Share

Bab 3

Author: Flower
"Sudah demam begini, kenapa nggak meneleponku?" Daffa mengambil segelas air hangat di sampingnya dan memberikannya kepadaku, suaranya terdengar pasrah. "Jangan marah lagi. Minum obat dulu."

Aku memalingkan wajah dan tidak ingin menatapnya sedikit pun.

Melihat sikapku yang menjaga jarak, Daffa mengernyitkan kening. "Celine, apa kamu lupa dengan perkataanku?"

Aku tahu perkataan yang dimaksudnya, yaitu jika aku tidak menuruti perkataannya, dia dan Astral akan benar-benar meninggalkanku.

Menatap wajah Daffa yang muram, aku tetap teguh pada sikapku dan tidak menoleh.

Terdengar suara tawanya yang mencemooh. "Baik, baik. Setelah lama memelihara anak kucing, ternyata kamu sudah belajar mencakar orang."

Dia meletakkan gelas di atas meja dengan suara keras. "Nggak membalas pesan, nggak memedulikan orang, sekarang bahkan nggak mau minum obat."

"Sebegitu bencinya kamu padaku? Baiklah. Kalau hari ini kamu nggak minum obat, aku nggak bakal pergi."

Setelah mengatakan itu, dia melepas mantel dan bersandar santai di kursi, seolah berniat bertahan sampai aku menyerah.

Aku tidak mengerti. Kalau dia memang tidak mencintaiku, kalau dia hanya menganggapku sebagai mainan, mengapa dia masih melakukan semua hal yang tidak perlu ini?

Akhirnya, aku tidak tahan lagi dan menatapnya. "Aku minum obat atau nggak, memangnya berpengaruh sama peranku sebagai teman tidurmu?"

"Tentu berpengaruh." Daffa hampir tidak berpikir sebelum menjawab. Tatapannya tertuju kepadaku. "Bagaimanapun, kamu lagi flu. Kalau kita melakukan kontak fisik, sulit bagiku buat nggak tertular."

Dulu, tatapan ambigu seperti itu akan membuatku berdebar. Namun, sekarang, aku hanya merasa sangat jijik.

Aku menyelimuti seluruh tubuhku dengan selimut dan tidak ingin meladeninya lagi. Daffa juga tidak mengatakan apa-apa, hanya duduk diam di samping.

Di tengah waktu itu, dia menerima beberapa telepon pekerjaan. Jawabannya hanya satu, "Hari ini, aku ada urusan yang lebih penting. Semua rapat ditunda."

Dia sengaja meninggikan suaranya, seolah takut aku tidak mendengarnya.

Entah sudah berapa lama berlalu. Saat aku mulai merasa jengkel dan hendak mengalah untuk minum obat, telepon dari Lili masuk.

Hanya dengan satu kalimat, Daffa langsung berdiri, mengenakan mantelnya, lalu pergi dengan tergesa-gesa.

Seolah-olah perkataannya tadi, "Kalau kamu nggak minum obat, aku nggak bakal pergi," tidak pernah ada. Dia hanya menoleh kepadaku di depan pintu.

"Oh, ya. Kemarin aku terlalu sibuk berkencan sampai lupa memberikan hadiahmu."

"Jangan dibuang karena kesal. Kalau nanti kamu berpisah denganku, mungkin masih bisa ditukar dengan uang. Kalung ini cukup buat menghidupimu selama sisa hidupmu."

Nada bicaranya yang santai dipenuhi penghinaan, membuat hatiku terasa sedingin dasar jurang.

Sejak awal hingga akhir, Daffa tidak pernah percaya bahwa aku benar-benar akan meninggalkannya.

Benar juga. Bagaimanapun, aku hanyalah orang biasa. Aku bisa masuk ke Astral karena dia menggunakan koneksinya, dan apartemen mewah yang kutinggali juga dibelinya.

Setelah meninggalkannya, seolah-olah aku akan kehilangan segalanya. Aku harus bekerja di perusahaan kecil dengan posisi rendah, tinggal bersama orang lain, dan berdesakan menggunakan transportasi umum.

Itulah sebabnya Daffa begitu percaya diri dan seenaknya menyakitiku.

Namun, dia salah.

Aku sama sekali tidak menginginkan kehidupan yang nasibnya berada dalam genggaman orang lain.

Sekalipun sekarang aku patuh dan menuruti perkataannya, pada hari dia benar-benar bosan kepadaku, aku tetap akan kehilangan segalanya.

Memikirkan hal itu, aku menghela napas dan berbalik mengambil air di samping ranjang.

Namun, air itu sudah dingin, dinginnya begitu menusuk tulang.

Aku tidak memiliki tenaga untuk memegang gelas dengan stabil.

Dengan suara keras, gelas itu jatuh ke lantai dan pecah menjadi beberapa bagian.

Tepat saat itu, ponselku tiba-tiba dipenuhi banyak pesan. Pesan-pesan itu berasal dari grup rekan kerja. [Kalian cepat lihat media sosial! Pak Daffa mengumumkan bahwa dia berpacaran dengan Sekretaris Lili, ya?]

Satu kata "berpacaran" itu terasa seperti sebilah pisau yang menancap di hatiku.

Dengan tangan gemetar, aku membuka akun media sosial Lili. Dia mengunggah foto sebuah kalung permata dengan keterangan. [Baru satu bulan berpacaran sudah menerima hadiah semahal ini dari pacar. Senang sekali!]

Melihat kalung itu, aku tertegun.

Kalung itu hampir persis sama dengan yang diberikan Daffa kepadaku, hanya saja permata pada kalung itu lebih berkilau.

Ternyata, hadiah ulang tahunku hanya barang tambahan saat dia membeli hadiah untuk Lili.

Meskipun aku sudah menerima kenyataan, hatiku tetap terasa perih.

Namun, yang paling kejam bukanlah hadiahnya, melainkan balasan Daffa pada unggahan itu, [Asalkan kamu suka. Aku bakal memberimu lebih banyak lagi.]

Dia tidak membantah panggilan Lili terhadapnya. Artinya, mereka benar-benar sudah bersama.

Ponsel terlepas dari tanganku dan jatuh ke lantai.

Aku berdiri terpaku di tempat untuk waktu yang lama. Pada akhirnya, aku mengambil kalung dari kotak hadiah dan memasangnya di situs jual beli barang bekas.

Karena itu edisi terbatas, kalung itu terjual dengan cepat.

Ketika notifikasi transfer sebesar enam miliar muncul, aku memaksakan seulas senyum dan menghapus air mata di sudut mataku.

Celine, untuk apa menangis? Enam miliar ditukar dengan waktu tiga tahun, bukankah itu sudah sangat menguntungkan?

Saat suasana hatiku sedang berada di titik terendah, telepon dari Daffa masuk. Nada suaranya datar. "Sudah minum obat? Tadi Lili bilang suasana hatinya lagi buruk, jadi aku ...."

"Sudah." Aku langsung memotong ucapannya.

Di seberang sana terdiam sesaat, lalu terdengar suaranya yang puas. "Hmm, baguslah. Kalau tahu begitu, sejak awal turuti saja perkataanku. Celine, lain kali jangan membuat masalah lagi. Aku nggak suka menenangkan orang."

"Aku mengerti."

Daffa menutup telepon dengan puas.

Dia tidak tahu bahwa setelah telepon berakhir, aku duduk di lantai dengan wajah penuh air mata dan tatapan kosong. Di dalam hatiku, yang tersisa hanyalah kehampaan.

Daffa, aku sudah tidak memiliki harapan apa pun terhadapmu.

Kita juga tidak akan pernah memiliki masa depan lagi.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Setelah Sang Teman Tidur Tersadar, Sang CEO Menyesal   Bab 12

    Begitu telepon tersambung, Daffa terkekeh pelan. "Akhirnya, kamu mau juga menghubungiku, Celine.""Berita yang beredar di internet itu kamu yang menyebarkannya, 'kan?" Nada suaraku sangat dingin."Aku yang melakukannya." Nada bicara Daffa terdengar tanpa rasa bersalah. "Eric berani menyentuh wanitaku, jadi apa salahnya kalau kubuat dia rugi sedikit?" Suaranya berubah dingin. "Celine, kalau kamu menelepon buat membelanya, kuberi tahu, itu cuma bakal memperburuk keadaan. Bagaimanapun, semua ini kulakukan demi kamu.""Demi aku?" Aku seperti mendengar lelucon paling konyol di dunia. "Daffa, kamu bilang mencintaiku dan ingin kembali bersamaku, tapi sekarang kamu malah menyebarkan rumor di internet bahwa aku menjiplak karya orang lain. Kepercayaan diriku dan karier yang susah payah kudapatkan kembali, dengan mudah kamu hancurkan cuma dengan satu perkataan.""Apa? Menyebarkan rumor tentangmu?" Daffa terdengar bingung. Sesaat kemudian, dia langsung menyadari sesuatu. "Maksudmu, karya yang bela

  • Setelah Sang Teman Tidur Tersadar, Sang CEO Menyesal   Bab 11

    Aku tidak akan pernah melupakan air mata Daffa setelah aku mengucapkan kata-kata itu.Ternyata dia juga bisa merasa sedih, merasakan sakit, dan meneteskan air mata.Sayangnya, semuanya sudah terlambat.Aku membuka pintu dan memberi isyarat agar dia pergi.Daffa adalah orang yang sangat angkuh.Dia tidak lagi memaksakan diri untuk tinggal. Dia mengambil mantel di samping dan menyampirkannya ke tubuh, lalu pergi dengan langkah lebar.Namun, ketika sampai di ambang pintu, dia menghentikan langkahnya. "Aku sudah mengingat apa yang terjadi malam itu.""Celine, aku nggak bakal melepaskanmu.""Dan kita bakal punya anak lagi."Setelah meninggalkan tiga kalimat itu, dia pun pergi.Awalnya, kukira dia akan terus menggangguku. Namun, ketika masuk kerja keesokan harinya, aku tidak melihat sosoknya di bawah gedung.Bianca memberitahuku bahwa Daffa sudah kembali ke negaranya. Sepertinya, ada sesuatu yang terjadi di perusahaannya.Aku langsung merasa lega. Namun, setelah satu masalah terselesaikan, m

  • Setelah Sang Teman Tidur Tersadar, Sang CEO Menyesal   Bab 10

    Aku dan Eric berjalan keluar dari perusahaan bersama.Wajah Daffa sudah gelap gulita. Dia melirik arlojinya, lalu mencibir. "Pukul sebelas.""Celine, kamu benar-benar tahan juga. Berpura-pura lembur selama berhari-hari.""Lembur?" Aku terkekeh, lalu menggandeng lengan Eric. "Pak Daffa, kamu salah paham."Melihat tangan kami yang saling bertaut erat, tubuh Daffa langsung menegang. Dia mengernyit. "Apa maksudmu?""Maksudnya, dia nggak lagi lembur, melainkan bermesraan di kantor dengan pacarnya yang juga atasannya," kata Eric.Saat itu, Daffa hampir berteriak karena terkejut. "Apa yang kamu katakan?"Dia langsung menoleh kepadaku. "Celine! Demi menghindariku, kamu benar-benar sanggup mengarang kebohongan apa saja! Tapi aku memang meremehkanmu. Ternyata kamu bahkan bisa membujuk Eric buat membantumu."Dia menarik tanganku dengan paksa dan menyeretku menjauh dari Eric. "Ayo, sekarang juga ikut aku pulang."Namun, pada detik berikutnya, aku langsung menghempaskan tangannya dan kembali ke sis

  • Setelah Sang Teman Tidur Tersadar, Sang CEO Menyesal   Bab 9

    Aura Daffa masih sekuat dulu, tetapi kini aku tidak lagi merasa takut kepadanya.Aku memasang wajah datar dan berkata dengan tenang, "Ada apa? Pak Daffa mencariku buat urusan apa?"Mendengar nada bicaraku yang begitu berjarak, Daffa mengernyit.Namun, karena Eric masih berdiri di sampingku, dia hanya menarik tanganku dengan paksa. "Kita perlu bicara."Aku langsung berusaha melepaskan diri, tetapi tenaganya terlalu kuat, seolah-olah dia ingin meremukkan tulang pergelangan tanganku.Pada saat itu, Eric mengulurkan tangan dan memaksa tangan Daffa terlepas dariku."Daffa, sudah lama nggak bertemu. Nggak mau menyapa teman lama?"Daffa menatapnya dengan wajah muram dan berkata dengan nada tidak ramah, "Eric, minggir. Ini bukan urusanmu."Suasana seketika menegang, tetapi Eric tetap tidak melepaskan tangannya.Dia terkekeh. "Kamu mencoba membawa bawahanku pergi secara paksa di hadapanku. Bagaimana bisa ini bukan urusanku?"Melihat Daffa yang mengerutkan kening, akhirnya aku tidak tahan lagi d

  • Setelah Sang Teman Tidur Tersadar, Sang CEO Menyesal   Bab 8

    (Sudut pandang Celine)Sudah tiga hari sejak aku bergabung dengan Grup Meraki.Begitu tiba di perusahaan, aku tidak sabar untuk menghubungi Bianca dan menanyakan keadaannya.Aku sudah menyiapkan kata-kata untuk meminta maaf, juga bantuan secara finansial. Namun, Bianca justru memberitahuku bahwa Daffa telah mencabut hukumannya, menaikkan gajinya, dan mengundangnya untuk kembali bekerja.Aku masih ingat nada menyindir dalam suara Bianca ketika mengatakan hal itu.Dulu, Bianca pernah memohon-mohon kepada Daffa agar tidak memperlakukannya seperti itu, tetapi Daffa justru langsung mengusirnya dari perusahaan.Pada saat itu, kekecewaan Bianca terhadap Daffa dan Grup Astral tidak kalah dalamnya denganku.Melihatku terdiam, Bianca bertanya, "Celine, jangan-jangan kamu terharu dengan tindakannya?"Aku terkekeh. "Mana mungkin? Kalaupun sekarang Daffa berlutut di hadapanku dan memohon padaku, aku nggak bakal pernah menoleh kepadanya lagi."Tentu saja, itu juga merupakan sesuatu yang sama sekali

  • Setelah Sang Teman Tidur Tersadar, Sang CEO Menyesal   Bab 7

    (Sudut pandang orang ketiga)"Menurutku, perlakuannya terhadap wanita itu memang berbeda. Sejak Celine mengalami kecelakaan, dia selalu tampak nggak fokus, bahkan sikapnya kepadaku juga nggak seperti dulu. Tapi, sepertinya dia sendiri belum menyadarinya." Lili menggaruk kepalanya dengan kesal. "Seandainya tahu bakal begini, dulu aku bakal menjebaknya lebih parah. Seharusnya waktu itu aku menyuruh pengemudi itu langsung menabrak Celine sampai mati. Aku sudah membayarnya dalam jumlah besar, tapi nggak disangka yang berhasil 'dihilangkan' cuma seorang anak. Sekarang, kepala Daffa malah dipenuhi sama wanita itu."Tangan Daffa yang memegang gagang pintu langsung mengencang. Tubuhnya seketika membeku, lalu dia mendongak dengan tatapan tidak percaya.Setelah itu, Lili terkekeh. "Tapi setidaknya aku juga sudah membuat Daffa kehilangan sesuatu. Siapa suruh dia meremehkanku cuma karena aku salah satu wanita yang pernah bersamanya? Cepat atau lambat, bakal kubuat dia kehilangan lebih banyak lagi.

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status