تسجيل الدخولFarhan menatap Naura lekat. Wajah wanita itu masih sama seperti yang ia kenal selama lima tahun terakhir, tetapi tatapannya kini terasa begitu asing.
"Kenapa harus bercerai, Naura?" suara Farhan terdengar lirih."Aku tahu aku salah.""Aku tahu aku sudah menyakitimu.""Tapi kita masih bisa memperbaiki semuanya.""Setelah masalah kemarin selesai... aku janji akan memperbaiki rumah tangga kita."Naura tersenyum tipis, tetapi senyum itu dipenuPOV NauraAcara reuni pun akhirnya selesai.Satu per satu alumni mulai meninggalkan ballroom hotel.Naura berdiri di depan pintu masuk sambil menunggu mobilnya yang sedang dibawakan oleh petugas valet.Irene menghampirinya sambil membawa sebuah goodie bag berisi kenang-kenangan reuni."Nih, jangan sampai ketinggalan."Naura menerimanya sambil tersenyum."Terima kasih.""Kapan-kapan kita harus ketemu lagi, ya.""Pasti.""Tapi jangan nunggu reuni sepuluh tahun lagi."Naura terkekeh pelan."Iya, Bu Irene."Mereka kembali tertawa bersama.Tak lama kemudian, sebuah mobil sedan hitam berhenti di depan mereka.Seorang petugas turun dan menyerahkan kunci mobil kepada Naura."Terima kasih."Naura membuka pintu mobil, tetapi sebelum masuk ia kembali menoleh kepada Irene."Ren.""Hm?""Kalau nanti ketemu Harsa lagi..
POV NauraSetelah berpamitan dengan Farhan dan Nadya, Naura berjalan menuju area rooftop hotel yang memang disiapkan sebagai tempat berkumpul para alumni.Dari kejauhan terdengar suara tawa dan obrolan hangat.Beberapa teman sedang mengenang masa-masa SMA.Ada yang saling bertukar kabar, ada pula yang asyik mengabadikan momen dengan ponsel mereka.Naura tersenyum.Sudah lama sekali ia tidak merasakan suasana seperti ini.Begitu melihat Irene, ia melambaikan tangan."Irene!""Di sini!"Naura mempercepat langkahnya.Namun karena terlalu fokus melihat sahabatnya, ia tidak menyadari seseorang sedang berjalan dari arah berlawanan.Brak!"Aduh!"Naura hampir kehilangan keseimbangan.Untungnya ia sempat memegang pagar pembatas rooftop."Astaga maaf."Belum sempat ia mengangkat kepala, terdengar suara seorang pria yang terdengar kesal.
POV NauraPagi itu, suasana rumah terasa lebih hangat dari biasanya.Naura menuruni anak tangga mengenakan gaun sederhana berwarna biru muda dipadukan dengan blazer putih. Riasannya tipis, tetapi cukup membuat penampilannya terlihat anggun dan elegan.Saat tiba di ruang keluarga, Noel yang sedang membaca koran langsung mengangkat kepalanya.Noel tersenyum bangga."Wah.""Mau ke mana? Kok cantik sekali?"Naura tertawa kecil."Mau ke acara reuni SMA, Yah."Noel mengangguk sambil tersenyum."Sudah lama juga kamu tidak bertemu teman-temanmu."Tak lama kemudian, Jolina keluar dari dapur sambil membawa segelas jus.Ia memperhatikan putrinya dari ujung kepala hingga kaki."Cantik sekali."Naura tersenyum."Terima kasih, Bu."Namun, senyum Jolina perlahan memudar."Ibu jadi kepikiran."Naura mengernyit."Kepikiran apa?"
POV NauraTiga bulan berlalu.Proyek kerja sama antara perusahaan Naura dan perusahaan Mahendra berjalan sesuai target.Berkat kerja sama seluruh tim, proyek tahap pertama berhasil diselesaikan tepat waktu.Keberhasilan itu menjadi titik balik bagi perusahaan.Kepercayaan investor kembali meningkat.Beberapa proyek baru mulai berdatangan.Nama perusahaan keluarga Noel pun perlahan kembali dikenal sebagai perusahaan yang profesional dan berintegritas.---Malam itu.Naura, Noel, dan Jolina berkumpul di ruang keluarga.Di atas meja terdapat laporan keuangan perusahaan yang baru saja selesai diperiksa.Noel menutup map tersebut sambil tersenyum bangga."Hasilnya sangat baik.""Kamu berhasil mengembalikan kepercayaan banyak orang."Naura tersenyum kecil."Ini bukan karena aku saja, Yah.""Semua karyawan juga bekerja keras."Jol
POV NauraKeesokan paginya.Naura kembali disibukkan dengan aktivitas di perusahaan.Sejak kerja sama dengan perusahaan Mahendra resmi dimulai, hampir setiap hari ada rapat, peninjauan proyek, hingga pertemuan dengan investor."Selamat pagi, Bu Naura.""Selamat pagi."Naura membalas sapaan para karyawan sambil berjalan menuju ruang kerjanya.Baru saja ia duduk, sekretarisnya masuk membawa beberapa map."Bu, ini jadwal Ibu hari ini."Naura membukanya satu per satu."Pukul sembilan rapat evaluasi proyek.""Pukul sebelas bertemu calon investor.""Setelah makan siang ada penandatanganan kontrak."Naura mengangguk pelan."Baik.""Tolong jadwalkan juga kunjungan ke lokasi proyek minggu depan.""Baik, Bu."Setelah sekretaris keluar, Naura menyandarkan tubuhnya sejenak di kursi.Ponselnya bergetar.Sebuah pesan masuk dari
POV NauraPagi itu, ruang rapat utama dipenuhi oleh jajaran arahan dari kedua perusahaan.Naura hadir bersama sekretaris perusahaan dan asistennya.Sementara Mahendra datang mewakili perusahaannya beserta tim.Hari itu menjadi awal kerja sama resmi antara kedua perusahaan dalam proyek pembangunan kawasan bisnis.Setelah seluruh pembahasan selesai, kedua pihak menandatangani dokumen kerja sama.Mahendra menutup peta di hadapannya lalu tersenyum."Semoga kerja sama proyek ini berjalan lancar.""Dan semoga tidak ada lagi kejadian seperti yang pernah kita alami sebelumnya."Naura mengangguk.“Amin.”"Kali ini kita akan mengawalinya bersama."Seluruh peserta rapat ikutkan menganggukkan kepala.“Amin.”Tepuk tangan pun terdengar memenuhi ruangan.---Penggunaan rapat, sebagian besar diarahkan kembali ke kantor masing-masing.Mahendra meno
“Aku kenal seseorang detektif swasta,” lanjut Iris pelan. “Dia profesional. Tidak sembarangan. Kalau memang ada sesuatu, dia pasti bisa menemukan jejaknya.” Kata detektif swasta membuat jantung Naura berdegup lebih cepat. Selama ini, perselingkuhan itu masih berupa potongan adegan di rooftop,
Naura sudah duduk di sudut kafe dengan secangkir kopi yang sudah lama kehilangan uapnya. Tatapannya kosong, menembus kaca jendela tanpa benar - benar melihat apa pun. Pikirannya berputar pada satu pertanyaan yang sejak tadi tak berhenti menghantuinya. Apa kurangnya aku??? Ia menikah muda atas
Wanita itu sudah menghilang. "Sayang, kamu ke mana saja dari tadi? Aku mencarimu," tanya Farhan sambil mendekat, nadanya terdengar wajar. Naura menatapnya lekat - lekat. Wajah yang ia hafal setiap garisnya. Wajah yang baru saja ia lihat mencium wanita lain. "Aku dari tadi di sini," jawabnya t
Naura telah mempersiapkan malam itu jauh - jauh hari. Perayaan lima tahun pernikahannya dengan Farhan bukan hanya sekedar sebuah acara makan malam biasa ini adalah simbol perjalanan cinta mereka, bukti bahwa badai kecil yang pernah datang tak mampu meruntuhkan rumah tangga yang ia bangun sepenuh ha







