FAZER LOGINGyana menoleh cepat. Satu alis Gyana terangkat, heran dengan putri angkat keluarganya itu. Tania berteriak histeris sembari menggunting gaunnya sendiri.
“Ayah tolong!" jerit Tania lagi. Kali ini gerakannya semakin cepat. “Apa yang kamu lakukan, hah?!” bentak Gyana, lalu berjalan menahan pergerakan Tania. “Lepaskan, Tania!” Tania tidak mengindahkan Gyana. Gadis itu terus berusaha merusak gaunnya. Hingga pintu pun terbuka dan bersamaan dengan itu, tiga lelaki muncul. Gunting di tangan Tania dengan cepat berpindah ke Gyana. Belum sempat Gyana bereaksi, Tania lebih dulu berlari menuju Haris dan yang lainnya. Kemudian terisak pilu di pelukan Haris. Tentu saja tangisan itu membuat semua orang heran, termasuk Gyana. Apalagi penampilan Tania yang kacau karena gaunnya yang sudah rusak. “Apa yang terjadi padamu, Tania?” tanya Haris cemas, mengurai pelukannya pada Tania lalu menatap gadis itu lekat. Alih-alih menjawab, Tania justru semakin mengeraskan tangisannya. “Gaunmu mengapa?” Sean bersuara. Tatapan pria itu langsung tertuju pada rok gaun Tania yang sudah rusak. “Itu—” “Gyana!” Tania menyela Gyana cepat. Suaranya serak disertai napas yang tersengal-sengal. Telunjuknya mengarah pada Gyana dengan yakin. “Gyana merusak gaunku. Dia sudah merusaknya dengan gunting itu.” Mata Gyana membulat seketika setelah mendengar tuduhan konyol Tania. Bahkan di acara seperti ini pun, Tania masih bisa membuat namanya buruk. Permainan kotor gadis itu sungguh di luar perkiraan Gyana. Sementara itu, tatapan menusuk dengan kebencian yang semakin terlihat jelas di mata para pria ini membuat Gyana menyadari bahwa malam ini ia akan kembali di hukum. Apalagi saat mereka menyadari bahwa Gyana sedang memegang sebuah gunting. “Dasar gadis berhati busuk!” maki Raymond. “Kamu memang pembuat masalah, Gya!” tambah Haris sembari menenangkan Tania dengan tatapan tajam yang menusuk Gyana. Dituduh sepihak membuat Gyana menggeleng keras. Gunting di tangannya langsung dilempar. “Bohong! Tania bohong!” Kedua tangan Gyana mengepal. Kakinya mendekat kepada Tania. Matanya nyalang penuh amarah. “Jelaskan yang sebenarnya, Tania. Aku tidak pernah menyentuh gaunmu!” Tania melepaskan pelukan Haris. Matanya memerah dengan ekspresi menyedihkan. “Apa salahku, Gya? Bukankah kamu tahu Ayah yang mau acara ini dirayakan dengan meriah? Tapi mengapa aku yang harus kamu permalukan?” tanya Tania sendu. “Aku tidak—” “Ikut aku!” Sebuah tangan besar menarik pergelangan tangan Gyana dengan kasar. Sean tidak mengindahkan Gyana yang meringis kesakitan. Meskipun Gyana terus mengelak tuduhan Tania, Sean seakan menulikan telinganya. Tanpa memperdulikan pandangan penuh tanya para tamu, Sean membawa Gyana ke arah pintu samping. Kakinya yang panjang terayun cepat, membuat Gyana cukup kesulitan mengimbanginya. Telapak kaki Gyana terasa perih karena heels yang ia pakai membuatnya beberapa kali hampir terhuyung. Di sudut teras yang mendekat ke arah taman rumah, Sean menghempaskan tangan Gyana begitu saja. Bersamaan dengan berhentinya langkah kaki Sean, tubuh Gyana pun sedikit terdorong ke depan. “Aargh!” Gyana mengusap pergelangan tangannya yang memerah. Sean hanya melirik sebentar, lalu kembali memusatkan pandangannya pada Gyana yang masih meringis pelan. “Mengapa kamu tega melakukan itu kepada Tania?” bisik Sean menusuk. Gyana mengangkat wajahnya. Manik hazel Gyana seakan tidak percaya dengan kilatan kemarahan yang tampak di mata Sean. Tatapannya dingin dengan kedua alis tebal yang menukik tajam. “Jawab, Gya!” bentak Sean. Nadanya sedikit meninggi dan sinis dari biasanya. Gyana mendengus, lalu memalingkan wajahnya ke arah lain. Sudut bibirnya terangkat sedikit. Reaksi yang mengundang kemarahan Sean semakin memuncak. “Apa yang mesti aku jawab? Aku tidak melakukan apapun!" tukas Gyana frustasi. Jika saja Gyana tidak mengetahui isi hati Sean yang sesungguhnya untuk Tania, Gyana pasti akan terkejut dengan reaksi berlebihan Sean hanya karena gaun sialan milik Tania. “Lagipula mengapa kamu langsung mempercayai Tania? Bukankah istrimu itu aku? Kamu bahkan tidak bertanya apakah aku benar-benar melakukannya atau tidak!” Sean terkesiap mendengar kalimat tegas Gyana. Tidak terselip keraguan saat Gyana mengatakan itu di hadapan Sean. Alih-alih takut, Gyana justru menampakkan keberanian yang belum pernah Sean lihat. Tidak hanya manik hazel itu yang menatap Sean lekat, tubuh perempuan itu pun condong mendekat padanya. Jarak mereka teramat dekat dari biasanya. Harum manis tubuh Gyana menembus penciuman Sean. “Tania tidak pernah berbohong.” Nada bicara Sean lebih melunak. Hembusan napas kasar lolos begitu saja. Gyana lekas sedikit memundurkan langkahnya. Meski ia sudah tahu Sean hanya menyukai Tania, tetapi mendengar kalimat pembelaan Sean untuk gadis penuh drama itu tetap meremukkan hati Gyana. “Tapi aku juga tidak pernah mengganggunya. Dia sendiri yang melakukan itu hanya untuk memfitnahku!” ujar Gyana frustasi. Sean melonggarkan dasinya. Pria itu tidak lagi menampakkan kemarahan yang menyala pada Gyana. “Jangan bercanda, Gya. Mana ada orang normal yang menghancurkan gaunnya sendiri.” Gyana terdiam. Rasanya percuma terus mengelak. Sean sudah dibutakan dengan perasaannya pada Tania. Mau dijelaskan hingga berbusa pun, Sean tidak akan mempercayainya. “Sean!” Gyana dan Sean menoleh. Raymond berdiri di ujung tangga teras. Perasaan Gyana langsung tidak nyaman saat melihat Raymond melangkah ke arah mereka. “Tania masih bersedih. Aku mohon, hiburlah dia.” Tanpa memperdulikan Gyana yang statusnya adalah istri Sean, Raymond menatap Sean dengan penuh harap. “Sean suamiku, Kak. Aku tidak setuju Sean ke sana.” Gyana tanpa ragu menahan lengan Sean. Tidak ada tatapan ramah yang Gyana berikan untuk Raymond. Raymond berdecih sinis. “Saya tidak membutuhkan persetujuan kamu. Tania hanya ingin Sean dan suamimu sepertinya tidak keberatan.” Kemudian Raymond beralih menatap Sean. “Benarkan, Sean?” Gyana semakin merapatkan tubuhnya ke Sean lalu menoleh ke samping. Gyana berharap Sean menolak permintaan Raymond. Namun, harapan hanya tinggal angan. Perlahan tangan besar Sean melepaskan jemari Gyana dari lengannya. Gyana menggeleng pelan, masih berharap Sean tidak menemui Tania. “Aku harus menemui Tania sekarang.” ‘Kamu kalah, Gya!’ Detik itu juga Gyana mengakui bahwa dirinya memang tidak pernah menjadi prioritas Sean."Acara intinya akan kita mulai. Dimohon untuk Nona Tania Danuarta agar berdiri di tempat utama, ya. Sebentar lagi kita akan ke acara tiup lilin dan potong kue.” Suara MC disambut dengan tepuk tangan meriah para tamu undangan menyertai langkah Tania menuju sisi utama acara. “Kira-kira siapa ya yang akan mendapatkan kue potongan pertama dari Nona Tania?” MC tersebut kembali memancing perhatian orang-orang yang hadir. Sedangkan Tania terus menampilkan senyum anggun dan manisnya. Tania terlihat seperti putri berhati malaikat. Tanpa celah. Namun, bagi Gyana sebaliknya. Wajah lembut Tania hanyalah topeng yang berhasil menipu banyak orang. Tania tidak hanya sudah merebut posisinya sebagai putri bungsu di keluarga Danuarta, tetapi juga menghancurkan pernikahannya. “Aku mempersembahkan kue pertama ini untuk Gyana!” Mendengar namanya disebut, Gyana langsung tersentak. Ia yang awalnya berdiri paling ujung di samping Raymond kini menjadi pusat perhatian. “Ke sini, Gya. Kamu juga harus bahag
Gyana hanya bisa diam. Dadanya langsung penuh dan air matanya berkumpul mendesak untuk keluar. Kedua tangannya terkepal kuat dan bibirnya terkatup rapat menahan teriakan. Raymond menatap sinis Gyana. Pria itu sama sekali tidak menunjukkan rasa simpati apalagi iba melihat hancurnya Gyana. Bagi Raymond tidak ada yang lebih penting, kecuali kebahagiaan Tania. Kaki panjang Raymond mendekat. Kedua tangannya dimasukkan ke saku celana hitamnya. Sepatu mahal berhenti tepat beberapa senti dari Gyana. “Sean sudah mengenal Tania lama. Jangan harap kamu bisa mempengaruhi Sean hanya karena dia suami kamu. Bagi Sean, status kalian hanya sebatas di dokumen,” bisik Raymond memojokkan Gyana. Sudut bibir pria itu terangkat. Sorot sinisnya sekalipun tidak pernah luntur sejak Gyana pertama kali datang. Diamnya Gyana membuat Raymond semakin membara untuk membuat adik yang tidak pernah ia anggap itu tidak nyaman. “Bagi kami, termasuk Sean. Kehadiran kamu itu tidaklah penting. Ibarat taman, kamu ha
Gyana menoleh cepat. Satu alis Gyana terangkat, heran dengan putri angkat keluarganya itu. Tania berteriak histeris sembari menggunting gaunnya sendiri. “Ayah tolong!" jerit Tania lagi. Kali ini gerakannya semakin cepat. “Apa yang kamu lakukan, hah?!” bentak Gyana, lalu berjalan menahan pergerakan Tania. “Lepaskan, Tania!”Tania tidak mengindahkan Gyana. Gadis itu terus berusaha merusak gaunnya. Hingga pintu pun terbuka dan bersamaan dengan itu, tiga lelaki muncul. Gunting di tangan Tania dengan cepat berpindah ke Gyana. Belum sempat Gyana bereaksi, Tania lebih dulu berlari menuju Haris dan yang lainnya. Kemudian terisak pilu di pelukan Haris. Tentu saja tangisan itu membuat semua orang heran, termasuk Gyana. Apalagi penampilan Tania yang kacau karena gaunnya yang sudah rusak. “Apa yang terjadi padamu, Tania?” tanya Haris cemas, mengurai pelukannya pada Tania lalu menatap gadis itu lekat. Alih-alih menjawab, Tania justru semakin mengeraskan tangisannya. “Gaunmu mengapa?” Sean b
Tatapan tajam menelisik Gyana dari ujung kaki hingga rambut. Rahang Sean mengetat. Jelas sekali pria itu sedang di puncak kemarahan. “Apanya, Sean?” tanya Gyana pura-pura tidak mengerti. Matanya mengikuti arah pandang Sean. Raut datar dengan tampang tidak merasa bersalah itu sengaja Gyana suguhkan di hadapan sang suami. “Apa aku terlihat cantik malam ini?” Kaki Sean melangkah lebih dekat. Aura pria itu semakin tidak bersahabat. Tinggi Gyana yang hanya sebatas dagu Sean membuat pria itu harus menunduk menatap langsung kepada perempuan di hadapannya ini. “Aku sudah memintamu memakai perhiasan yang ku beri, Gya. Dan gaunmu, bukan ini yang Mike siapkan.” Gyana menyunggingkan senyum tipis. Kemudian mendongak dengan berani, menatap Sean tepat ke arah manik pekat suaminya. “Aku lebih menyukai gaun dan perhiasan ini. Lagipula aku harus tampil cantik untuk mendampingi suamiku.”Sean merasa tidak percaya dengan apa yang ia lihat dan barusan didengarnya. Perempuan di depannya ini seperti
Pesan itu Gyana biarkan begitu saja. Alih-alih membalas pesan Sean, Gyana justru mematikan ponselnya. Kali ini Gyana membiarkan kemungkinan Sean akan marah padanya. Gyana tidak akan membiarkan Sean mengacaukan rencananya. Kejutan untuk Tania harus berhasil. Bayangan wajah marah gadis itu membuat Gyana begitu bersemangat saat Valerie bersama para staf di butik itu mulai beraksi. Selama ini Gyana malas berdandan apalagi membeli barang-barang mewah. Ah tidak, lebih tepatnya Gyana tidak pernah percaya diri memakai apapun yang bernilai mahal. Bahkan sekedar riasan pun, Gyana seringkali merasa tidak pantas. Apalagi setelah insiden beberapa tahun silam. Gya ujianna semakin merasa kecil dan tidak pantas hidup sebagai keluarga Danuarta. Inilah yang menjadi alasan kuat ia menerima pernikahannya dengan Sean. Hanya demi diterima dengan baik di keluarga kandungnya. Sayangnya itu hanyalah sebuah mimpi yang tidak akan pernah menjadi kenyataan. Perlakuan tidak menyenangkan tetap saja diterima Gya
"Ambil lagi saja hadiah ini. Aku tidak menginginkannya.” Gyana meninggalkan hadiah yang Sean berikan, lalu pergi begitu saja. “Gya!” seru Sean menahan geram. Namun, Gyana tidak menggubris panggil itu. Langkahnya semakin cepat menaiki tangga. Gyana tidak peduli jika dengan ini Sean akan membencinya. Selama ini Sean juga tidak pernah menyukainya dengan tulus. Pria itu hanya menginginkan Tania. Sean mengepalkan kedua tangannya. Penolakan Gyana membuat egonya tersentil. Selama ini Gyana tidak pernah menolak permintaannya. “Gyana tunggu! Kamu—”“Tuan, kita sudah harus berangkat sekarang. Pihak Mercusuar sudah tiba di bandara.” Mike—asisten pribadi Sean muncul. Sean melonggarkan sedikit dasinya. Hembusan kasar lolos begitu saja, membuat Mike sempat heran. Tidak biasanya wajah sang atasan tampak memerah karena amarah sepagi ini. Apalagi ini masih di rumah. Seingat Mike, Sean bahkan jarang menunjukkan emosi berlebih saat di rumah, tepatnya setelah menikah dengan Gyana. “Cepat, Mike! K







