FAZER LOGINGyana hanya bisa diam. Dadanya langsung penuh dan air matanya berkumpul mendesak untuk keluar. Kedua tangannya terkepal kuat dan bibirnya terkatup rapat menahan teriakan.
Raymond menatap sinis Gyana. Pria itu sama sekali tidak menunjukkan rasa simpati apalagi iba melihat hancurnya Gyana. Bagi Raymond tidak ada yang lebih penting, kecuali kebahagiaan Tania. Kaki panjang Raymond mendekat. Kedua tangannya dimasukkan ke saku celana hitamnya. Sepatu mahal berhenti tepat beberapa senti dari Gyana. “Sean sudah mengenal Tania lama. Jangan harap kamu bisa mempengaruhi Sean hanya karena dia suami kamu. Bagi Sean, status kalian hanya sebatas di dokumen,” bisik Raymond memojokkan Gyana. Sudut bibir pria itu terangkat. Sorot sinisnya sekalipun tidak pernah luntur sejak Gyana pertama kali datang. Diamnya Gyana membuat Raymond semakin membara untuk membuat adik yang tidak pernah ia anggap itu tidak nyaman. “Bagi kami, termasuk Sean. Kehadiran kamu itu tidaklah penting. Ibarat taman, kamu hanya dedaunan kering yang lebih pantas disapu agar tidak merusak pemandangan.” Manik sendu Gyana bertatapan langsung dengan Raymond. Pria ini memiliki sorot mata yang hangat dan meneduhkan. Sayangnya, tatapan itu tidak pernah Raymond berikan untuk Gyana. Miris memang. Padahal di tubuh Raymond dan Gyana mengalir darah yang sama. Mereka juga lahir dari lahir ibu yang sama. Hanya karena tumbuh di lingkungan yang berbeda, Gyana dianggap sebagai pengganggu yang merusak ketentraman keluarga Danuarta. Salahkah jika Gyana bisa berandai, seharusnya ia tidak perlu mengetahui identitasnya? Wajah Raymond mendadak berubah. Pria berambut cokelat ikal itu juga langsung memalingkan wajahnya, menghindari mata Gyana. “Jangan perlihatkan wajah sedihmu. Para tamu bisa beranggapan negatif nanti. Saya tidak mau melihat acara Tania gagal hanya karena kamu,” ucapnya tanpa menatap Gyana. Raymond pura-pura sibuk memperbaiki kancing jasnya. “Tapi aku bukan—” “Jangan membantah! Segera kembali ke ruang utama. Kamu tidak sepenting itu untuk ditunggu.” Setelah memotong ucapan Gyana, Raymond segera mengayunkan langkah dengan terburu-buru. “Sial! Mengapa tatapan sedihnya tiba-tiba membuat dadaku sesak?” gumam Raymond pelan. Sementara itu, Gyana pun ikut melangkah di belakang Raymond. Kesedihannya memang masih melekat di hati, tetapi ia tidak punya waktu untuk terus meratap. Gyana harus bangkit. Namun, semesta belum sepenuhnya berpihak pada Gyana. Tepat saat Gyana baru menginjakkan kaki di lorong samping ruang utama, ia melihat Mike yang membawa sebuah paper bag berukuran sedang dengan terburu-buru. Penasaran dengan apa yang dilakukan Mike, Gyana pun mengikuti pria itu diam-diam. Melihat dari arah yang Mike lewati, Gyana mulai berpikir bahwa kemungkinan itu barang penting karena mengarah ke ruang pribadi keluarga Danuarta. Di kediaman Danuarta, masing-masing anggota keluarga memiliki ruangan pribadi, kecuali Gyana. Ia hanya memiliki kamar yang merangkap berbagai fungsi. Ruangan itu pun berada di sisi berbeda dengan anggota keluarga lainnya. Gyana melangkah pelan penuh hati-hati. Matanya menyipit dengan waspada. Bagaimanapun kehadirannya di sini akan menjadi pertanyaan para pelayan atau anggota keluarga lain. Mike berhenti tepat di depan ruangan pribadi Tania. Kening Gyana berkerut samar, semakin penasaran. Hingga saat pintu terbuka, sosok yang tidak ia sangka muncul. Sean. Pria itu segera meraih paperbag yang dibawa Mike. Pintu tertutup kembali dan Mike pergi. Gyana segera bersembunyi di balik pilar besar. Masih di penuhi dengan rasa penasaran, Gyana pun melanjutkan aksinya. Setelah memastikan situasi aman, Gyana lekas melesat menuju ruangan Tania. Di luar dugaan, pintu ruangan ternyata tidak tertutup rapat. Gyana bisa melihat dan mendengar apa yang Sean lakukan di sana. Hati Gyana mencelos. Tepat di depan matanya, Sean dengan penuh perhatian menghibur Tania yang masih sedih. Genggaman tangan Sean begitu lembut melindungi tangan Tania, seolah-olah mengatakan bahwa ia akan selalu berada di pihak gadis itu. “Aku tidak tahu kalau tidak ada kamu di sini, Kak. Aku tidak mungkin memakai gaun rusak ini di acara spesialku,” ucap Tania lembut menatap Sean dengan mata berkaca-kaca. Begitu pula Sean, pria itu mendekat. Kemudian tanpa ragu mengulurkan tangannya untuk menghapus jejak air mata di sudut mata Tania. Tatapannya begitu lembut dan hangat. Belum pernah Gyana menyaksikan sisi hangat Sean tersebut. Meskipun Sean tidak pernah bersikap dingin padanya, tetapi Gyana jelas mengingat cara Sean saat menatapnya. Bibir Gyana bergetar. Matanya pun memanas. Sekuat tenaga ia menahan tangis yang ingin menyeruak. “Aku akan memastikan kamu selalu bahagia, Tania. Apalagi untuk malam ini. Tidak akan aku biarkan ada yang merusak acara bahagiamu,” hibur Sean. Kedua sudut bibir Tania membentuk garis senyum. Jemari lentiknya menahan tangan Sean agar tetap berada di kedua sisi wajahnya. “Termasuk Gyana, kan?” Sean terdiam sejenak. Tidak hanya Tania, Gyana pun menunggu jawaban itu. Ia sangat berharap Sean mengecualikannya kali ini. “Tentu saja, Tania,” jawab Sean mantap. “Sekalipun itu Gyana, tidak akan aku biarkan dia membuatmu bersedih.” Tania tersenyum lebar dan tanpa ragu merengkuh leher Sean untuk ia peluk. “Terima kasih, Kak Sean. Aku sangat bahagia sekarang.” Sean awalnya terdiam. Namun, perlahan membalas pelukan Tania. “Aku juga sangat bahagia jika kamu ikut bahagia.” Di saat kedua orang itu diliputi kebahagiaan, Gyana justru sebaliknya. Hatinya terasa sedang diremas. Rasa sakit melihat pria yang ia cintai dan percayai sepenuh hati kini berpelukan dengan gadis lain membuat kakinya hampir ambruk. Air matanya pun tidak kuasa ia tahan. Meski berusaha ia sangkal, nyatanya Sean memang tidak pernah mencintainya. “Aku akan segera mengganti gaunku. Terima kasih karena sudah membawakan gaun cantik itu untukku.” Suara riang Tania kembali menyentak Gyana. “Baik. Aku akan menunggumu di luar. Kamu akan terlihat sangat cantik malam ini.” Sean segera bangkit dari sofa, lalu berbalik menuju pintu. Dalam kesedihan yang sudah semakin dalam, Gyana melangkah menjauh. Sean tidak hanya menghibur Tania, pria itu juga dengan senang hati meminta Mike membawakan gaun baru untuk Tania.Terima kasih sudah mampir, ya :)
Pagi-pagi sekali Gyana sudah meminta Fiska dan dua pelayan rumah untuk membersihkan ruangan kecil tidak jauh dari kamarnya. Setelah permintaannya untuk bercerai dengan Sean ditolak mentah-mentah, maka Gyana segera menyusun beberapa rencana untuknya memulai hidup yang baru. Selain toko D'Arta Bakery yang akan nanti menjadi tanggung jawabnya, kini ia akan memulai kembali pekerjaannya sebagai content creator. “Tukangnya sudah Bibi hubungi, kan? Nanti teman saya akan ke sini untuk memantau.” tanya Gyana, di tangannya terdapat IPad yang berisi daftar persiapannya untuk membuka studio. Lama vakum sebagai content creator, Gyana harus memulai semuanya dari awal lagi. Apalagi sekarang, banyak sekali orang yang satu profesi dengannya. Gyana harus memutar otak agar tidak kehilangan followers dan menambah followers di akun media sosialnya. Temannya yang bekerja sebagai desain interior Gyana libatkan untuk mengubah ruangan kecil ini menjadi studio seperti yang ia inginkan. Setelah beberapa ha
Riak ketenangan di wajah Haris pun terusik. Kalimat terakhir yang Gyana lontarkan berhasil membuatnya terkejut. Betapa tidak, putri yang enggan ia akui itu kini berdiri di depannya dengan berani dan mengajukan permintaan paling tidak masuk akal. Sudut bibir Haris terangkat samar. Terkesan meremehkan dan sinis. “Jangan bergurau, Gya.” “Aku serius, Ayah. Dan aku berharap Ayah menyetujuinya!” ucap Gyana terpancing dengan respon ayahnya. Beberapa saat setelah Gyana protes, Haris terkekeh. “Kamu yang meminta ingin menikah dengan Sean. Bagaimana bisa sekarang malah meminta cerai? Kamu kira pernikahan kalian hanya sekedar mainan anak muda?” Tatapan Haris langsung tidak ramah. Nada bicaranya pun meski tidak meninggi, tetapi menyimpan amarah. Gyana meremas sisi gaunnya kuat. Gyana jelas mengingat hal itu. Satu tahun yang lalu, ia langsung mengiyakan tanpa paksaan rencana perjodohan itu. Tapi itu ia lakukan hanya demi mendapat pengakuan dan perhatian dari keluarganya. Tanpa berpikir pan
"Aku bahagia sekali malam ini. Dan tentu saja ini juga karena bantuan Kak Sean.” Setelah merasa lebih baik, Gyana keluar kamar. Penampilannya memang tidak serapi tapi, tapi Gyana sengaja keluar sebab masih ada keperluan. Alih-alih langsung sesuai rencana, pemandangan pertama yang ia jumpai justru Tania yang sedang menggandeng lengan Sean. Kaki Gyana berhenti. Diliriknya ke arah sebuah lorong tidak jauh dari kamar Tania, dua manusia yang membuatnya hampir mati itu berada. Posisi mereka memang cukup jauh, tetapi Gyana bisa melihat jelas rona bahagia di wajah Sean. Binar kebahagiaan itu sangat menyakiti hati Gyana. Berkali-kali ia mencoba menahan, tetapi tetap saja sakitnya masih bisa ia rasakan. “Aku turut bahagia, Tania.” Sean tidak sungkan mengusap lembut tangan Tania yang masih bertengger di lengannya. Selama ini Sean tidak pernah sehangat itu memperlakukan Gyana. Tidak hanya itu, meski tidak mengabaikan Gyana, Sean juga sering menjaga jarak darinya. Dulu Gyana berpikir itu kare
"Acara intinya akan kita mulai. Dimohon untuk Nona Tania Danuarta agar berdiri di tempat utama, ya. Sebentar lagi kita akan ke acara tiup lilin dan potong kue.” Suara MC disambut dengan tepuk tangan meriah para tamu undangan menyertai langkah Tania menuju sisi utama acara. “Kira-kira siapa ya yang akan mendapatkan kue potongan pertama dari Nona Tania?” MC tersebut kembali memancing perhatian orang-orang yang hadir. Sedangkan Tania terus menampilkan senyum anggun dan manisnya. Tania terlihat seperti putri berhati malaikat. Tanpa celah. Namun, bagi Gyana sebaliknya. Wajah lembut Tania hanyalah topeng yang berhasil menipu banyak orang. Tania tidak hanya sudah merebut posisinya sebagai putri bungsu di keluarga Danuarta, tetapi juga menghancurkan pernikahannya. “Aku mempersembahkan kue pertama ini untuk Gyana!” Mendengar namanya disebut, Gyana langsung tersentak. Ia yang awalnya berdiri paling ujung di samping Raymond kini menjadi pusat perhatian. “Ke sini, Gya. Kamu juga harus bahag
Gyana hanya bisa diam. Dadanya langsung penuh dan air matanya berkumpul mendesak untuk keluar. Kedua tangannya terkepal kuat dan bibirnya terkatup rapat menahan teriakan. Raymond menatap sinis Gyana. Pria itu sama sekali tidak menunjukkan rasa simpati apalagi iba melihat hancurnya Gyana. Bagi Raymond tidak ada yang lebih penting, kecuali kebahagiaan Tania. Kaki panjang Raymond mendekat. Kedua tangannya dimasukkan ke saku celana hitamnya. Sepatu mahal berhenti tepat beberapa senti dari Gyana. “Sean sudah mengenal Tania lama. Jangan harap kamu bisa mempengaruhi Sean hanya karena dia suami kamu. Bagi Sean, status kalian hanya sebatas di dokumen,” bisik Raymond memojokkan Gyana. Sudut bibir pria itu terangkat. Sorot sinisnya sekalipun tidak pernah luntur sejak Gyana pertama kali datang. Diamnya Gyana membuat Raymond semakin membara untuk membuat adik yang tidak pernah ia anggap itu tidak nyaman. “Bagi kami, termasuk Sean. Kehadiran kamu itu tidaklah penting. Ibarat taman, kamu ha
Gyana menoleh cepat. Satu alis Gyana terangkat, heran dengan putri angkat keluarganya itu. Tania berteriak histeris sembari menggunting gaunnya sendiri. “Ayah tolong!" jerit Tania lagi. Kali ini gerakannya semakin cepat. “Apa yang kamu lakukan, hah?!” bentak Gyana, lalu berjalan menahan pergerakan Tania. “Lepaskan, Tania!”Tania tidak mengindahkan Gyana. Gadis itu terus berusaha merusak gaunnya. Hingga pintu pun terbuka dan bersamaan dengan itu, tiga lelaki muncul. Gunting di tangan Tania dengan cepat berpindah ke Gyana. Belum sempat Gyana bereaksi, Tania lebih dulu berlari menuju Haris dan yang lainnya. Kemudian terisak pilu di pelukan Haris. Tentu saja tangisan itu membuat semua orang heran, termasuk Gyana. Apalagi penampilan Tania yang kacau karena gaunnya yang sudah rusak. “Apa yang terjadi padamu, Tania?” tanya Haris cemas, mengurai pelukannya pada Tania lalu menatap gadis itu lekat. Alih-alih menjawab, Tania justru semakin mengeraskan tangisannya. “Gaunmu mengapa?” Sean b







