FAZER LOGIN"Acara intinya akan kita mulai. Dimohon untuk Nona Tania Danuarta agar berdiri di tempat utama, ya. Sebentar lagi kita akan ke acara tiup lilin dan potong kue.” Suara MC disambut dengan tepuk tangan meriah para tamu undangan menyertai langkah Tania menuju sisi utama acara. “Kira-kira siapa ya yang akan mendapatkan kue potongan pertama dari Nona Tania?” MC tersebut kembali memancing perhatian orang-orang yang hadir. Sedangkan Tania terus menampilkan senyum anggun dan manisnya. Tania terlihat seperti putri berhati malaikat. Tanpa celah. Namun, bagi Gyana sebaliknya. Wajah lembut Tania hanyalah topeng yang berhasil menipu banyak orang. Tania tidak hanya sudah merebut posisinya sebagai putri bungsu di keluarga Danuarta, tetapi juga menghancurkan pernikahannya. “Aku mempersembahkan kue pertama ini untuk Gyana!” Mendengar namanya disebut, Gyana langsung tersentak. Ia yang awalnya berdiri paling ujung di samping Raymond kini menjadi pusat perhatian. “Ke sini, Gya. Kamu juga harus bahag
Gyana hanya bisa diam. Dadanya langsung penuh dan air matanya berkumpul mendesak untuk keluar. Kedua tangannya terkepal kuat dan bibirnya terkatup rapat menahan teriakan. Raymond menatap sinis Gyana. Pria itu sama sekali tidak menunjukkan rasa simpati apalagi iba melihat hancurnya Gyana. Bagi Raymond tidak ada yang lebih penting, kecuali kebahagiaan Tania. Kaki panjang Raymond mendekat. Kedua tangannya dimasukkan ke saku celana hitamnya. Sepatu mahal berhenti tepat beberapa senti dari Gyana. “Sean sudah mengenal Tania lama. Jangan harap kamu bisa mempengaruhi Sean hanya karena dia suami kamu. Bagi Sean, status kalian hanya sebatas di dokumen,” bisik Raymond memojokkan Gyana. Sudut bibir pria itu terangkat. Sorot sinisnya sekalipun tidak pernah luntur sejak Gyana pertama kali datang. Diamnya Gyana membuat Raymond semakin membara untuk membuat adik yang tidak pernah ia anggap itu tidak nyaman. “Bagi kami, termasuk Sean. Kehadiran kamu itu tidaklah penting. Ibarat taman, kamu ha
Gyana menoleh cepat. Satu alis Gyana terangkat, heran dengan putri angkat keluarganya itu. Tania berteriak histeris sembari menggunting gaunnya sendiri. “Ayah tolong!" jerit Tania lagi. Kali ini gerakannya semakin cepat. “Apa yang kamu lakukan, hah?!” bentak Gyana, lalu berjalan menahan pergerakan Tania. “Lepaskan, Tania!”Tania tidak mengindahkan Gyana. Gadis itu terus berusaha merusak gaunnya. Hingga pintu pun terbuka dan bersamaan dengan itu, tiga lelaki muncul. Gunting di tangan Tania dengan cepat berpindah ke Gyana. Belum sempat Gyana bereaksi, Tania lebih dulu berlari menuju Haris dan yang lainnya. Kemudian terisak pilu di pelukan Haris. Tentu saja tangisan itu membuat semua orang heran, termasuk Gyana. Apalagi penampilan Tania yang kacau karena gaunnya yang sudah rusak. “Apa yang terjadi padamu, Tania?” tanya Haris cemas, mengurai pelukannya pada Tania lalu menatap gadis itu lekat. Alih-alih menjawab, Tania justru semakin mengeraskan tangisannya. “Gaunmu mengapa?” Sean b
Tatapan tajam menelisik Gyana dari ujung kaki hingga rambut. Rahang Sean mengetat. Jelas sekali pria itu sedang di puncak kemarahan. “Apanya, Sean?” tanya Gyana pura-pura tidak mengerti. Matanya mengikuti arah pandang Sean. Raut datar dengan tampang tidak merasa bersalah itu sengaja Gyana suguhkan di hadapan sang suami. “Apa aku terlihat cantik malam ini?” Kaki Sean melangkah lebih dekat. Aura pria itu semakin tidak bersahabat. Tinggi Gyana yang hanya sebatas dagu Sean membuat pria itu harus menunduk menatap langsung kepada perempuan di hadapannya ini. “Aku sudah memintamu memakai perhiasan yang ku beri, Gya. Dan gaunmu, bukan ini yang Mike siapkan.” Gyana menyunggingkan senyum tipis. Kemudian mendongak dengan berani, menatap Sean tepat ke arah manik pekat suaminya. “Aku lebih menyukai gaun dan perhiasan ini. Lagipula aku harus tampil cantik untuk mendampingi suamiku.”Sean merasa tidak percaya dengan apa yang ia lihat dan barusan didengarnya. Perempuan di depannya ini seperti
Pesan itu Gyana biarkan begitu saja. Alih-alih membalas pesan Sean, Gyana justru mematikan ponselnya. Kali ini Gyana membiarkan kemungkinan Sean akan marah padanya. Gyana tidak akan membiarkan Sean mengacaukan rencananya. Kejutan untuk Tania harus berhasil. Bayangan wajah marah gadis itu membuat Gyana begitu bersemangat saat Valerie bersama para staf di butik itu mulai beraksi. Selama ini Gyana malas berdandan apalagi membeli barang-barang mewah. Ah tidak, lebih tepatnya Gyana tidak pernah percaya diri memakai apapun yang bernilai mahal. Bahkan sekedar riasan pun, Gyana seringkali merasa tidak pantas. Apalagi setelah insiden beberapa tahun silam. Gya ujianna semakin merasa kecil dan tidak pantas hidup sebagai keluarga Danuarta. Inilah yang menjadi alasan kuat ia menerima pernikahannya dengan Sean. Hanya demi diterima dengan baik di keluarga kandungnya. Sayangnya itu hanyalah sebuah mimpi yang tidak akan pernah menjadi kenyataan. Perlakuan tidak menyenangkan tetap saja diterima Gya
"Ambil lagi saja hadiah ini. Aku tidak menginginkannya.” Gyana meninggalkan hadiah yang Sean berikan, lalu pergi begitu saja. “Gya!” seru Sean menahan geram. Namun, Gyana tidak menggubris panggil itu. Langkahnya semakin cepat menaiki tangga. Gyana tidak peduli jika dengan ini Sean akan membencinya. Selama ini Sean juga tidak pernah menyukainya dengan tulus. Pria itu hanya menginginkan Tania. Sean mengepalkan kedua tangannya. Penolakan Gyana membuat egonya tersentil. Selama ini Gyana tidak pernah menolak permintaannya. “Gyana tunggu! Kamu—”“Tuan, kita sudah harus berangkat sekarang. Pihak Mercusuar sudah tiba di bandara.” Mike—asisten pribadi Sean muncul. Sean melonggarkan sedikit dasinya. Hembusan kasar lolos begitu saja, membuat Mike sempat heran. Tidak biasanya wajah sang atasan tampak memerah karena amarah sepagi ini. Apalagi ini masih di rumah. Seingat Mike, Sean bahkan jarang menunjukkan emosi berlebih saat di rumah, tepatnya setelah menikah dengan Gyana. “Cepat, Mike! K







