumah itu, jauh dari laki-laki yang menjadi ayah dari anak yang sedang dikandungnya.Farhan masih berada di penjara bersama Tommy.Sejak pertama kali mengetahui dirinya hamil, Nadya sudah mencoba meyakinkan diri bahwa semuanya akan baik-baik saja. Dia mengatakan kepada dirinya sendiri bahwa Farhan hanya membutuhkan waktu untuk menerima keadaan. Bahwa mungkin setelah keluar dari penjara, Farhan akan berubah. Bahwa mungkin suatu hari nanti laki-l
Farhan berdiri di depan jendela rumahnya, menatap halaman yang mulai gelap. Ponsel di tangannya baru saja berhenti berdering setelah sebuah panggilan singkat dari temannya mengabarkan sesuatu yang tak pernah benar-benar siap dia dengar.Naura akan menikah lagi.Perempuan yang pernah menjadi istrinya selama lima tahun. Perempuan yang pernah dia khianati, dia sakiti, dan dia kecewakan berkali-kali. Perempuan yang pada akhirnya memilih pergi setelah terlalu lama bertahan dalam pernikahan yang dipenuhi perselingkuhan.Dan sekarang, Naura akan memulai kehidupan baru bersama laki-laki lain.Farhan tidak mengetahui kabar itu secara langsung dari Naura. Dia bahkan tidak tahu apakah mantan istrinya masih mengingat pertemuan terakhir mereka di reuni sekolah. Pertemuan singkat yang meninggalkan begitu banyak hal yang tidak sempat dia katakan.Namun, satu kabar dari seorang teman sudah cukup untuk membuat pikirannya kembali pada perempuan itu.
Hari yang dinantikan Naura akhirnya tiba.Pagi itu, Naura berdiri di depan cermin dengan pakaian formal yang telah disiapkannya sejak beberapa hari lalu. Ia merapikan rambutnya, kemudian menarik napas panjang.Hari ini, ia akan menjalani sidang akhir S2.Lima tahun pernikahannya dengan Farhan pernah membuatnya menunda banyak impian. Ia sempat mengira bahwa kebahagiaan akan datang setelah menikah, bahwa menjadi istri yang baik akan membuat rumah tangganya bertahan.Namun, kenyataan mengajarkannya sesuatu yang berbeda.Ia pernah dikhianati oleh orang yang paling dipercayainya. Ia pernah kehilangan arah setelah perceraian. Ia bahkan pernah merasa bahwa statusnya sebagai janda tanpa anak membuat dirinya berbeda dari perempuan lain.Tetapi hari ini, Naura berdiri di hadapan cermin bukan sebagai perempuan yang gagal.Ia berdiri sebagai perempuan yang berhasil bangkit."Naura, kamu sudah siap?" panggil Jolina dari luar
Enam bulan berlalu sejak Naura dan Harsa memutuskan untuk menjalin hubungan.Tidak banyak yang berubah dalam rutinitas Naura. Ia tetap bangun pagi untuk kuliah, menghabiskan sebagian besar waktunya di perusahaan, dan menyelesaikan tesis yang semakin mendekati tahap akhir.Bedanya, kini ada seseorang yang selalu mendukungnya.Harsa tidak pernah menuntut Naura menyediakan seluruh waktunya. Ia memahami kesibukan Naura, bahkan sering mengingatkannya untuk beristirahat ketika perempuan itu terlalu larut bekerja.Keenan pun tetap menjalin hubungan baik dengan mereka. Ia mulai memusatkan perhatian pada bisnisnya sendiri dan sesekali masih bertukar kabar dengan Naura.Tidak ada lagi persaingan di antara kedua pria itu.Masing-masing akhirnya memahami bahwa perasaan tidak selalu harus berakhir dengan memiliki seseorang.***Suatu sore, Naura baru saja selesai berkonsultasi dengan dosen pembimbingnya ketika Harsa menelepo
Pagi itu, Naura datang ke perusahaan dengan perasaan yang lebih ringan.Setelah Keenan memutuskan untuk berhenti mengejarnya, ia menyadari bahwa kini tidak ada lagi alasan untuk terus menyembunyikan perasaannya sendiri.Ia memang belum siap menikah.Masih ada kuliah S2 yang harus diselesaikan dan perusahaan yang ingin dikembangkannya. Namun, bukan berarti ia harus menyangkal perasaannya kepada Harsa.Naura mengambil ponselnya dan membuka ruang percakapan mereka.Ia mengetik beberapa kata, menghapusnya, lalu mengetik kembali.Akhirnya, ia mengirimkan pesan singkat.> *Harsa, nanti malam kamu ada waktu? Aku ingin bicara sesuatu.*Balasan Harsa datang beberapa menit kemudian.> *Ada. Kamu mau bertemu di mana?*> *Di tempat pertama kali kita bertemu setelah reuni sekolah itu.*> *Baik. Aku akan menjemputmu.*Naura tersenyum membaca balasan tersebut.Untuk pertama kalinya,
Tahun pertama pernikahan mereka terasa seperti mimpi. Farhan masih sering pulang tepat waktu. Mereka makan malam bersama, tertawa pada hal-hal sederhana, dan sesekali pergi berlibur singkat ke luar kota. Semua terasa cukup. Semua terasa utuh. Naura berusaha menjadi istri yang sempurna ban
“Aku kenal seseorang detektif swasta,” lanjut Iris pelan. “Dia profesional. Tidak sembarangan. Kalau memang ada sesuatu, dia pasti bisa menemukan jejaknya.” Kata detektif swasta membuat jantung Naura berdegup lebih cepat. Selama ini, perselingkuhan itu masih berupa potongan adegan di rooftop,
Naura sudah duduk di sudut kafe dengan secangkir kopi yang sudah lama kehilangan uapnya. Tatapannya kosong, menembus kaca jendela tanpa benar - benar melihat apa pun. Pikirannya berputar pada satu pertanyaan yang sejak tadi tak berhenti menghantuinya. Apa kurangnya aku??? Ia menikah muda atas
Wanita itu sudah menghilang. "Sayang, kamu ke mana saja dari tadi? Aku mencarimu," tanya Farhan sambil mendekat, nadanya terdengar wajar. Naura menatapnya lekat - lekat. Wajah yang ia hafal setiap garisnya. Wajah yang baru saja ia lihat mencium wanita lain. "Aku dari tadi di sini," jawabnya t







