LOGINWaktu berlalu dengan cepat, Farin tumbuh menjadi gadis yang ceria dan menurut pada siapapun yang menasihatinya. Saat ini, Farin duduk di bangku kelas 3 SD. Farin bersekolah di dekat rumahnya, Farin terbiasa jalan sendiri atau bersama tetangganya yang juga kakak kelasnya.
Semingggu yang lalu, duka menyelimuti keluarga Farin, Citra, nenek Farin meninggal karena penyakit yang diderita. Selama sakit, Farin selalu menemani Citra di rumah sakit, hingga Farin rela pulang sekolah terlibat les tambahan, lalu pergi ke rumah sakit bersama Tantenya dan akan pulang saat adzan subuh berkumandang. Farin masih terlihat sedih meski wajah cerianya masih terlihat memancarkan senyuman yang biasa ditunjukkanditunjukan.
“Farin, jangan sedih ya. Nenek Citra sudah berada sama Tuhan disana” hibur teman Farin.
“Iya, Farin sudah gak sedih. Farin kan harus mendoakan Nenek Citra. Kalian waktu itu datang ya, ke rumah Farin. Maaf ya, Farin gak tahu, Farin ada sama saudara Farin di belakang” kata Farin.
“Iya, Rin. Gak papa. Kami kesana sama bu guru sama pak guru. Farin, ayo duduk sama Fira” ajak Fira yang tadi menghibur Farin. Farin menganggukan kepalanya. Mereka pun duduk bersama di bangku yang tidak jauh dari papan tulis. Fira tak ada hentinya mengajak Farin berbicara agar gadis itu bisa lebih bebas dan tidak merasa sendirian.
***
“Wah, gak nyangka ya, kita sudah kelas 6 aja nih. Farin nanti mau lanjut di mana kalo lulus?” tanya cowok yang duduk di samping Farin. Mereka sedang bermain di rumah temannya satu kelas.
“Farin gak tahu, Ji. Bunda suruh Farin masuk SMP 1 Kota. Tapi kan Farin gak pintar, Ji” jawab Farin menatap cowok di sampingnya dengan wajah bingung.
“Farin pintar kok. Mungkin Farin kurang belajar aja, mangkannya Farin ngerasa kurang. Coba belajar lagi Farin, biar makin pintar. Kan nanti Farin juga yang bangga” kata Ibu dari temannya yang keluar membawa minuman.
“Ibu mah gitu. Farin itu selalu belajar kok. Cuma ya otaknya Farin aja yang kadang menolak usaha Farin bu” keluh Farin.
“Calon menantu Ibu kok pesimis banget” goda Ibu teman Farin yang memang akhir-akhir ini suka memanggil Farin sebagai calon menantunya. Padahal Farin dan anaknya Fahmi itu selalu aja berantem bagaikan Tom and Jerry.
“Inget ya besok bawa data yang di suruh. Farin jangan lupa juga ya” kata Aji mengingatkan teman-temannya.
“Siaap pak ketua” sahut semuanya pada Aji yang menyanding seorang ketua kelas di kelas mereka.
Malam hari, Farin makan bersama dengan keluarganya. Hana, adik Farin yang baru saja masuk TK membuat ulah. Dia kembali membuat Farin menahan emosi menanggapinya.
“Bun, besok suruh bawa data yang kemarin Kakak minta” seru Farin mengingatkan Bundanya.
“Surat ceraimu, jangan lupa, Rin” kata Kakak Bunda membuat Farin melirik Bunda. Farin sudah cukup faham arti kata cerai meski belum sedetail itu. Farin menyudahi makannya dan meninggalkan meja makan dengan tidak sopannya. Farin seketika marah mendengar perkataan Kakak dari Bundanya itu. Farin duduk di meja belajar dan membuka bukunya. Farin yang berada di kamar yang sama dengan Tantenya itu berlagak seolah sedang belajar dan tak menghiraukan Tantenya yang sedang memainkan hpnya. Ketukan pintu membuat Farin menoleh dengan malas pada Tantenya itu.
“Kak, ini data yang di suruh bawa besok. Langsung di masukan tas, biar gak lupa ya kak” kata Karin begitu pintu kamar itu terbuka. Karin masuk dan mendekati Farin, gadis itu terdiam. Karin mencium puncak kepala Farin dan melihatnya belajar.
“Belajar yang rajin ya, Kak. Bunda keluar dulu” kata Karin hanya di angguki oleh Farin. Farin melihat kepergian Bundanya dari ekor matanya.
***
Farin, gadis ini masih tidak bisa menerima kenyataan bahwa kedua orangtuanya telah berpisah. Ujian nasional dia lalui dengan hati yang berat. Hampir satu tahun sudah dia mendengar kabar itu tapi tetap saja tidak bisa menerima hal itu. Bertahun-tahun dia menunggu kedatangan sosok Ayahnya, namun kenyataan berkata lain.
“Farin, kenapa? Sedih ya?” tanya Fira.
“Hah? Enggak kok, Fir. Oh iya, kita mau nampil satu kelas kan ya buat perpisahan, gimana lagunya?” kata Farin mengalihkan obrolan mereka.
“Iya, kita bakalan nyanyi lagu Samsons yang Kenangan Terindah. Kamu tahu kan?”
“Tahu, udah yuk pulang. Hari terakhir ujian sudah selesai, itu anak sekolah lain yang disini juga udah pulang” ajak Farin. Keduanya pun berjalan pulang bersama. Kondisi hati Farin masih belum sepenuhnya membaik. Farin hanya selalu menyembunyikan dan terbiasa menyembunyikan.
Farin tidak berhasil masuk ke sekolah yang di inginkan Bundanya. Farin berhasil masuk ke SMP negri pun merasa bahagia, namun tetap saja Bundanya masih sebal karena merasa kecewa dengan Farin.
“Kakak gak belajar apa gimana sih kak?” tanya Karin membuat Farin menahan emosinya. Wajar, Farin di usianya yang sangat labil harus mengatasi hatinya yang sangat menyakitkan untuk di pendam sendiri.
“Bunda, kakak sudah coba yang terbaik. Kalo Bunda masih maksa, kakak gak usah sekolah gak papa. Setidaknya kakak gak sedikitpun nyontoh Bun. Kakak jujur” sahut Farin membuat Karin terdiam. Karin sadar, anaknya mulai memasuki usia remaja awal dan emosinya mulai labil. Farin berlalu dari hadapan Karin dan mengambil tas kecilnya.
“Kakak mau jalan dulu. Bunda gak usah pikirin kakak” pamit Farin yang beranjak dari rumah dan pergi. Karin menghela nafas beratnya melihat anak gadisnya sudah berubah. Air mata farin turun selama kakinya melangkah meninggalkan rumah. Farin bukan kabur seperti di drama atau sinetron. Farin hanya ingin sendiri, Farin lelah menahan semuanya. Farin berjongkok di samping gundukan tanah yang sudah jarang dia datangi sejak sibuk dengan ujiannya.
“Nenek, Farin sedih. Farin boleh menyerah gak nek? Farin capek denger Bunda kecewa sama Farin. Farin bodoh nek. Farin gak kaya Hana yang katanya pintar dan cepat tanggap. Nenek tahu kalo Ayah dan Bunda berpisah? Sejak kapan nek? Apa sejak Farin TK dan Hana masih 2 bulan itu? Semua gak tahu nek, kalo Farin sakit hati. Farin juga kecewa nek. Farin pingin bisa pergi nek. Nenek gak pingin peluk Farin?” tangis Farin di samping gundukan tanah yang merupakan makam dari neneknya. Farin menghabiskan waktunya dengan menceritakan kisahnya dan menangis di samping gundukan tanah itu.
***
Hari pertama SMP membuat Farin mengenal beberapa teman baru. Tapi pribadi Farin berubah drastis, dari seorang yang ceria menjadi seorang yang pendiam dan hanya berbicara jika di perlukan. Farin mengenal Febi, Shania, dan Audrey karena mereka sekelas. Farin dan Febi pun sering pulang jalan bersama membuat mereka jadi kenal satu sama lain. Ada teman yang juga dari SDnya, namun mereka sudah tidak sedekat itu saat mereka memiliki teman baru.
“Rin, kamu emang diam gini orangnya?” tanya Febi saat pulang bersama membuat Farin menoleh kearahnya dan menggelengkan kepalanya.
“Lalu, kenapa diam aja? Kan kamu jadi di remehin sama orang lain, Rin”
“Aku gak berhak ngatur hidup mereka. Aku marah saat mereka menjelekanku, tapi itu mulut mereka. Selama bukan badan aku yang di sakiti aku bisa menahannya. Makasih udah ingetin aku”
“Jadi kamu sendiri, RIn. Setidaknya saat bersama aku, Shania, dan Audrey. Oke?” pinta Febi. Entah apa yang ada pikiran Farin, dia malah mengiyakan dan menyetujuinya. Sejak itu pertemanan mereka mulai di bangun bersama.
**
Masa awal kuliahku, kuhabiskan dengan tugas, tugas dan tugas. Bahkan hari sabtu yang biasanya aku bisa menghabiskan waktu dengan maraton drama korea, kini semakin jarang. Aku geli sendiri mengingat aku yang semakin kecanduan drama korea karena Laila. Dia sering main ke rumah karena memang dia gagal masuk ke tempat yang diinginkannya. Hari sabtu ini aku sudah muak dengan laptopku yang mengeluarkan rangkaian kalimat yang harus aku buat. Aku memilih untuk menutupnya setelah menyimpan apa yang sudah aku kerjakan. Aku keluar dari kamar dan menghidupkan TV yang mulai jarang ditonton itu. “Assalamualaikum!” Suara salam seseorang yang membuatku merutuki memilih untuk menghidupkan TV. Kubiarkan TV menyala dan menjawab salam itu sembari berjalan ke arah pintu untuk membukanya. Terlihat sepasang orang tua yang terlihat berusia 60 akhir. Aku mengerutkan keningku melihat mereka tersenyum. Wanita tua itu menarik tubuhku dan memeluknya membuatku membulatkan mataku sempurna.‘Apaan nih orang? Sok k
Pemakaman kakek berjalan lancar, Kak Dana menggandeng tanganku dan Hana untuk meninggalkan gundukan tanah yang baru itu. Aku menyeret langkahku untuk mengikuti langkah kaki Kak Dana. Hana segera masuk ke rumah setelah kami sampai. Aku duduk di depan rumah melihat tempat di mana kakek disucikan. Air mataku jatuh kembali membuat Kak Dana dengan sigap memelukku. Laila datang bersama Tia dan Jihan. Mereka melihatku masih dalam pelukan Kak Dana pun hanya terdiam.“Ada temanmu. Udah sedihnya. Kakak masuk dulu,” pamit Kak Dana. Laila duduk dan memelukku menggantikan Kak Dana. Aku terdiam dalam pelukan Laila. Bukan aku sudah tidak sedih, hanya saja aneh aku menumpahkan kesedihanku pada mereka.“Rin, yang ikhlas ya. Aku dengar dari Papi tadi waktu ujian,” kata Laila saat melepaskan pelukannya. Jihan dan Tia tersenyum memegang tanganku menguatkanku. Aku membalas senyum mereka dengan sedikit terpaksa. ***Mama menyuruhku masuk agar tidak semakin banyak ujian praktik yang harus aku susul. Bunda
Aku melalui masa baru di kelas 3 SMA. Teman sekelasku masih sama, masih ada Vedo, Balkhis dan teman-temannya, tapi juga masih ada Jihan, Tia, dan Laila yang bersamaku. Aku tetap melakukan les tambahan bersama Laila dan belajar bersama dengan Tia dan Jihan. Kakek selalu menyemangatiku dan mendukung semua keinginanku.“Kek, ini aku harus isi data buat BK. Harus isi apa ya, Kek?” tanyaku saat duduk bersama di depan tv dan kubawa lembaran data yang menyatakan jurusan dan universitas mana yang diinginkan. “Kakak mau jadi apa loh? Pertimbangkan dengan baik,” kata Kakek menyerahkan sepenuhnya padaku.“Kakak mundur dari kedokteran, kakak mau jadi dokter sejak dulu. Tapi mahal, kakak gak mau lagi. Otak kakak juga gak akan sampai,” kataku menjelaskan keadaanku. Kakek mendengarkan dengan saksama meskipun matanya masih menatap tayangan tv yang digemarinya.“Kakak mau urus tanah Kakek. Kakak mau masuk pertanian, apa kakak boleh ke IPB?” lanjutku membuat kakek menolehkan kepalanya menatapku.“IPB,
Semester telah berlalu dengan cepat dan hari ini adalah hari terakhir Kak Dana mengerjakan ujian nasional yang telah seminggu ini dijalaninya. Aku duduk di depan TV karena tidak ada kegiatan saat libur seperti ini. Aku berlibur ke rumah Kak Dana selama dia ujian nasional, aku jadi menemaninya belajar dan mendengarkan keluhannya setiap hari. Kak Dana masuk dan duduk di sampingku dengan seragam yang masih melekat di badannya. Dia semakin merebahkan tubuhnya dengan pahaku yang menjadi bantalan untuk kepalanya. “Susah Kak?” tanyaku.“Enggak juga kalau mau belajar” jawabnya.“Kamu bisa gak? Jangan bilang kamu bilang gini karena kamu gak bisa dan semalam kamu gak belajar. Iya kan?” tuduhku. Dia menatapku tajam dari bawahku membuatku takut. Aku menutup matanya dengan tanganku.“Biasa aja lihatnya, gak usah nakutin,” kataku. Dia meraih tanganku dan menyingkirkannya. “Kamu belajar dari sekarang, biar nanti gak susah. Aku bakal lanjut di luar kota, Rin. Kalau hal kaya waktu itu kembali lagi,
Lukaku sudah sembuh setelah dirawat baik oleh Kak Dana. Dia tinggal sementara karena menemaniku yang memang terkadang tidak ambil pusing dengan lukaku. Kakek juga marah melihat kondisiku sebelumnya. Balkhis diskorsing beberapa hari karena seseorang melaporkannya ke BK. “Kakak pulang kapan? Belum mau ujian?” tanyaku selama perjalanan ke sekolah. Kak Dana mengantarku dengan dalih luka di tanganku. Kak Dana memang bukan kakak kandungku, dia hanya kakak sepupuku, tapi rasa sayangnya membuatku seolah adik kandungnya. Dia memperlakukanku dan Hana dengan baik berbeda dengan sepupunya yang lain. “Kakak sudah tahu apa yang terjadi tentang ‘minggu kemarin’mu” ucapnya membuat keningku mengerut heran.“Kamu dilecehkan? Siapa orangnya? Cowok kemarin?” “Kata siapa kak? Farin baik-baik aja kok.”“Kakek. Beneran dia kayanya.” Aku terdiam, aku tidak ingin Kak Dana mendatangi Vedo dan mencari masalah dengannya. Mobil Kak Dana sudah berhenti di depan sekolah.“Farin sekolah dulu. Farin sayang kakak.
Lepas dari Vedo yang sudah berubah setelah satu minggu tidak menunjukan batang hidungnya di sekolah. Hari ini dia kembali sekolah dan tentunya sudah tidak mengusikku. Dia menyapaku seperti yang sering dilakukan oleh Tia dan Jihan. Aku dan Laila pun tak mempedulikannya. “Sok cantik! Ngaca dong kamu itu dekil kayak orang enggak mandi!” serang Balkhis membuatku dan Laila terpaksa menoleh. Laila menggandengku untuk berdiri dan meninggalkan Balkhis. Justru itu membuat Balkhis marah. Balkhis menarikku kasar dan mendorongku dengan keras. Aku merintih pelan saat ujung meja mengenai perutku. “FARIN!!!” teriak Laila terkejut melihatku terdorong.“Butuh kaca kamu? Nih!” kata Balkhis menjambrak rambutku dan menyodorkan sebuah kaca padaku. Aku tidak merespons. Dia mendorongku hingga jatuh dan menyenggol kaca itu. Benturan meja dengan kepalaku membuatku mulai pening. Dia memaksaku berdiri dan secara tidak sengaja aku memegang kaca pecah itu hingga melukai tanganku. Melihat tanganku terluka, Balkh







