INICIAR SESIÓN“Nanti malam akan ada makan malam keluargaku dengan keluargamu. Aku harap kamu bisa bersikap sehangat ini nanti.” Bersamaan dengan selesainya Gyana mengatakan hal itu, mobil lain berhenti tepat di belakang mobil milik Sean. Tak lama, seorang pria paruh baya muncul dan langsung membukakan pintu di barisan kedua mobil. “Silakan, Nyonya.” Gyana mengangguk kecil. Kemudian dengan tatapan sekilasnya pada Sean, Gyana pun melangkah menuju mobilnya. Tanpa sepatah kata dan raut wajahnya yang ramah. Hati Gyana sudah sangat beku menghadapi Sean. Pria yang pernah menempati posisi istimewa di hatinya itu kini ia anggap tidak lebih dari seorang asing yang hidup satu atap dengannya. Gyana masih terlau sakit saat membayangkan foto Tania yang terpajang di ruang pribadi pria itu. Belum lagi fakta bahwa selama ini Sean terlihat seperti suami idaman hanya demi warisan dari sang nenek. Jika Sean hanya menganggapnya sebagai alat, maka Gyana juga akan melakukan itu. Sean adalah tiketnya untuk keluar
“Itu yang di tivi. Bodoh banget suaminya!” Gyana mengunyah cemilan dengan cepat. Sedikit pun ia tetap bertahan untuk tidak menoleh pada Sean yang baru muncul. Sean merespon kekesalan Gyana dengan senyum yang sangat tipis. Sedikit pun tidak ada prasangka dalam hatinya bahwa Gyana baru saja menyindir dirinya sendiri. “Memangnya kenapa suaminya?” Sean duduk di samping Gyana. Gyana kembali memasukkan cemilan ke mulut seraya melirik malas Sean dari ekor matanya. “Masa iya dia nggak tahu makanan favorit istrinya sendiri. Bukannya nanya sama istrinya, eh malah nanya sama selingkuhannya. Kan bodoh namanya!” sungut Gyana dengan fokus menatap layar televisi. Kening Sean berkedut samar. Kemudian menatap layar televisi bergantian dengan sosok yang duduk di sampingnya. Perkataan Gyana sempat mengusik hatinya. Bukankah itu seperti mencibir dirinya sendiri? Sementara di layar televisi tersebut malah menampilkan drama keluarga yang sama sekali tidak sama dengan penuturan Gyana. Sean hendak mem
"Lain kali nggak perlu repot belikan aku hadiah. Lagian bulan ini aku nggak ada perayaan apa-apa.” Gyana berlalu begitu saja setelah mengatakan hal itu. Wanita dengan setelan piyama satin berlengan panjang itu bahkan tidak menoleh sedikit pun pada Sean. Ia sudah terlalu malas sekedar basa basi dengan pria yang masih terpaksa ia pertahankan sebagai suami itu. Sean baru saja kembali dari kantor. Kali ini ia benar-benar menghabiskan banyak waktunya di perusahaan. Permasalahan di perusahaan membuatnya tertahan lebih lama di sana. Dan, bayangan Gyana akan menyambutnya dengan senyum manis seperti dulu pun langsung lenyap. Alih-alih senyuman, Sean justru Gyana suguhkan dengan wajah datar dengan sorot dinginnya. “Hadiah itu tanpa maksud apa-apa, Gya.” “Gaunnya lebih baik kamu berikan ke Tania saja. Potongan gaun itu lebih disukai Tania. Ukurannya juga bukan ukuranku.” Tidak ada nada tersinggung apalagi kecewa yang keluar dari mulut Gyana. Wanita itu justru terkesan tidak peduli dengan
“Anak itu… !” Raut Xavier langsung berubah. Kemarahannya sudah menuju kepala dan tinggal menghitung waktu untuk meledak. Sorot matanya sekejap berubah tajam. “Apa yang dilakukannya kali ini?” Tania menahan senyum di wajahnya agar tidak langsung terbit. Muslihatnya berhasil. Dan hanya demi melihat Gyana semakin dibenci oleh kakaknya sangat bisa memuaskan hati Tania. “Gya memprovokasi Kak Sean untuk mengabaikanku. Dan tadi, Kak Sean bahkan membatalkan janji untuk makan bersama Ayah hanya demi Gya.” Tania meraih tangan Xavier lalu menggenggamnya. “Bagaimana kalau Kak Sean sampai membenci dan tidak mau bertemu aku lagi, Kak? Aku sudah merelakan Kak Sean menikah dengan Gya tapi aku tidak akan kuat jika Kak Sean benar-benar menjauhiku.” Emosi yang berkumpul di kepala Xavier membuat pria itu tidak bisa berpikir tenang dan logis. Rasa sayang kepada Tania membuat hatinya buta. Xavier mengusap lembut puncak kepala Tania. Kemudian mengulas senyum hangat penuh kelembutan. “Jangan cemas,
"Jangan-jangan ini untuk Nyonya Gyana ya, Tuan?” seru Mike tanpa sadar kalau suaranya itu cukup tinggi. Sean memalingkan wajah ke arah jendela. Malas menanggapi lebih lanjut kebodohan Mike yang sebenarnya membuat hatinya tersentil suatu fakta. Bohong jika Sean tidak merasakan apapun saat Mike mengira hadiah yang akan disiapkan untuk Tania bukan Gyana. Apakah selama ini perhatiannya pada Tania begitu kentara? Apakah selama menikah Sean memang tidak pernah memberi perhatian kepada Gyana? “Memangnya Tuan tahu apa saja yang Nyonya Gyana sukai? Warna atau bunga favoritnya kurang lebih?” Jiwa ingin tahu Mike sangat tinggi. Melalui kaca kecil di depannya, Mike bisa melihat wajah datar sang atasan yang saat ini tidak kunjung merespon pertanyaannya. Tatapan Sean hanya terarah lurus pada pemandangan di luar. “Bagaimana kalau Tuan mengecek media sosial Nyonya dulu? Saya dengar, popularitas Nyonya sedang naik sekarang. Barangkali ada petunjuk di sana,” ucap Mike memberi saran. Sean terdiam
“Kelamaan.” Gyana lalu memeluk Nael. Gerakan wanita itu sangat cepat dan dalam hitungan detik mampu membuat Nael mematung di tempat. Wangi segar rambut Gyana yang bercampur air hujan pun tercium jelas di hidungnya. Tubuh mungil itu kini berada dalam dekapannya. Dan tepukan pelan tangan kecil Gyana di punggung Nael tiba-tiba saja membuat jantung Nael berpacu liar. ‘Mi, sepertinya Nael sudah benar-benar terjebak dalam perasaan kepada Gyana.’ batin Nael. Pelukan singkat itu murni hanya untuk menghibur Nael. Gyana mundur selangkah, lalu melipat tangannya. “Aku nggak pandai menghibur orang. Tapi semoga pelukan tadi bisa membuat kamu merasa lebih baik.” Nael mengangguk kecil lalu mengulas senyum tipis. “Terima kasih.” “Iya. Makasih juga udah ngehibur aku di sini.” Gyana pun membalas senyuman itu dengan tulus. Tanpa Gyana sadari, meski dianggap Gyana hanya seperti perhatian kecil, tetapi bagi Nael itu sangat berarti. Hatinya terasa lebih tenang dan lapang. Pelukan Gyana menciptakan r







