Share

DRAMA

Author: Anonara
last update publish date: 2026-09-08 10:52:59

Gyana menoleh cepat. Satu alis Gyana terangkat, heran dengan putri angkat keluarganya itu. Tania berteriak histeris sembari menggunting gaunnya sendiri. 

“Ayah tolong!" jerit Tania lagi. Kali ini gerakannya semakin cepat. 

“Apa yang kamu lakukan, hah?!” bentak Gyana, lalu berjalan menahan pergerakan Tania. “Lepaskan, Tania!”

Tania tidak mengindahkan Gyana. Gadis itu terus berusaha merusak gaunnya. Hingga pintu pun terbuka dan bersamaan dengan itu, tiga lelaki muncul. Gunting di tangan Tania dengan cepat berpindah ke Gyana. 

Belum sempat Gyana bereaksi, Tania lebih dulu berlari menuju Haris dan yang lainnya. Kemudian terisak pilu di pelukan Haris. 

Tentu saja tangisan itu membuat semua orang heran, termasuk Gyana. Apalagi penampilan Tania yang kacau karena gaunnya yang sudah rusak. 

“Apa yang terjadi padamu, Tania?” tanya Haris cemas, mengurai pelukannya pada Tania lalu menatap gadis itu lekat. 

Alih-alih menjawab, Tania justru semakin mengeraskan tangisannya. 

“Gaunmu mengapa?” Sean bersuara. Tatapan pria itu langsung tertuju pada rok gaun Tania yang sudah rusak. 

“Itu—”

“Gyana!” Tania menyela Gyana cepat. Suaranya serak disertai napas yang tersengal-sengal. Telunjuknya mengarah pada Gyana dengan yakin. “Gyana merusak gaunku. Dia sudah merusaknya dengan gunting itu.” 

Mata Gyana membulat seketika setelah mendengar tuduhan konyol Tania. Bahkan di acara seperti ini pun, Tania masih bisa membuat namanya buruk. Permainan kotor gadis itu sungguh di luar perkiraan Gyana. 

Sementara itu, tatapan menusuk dengan kebencian yang semakin terlihat jelas di mata para pria ini membuat Gyana menyadari bahwa malam ini ia akan kembali di hukum. Apalagi saat mereka menyadari bahwa Gyana sedang memegang sebuah gunting. 

“Dasar gadis berhati busuk!” maki Raymond. 

“Kamu memang pembuat masalah, Gya!” tambah Haris sembari menenangkan Tania dengan tatapan tajam yang menusuk Gyana. 

Dituduh sepihak membuat Gyana menggeleng keras. Gunting di tangannya langsung dilempar. “Bohong! Tania bohong!” 

Kedua tangan Gyana mengepal. Kakinya mendekat kepada Tania. Matanya nyalang penuh amarah. “Jelaskan yang sebenarnya, Tania. Aku tidak pernah menyentuh gaunmu!”

Tania melepaskan pelukan Haris. Matanya memerah dengan ekspresi menyedihkan. 

“Apa salahku, Gya? Bukankah kamu tahu Ayah yang mau acara ini dirayakan dengan meriah? Tapi mengapa aku yang harus kamu permalukan?” tanya Tania sendu. 

“Aku tidak—” 

“Ikut aku!” Sebuah tangan besar menarik pergelangan tangan Gyana dengan kasar. 

Sean tidak mengindahkan Gyana yang meringis kesakitan. Meskipun Gyana terus mengelak tuduhan Tania, Sean seakan menulikan telinganya. 

Tanpa memperdulikan pandangan penuh tanya para tamu, Sean membawa Gyana ke arah pintu samping. Kakinya yang panjang terayun cepat, membuat Gyana cukup kesulitan mengimbanginya. Telapak kaki Gyana terasa perih karena heels yang ia pakai membuatnya beberapa kali hampir terhuyung. 

Di sudut teras yang mendekat ke arah taman rumah, Sean menghempaskan tangan Gyana begitu saja. Bersamaan dengan berhentinya langkah kaki Sean, tubuh Gyana pun sedikit terdorong ke depan. 

“Aargh!” Gyana mengusap pergelangan tangannya yang memerah. 

Sean hanya melirik sebentar, lalu kembali memusatkan pandangannya pada Gyana yang masih meringis pelan. 

“Mengapa kamu tega melakukan itu kepada Tania?” bisik Sean menusuk. 

Gyana mengangkat wajahnya. Manik hazel Gyana seakan tidak percaya dengan kilatan kemarahan yang tampak di mata Sean. Tatapannya dingin dengan kedua alis tebal yang menukik tajam. 

“Jawab, Gya!” bentak Sean. Nadanya sedikit meninggi dan sinis dari biasanya. 

Gyana mendengus, lalu memalingkan wajahnya ke arah lain. Sudut bibirnya terangkat sedikit. Reaksi yang mengundang kemarahan Sean semakin memuncak. 

“Apa yang mesti aku jawab? Aku tidak melakukan apapun!" tukas Gyana frustasi.

Jika saja Gyana tidak mengetahui isi hati Sean yang sesungguhnya untuk Tania, Gyana pasti akan terkejut dengan reaksi berlebihan Sean hanya karena gaun sialan milik Tania. 

“Lagipula mengapa kamu langsung mempercayai Tania? Bukankah istrimu itu aku? Kamu bahkan tidak bertanya apakah aku benar-benar melakukannya atau tidak!” 

Sean terkesiap mendengar kalimat tegas Gyana. Tidak terselip keraguan saat Gyana mengatakan itu di hadapan Sean. Alih-alih takut, Gyana justru menampakkan keberanian yang belum pernah Sean lihat. 

Tidak hanya manik hazel itu yang menatap Sean lekat, tubuh perempuan itu pun condong mendekat padanya. Jarak mereka teramat dekat dari biasanya. Harum manis tubuh Gyana menembus penciuman Sean. 

“Tania tidak pernah berbohong.” Nada bicara Sean lebih melunak. 

Hembusan napas kasar lolos begitu saja. Gyana lekas sedikit memundurkan langkahnya. Meski ia sudah tahu Sean hanya menyukai Tania, tetapi mendengar kalimat pembelaan Sean untuk gadis penuh drama itu tetap meremukkan hati Gyana. 

“Tapi aku juga tidak pernah mengganggunya. Dia sendiri yang melakukan itu hanya untuk memfitnahku!” ujar Gyana frustasi. 

Sean melonggarkan dasinya. Pria itu tidak lagi menampakkan kemarahan yang menyala pada Gyana. “Jangan bercanda, Gya. Mana ada orang normal yang menghancurkan gaunnya sendiri.” 

Gyana terdiam. Rasanya percuma terus mengelak. Sean sudah dibutakan dengan perasaannya pada Tania. Mau dijelaskan hingga berbusa pun, Sean tidak akan mempercayainya. 

“Sean!” 

Gyana dan Sean menoleh. Raymond berdiri di ujung tangga teras. Perasaan Gyana langsung tidak nyaman saat melihat Raymond melangkah ke arah mereka. 

“Tania masih bersedih. Aku mohon, hiburlah dia.” Tanpa memperdulikan Gyana yang statusnya adalah istri Sean, Raymond menatap Sean dengan penuh harap. 

“Sean suamiku, Kak. Aku tidak setuju Sean ke sana.” Gyana tanpa ragu menahan lengan Sean. Tidak ada tatapan ramah yang Gyana berikan untuk Raymond. 

Raymond berdecih sinis. “Saya tidak membutuhkan persetujuan kamu. Tania hanya ingin Sean dan suamimu sepertinya tidak keberatan.” Kemudian Raymond beralih menatap Sean. 

“Benarkan, Sean?” 

Gyana semakin merapatkan tubuhnya ke Sean lalu menoleh ke samping. Gyana berharap Sean menolak permintaan Raymond.

Namun, harapan hanya tinggal angan. Perlahan tangan besar Sean melepaskan jemari Gyana dari lengannya. 

Gyana menggeleng pelan, masih berharap Sean tidak menemui Tania. 

“Aku harus menemui Tania sekarang.”

‘Kamu kalah, Gya!’ Detik itu juga Gyana mengakui bahwa dirinya memang tidak pernah menjadi prioritas Sean. 

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Setelah Pisah Ranjang, Suamiku Baru Mengejar Cinta   GAGAL

    "Gimana? Tuan Muda Sean bersedia datang tidak?” Tania mencoba menghubungi Sean lagi. Namun, hasilnya tetap sama. Panggilan telepon yang ia lakukan sama sekali tidak mendapat respon dari Sean. Pesan-pesan yang Tania kirimkan juga tidak kunjung mendapat balasan. Padahal status pesan yang dia kirim sudah bercentang dua. Tidak biasanya Sean mengabaikannya begini. “Waah, sepertinya Sean sudah tidak memprioritaskan kamu lagi, Tania!” cibir salah satu wanita yang duduk di meja yang sama dengan Tania. “Diam kamu!” sungut Tania kesal. “Kalau memang Kak Sean tidak bisa datang itu karena Kak Sean lagi sibuk. Bukan berarti sengaja tidak memperdulikan aku.” “Karena kamu kalah taruhan itu artinya kamu harus mentraktir kami tas mahal limited edition itu. Dan Tuan Muda Sean yang tidak bisa datang itu artinya kamu yang harus bayar semua termasuk belanjaan kami yang lain.”Ucapan wanita berambut pirang membuat dua wanita lainnya tertawa renyah bercampur seringaian licik semakin membuat wajah Tania

  • Setelah Pisah Ranjang, Suamiku Baru Mengejar Cinta   MENIKMATI WAKTU BERDUA

    “Aku yang melakukan itu, Sean. Bukan para pelayan tidak bersalah itu.” Tangan Gyana dengan cepat dicekal Sean dengan kuat. Tarikan Sean yang kuat dan mendadak membuat Gyana yang tidak bersiap langsung terdorong ke depan dan menubruk dada Sean yang telanjang sebagian. Alhasil, bibir Gyana yang hanya pernah sekali bersentuhan dengan fisik Sean pun mendarat di dada Sean tanpa bisa dicegah. Mata Gyana membulat dan spontan hendak mendorong Sean. Namun, pergerakannya justru ditahan pria itu. Tenaga Sean yang jauh lebih besar dibanding Gyana membuat wanita yang masih memakai pakaian olahraga itu tidak berkutik. Beruntung sekarang mereka sudah berada di kamar Gyana. Sementara para pelayan yang tadi dihukum di depan sudah dibubarkan Sean. “Jelaskan semuanya!” pinta Sean memusatkan pandangannya pada wajah Gyana yang tampak memerah karena selesai berolahraga. Suara dingin dan penuh penekanan membuat Gyana menelan ludah dengan susah payah. Meski sering melontarkan kalimat ketus dan raut din

  • Setelah Pisah Ranjang, Suamiku Baru Mengejar Cinta   PAGI MENCEKAM

    “Nyonya Gyana!” Fiska berlari kecil menghampiri Gyana yang baru saja sampai di teras rumah. Bulir keringat masih membasahi kening dan sekitar sisi wajahnya. Gyana juga belum sempat meneguk minuman untuk membasahi kerongkongannya yang terasa kering. Napas Gyana bahkan masih tersengal-sengal karena baru selesai berlari pagi. “Gawat, Nyonya!” seru Fiska dengan wajah tegang. “Anu… Tuan….”Gyana mengangkat satu alisnya. Mencoba memahami maksud perkataan Fiska yang sepotong-sepotong. Perlahan Gyana mengusap dengan pelan lengan Fiska, berharap wanita itu bisa lebih tenang.“Ada apa dengan Tuan?” tanya Gyana lembut. Ia juga mengiringi Fiska untuk masuk ke rumah. “Coba Bibi jelaskan pelan-pelan.” “Tuan—”“Kalau tidak ada yang berani mengaku saya tidak akan segan-segan memecat kalian semua!” Belum sempat Fiska mengurai penjelasan, suara Sean lebih dulu terdengar dari lantai dua. Alih-alih berbicara dengan nada tenang dan rendah seperti biasa, kali ini suara Sean sangat kentara sedang emosi

  • Setelah Pisah Ranjang, Suamiku Baru Mengejar Cinta   TERTAHAN

    “Kamu tidak boleh mencintai Nael. Rasanya di sini….” Sean menunjuk dadanya. Matanya masih sayu dan suaranya serak serta lirih.. “Tidak rela kamu berdekatan dengan dia.”Guana tidak kunjung menjawab. Malas sekali menanggapi celotehan Sean yang semakin ngawur. Kalau bukan karena pria ini dicari Mike, Gyana mana mau menginjakkan kakinya di tempat sialan ini. Ruang kerja Sean masih sama seperti enam bulan lalu. Bahkan foto Tania masih menempel di dinding dengan begitu menawan. Senyumnya pun masih sama menyebalkan dengan Tania yang asli. “Udah tau nggak bisa minum banyak malah dipaksa,” sungut Gyana seraya melepaskan sepatu Sean. Sebenarnya Gyana sama sekali tidak menduga bahwa Sean masih memakai kemeja, celana dan sepatu kerjanya. Apalagi ini sudah tiga jam dari semenjak pria itu pulang dari kantor. Banyaknya gelas kosong bekas minuman beralkohol itu pun membuat Gyana berasumsi tampaknya kondisi Sean memang tidak baik. Saat pulang tadi pun, Gyana sempat heran melihat penampilan suamin

  • Setelah Pisah Ranjang, Suamiku Baru Mengejar Cinta   KACAU

    "Bunga untuk siapa itu, Bi?” tanya Sean. Pria itu baru saja pulang dari kantor. Berbeda dengan biasanya, malam ini Sean terlihat kacau. Rambut yang biasanya rapi jadi berantakan, tiga kancing kemeja atas sudah terbuka dengan dasi yang sudah tidak terdapat mengikat leher dan jas yang biasanya masih terpakai kini hanya disampirkan di lengan. Aura Sean terasa lebih suram dari biasa. Suaranya juga lebih dingin dan ketus serta matanya yang menatap sinis pada buket bunga besar yang berada di atas meja ruang tengah. Sebuah buket lily putih yang langsung mengundang curiga Sean saat melihat benda tersebut. “Dari kartu ucapannya ditujukan ke Nyonya Gyana, Tuan.” “Dari siapa?” Fiska menggeleng. “Tidak ada nama pengirimnya, Tuan.” Sean berjalan menuju meja. Rasa penasaran membuatnya ingin melihat dari dekat bunga yang ditujukan kepada istrinya tersebut. Namun, tepat saat tangannya hendak menyentuh buket bunga tersebut, suara Gyana lebih dulu menghentikan gerakan Sean. “Jangan sentuh itu,

  • Setelah Pisah Ranjang, Suamiku Baru Mengejar Cinta   PAGI YANG BURUK

    “Kamu sengaja menghindari aku lagi?” Langkah Gyana terhenti saat mendengar suara dari arah belakang. Pintu kamar baru saja tertutup, Gyana kira kamar utama yang berada tidak jauh dari kamarnya pun sudah tidak berpenghuni. Biasanya Sean sudah berangkat kerja beberapa menit yang lalu. Sama dengan pagi biasanya, Gyana keluar kamar sengaja menunggu Sean pergi kerja. Hidup dengan pria yang menjadi penyebab luka di hatinya tentu saja sangat menyiksa batin. Apalagi jika itu adalah Sean. Pria itu bahkan tidak pernah menyadari bahwa Gyana menghindarinya karena ulahnya sendiri. “Aku tidak bermaksud meninggalkanmu di tepi jalan semalam. Tania—”“Hentikan omong kosongmu. Aku tidak sudi mendengar pembelaan dari mulutmu. Semua itu tidak akan mengubah persepsiku tentang hubungan kalian,” sela Gyana ketus. Gyana sudah siap berangkat kerja. Waktunya tinggal satu jam lagi sebelum nanti bertemu dengan mitra kerjanya. Namun, Sean dengan tanpa bersalah justru menahan dirinya. Dan, seperti yang telah

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status