Se connecterPagi itu, Naura sedang bersiap berangkat ke kampus ketika sebuah pesan masuk.
Keenan:My lady, kamu ada waktu sore ini?Naura membaca pesan itu sambil merapikan rambutnya.Ia mengetik:Ada apa?Balasan Keenan datang tidak lama kemudian.Keenan:Aku menemukan sesuatu yang mungkin ingin kamu lihat.Naura mengerutkan kening.Sesuatu apa?Keenan tidak langsung menjawab.Beberapa detik kemudian, sebuaPagi itu, Naura datang ke kantor lebih awal.Ia baru saja duduk di kursinya ketika sekretarisnya masuk dengan wajah sedikit tegang.“Nona Naura.”“Ya?”“Ada dua orang yang ingin bertemu dengan Anda.”Naura mengangkat wajah.“Siapa?”“Pak Harsa dan Pak Keenan.”Naura langsung terdiam.“Bersamaan?”Sekretarisnya mengangguk.“Iya.”Naura memejamkan mata sebentar.“Suruh mereka masuk.”Beberapa saat kemudian, pintu terbuka.Harsa masuk lebih dahulu.Keenan menyusul di belakangnya.Keduanya kembali saling menatap.Naura menunjuk dua kursi di depannya.“Duduk.”Mereka duduk.“Ada apa?”Harsa membuka sebuah map.“Aku ingin membahas kontrak kerja sama yang kemarin.”Keenan juga meletakkan map di atas meja.“Aku juga.”Naura menghela napas.“Baik. Kita
Pagi itu, Naura sedang bersiap berangkat ke kampus ketika sebuah pesan masuk.Keenan:My lady, kamu ada waktu sore ini?Naura membaca pesan itu sambil merapikan rambutnya.Ia mengetik:Ada apa?Balasan Keenan datang tidak lama kemudian.Keenan:Aku menemukan sesuatu yang mungkin ingin kamu lihat.Naura mengerutkan kening.Sesuatu apa?Keenan tidak langsung menjawab.Beberapa detik kemudian, sebuah foto dikirim.Naura membukanya.Matanya langsung membesar.Foto itu adalah foto lama.Foto dirinya dan Keenan ketika masih duduk di bangku sekolah.Naura menatap layar cukup lama.Ia hampir lupa bahwa foto itu pernah ada.Keenan:Aku menemukan album lama ketika membereskan barang-barang di rumah.Naura tersenyum kecil.Kenapa baru sekarang kamu kirim?Keenan:Karena aku baru sadar ternyata aku mas
Dua hari setelah pertemuan itu, Naura kembali disibukkan dengan proyek perusahaan.Pagi itu, ia sedang membaca beberapa laporan ketika sekretarisnya masuk.“Nona Naura, Pak Harsa sudah datang.”Naura mengangguk.“Suruh dia masuk.”Namun sebelum sekretarisnya keluar, terdengar suara lain dari luar.“Tidak perlu. Aku sudah di sini.”Naura mengangkat kepala.Keenan masuk dengan santai.Di belakangnya, Harsa baru saja tiba.Naura langsung menatap keduanya.“Kalian lagi?”Keenan tersenyum.“Kebetulan.”Harsa mengangguk.“Ada beberapa dokumen yang perlu kita bahas.”Naura menghela napas.“Baik. Duduklah.”Ketiganya duduk mengelilingi meja.Naura membuka laptop.“Kita akan membahas pembagian tugas untuk proyek ini.”Keenan langsung membuka dokumennya.“Aku sudah menyiapkan proposal.”Ha
Pagi itu, suasana kantor terasa lebih sibuk dari biasanya.Naura baru saja keluar dari ruang rapat ketika seorang staf menghampirinya.“Nona Naura, Pak Harsa sudah menunggu di ruang meeting.”Naura mengangguk.“Baik. Terima kasih.”Ia berjalan menuju ruang meeting.Namun ketika pintu dibuka, Naura berhenti.Harsa sedang duduk di salah satu kursi.Dan di seberangnya...Keenan.Naura langsung mengerutkan kening.“Kalian?”Harsa menoleh.“Naura.”Keenan tersenyum santai.“Pagi, my lady.”Naura masuk perlahan.“Kenapa kalian ada di ruangan yang sama?”Harsa berdiri.“Keenan datang untuk membahas kerja sama bisnis.”Keenan mengangguk.“Benar. Kebetulan perusahaan kami tertarik dengan proyek yang sedang kamu kembangkan.”Naura menatap keduanya bergantian.“Oh.”Ia duduk.
Pagi itu, Naura tiba di kantor lebih awal.Ia berjalan melewati lorong menuju ruangannya sambil membawa secangkir kopi. Namun baru beberapa langkah, ia melihat seseorang berdiri di depan pintu ruangannya.Naura berhenti.“Harsa?”Pria itu langsung tersenyum.“Selamat pagi.”“Kamu ngapain di sini?”“Aku ada pertemuan dengan timmu.”Naura melihat jam tangannya.“Sepagi ini?”“Aku sengaja datang lebih awal.”“Kenapa?”Harsa mengangkat sebuah paper bag.“Membawa sarapan.”Naura menatap paper bag itu.“Kamu pikir aku tidak bisa sarapan sendiri?”“Bukan begitu.”Harsa menyerahkannya.“Aku hanya ingat kemarin kamu bilang sering lupa sarapan kalau sedang banyak pekerjaan.”Naura menerima paper bag tersebut.“Terima kasih.”“Sama-sama.”Naura membuka sedikit isinya.Ada roti, buah, dan mi
Pagi itu, Naura terbangun lebih awal dari biasanya.Ia duduk di tepi tempat tidur sambil memandangi cahaya matahari yang perlahan masuk melalui celah tirai.Sejak pertemuannya dengan Rayna kemarin, ada banyak hal yang berputar di dalam kepalanya.Tentang Farhan.Tentang pengkhianatan.Tentang rasa takut.Tentang Harsa.Dan juga Keenan.Naura mengambil ponselnya yang tergeletak di meja samping tempat tidur.Ada dua pesan yang belum ia balas.Satu dari Harsa.Satu lagi dari Keenan.Naura membuka pesan Harsa terlebih dahulu.Harsa:Selamat pagi, Naura. Jangan lupa sarapan. Hari ini kamu ada jadwal ke kantor?Naura tersenyum kecil.Kemudian ia membuka pesan Keenan.Keenan:Morning, my lady. Jangan bilang hari ini kamu sibuk lagi. Aku mau mengajakmu makan siang.Naura menghela napas.“Dua orang ini.”Ia menggele
“Aku kenal seseorang detektif swasta,” lanjut Iris pelan. “Dia profesional. Tidak sembarangan. Kalau memang ada sesuatu, dia pasti bisa menemukan jejaknya.” Kata detektif swasta membuat jantung Naura berdegup lebih cepat. Selama ini, perselingkuhan itu masih berupa potongan adegan di rooftop,
Naura sudah duduk di sudut kafe dengan secangkir kopi yang sudah lama kehilangan uapnya. Tatapannya kosong, menembus kaca jendela tanpa benar - benar melihat apa pun. Pikirannya berputar pada satu pertanyaan yang sejak tadi tak berhenti menghantuinya. Apa kurangnya aku??? Ia menikah muda atas
Wanita itu sudah menghilang. "Sayang, kamu ke mana saja dari tadi? Aku mencarimu," tanya Farhan sambil mendekat, nadanya terdengar wajar. Naura menatapnya lekat - lekat. Wajah yang ia hafal setiap garisnya. Wajah yang baru saja ia lihat mencium wanita lain. "Aku dari tadi di sini," jawabnya t
Naura telah mempersiapkan malam itu jauh - jauh hari. Perayaan lima tahun pernikahannya dengan Farhan bukan hanya sekedar sebuah acara makan malam biasa ini adalah simbol perjalanan cinta mereka, bukti bahwa badai kecil yang pernah datang tak mampu meruntuhkan rumah tangga yang ia bangun sepenuh ha







