Short
Kutitipkan Tulusku pada Waktu, Kau Balas Khianat

Kutitipkan Tulusku pada Waktu, Kau Balas Khianat

By:  DanuCompleted
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel4goodnovel
9Chapters
1views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Pada hari ketika misi rahasia suamiku berakhir, aku mengajak putriku ke sekolah dasar untuk mengambil formulir pendaftaran. Petugas sekolah tampak keheranan. "Ayah putri Ibu sudah tercatat bersama nama anak lain di sistem. Coba periksa lagi, data yang dimasukkan sudah benar?" Aku mengerutkan kening. "Nggak mungkin. Coba saya tanya dulu." Saat membuka ponsel, aku menerima notifikasi postingan baru dari Dhani, suamiku. Dia pasti lupa menyembunyikannya dari akunku. [Tujuh tahun menikah rahasia, sekarang akhirnya bisa dengan bangga memberi tahu seluruh dunia, kamu adalah istriku.] Dalam foto itu, sahabatku menggendong putranya sambil bersandar di bahu Dhani, dengan mata berkerut karena senyum lebar. Yang mereka pegang adalah akta nikah yang persis sama dengan yang ada di tanganku. Otakku seketika kosong, jari-jariku tanpa sadar terus menggulir ke bawah. Kolom komentar penuh dengan ucapan selamat. Ada teman-teman yang sama-sama kenal denganku dan Dhani, ada juga rekan-rekan kerjaku. Komentar paling bawah adalah dari ibu mertuaku. [Kasihan dia sudah menyembunyikan pernikahan kalian selama tujuh tahun. Kamu harus menebusnya kepada mereka.] [Jangan lupa dirahasiakan dari Kania. Jangan sampai dia tahu akta nikahnya palsu, dia pasti patah hati.] Dhani membalas dengan emoji oke. Jari-jariku yang memegang ponsel mulai gemetar. Ternyata, selama tujuh tahun ini aku berbakti merawat ibunya dan membesarkan putrinya. Sementara dia sibuk menemani istri dan anak yang lain. Semua orang tahu, tapi mereka semua membantu menyembunyikannya dariku. Dadaku terasa sesak hingga sulit bernapas. Putriku menarik-narik bajuku, lalu menunjuk ke arah pintu dengan hati-hati. "Ibu, hujannya tambah deras. Kita masih mau nunggu Ayah?" Aku membuka payung dan menggenggam tangan mungilnya. "Jangan ditunggu lagi." "Mulai sekarang, kita nggak akan menunggunya lagi."

View More

Chapter 1

Bab 1

Di depan gerbang sekolah.

Hujan turun sangat deras, berjam-jam lamanya tidak kunjung dapat taksi.

Aku membuka postingan itu lagi.

Kolom komentar lebih ramai dari sebelumnya.

[Sudah kubilang, jodoh nggak akan ke mana. Tujuh tahun, akhirnya bisa kembali lagi dan mengumumkannya secara terbuka!]

Komentar itu dari teman Dhani sejak kecil. Terakhir kami bertemu, dia masih penuh senyum sambil memujiku, menyebutku seribu kali lebih baik daripada mantan Dhani.

[Selamat, Kak Dhani. Di pesta pernikahan kalian nanti, aku harus cari alasan ke Kak Kania biar bisa datang.]

Komentar itu dari anak magang yang aku bimbing. Orang tuanya beberapa kali datang ke klinik membuat keributan dengannya. Aku yang membantu mengatasinya.

[Itu pasti. Kamu harus cari alasan yang paling sempurna. Jangan sampai Kania tahu, nanti bikin heboh lagi.]

Komentar itu dari teman sekamarku semasa kuliah. Dia beberapa hari lalu dirawat di klinik, dan aku yang membawakan makanan untuknya selama sebulan.

Muncul sebuah foto di kolom komentar.

Itu adalah liontin giok keberuntungan, tergeletak tenang di atas buku rekam medis.

[Terima kasih atas doa dan ucapan kalian semua. Malam ini, Miko operasi jantung yang sangat berisiko. Apa pun hasilnya, terima kasih Dhani, sudah mau mewujudkan impian Miko tujuh tahun lalu.]

[Liontin giok keberuntungan ini sudah dipakai Miko selama tujuh tahun. Membantunya melewati tujuh kali operasi tanpa masalah. Semoga kali ini juga berjalan lancar.]

Aku langsung mengenali liontin giok itu.

Dulu, saat Dhani pergi bertugas, aku khawatir akan terjadi yang tidak diinginkan.

Aku memberinya liontin giok keberuntungan yang semula akan kuberikan kepada putri dalam kandunganku.

Rupanya, baru sehari setelah kuberikan, liontin giok itu sudah tergantung rapi leher putra wanita lain.

Ella menunduk dengan sedih, sambil gelisah menarik-narik baju rumah sakitnya yang longgar.

"Bu, Ibu dan Ayah nggak jadi lagi pesta pernikahan tahun ini?"

"Aku takut gaunku nggak muat lagi tahun depan."

Hidungku terasa perih.

Saat putriku berusia empat tahun, Dhani berjanji dengan mulutnya sendiri bahwa begitu dia pulang tahun depannya, dia akan mengadakan pernikahan denganku.

Gadis kecil kami sangat gembira dan menyeretku untuk membeli gaun pesta pertamanya.

"Aku mau pakai gaun ini, jadi pengiring pengantin di pernikahan Ayah dan Ibu!"

Ternyata tahun berikutnya, Dhani mengatakan tugasnya sangat berat, jadi harus menunggu satu tahun lagi.

Aku percaya, dan menunggunya tahun demi tahun.

Sampai gaun itu tidak muat lagi, sampai Ella didiagnosis menderita kanker tulang.

Dia hanya bisa bertahan hidup berkat kemoterapi harian.

Bahkan dokter pun tidak bisa memastikan berapa hari lagi Ella akan hidup.

Aku berusaha keras menahan air mata yang hendak tumpah, sambil mengusap kepalanya.

"Jangan dipikirkan, Ella. Ella bisa punya gaun yang pas setiap tahun."

"Gaun yang sudah nggak pas, kita buang saja."

Orang yang salah, akan kubuang juga.

Saat aku membuka ponselku lagi, postingan itu sudah hilang.

Dhani menelepon dengan gugup.

"Maaf, Kania, markas besar bilang misi ini masih perlu ditindaklanjuti."

"Kalau mengadakan pernikahan secara terbuka sekarang, aku khawatir kamu dan Ella bisa menjadi sasaran balas dendam musuh. Pengumumannya juga, tunggu sebentar lagi."

Kata-kata seperti itu sudah kudengar selama tujuh tahun.

Aku menunggu selama tujuh tahun.

Akhirnya, yang kudapatkan hanya akta nikah palsu.

Aku bergumam mengiakan.

Dhani tampak lega ketika mendengar bahwa sikapku tidak berubah.

"Aku ada urusan malam ini, jadi nggak bisa pulang."

"Kapan-kapan kalau bisa libur, aku akan menemani kamu dan Ella."

Alasan yang sangat payah.

Dulu, aku selalu percaya lagi dan lagi.

Sekarang, aku sudah bosan dan lelah.

Setelah menutup telepon, aku menggandeng Ella dan naik taksi.

Rumah sakit yang tertera di buku rekam medis di bawah liontin giok keberuntungan itu adalah rumah sakit terbaik di seluruh ibu kota.

Aku pernah memohon kepada Dhani berkali-kali, memintanya menggunakan koneksi keluarganya yang kaya untuk membantu Ella dirawat di sana.

Setiap kali, dia menolak dengan tegas.

"Kania, koneksi nggak boleh disalahgunakan, harus digunakan pada saat yang tepat."

"Jangan khawatir, semua rumah sakit di ibu kota itu sama-sama bagus. Nggak masalah Ella dirawat di mana."

Ternyata, koneksi memang tidak boleh disalahgunakan.

Koneksinya hanya tidak boleh disalahgunakan dengan sia-sia untukku.

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

No Comments
9 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status