Share

TATAPAN YANG BERBEDA

Author: Anonara
last update publish date: 2026-09-10 13:43:13

Gyana hanya bisa diam. Dadanya langsung penuh dan air matanya berkumpul mendesak untuk keluar. Kedua tangannya terkepal kuat dan bibirnya terkatup rapat menahan teriakan.

Raymond menatap sinis Gyana. Pria itu sama sekali tidak menunjukkan rasa simpati apalagi iba melihat hancurnya Gyana. Bagi Raymond tidak ada yang lebih penting, kecuali kebahagiaan Tania.

Kaki panjang Raymond mendekat. Kedua tangannya dimasukkan ke saku celana hitamnya. Sepatu mahal berhenti tepat beberapa senti dari Gyana.

“Sean sudah mengenal Tania lama. Jangan harap kamu bisa mempengaruhi Sean hanya karena dia suami kamu. Bagi Sean, status kalian hanya sebatas di dokumen,” bisik Raymond memojokkan Gyana.

Sudut bibir pria itu terangkat. Sorot sinisnya sekalipun tidak pernah luntur sejak Gyana pertama kali datang. Diamnya Gyana membuat Raymond semakin membara untuk membuat adik yang tidak pernah ia anggap itu tidak nyaman.

“Bagi kami, termasuk Sean. Kehadiran kamu itu tidaklah penting. Ibarat taman, kamu hanya dedaunan kering yang lebih pantas disapu agar tidak merusak pemandangan.”

Manik sendu Gyana bertatapan langsung dengan Raymond. Pria ini memiliki sorot mata yang hangat dan meneduhkan. Sayangnya, tatapan itu tidak pernah Raymond berikan untuk Gyana.

Miris memang.

Padahal di tubuh Raymond dan Gyana mengalir darah yang sama. Mereka juga lahir dari lahir ibu yang sama. Hanya karena tumbuh di lingkungan yang berbeda, Gyana dianggap sebagai pengganggu yang merusak ketentraman keluarga Danuarta.

Salahkah jika Gyana bisa berandai, seharusnya ia tidak perlu mengetahui identitasnya?

Wajah Raymond mendadak berubah. Pria berambut cokelat ikal itu juga langsung memalingkan wajahnya, menghindari mata Gyana.

“Jangan perlihatkan wajah sedihmu. Para tamu bisa beranggapan negatif nanti. Saya tidak mau melihat acara Tania gagal hanya karena kamu,” ucapnya tanpa menatap Gyana. Raymond pura-pura sibuk memperbaiki kancing jasnya.

“Tapi aku bukan—”

“Jangan membantah! Segera kembali ke ruang utama. Kamu tidak sepenting itu untuk ditunggu.” Setelah memotong ucapan Gyana, Raymond segera mengayunkan langkah dengan terburu-buru.

“Sial! Mengapa tatapan sedihnya tiba-tiba membuat dadaku sesak?” gumam Raymond pelan.

Sementara itu, Gyana pun ikut melangkah di belakang Raymond. Kesedihannya memang masih melekat di hati, tetapi ia tidak punya waktu untuk terus meratap. Gyana harus bangkit.

Namun, semesta belum sepenuhnya berpihak pada Gyana. Tepat saat Gyana baru menginjakkan kaki di lorong samping ruang utama, ia melihat Mike yang membawa sebuah paper bag berukuran sedang dengan terburu-buru.

Penasaran dengan apa yang dilakukan Mike, Gyana pun mengikuti pria itu diam-diam. Melihat dari arah yang Mike lewati, Gyana mulai berpikir bahwa kemungkinan itu barang penting karena mengarah ke ruang pribadi keluarga Danuarta.

Di kediaman Danuarta, masing-masing anggota keluarga memiliki ruangan pribadi, kecuali Gyana. Ia hanya memiliki kamar yang merangkap berbagai fungsi. Ruangan itu pun berada di sisi berbeda dengan anggota keluarga lainnya.

Gyana melangkah pelan penuh hati-hati. Matanya menyipit dengan waspada. Bagaimanapun kehadirannya di sini akan menjadi pertanyaan para pelayan atau anggota keluarga lain.

Mike berhenti tepat di depan ruangan pribadi Tania. Kening Gyana berkerut samar, semakin penasaran. Hingga saat pintu terbuka, sosok yang tidak ia sangka muncul.

Sean.

Pria itu segera meraih paperbag yang dibawa Mike. Pintu tertutup kembali dan Mike pergi.

Gyana segera bersembunyi di balik pilar besar. Masih di penuhi dengan rasa penasaran, Gyana pun melanjutkan aksinya.

Setelah memastikan situasi aman, Gyana lekas melesat menuju ruangan Tania. Di luar dugaan, pintu ruangan ternyata tidak tertutup rapat. Gyana bisa melihat dan mendengar apa yang Sean lakukan di sana.

Hati Gyana mencelos. Tepat di depan matanya, Sean dengan penuh perhatian menghibur Tania yang masih sedih. Genggaman tangan Sean begitu lembut melindungi tangan Tania, seolah-olah mengatakan bahwa ia akan selalu berada di pihak gadis itu.

“Aku tidak tahu kalau tidak ada kamu di sini, Kak. Aku tidak mungkin memakai gaun rusak ini di acara spesialku,” ucap Tania lembut menatap Sean dengan mata berkaca-kaca.

Begitu pula Sean, pria itu mendekat. Kemudian tanpa ragu mengulurkan tangannya untuk menghapus jejak air mata di sudut mata Tania. Tatapannya begitu lembut dan hangat.

Belum pernah Gyana menyaksikan sisi hangat Sean tersebut. Meskipun Sean tidak pernah bersikap dingin padanya, tetapi Gyana jelas mengingat cara Sean saat menatapnya.

Bibir Gyana bergetar. Matanya pun memanas. Sekuat tenaga ia menahan tangis yang ingin menyeruak.

“Aku akan memastikan kamu selalu bahagia, Tania. Apalagi untuk malam ini. Tidak akan aku biarkan ada yang merusak acara bahagiamu,” hibur Sean.

Kedua sudut bibir Tania membentuk garis senyum. Jemari lentiknya menahan tangan Sean agar tetap berada di kedua sisi wajahnya.

“Termasuk Gyana, kan?”

Sean terdiam sejenak. Tidak hanya Tania, Gyana pun menunggu jawaban itu. Ia sangat berharap Sean mengecualikannya kali ini.

“Tentu saja, Tania,” jawab Sean mantap. “Sekalipun itu Gyana, tidak akan aku biarkan dia membuatmu bersedih.”

Tania tersenyum lebar dan tanpa ragu merengkuh leher Sean untuk ia peluk. “Terima kasih, Kak Sean. Aku sangat bahagia sekarang.”

Sean awalnya terdiam. Namun, perlahan membalas pelukan Tania. “Aku juga sangat bahagia jika kamu ikut bahagia.”

Di saat kedua orang itu diliputi kebahagiaan, Gyana justru sebaliknya. Hatinya terasa sedang diremas. Rasa sakit melihat pria yang ia cintai dan percayai sepenuh hati kini berpelukan dengan gadis lain membuat kakinya hampir ambruk.

Air matanya pun tidak kuasa ia tahan. Meski berusaha ia sangkal, nyatanya Sean memang tidak pernah mencintainya.

“Aku akan segera mengganti gaunku. Terima kasih karena sudah membawakan gaun cantik itu untukku.” Suara riang Tania kembali menyentak Gyana.

“Baik. Aku akan menunggumu di luar. Kamu akan terlihat sangat cantik malam ini.” Sean segera bangkit dari sofa, lalu berbalik menuju pintu.

Dalam kesedihan yang sudah semakin dalam, Gyana melangkah menjauh. Sean tidak hanya menghibur Tania, pria itu juga dengan senang hati meminta Mike membawakan gaun baru untuk Tania.

Anonara

Terima kasih sudah mampir, ya :)

| 2
Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Setelah Pisah Ranjang, Suamiku Baru Mengejar Cinta   GAGAL

    "Gimana? Tuan Muda Sean bersedia datang tidak?” Tania mencoba menghubungi Sean lagi. Namun, hasilnya tetap sama. Panggilan telepon yang ia lakukan sama sekali tidak mendapat respon dari Sean. Pesan-pesan yang Tania kirimkan juga tidak kunjung mendapat balasan. Padahal status pesan yang dia kirim sudah bercentang dua. Tidak biasanya Sean mengabaikannya begini. “Waah, sepertinya Sean sudah tidak memprioritaskan kamu lagi, Tania!” cibir salah satu wanita yang duduk di meja yang sama dengan Tania. “Diam kamu!” sungut Tania kesal. “Kalau memang Kak Sean tidak bisa datang itu karena Kak Sean lagi sibuk. Bukan berarti sengaja tidak memperdulikan aku.” “Karena kamu kalah taruhan itu artinya kamu harus mentraktir kami tas mahal limited edition itu. Dan Tuan Muda Sean yang tidak bisa datang itu artinya kamu yang harus bayar semua termasuk belanjaan kami yang lain.”Ucapan wanita berambut pirang membuat dua wanita lainnya tertawa renyah bercampur seringaian licik semakin membuat wajah Tania

  • Setelah Pisah Ranjang, Suamiku Baru Mengejar Cinta   MENIKMATI WAKTU BERDUA

    “Aku yang melakukan itu, Sean. Bukan para pelayan tidak bersalah itu.” Tangan Gyana dengan cepat dicekal Sean dengan kuat. Tarikan Sean yang kuat dan mendadak membuat Gyana yang tidak bersiap langsung terdorong ke depan dan menubruk dada Sean yang telanjang sebagian. Alhasil, bibir Gyana yang hanya pernah sekali bersentuhan dengan fisik Sean pun mendarat di dada Sean tanpa bisa dicegah. Mata Gyana membulat dan spontan hendak mendorong Sean. Namun, pergerakannya justru ditahan pria itu. Tenaga Sean yang jauh lebih besar dibanding Gyana membuat wanita yang masih memakai pakaian olahraga itu tidak berkutik. Beruntung sekarang mereka sudah berada di kamar Gyana. Sementara para pelayan yang tadi dihukum di depan sudah dibubarkan Sean. “Jelaskan semuanya!” pinta Sean memusatkan pandangannya pada wajah Gyana yang tampak memerah karena selesai berolahraga. Suara dingin dan penuh penekanan membuat Gyana menelan ludah dengan susah payah. Meski sering melontarkan kalimat ketus dan raut din

  • Setelah Pisah Ranjang, Suamiku Baru Mengejar Cinta   PAGI MENCEKAM

    “Nyonya Gyana!” Fiska berlari kecil menghampiri Gyana yang baru saja sampai di teras rumah. Bulir keringat masih membasahi kening dan sekitar sisi wajahnya. Gyana juga belum sempat meneguk minuman untuk membasahi kerongkongannya yang terasa kering. Napas Gyana bahkan masih tersengal-sengal karena baru selesai berlari pagi. “Gawat, Nyonya!” seru Fiska dengan wajah tegang. “Anu… Tuan….”Gyana mengangkat satu alisnya. Mencoba memahami maksud perkataan Fiska yang sepotong-sepotong. Perlahan Gyana mengusap dengan pelan lengan Fiska, berharap wanita itu bisa lebih tenang.“Ada apa dengan Tuan?” tanya Gyana lembut. Ia juga mengiringi Fiska untuk masuk ke rumah. “Coba Bibi jelaskan pelan-pelan.” “Tuan—”“Kalau tidak ada yang berani mengaku saya tidak akan segan-segan memecat kalian semua!” Belum sempat Fiska mengurai penjelasan, suara Sean lebih dulu terdengar dari lantai dua. Alih-alih berbicara dengan nada tenang dan rendah seperti biasa, kali ini suara Sean sangat kentara sedang emosi

  • Setelah Pisah Ranjang, Suamiku Baru Mengejar Cinta   TERTAHAN

    “Kamu tidak boleh mencintai Nael. Rasanya di sini….” Sean menunjuk dadanya. Matanya masih sayu dan suaranya serak serta lirih.. “Tidak rela kamu berdekatan dengan dia.”Guana tidak kunjung menjawab. Malas sekali menanggapi celotehan Sean yang semakin ngawur. Kalau bukan karena pria ini dicari Mike, Gyana mana mau menginjakkan kakinya di tempat sialan ini. Ruang kerja Sean masih sama seperti enam bulan lalu. Bahkan foto Tania masih menempel di dinding dengan begitu menawan. Senyumnya pun masih sama menyebalkan dengan Tania yang asli. “Udah tau nggak bisa minum banyak malah dipaksa,” sungut Gyana seraya melepaskan sepatu Sean. Sebenarnya Gyana sama sekali tidak menduga bahwa Sean masih memakai kemeja, celana dan sepatu kerjanya. Apalagi ini sudah tiga jam dari semenjak pria itu pulang dari kantor. Banyaknya gelas kosong bekas minuman beralkohol itu pun membuat Gyana berasumsi tampaknya kondisi Sean memang tidak baik. Saat pulang tadi pun, Gyana sempat heran melihat penampilan suamin

  • Setelah Pisah Ranjang, Suamiku Baru Mengejar Cinta   KACAU

    "Bunga untuk siapa itu, Bi?” tanya Sean. Pria itu baru saja pulang dari kantor. Berbeda dengan biasanya, malam ini Sean terlihat kacau. Rambut yang biasanya rapi jadi berantakan, tiga kancing kemeja atas sudah terbuka dengan dasi yang sudah tidak terdapat mengikat leher dan jas yang biasanya masih terpakai kini hanya disampirkan di lengan. Aura Sean terasa lebih suram dari biasa. Suaranya juga lebih dingin dan ketus serta matanya yang menatap sinis pada buket bunga besar yang berada di atas meja ruang tengah. Sebuah buket lily putih yang langsung mengundang curiga Sean saat melihat benda tersebut. “Dari kartu ucapannya ditujukan ke Nyonya Gyana, Tuan.” “Dari siapa?” Fiska menggeleng. “Tidak ada nama pengirimnya, Tuan.” Sean berjalan menuju meja. Rasa penasaran membuatnya ingin melihat dari dekat bunga yang ditujukan kepada istrinya tersebut. Namun, tepat saat tangannya hendak menyentuh buket bunga tersebut, suara Gyana lebih dulu menghentikan gerakan Sean. “Jangan sentuh itu,

  • Setelah Pisah Ranjang, Suamiku Baru Mengejar Cinta   PAGI YANG BURUK

    “Kamu sengaja menghindari aku lagi?” Langkah Gyana terhenti saat mendengar suara dari arah belakang. Pintu kamar baru saja tertutup, Gyana kira kamar utama yang berada tidak jauh dari kamarnya pun sudah tidak berpenghuni. Biasanya Sean sudah berangkat kerja beberapa menit yang lalu. Sama dengan pagi biasanya, Gyana keluar kamar sengaja menunggu Sean pergi kerja. Hidup dengan pria yang menjadi penyebab luka di hatinya tentu saja sangat menyiksa batin. Apalagi jika itu adalah Sean. Pria itu bahkan tidak pernah menyadari bahwa Gyana menghindarinya karena ulahnya sendiri. “Aku tidak bermaksud meninggalkanmu di tepi jalan semalam. Tania—”“Hentikan omong kosongmu. Aku tidak sudi mendengar pembelaan dari mulutmu. Semua itu tidak akan mengubah persepsiku tentang hubungan kalian,” sela Gyana ketus. Gyana sudah siap berangkat kerja. Waktunya tinggal satu jam lagi sebelum nanti bertemu dengan mitra kerjanya. Namun, Sean dengan tanpa bersalah justru menahan dirinya. Dan, seperti yang telah

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status