LOGINRumah besar ini dihuni oleh keluarga besar dengan 2 orang putrinya yang tinggal bersama dengan orangtuanya yang sudah tidak muda lagi. Salah satu dari mereka telah menikah dan memiliki keluarga, tapi orangtuanya meminta untuk tinggal bersamanya. Suami putrinya yang memang jauh dari kata berada dan berbeda dengan keluarganya membuat sang Ayah untuk mempekerjakan suami putrinya itu di lahan yang ada di desa.
“Farin sudah masuk mobil belum, Mam?” tanya seorang pria tua yang baru keluar dari rumahnya. “Sudah, Pak, Farin dan Bundanya beserta Ibu baru saja masuk ke mobil,” jawab pria yang berusia sekitar akhir 20an. Pria tua itu menganggukkan kepalanya dan berjalan menuju mobilnya. Menantunya itu tidak bisa mengemudikan mobil membuat dia harus mengambil alih kemudi. Mereka pun menuju ke desa. Imam Azzamar, seorang pria yang biasa saja mendapatkan istri dari seorang yang cukup berada walaupun tidak kaya. Karina Farlea, wanita yang berasal dari keluarga cukup berada mendapatkan suami dari keluarga yang biasa saja. Awal hidup mereka biasa saja sama seperti keluarga kecil yang lain, memiliki anak dan selalu hidup bersama. Mereka hidup bersama di kota lain hingga keluarga Karin meminta mereka untuk kembali ke rumah keluarga besar Karin dengan dalih kondisi orang tua Karin yang semakin tua. Imam menyetujuinya dan pindah bersama dengan keluarga Karin. *** “Hari ini sekolah, Ayah yang antar naik sepeda. Mau?” tanya Imam pada anaknya yang baru saja dipakaikan seragam oleh istrinya. Anak itu dengan semangat dan senyum bahagia menganggukkan kepalanya. Karin tertawa melihat wajah mengemaskan anaknya, begitu juga dengan Imam. Mereka terlihat bahagia dengan keadaan mereka. “Makan dulu baru nanti berangkat sama Ayah,” kata Karin menggandeng putrinya itu menuju meja makan yang berada tidak jauh dari kamarnya. Putrinya itu menganggukkan kepalanya dan membalas genggaman tangannya dengan erat. Di meja makan sudah berada Thariq, Ayah Karin dan Citra, Ibu Karin. Karin menyuruh anaknya menyapa Kakek-Neneknya terlebih dahulu. “Farin sudah siap sekolah, Nak?” tanya Thariq menggendong Farin dengan bahagia. “Iya, Kek, hari ini Farin diantar Ayah,” jawab Farin dalam gendongan Thariq. “Oh ya? Kalau gitu sekarang sarapan dulu, biar Farin kuat ikut pelajarannya, enggak ngantuk nanti,” kata Thariq sambil mendudukkan Farin di sampingnya. Citra mengambilkan makan untuk Farin yang langsung berdiri di kursi dan melihat lauk yang diberikan Citra. Karin dan Imam pun ikut bergabung bersama Kakak Karin yang baru saja selesai bersiap untuk kerja. “Farin, berangkat sama Tante?” tanya Kakak Karin yang langsung digelengi oleh Farin. “Sama Bunda?” tanyanya lagi. “Enggak, Tante, sama Ayah. Farin mau naik sepeda,” jawab Farin sambil makan. “Sepeda? Sepeda kayuh, Sayang?” tanya Kakak Karin dengan wajah tidak percayanya. “Iya, Tante. Sudah, Farin mau makan dulu. Kata Bu Guru, enggak boleh makan sambil berbicara. Dosa, Tante!” pungkas Farin membuat Thariq mengusap puncak kepalanya gemas. Karin hanya melihat kakaknya dari ekor matanya yang terlihat sangat tidak menyukai suaminya. *** Hari ini, Farin berada di stasiun kereta bersama Kakeknya dan Ayahnya. Gadis kecil yang sedang berdiri di pembatas peron kereta menatap rel kereta dengan rambut kuncir kudanya yang bergoyang setiap dia membuat gerakan. “Farin, sini, Sayang!” panggil Thariq membuat Farin langsung mendekat. “Pergi sama Ayah jangan nakal ya, Farin puasa kan? Besok hari raya Farin ke sini lagi ya. Adik Farin nunggu Farin loh!” pesan Thariq yang memeluk cucunya. “Iya, Kek, Farin kan cuma sebentar ke Surabayanya. Nanti Farin kembali buat sekolah lagi dan main sama Adik,” sahut Farin. Kereta pun datang dan Farin terlihat bahagia melihat kereta itu berhenti di depannya. “Jaga anak kamu. Dia aktif sekali, jangan lengah!” pesan Thariq pada Imam. Menantunya itu hanya menganggukkan kepalanya dan menyalami tangan Thariq lalu menggandeng Farin menuju kereta dengan tangan sebelah lagi membawa barang bawaan Farin dan dirinya. Farin melambaikan tangan pada Kakeknya yang langsung dibalas oleh Thariq. Kereta berangkat dan Thariq keluar dari stasiun menuju mobilnya lalu melajukan mobilnya pulang ke rumahnya. *** Hari raya idul fitri menjadi ajang maaf-memaafkan bagi umat muslim. Namun, hari ini bertepatan dengan hari raya ke dua, Thariq di bikin marah dan emosi melihat Farin datang dengan Imam menaiki motor. Rahang Thariq mengeras melihat cucunya turun dari motor dan memeluknya. Wajah Farin dingin terkena paparan angin dan udara malam. Thariq membalas pelukan Farin dan menyuruhnya bermain dengan kakak sepupunya yang juga datang. Farin menuruti permintaan Thariq yang langsung berlari mendekati para saudaranya. “KAK DANAAA!!!” teriak Farin membuat seorang pria kecil yang lebih tinggi dari Farin menolehkan kepalanya. “Farin dari mana? Kakak sudah dari minggu lalu ada di sini. Kata Kakek, Farin ada di Surabaya. Kenapa gak ke rumah kakak?” tanya pria kecil itu memeluk tubuh mungil Farin. “Farin emang dari Surabaya, Kak. Habis itu Farin ikut acara pernikahan adik Ayah Farin di sana. Habis itu Farin pergi ke Situbondo Kak, barulah ke sini. Kakak nyari Farin?” jawab Farin dengan wajah cerianya. “Iya, itu Lia juga cari Farin. Farin capek enggak? Mau main sama kakak?” tanya Dana. “Mau, Kak. Farin enggak jadi capek deh, Kak, mau main aja sama Kakak!” kata Farin polos. Mereka pun menyusun lego yang ada di depan mereka. Bermain bersama dan bercengkrama. Sesekali Dana menyanyi menghibur Farin yang terlihat lelah. “MAMA!!!! HIDUNG FARIN BERDARAH!” teriak Dana yang terkejut dengan tetesan darah dari hidung Farin saat mereka duduk di depan tv. Farin menangis melihat Dana panik akan keadaannya. Semua yang mendengar teiakan Dana pun berlari menuju sumber suara Dana. “Farin, sakit ya?” tangis Lia yang juga ikut duduk di samping Farin. Farin tidak menjawab hanya menangis ketakutan. Citra menggendong Farin dan menyuruh Karin untuk mencari daun sirih. Citra membersihkan hidung Farin dengan tisu hingga bersih. Darah masih menetes dari hidung Farin. “Farin jangan nangis biar darahnya bisa berhenti. Nanti kalau sudah berhenti kita beli jajan, ya.” bujuk Citra pada cucunya itu. Farin menahan isakannya dan mengusap air matanya sendiri. Thariq menatap tajam menantunya. Karin datang membawa beberapa lembar daun sirih. Dengan cekatan Citra menggulung daun sirih itu dan memasukannya ke hidung Farin perlahan. “Farin tahan ya, jangan lihat ke atas. Farin duduk sama nenek aja dulu, ya.” kata Citra yang diangguki Farin. *** Imam pamit pada Farin malamnya. Farin menangis, namun dengan hati-hati Imam menjelaskan apa yang harus dilakukannya untuk bekerja di luar kota. Farin masih tidak ingin melepaskan pelukannya pada Imam membuat Karin ikut menenangkan Farin. “Farin, Ayah cuma sebentar. Farin di sini sama Hana. Hana baru dua bulan loh, masa harus ditinggal kakaknya lagi. Nanti Ayah cepat pulang, Farin. Farin di sini dulu sama Bunda sama Hana. Ayah pasti jemput Farin, ajak Farin jalan-jalan lagi,” bujuk Imam. “Besok kita main ke Timezone loh sama Kak Dana sama Kak Lia. Farin enggak mau ikut?” tanya Karin membuat Farin menolehkan wajahnya yang menangis. “Farin ikut, tapi Ayah kenapa enggak ikut?” tanya Farin dengan wajah penuh kesedihannya. “Ayah ada kerjaan di luar kota, Farin. Farin sudah enggak boleh manja kaya gini lagi, Farin sudah punya adik loh,” kata Imam membuat Farin menjauhkan tubuhnya dan melepaskan pelukannya. Farin diam dan menatap bayi yang sedang tertidur pulas di ranjang bayi. Farin ikut berbaring di ranjang dan memejamkan matanya mencoba tidak menghiraukan sekitarnya. Hingga akhirnya, Farin tertidur dan tidak mengetahui kepergian Imam. **Setelah masalah rumah Tante selesai, kami tinggal menunggu kabar dari Gilang yang mengontak pihak bank untuk menanyakan masalah transaksi yang tersisa. Aku duduk di sofa kamar bersama dengan Raka yang berbaring di pahaku. Dia berceloteh dan memainkan robotnya. Mas Arlan masih menyelesaikan pekerjaan yang sudah dia telantarkan beberapa hari lalu. Raka mengajak jalan-jalan tapi terpaksa menunggu Mas Arlan menyelesaikan pekerjaannya terlebih dahulu. Aku dan Raka pun menonton TV meski mata Raka tidak menontonnya. Raka terlihat mulai bosan menunggu Papanya yang bekerja di meja belajarku. “Papa, Papa masih lama?” tanya Raka sambil tiduran di pahaku.“Sebentar lagi. Tunggu bentar ya. Habis ini kita ke kafe terus jalan deh ke mana Raka mau,” sahut Mas Arlan. “Raka pingin berenang di water park, tapi Papa lama, ini sudah siang.” Raka sudah terlihat kesal karena Papanya yang masih sibuk kerja. Raka mulai menaruh robotnya dan meminta r
Setelah beberapa hari lalu aku menyelesaikan urusan surat wasiat Tante, aku mengunjungi Om Rafli. Suamiku menggenggam tanganku dan membalas dengan tatapan tajamnya. Dia duduk di depan Om Rafli dan tetap diam menatap tajam pria tua itu. Aku berdeham dan membuat kedua pria itu menoleh. Aku tersenyum melihat suamiku sebentar. Aku mengangguk menenangkan suamiku yang terlihat kesal. “Om, Farin cuma mau tanya. Apa Om buat Tante tersiksa karena semua yang Tante punya jatuh ke tangan Farin, meski tanpa Farin tahu?” tanyaku. “Kamu sudah tahu ternyata. Di mana surat-suratnya?” Om Rafli menanyakannya. Suamiku terlihat tenang, tapi matanya yang tajam mengawasi pergerakan Om Rafli. “Farin urus semua. Farin juga gak berpikir untuk memberikannya. Bukankah selama ini Om sudah menikmatinya? Om gak kerja dan seenaknya bawa anak tanpa ingin merawatnya. Justru Tante Farin yang rawat anak Om.”“Sekarang itu punya Farin dan Hana. Itu ada kekuatan
Bunda terlihat lebih membaik tidak seperti kemarin. Aku masih tinggal di rumah Bunda. Suamiku pun ikut menambah cutinya hingga akhir minggu ini saat aku melakukannya. Hari ini kami mulai menyelesaikan masalah Tante, setelah kemarin aku mengurus akta kematian. Sungguh keterlaluan, tidak ada yang mengurus surat sepenting itu. Beruntung Hana tau kalau Bunda yang menyimpan berkas-berkas punya Tante. Aku pun mengurusnya dengan baik dan hari ini akan menemui Omi. Aku duduk di depan TV saat Raka menemani Lani bermain dan Hana membantu Bunda. Aku mulai menghubungi Omi melalui chat, karena ini terlalu pagi untuk menghubunginya langsung tanpa menanyakan kesibukannya. Omi meneleponku dan aku segera mengangkatnya.Aku mengatakan rencana akan menemui Omi dan seniornya untuk menyelesaikan masalah Tante. Kami pun membuat janji temu. Dia mengatakan untuk aku menemuinya jam 10 nanti. Aku mematikan panggilan setelah mengucapkan salam. Suamiku turun setelah
Aku tidak tidur dan hanya memperhatikan Bunda yang sedang terlelap. Aku sedikit lega karena Bunda tidak separah Kakek. Aku meregangkan tubuhku saat mendengar masijd telah berbunyi. Aku memperhatikan Bunda sebentar dan keluar dari kamar Bunda untuk membangunkan suamiku. Aku membuka pintu kamar dan melihatnya sudah siap.“Kamu gak tidur?” tanyaku mendekat merapikan bajunya. Dia tersenyum melihatku. “Tidur sebentar. Tadi Raka menggeliat, jadi aku bangun deh.” Aku mengangguk dan melihatnya merapikan rambut sebelum menggunakan kopiah. Aku mengecup pipinya membuatnya menggelengkan kepala.“Mau sekarang?” Dia menatapku dengan tatapan menggodanya yang selalu membuatku kesal. Aku mencubit pinggangnya. “Berangkat sana. Makin tua makin ke mana-mana pikiranmu.” Dia tertawa pelan dan menyodorkan tangannya. Aku menyalaminya dan dia mengecup keningku. “Aku berangkat. Assalamualaikum.” Dia keluar dan senyumku me
Aku terbangun saat mendengar suara Mas Arlan yang membangunkanku. Aku melihat jam dan masih tengah malam. Aku terdiam dan melihat Mas Arlan yang berdiri di depanku. Mas Arlan memang tidak tidur menjaga Bunda yang terkadang terbangun tengah Malam sesuai laporan Hana. Setelah aku rasa siap membuka suara, aku mendongakkan kepalaku dan melihat wajah Mas Arlan yang menatapku. Aku menanyakan dengan tatapanku. Dia malah membuang napas berat melihatku. “Kamu capek ya?” tanyanya. Aku menggelengkan kepalaku sebentar.“Enggak. Aku masih ngumpulin nyawa. Kenapa?” Aku kembali menanyakan apa yang terjadi pada Mas Arlan. “Bunda bangun, untung ada Hana. Bunda mau ngomong sama kamu.” Mas Arlan mengusap rambutku.“Ke kamar mandi?” tanyaku. Mas Arlan menganggukkan kepalanya sambil tangannya masih mengusap rambutku lembut. Aku berdiri dan mencengkeram piyama Mas Arlan sambil memejamkan mataku. Jika aku terlalu banyak pikiran selal
Aku dan suamiku berada di kamar saat Hana menyuruh kami istirahat terlebih dahulu. Raka sudah tertidur bersama Lani di tempat tidur. Hana kembali menemani Bunda. Aku memainkan HPku dan mengecek uang di beberapa rekeningku. “500 juta, selama 10 tahun. Belum tau bunganya. Gilang gak kasih tau. Bunda menggantikan menyicil hutang sejak Tante meninggal.” Perkataan Hana terus berputar. Suamiku juga melakukan apa yang aku lakukan. Aku menyandarkan kepalaku ke bahunya dan mulai menangis. Ini sungguh berat menerima kenyataan seperti ini lagi. Bukan karena besar jumlahnya, tapi keadaan Bunda terguncang. “Mas, ini terlalu besar. Kita bahkan gak tahu bunganya berapa. Apa bisa kita selesaikan semua? Aku gak mau merepotkanmu dengan masalah keluargaku yang tidak ada ujungnya. Kepalaku terasa berat, Mas. Aku terlalu takut ini baru satu yang keluar ke permukaan. Aku takut makin merepotkanmu,” tangisku.“Kamu ngomong apa sih? Kamu istriku. Ud







