Jarak menuju wawancara di Grup Meraki tinggal dua hari lagi.
Aku menarik kembali seluruh perhatianku dari Daffa dan berkonsentrasi mempersiapkan wawancara.
Bagaimanapun, wawancara kali ini akan ditangani langsung oleh CEO Grup Meraki, Eric Senjaya.
Setelah bertanya kepada Bianca, aku mengetahui bahwa Eric terkenal sangat ketat. Beberapa orang bahkan keluar dari ruang wawancara sambil menangis.
Namun, waktu yang kumiliki untuk mempersiapkan diri tidak banyak karena Lili melemparkan semua pekerjaannya kepadaku.
Demi menghindari masalah yang tidak perlu, aku menahannya. Bagaimanapun, hanya tersisa dua hari.
Aku menyelesaikan secara singkat materi rapat yang dimintanya, lalu mengirimkannya. Setelah itu, aku juga tidak terlalu memperhatikan jalannya rapat.
Urusan Astral sudah tidak ada hubungannya denganku.
Saat Lili mulai menayangkan materi presentasi, tiba-tiba terdengar suara orang-orang menarik napas kaget di seluruh ruangan.
"Ini ... ini keterlaluan sekali! Bagaimana bisa menampilkan hal seperti ini dalam rapat resmi?"
"Ya ampun, aku benar-benar dibuat tercengang!"
Barulah aku mengangkat kepala dan melihat layar besar. Seketika mataku membelalak.
Materi presentasi yang semula terdiri dari belasan halaman itu malah berubah menjadi sekumpulan foto pribadi Lili. Setiap fotonya terlihat begitu vulgar.
Lili panik dan buru-buru berusaha menutup tayangan itu, tetapi karena terlalu gugup, dia malah salah menekan dan tidak berhasil menutupnya.
Daffa akhirnya tidak tahan lagi dan memukul meja dengan keras. "Siapa pun yang berani membicarakan kejadian hari ini sedikit saja, besok langsung angkat kaki dari Astral!"
Para rekan kerja segera menghentikan ejekan mereka dan menundukkan kepala, tidak berani melihat lagi.
Lili melirikku dengan tatapan penuh maksud. Tatapan Daffa pun mengikuti arah pandangannya hingga jatuh kepadaku. Kedua matanya dipenuhi kekecewaan dan kemarahan.
Dia benar-benar mengira akulah yang melakukan semua ini.
Setelah rapat selesai, Daffa memintaku untuk tetap tinggal sendirian.
Lili duduk di samping sambil menutupi wajahnya dan menangis. "Kak, bagaimana ini? Mereka semua sudah melihatnya. Bagaimana aku bisa bekerja di perusahaan setelah ini? Dengan aib sebesar ini, sebaiknya aku mengundurkan diri saja!"
Lili berdiri dan hendak pergi, tetapi baru beberapa langkah Daffa sudah menariknya ke dalam pelukan. "Tenang. Selama ada aku, nggak bakal ada yang berani membicarakanmu."
Lili berhenti menangis. Dia menunjukku dan berteriak, "Direktur Celine, kalau kamu nggak mau membantuku mengerjakan pekerjaan, bilang saja! Kenapa kamu harus melakukan ini kepadaku? Sekarang semuanya jadi begini. Kamu puas?"
Daffa menepuk punggung Lili untuk menenangkan, lalu menatapku dengan dingin. "Celine, aku nggak menyangka hatimu bisa sejahat ini. Cuma karena iri, kamu malah menyalahgunakan urusan pekerjaan buat membalas dendam!"
Melihat tuduhannya yang sama sekali tidak membedakan benar dan salah, kekesalan di hatiku hampir meluap. Namun, aku tetap memaksakan diri untuk menjelaskan dengan tenang. "Pak Daffa, proses penyuntingan materi rapat semuanya tercatat di perangkat lunak. Di riwayat percakapan juga ada catatan kalau aku yang mengirimkan dokumen tersebut. Aku jamin versi yang aku kerjakan nggak bermasalah. Mengenai kenapa akhirnya berubah menjadi seperti ini, Pak Daffa seharusnya bertanya ke Sekretaris Lili."
Mendengar itu, Lili panik. Dia menoleh dengan wajah penuh kesedihan pada Daffa. "Pak Daffa, bukan aku! Saat dia mengirimkan dokumen, rapat sudah hampir dimulai. Aku bahkan nggak sempat membukanya. Bagaimana mungkin aku sempat mengubahnya? Lagian, siapa yang bakal mengirimkan foto pribadinya sendiri."
Di antara aku dan Lili, Daffa selalu memilih Lili tanpa sedikit pun keraguan.
Dia menatapku dengan dingin. "Celine, jangan terus mencari alasan. Nggak ada wanita yang bakal menyebarkan foto pribadinya sendiri, apalagi Lili adalah gadis yang begitu polos. Mana mungkin dia melakukan hal seperti ini?"
"Karena kamu nggak menghargai hubungan kita sebelumnya, aku juga nggak perlu mengampunimu lagi. Sebentar lagi aku bakal mengeluarkan surat sanksi, mencabut jabatanmu sebagai direktur dan memotong gajimu sebesar 50 persen. Kalau kamu nggak puas, sekarang juga kamu boleh pergi!"
Aku menatapnya lekat-lekat dan bertanya dengan penuh penekanan, "Pak Daffa, kamu bilang aku yang salah. Lalu, apakah karyawan yang selalu melemparkan pekerjaannya kepada orang lain itu nggak salah?"
Nada suaraku yang dingin benar-benar membuatnya murka. Dia tertawa karena marah. "Celine, apa kamu lupa? Dulu, kamu juga seperti itu."
Setelah mengatakan itu, dia langsung merangkul Lili dan meninggalkan ruang rapat. Ketika melewatiku, dia berkata dengan dingin, "Mulai hari ini, semua pekerjaan Lili menjadi tanggung jawabmu. Kalau berani menolak, langsung kupecat."
Begitu pintu tertutup, aku tidak menangis. Bahkan mataku pun tidak memerah. Aku hanya merasa sangat lelah.
Daffa benar. Memang benar aku pernah menikmati perlakuan istimewa darinya.
Namun, aku berbeda dari Lili. Aku tidak pernah dengan sengaja melemparkan pekerjaan kepada orang lain, apalagi memainkan trik murahan seperti ini.
Aku menghabiskan waktu cukup lama di ruang rapat, hingga akhirnya sebuah pengumuman sanksi muncul di grup kerja dan disebarkan kepada seluruh perusahaan.
Ketika keluar dari ruang rapat, para rekan kerja menatapku dengan tatapan mengejek. "Ck, ck, sepertinya seseorang benar-benar sudah kehilangan kasih sayang Pak Daffa. Mulai sekarang, harus sejajar dengan kami, orang-orang biasa. Entah Direktur Celine yang sudah terbiasa minum kopi giling manual masih bisa menikmati kopi instan atau nggak?"
"Eh, salah. Sekarang bukan Direktur Celine lagi. Harus dipanggil Celine."
"Celine, dokumenku juga tolong dibantu, ya? Sekretaris Lili sudah bilang, kamu ini keledai di kantor kita yang selalu bekerja tanpa mengeluh. Siapa pun yang lelah bisa menunggangimu."
Tidak lama kemudian, meja kerjaku dipenuhi tumpukan dokumen.
Tanpa ekspresi, aku memindahkannya ke samping dan mencoba berkonsentrasi mempersiapkan wawancara. Namun, setelah membuka laptop, aku tetap tidak bisa memusatkan pikiran.
Kondisi seperti ini terus berlangsung hingga siang, sampai akhirnya Bianca mengajakku ke kantin untuk makan.
Di kantin, Daffa dan Lili duduk tepat di seberang. Lili dengan manja menyuapi Daffa sepotong kue kecil. Mereka tampak seperti pasangan yang sedang dimabuk cinta.
Aku meletakkan pisau dan garpu, lalu menundukkan kepala. "Aku sudah kenyang. Aku pergi dulu."
Saat melewati meja Daffa, dia mengambil sendok dan menyuapi Lili juga, seolah sengaja ingin membuatku kesal.
Namun, aku bahkan tidak mengangkat kelopak mata. Aku memasang penyuara telinga dan buru-buru meninggalkan kantin.
Aku mulai membereskan meja kerjaku, terutama dokumen-dokumen pekerjaan sebelumnya dan beberapa hadiah kecil yang diberikan Daffa.
Perhiasan dan barang-barang berharga itu sudah kujual semuanya dan menghasilkan cukup banyak uang.
Yang tersisa kebanyakan adalah barang-barang buatan tangan, seperti cangkir keramik yang kami buat bersama, album foto yang kami susun bersama, serta beberapa hiasan kecil yang tidak terlalu mencolok.
Melihat benda-benda itu, hatiku tetap tidak kuasa menahan rasa pilu.
Aku teringat hari ketika kami membuat cangkir keramik. Daffa melepas jam tangan seharga puluhan miliaran, lalu menyentuh tanah liat yang basah dan lengket bersamaku.
Begitu menyentuhnya, dia langsung mengernyitkan kening. Jelas sekali dia belum pernah melakukan pekerjaan seperti ini, tetapi hari itu dia tetap bertahan.
Harus kuakui, Daffa memang berbakat. Cangkir yang dibuatnya untuk pertama kali bahkan lebih indah dan rapi daripada buatanku.
Saat teringat bagaimana hari itu aku tertawa sambil mengoleskan tanah liat ke hidungnya, lalu dia menghindar dengan kesal, tetapi akhirnya tidak kuasa menahan tawa, mataku kembali memerah.
Padahal ... dulu kami pernah begitu saling mencintai.
Aku mengembuskan napas panjang, lalu mengangkat kepala dan berkedip beberapa kali untuk menahan air mata.
Pada akhirnya, aku memasukkan sepasang cangkir keramik itu ke dalam kotak kardus dan menutupnya dengan lakban.
Daffa, ini hadiah pengunduran diriku untukmu.
Tidak lama setelah selesai membereskan meja, para rekan kerja mulai berdatangan satu per satu.
Ketika melewati mejaku, Lili mengetuk meja dan bersikap seolah-olah dirinya istri CEO. "Cepat kirimkan kepadaku setelah dokumennya selesai. Kali ini, jangan membuat masalah lagi."
Nada bicaranya penuh provokasi, tetapi aku tidak marah. Aku hanya menjawab pelan, "Hmm."
Untuk mencegahnya mengutak-atik dokumen itu lagi, aku membetulkannya sekadarnya, lalu langsung mengirimkannya ke surel Daffa.
Menjelang jam pulang kerja, saat aku hendak membereskan pekerjaan dan pergi, seorang rekan kerja tiba-tiba melemparkan dua lembar uang ke mejaku dengan seenaknya. "Sekretaris Lili menyuruhmu membelikannya secangkir kopi dan mengantarkannya ke mejanya sebelum jam pulang."
Aku menatap dua lembar uang itu. Akhirnya, aku tidak tahan lagi dan bangkit, lalu bergegas masuk ke ruang kerja Daffa.
Begitu pintu terbuka, aku melihat Lili sedang duduk mengangkangi paha Daffa. Keduanya tengah berciuman dengan begitu mesra.
Melihatku masuk, Lili langsung bangkit seperti kelinci yang terkejut dan buru-buru menutupi dadanya yang beberapa kancing bajunya telah terbuka.
Daffa menatapku dengan tidak sabar. "Kalau mau masuk, setidaknya ketuk pintu dulu."
Mendengar tegurannya, aku mengepalkan tangan dan berusaha menjaga nada suaraku tetap tenang. "Pak Daffa, buat urusan pekerjaan aku bisa menahannya, tapi buat urusan pribadi seperti ini, silakan kalian selesaikan sendiri."
Aku kembali menatap Lili dengan nada dingin. "Sekretaris Lili, aku ingat kamu punya sepasang kaki. Untuk kopimu, silakan beli sendiri."
Lili tertegun. Jelas dia tidak menyangka aku akan membantahnya di depan Daffa.
Dia menggigit bibir dan menatapku dengan wajah penuh rasa sedih. "Direktur Celine, maaf. Kondisiku lagi kurang baik, jadi aku terpaksa meminta bantuan. Aku nggak menyangka kamu bakal mempermasalahkan hal seperti ini. Kalau begitu, biar aku pergi sendiri."
Sambil berkata demikian, dia memegangi pinggangnya dan berjalan ke arahku dengan langkah yang sangat tidak wajar.
Namun, baru dua langkah, Daffa sudah menariknya ke dalam pelukan. "Kalau sakit, duduk saja dengan patuh."
Dia mengusap rambut Lili dengan penuh kasih sayang. Namun, ketika menoleh kepadaku, tatapannya seketika berubah dingin. "Celine, bukannya cuma membelikan secangkir kopi? Apa perlu sampai mempermalukan Lili seperti itu?"
"Atau jangan-jangan, kamu cuma berani menindasnya?" Daffa mencibir. "Kalau mau mencari akar masalahnya, mungkin semalam aku terlalu kasar sampai membuatnya kesakitan. Kenapa? Berani mengatakan hal seperti itu langsung kepadaku?"
Kukira hatiku sudah mati rasa, tetapi kata-kata yang begitu kejam dan terus terang itu tetap menusuk hatiku hingga terasa nyeri.
Aku mengembuskan napas panjang dan menatapnya dengan tenang. "Permintaanku sudah aku sampaikan. Aku harap Sekretaris Lili menepati perkataannya."
Setelah mengatakan itu, aku berbalik dan pergi.
"Berhenti." Suara dingin Daffa terdengar dari belakang. "Dia memang sudah setuju, tetapi aku belum."
"Kalau dalam setengah jam aku belum melihat kopi itu, besok kamu nggak perlu datang bekerja di Astral lagi."
Langkahku terhenti sejenak, lalu aku kembali berjalan. "Terserah kamu."
Setelah kembali ke meja kerja, Bianca menatapku dengan tidak percaya. "Aku mendengar semuanya. Kamu benar-benar berani melawan Pak Daffa? Apa kamu nggak takut dia benar-benar memecatmu? Celine, aku tahu kamu lagi mempersiapkan wawancara di Meraki, tapi tahap dengan Pak Eric itu benar-benar sulit. Kalau akhirnya kamu gagal dan kehilangan pekerjaan di Astral juga, bagaimana?"
"Kalau begitu, aku bakal mengikuti wawancara di perusahaan lain." Nada suaraku tenang. "Cuma sebuah pekerjaan. Nggak sampai menghancurkan hidupku."
Aku kembali menundukkan kepala dan lanjut mempersiapkan dokumen wawancara, tanpa memedulikan ancaman Daffa.
Namun, aku tidak menyangka tindakan itu benar-benar membuatnya murka.
Satu jam kemudian, sebuah pesan masuk ke ponselku dari Daffa. [Setengah jam lagi, kalau aku belum melihat kopi itu, Bianca juga bakal kupecat.]