Saat itu, aku benar-benar tidak percaya dengan apa yang kulihat.
Daffa benar-benar sanggup melakukan sejauh ini demi Lili.
Bianca memiliki kinerja yang baik dan sudah bekerja di Astral selama bertahun-tahun, tetapi sekarang Daffa bisa memecatnya begitu saja?
Satu-satunya alasan hanyalah karena Bianca adalah rekan kerja yang paling dekat denganku.
Daffa, kamu benar-benar pantas disebut seorang pebisnis. Demi mencapai tujuan, kamu benar-benar akan melakukan apa saja.
"Ada apa, Celine?"
Bianca mendekat. Aku segera menutup layar laptop dan berkata tidak ada apa-apa, lalu cepat-cepat meninggalkan kantor.
Meskipun merasa diperlakukan tidak adil, aku tetap tidak ingin masa depan Bianca dipertaruhkan karena diriku.
Hanya secangkir kopi. Belikan saja. Bagaimanapun, besok adalah hari terakhirku.
Setelah mencari, aku mengetahui bahwa kedai kopi terdekat berjarak dua kilometer dari kantor. Dengan waktu pulang-pergi, setengah jam tetap terasa cukup sulit.
Begitu berhasil mengambil kopi, aku segera mempercepat langkah dan berlari.
Namun, karena berlari sambil melihat jam tangan hingga tidak memperhatikan kendaraan yang lalu-lalang, sebuah mobil yang melaju kencang menabrakku.
Brak!
Kopi di tanganku jatuh dan hancur berantakan.
Sementara itu, tubuhku terpental dan berguling beberapa kali di atas jalan.
"Nona!"
"Ya Tuhan!"
Dalam pandanganku yang mulai kabur, banyak orang berlari menghampiriku. Rasa sakit yang hebat seolah merobek setiap saraf di tubuhku.
Ambulans segera tiba. Mendengar suara perawat yang terdengar cemas, sesaat aku merasa mungkin diriku tidak akan mampu bertahan.
Apa aku akan mati begitu saja? Hanya karena ... secangkir kopi?
Aku menutup mata dalam keputusasaan. Di benakku muncul wajah yang angkuh dan dingin itu.
Kenapa ... kenapa sampai pada saat terakhir dalam hidupku, wajah itu masih juga terlintas dalam benakku?
Sementara itu, ponsel yang terjatuh di kejauhan menampilkan pesan dari Daffa.
[Celine, setengah jamnya sudah habis.]
[Orangnya sudah kupecat. Jangan salahkan aku karena kejam. Kalau mau menyalahkan seseorang, salahkan dirimu sendiri yang nggak mau menurut.]
Namun, aku sudah tidak bisa membaca pesan itu.
Daffa, kalau bisa mengulang semuanya, aku tidak akan pernah mencintaimu lagi.
Hari itu, aku seolah bermimpi sangat panjang.
Aku bermimpi bahwa pada hari ulang tahunku, Daffa mengeluarkan sebuah cincin dari sakunya.
Dia berlutut dengan satu kaki dan bertanya kepadaku ... apakah aku bersedia menikah dengannya.
Aku menjawab bahwa aku bersedia.
Namun, pada detik berikutnya, yang menantiku bukanlah bunga dan sampanye.
Melainkan sebuah mobil yang melaju kencang ke arahku.
Bulu mataku bergetar, lalu aku tiba-tiba membuka mata.
"Sudah sadar! Akhirnya, sadar juga!"
Suara dokter terdengar di telingaku.
Kesadaranku perlahan pulih, tetapi rasa sakit di sekujur tubuh membuatku langsung mengerang kesakitan.
Melihat itu, para perawat segera memberiku suntikan pereda nyeri. Wajah mereka tampak dipenuhi kekhawatiran.
"Nona, untungnya benturan kali ini nggak melukai organ dalam Anda ... tapi anak dalam kandungan Anda tetap nggak bisa diselamatkan."
Duar!
Seluruh tubuhku membeku.
Anak ...?
Melihat reaksiku, seorang perawat tidak bisa menahan diri untuk bertanya, "Nona, apa Anda nggak tahu bahwa Anda lagi hamil? Kandungan Anda sudah berusia dua bulan. Justru pada masa seperti ini, kondisi janin masih sangat rentan."
Setelah itu, aku sama sekali tidak bisa mendengar apa lagi yang mereka katakan. Pikiranku kacau balau, sementara dadaku terasa seperti tertindih batu besar.
Tepat saat itu, ponselku terus berbunyi. Pesan-pesan dari grup rekan kerja masuk satu demi satu.
[Ada apa dengan Bianca? Sejak keluar dari ruang kerja Pak Daffa, dia terus menangis.]
[Kemungkinan besar dia dipecat. Lihat saja, begitu kembali ke mejanya, dia langsung membereskan barang-barangnya. Ck, kasihan sekali. Katanya, di rumah masih ada ibunya yang sakit parah dan membutuhkan biaya pengobatan.]
[Aduh, dia sudah bekerja sekeras itu, tapi masih bisa dipecat juga? Dari dulu aku sudah bilang jangan terlalu dekat dengan orang itu. Sekarang kan zamannya Sekretaris Lili. Tentu saja harus mengambil hati dia.]
....
Aku terus menggulir riwayat percakapan. Pada akhirnya, emosiku benar-benar runtuh. Dengan tangan gemetar, aku menelepon Bianca, tetapi setelah beberapa kali mencoba, teleponku tetap tidak tersambung.
Akhirnya, aku langsung menelepon Daffa dan berteriak kepadanya, "Daffa, apa kamu sudah gila? Aku sudah melakukan apa yang kamu minta. Kenapa kamu masih memperlakukannya seperti ini? Kenapa?"
Sepertinya dia sedikit terkejut mendengar teriakanku. Dengan nada tidak sabar, dia berkata, "Celine, aku sudah bilang, kalau dalam setengah jam kopi itu nggak sampai, aku bakal memecatnya. Sekarang, bahkan sudah lewat satu hari. Apa yang kulakukan salah?"
Aku melihat waktu di ponselku. Memang benar, operasi dan masa tidak sadarkan diri itu telah berlangsung selama satu hari penuh.
Namun, selama itu pula, Daffa tidak pernah mencariku. Tanpa bertanya sedikit pun, dia langsung memecat Bianca.
Saat itu, hatiku benar-benar mati.
Sama seperti anakku yang belum sempat lahir, semuanya mati dalam kecelakaan mobil itu.
Aku mengembuskan napas perlahan. Suaraku sedingin es.
"Daffa, bukan karena aku nggak mau kembali, tapi aku mengalami kecelakaan dalam perjalanan."
"Kecelakaan?" Pria itu mencibir. "Celine, imajinasimu benar-benar hebat. Apa kamu nggak menyangka aku benar-benar berani bertindak, lalu sekarang menyesal dan mengarang alasan buat membohongiku?"
Mendengar perkataannya, aku sudah tidak memiliki keinginan untuk berkomunikasi dengannya. Aku langsung menutup telepon, lalu memotret diriku dan mengunggahnya ke media sosial.
Aku bukan ingin mencari simpati. Aku hanya ... tidak bisa membiarkan Bianca menerima perlakuan tidak adil sebanyak ini hanya karena masalahku.
Terlalu banyak hal yang terjadi beberapa hari terakhir. Pengkhianatan, kehilangan, bahkan nyaris kehilangan nyawa. Setiap hal membuatku kelelahan.
Jalan keluar yang susah payah kutemukan juga tertutup akibat kecelakaan ini. Besok adalah jadwal wawancaraku di Grup Meraki, tetapi kedua kakiku kini terbungkus gips dan tidak bisa digerakkan.
Semuanya begitu buruk hingga rasanya tidak ada harapan yang tersisa.
Namun, aku tidak boleh menyerah pada satu pun kesempatan untuk mengubah keadaan.
Tepat saat itu, suara yang kukenal terdengar dari luar ruang rawat.
"Celine? Dia di ruang rawat yang mana?"
Saat pintu didorong terbuka, pandanganku langsung bertemu dengan Daffa.
Tatapannya jatuh pada kedua kakiku yang dipenuhi perban. Di matanya muncul kesedihan yang sudah lama tidak kulihat.
Daffa menyesal sambil memukul pintu dengan kepalan tangannya. Nada suaranya pun melunak. "Kenapa nggak bilang dari awal?"
"Aku nggak sadarkan diri," jawabku pelan.
Dia langsung duduk di sampingku dan mengulurkan tangan untuk mengusap pipiku, tetapi aku tanpa sadar menghindar.
Melihat tangannya yang menggantung di udara, Daffa sedikit mengernyit. Namun, pada akhirnya dia tetap menurunkannya.
"Aku ...." Dia berhenti sejenak, seolah sulit mengatakannya. "Aku bakal membuat Bianca kembali bekerja."
Aku mengangguk pelan dan tidak berkata apa-apa lagi.
Daffa menghela napas, lalu menggenggam tanganku yang dipenuhi selang infus. "Jangan khawatir. Dokter sudah memberitahuku tentang kondisimu. Aku sudah mengatur dokter terbaik buat menangani pemulihanmu. Kakimu bakal segera pulih. Selain itu, buat bekas luka di kulitmu juga sudah dijadwalkan perawatan. Nggak bakal meninggalkan bekas."
Aku mendengarkannya dengan tenang, lalu tiba-tiba terkekeh. "Selain itu, nggak ada lagi?"
Dia tertegun, lalu tiba-tiba berdiri dengan cemas. "Apa ada bagian lain yang terluka? Di mana? Biar kulihat."
Aku segera menggeleng, menahan tangannya, lalu berkata pelan, "Nggak apa-apa."
Tampaknya, dia tidak tahu bahwa aku keguguran akibat kecelakaan ini.
Namun, itu juga bagus. Kalau dia merasa iba dan terus menggangguku, itu justru akan makin membuang-buang waktu.
Daffa menemaniku di sisi ranjang sepanjang sore. Selama itu, Lili beberapa kali menelepon. Daffa secara refleks melirikku, lalu menolak ajakannya.
Kurasa dia merasa bersalah. Dulu, dia berkali-kali berjanji kepadaku bahwa selama ada dirinya, dia tidak akan membiarkanku terluka sedikit pun.
Daffa beberapa kali tampak ingin mengatakan sesuatu, tetapi selalu mengurungkannya. Aku tahu, dia ingin mengatakan maaf, tetapi pada akhirnya tetap tidak mampu mengucapkannya. Sebab, di dalam hatinya, kedudukanku selalu jauh di bawahnya.
Daffa adalah orang yang sombong.
Aku juga tidak lagi mengharapkan kata "maaf" itu karena aku sudah tidak memiliki harapan apa pun terhadapnya.
Ketika dia pergi ke kamar mandi, aku mengeluarkan ponsel dan mengirim surel kepada pihak Grup Meraki. Aku menjelaskan bahwa aku tiba-tiba mengalami kecelakaan dan berharap mereka dapat menunda jadwal wawancara serta memberiku satu kesempatan lagi.
Menurut Bianca, Pak Eric selalu berpegang teguh pada aturan. Karena itu, aku tidak terlalu berharap.
Namun, tidak lama kemudian, balasan surel itu datang. Seperti dugaanku, mereka menolak permintaanku.
Akan tetapi, mereka memberiku pilihan lain. Aku bisa mengunggah portofolioku, dan jika hasilnya sangat baik, aku dapat diterima melalui jalur khusus.
Aku langsung menutup mulut karena begitu gembira. Tepat saat itu, Daffa masuk dan memergoki reaksiku.
"Ada apa sampai kamu tersenyum sebahagia itu?" Dia mendekat dengan penasaran, tetapi aku segera menyembunyikan ponsel di bawah selimut.
Tubuhnya menegang dan dia mengernyitkan kening. "Masih menghindar dariku?"
Wajah Daffa tampak tidak senang. Dia mengangkat daguku dan makin mendekat. "Celine, apa kamu nggak merasa kita akhir-akhir ini terlalu menjaga jarak?"
Aku menatapnya dengan tenang. Aku tahu Daffa tidak akan menciumku.
Dia tidak menyukai bibirku.
Namun, aku tidak menyangka ... dia menciumku.
Bahkan, ciumannya makin dalam, dan lidahnya dengan lincah membuka bibirku.
Seluruh tubuhku melemas karena ciuman itu. Rasa tidak nyaman di dalam hati membuatku mendorong dadanya sekuat tenaga, tetapi perlawanan itu justru membuat Daffa tidak senang.
Dia membalikkan tubuhku dan menekanku ke atas ranjang. Baru ketika aku berteriak kesakitan, Daffa seperti tersadar dan segera melepaskanku.
Dia mengusap pipiku. Ada emosi yang tidak bisa kupahami dalam nada suaranya.
"Kamu tahu nggak, kali ini kamu benar-benar membuatku ketakutan."
Malam itu, Daffa terus berada di sisiku.
Dia bersandar di dekat jendela, sementara aku sengaja berpura-pura tidur agar tidak perlu berbicara dengannya.
Entah sudah berapa lama berlalu, terdengar suara pintu geser dibuka dari belakang. Kemudian, Daffa berjalan ke balkon.
Sepertinya dia sedang menelepon seseorang.
"Daffa, jangan-jangan kamu benar-benar jatuh cinta pada Celine? Begitu mendengar dia benar-benar mengalami kecelakaan, rapat sepenting itu langsung kamu tinggalkan dan berlari ke sana."
Daffa terkekeh. "Kamu terlalu banyak berpikir. Aku cuma nggak mau ada yang sampai meninggal. Nanti repot mengurusnya."
Orang di seberang sana terdiam sejenak. "Benar juga. Kalau kamu mencintainya, mana mungkin kamu masih memelihara mainan baru? Ngomong-ngomong, bagaimana rasanya teman tidur yang baru?"
Daffa mengembuskan asap rokok perlahan, seolah sedang mengenang sesuatu. "Lumayan. Dia jauh lebih liar daripada Celine, tapi setelah lama bermain dengannya, tetap saja mulai membosankan. Kalau Celine sudah sembuh, mungkin aku bakal kembali menidurinya beberapa kali. Setidaknya, dia terasa lebih menyegarkan."
....
Saat itu, aku merasa kehangatan yang ditunjukkannya pada siang hari hanyalah sebuah lelucon besar.
Aku menahan rasa muak dan amarah di dalam hati, berusaha agar tidak mengeluarkan suara.
Daffa baru kembali sekitar setengah jam kemudian. Dia mengecup keningku, lalu pergi.
Begitu dia keluar, aku segera mengeluarkan ponsel dan mengunggah portofolioku. Aku sudah tidak sabar untuk segera mengakhiri hubungan ini.
Tidak sampai sepuluh menit, aku sudah menerima balasan.
Melihat kabar bahwa aku diterima, akhirnya aku mengembuskan napas lega.
Daffa, kita tidak akan pernah bertemu lagi, apalagi tidur bersama untuk kedua kalinya.
Keesokan paginya, aku mengajukan permohonan untuk keluar dari rumah sakit lebih awal.
Sesuai informasi undangan yang dikirimkan Grup Meraki, aku memesan penerbangan terdekat dan meninggalkan Negara A.
Aku menghapus semua kontak rekan kerja di perusahaan dan memblokir nomor Daffa.
Meskipun lukaku belum sepenuhnya pulih, kehidupan baruku sudah dimulai.