Beranda / Romansa / Setelah Semua Luka Pulang / 06: Kisah Masa Lalu Farin (2)

Share

06: Kisah Masa Lalu Farin (2)

Penulis: Lavendulaaa
last update Tanggal publikasi: 2026-09-08 12:51:16

Waktu berlalu dengan cepat, Farin tumbuh menjadi gadis yang ceria dan menurut pada siapapun yang menasihatinya. Saat ini, Farin duduk di bangku kelas 3 SD. Farin bersekolah di dekat rumahnya, Farin terbiasa jalan sendiri atau bersama tetangganya yang juga kakak kelasnya. 

Semingggu yang lalu, duka menyelimuti keluarga Farin, Citra, nenek Farin meninggal karena penyakit yang diderita. Selama sakit, Farin selalu menemani Citra di rumah sakit, hingga Farin rela pulang sekolah terlibat les tambahan, lalu pergi ke rumah sakit bersama Tantenya dan akan pulang saat adzan subuh berkumandang. Farin masih terlihat sedih meski wajah cerianya masih terlihat memancarkan senyuman yang biasa ditunjukkanditunjukan. 

“Farin, jangan sedih ya. Nenek Citra sudah berada sama Tuhan disana” hibur teman Farin.

“Iya, Farin sudah gak sedih. Farin kan harus mendoakan Nenek Citra. Kalian waktu itu datang ya, ke rumah Farin. Maaf ya, Farin gak tahu, Farin ada sama saudara Farin di belakang” kata Farin.

“Iya, Rin. Gak papa. Kami kesana sama bu guru sama pak guru. Farin, ayo duduk sama Fira” ajak Fira yang tadi menghibur Farin. Farin menganggukan kepalanya. Mereka pun duduk bersama di bangku yang tidak jauh dari papan tulis. Fira tak ada hentinya mengajak Farin berbicara agar gadis itu bisa lebih bebas dan tidak merasa sendirian.

***

“Wah, gak nyangka ya, kita sudah kelas 6 aja nih. Farin nanti mau lanjut di mana kalo lulus?” tanya cowok yang duduk di samping Farin. Mereka sedang bermain di rumah temannya satu kelas.

“Farin gak tahu, Ji. Bunda suruh Farin masuk SMP 1 Kota. Tapi kan Farin gak pintar, Ji” jawab Farin menatap cowok di sampingnya dengan wajah bingung.

“Farin pintar kok. Mungkin Farin kurang belajar aja, mangkannya Farin ngerasa kurang. Coba belajar lagi Farin, biar makin pintar. Kan nanti Farin juga yang bangga” kata Ibu dari temannya yang keluar membawa minuman.

“Ibu mah gitu. Farin itu selalu belajar kok. Cuma ya otaknya Farin aja yang kadang menolak usaha Farin bu” keluh Farin.

“Calon menantu Ibu kok pesimis banget” goda Ibu teman Farin yang memang akhir-akhir ini suka memanggil Farin sebagai calon menantunya. Padahal Farin dan anaknya Fahmi itu selalu aja berantem bagaikan Tom and Jerry. 

“Inget ya besok bawa data yang di suruh. Farin jangan lupa juga ya” kata Aji mengingatkan teman-temannya.

“Siaap pak ketua” sahut semuanya pada Aji yang menyanding seorang ketua kelas di kelas mereka.

Malam hari, Farin makan bersama dengan keluarganya. Hana, adik Farin yang baru saja masuk TK membuat ulah. Dia kembali membuat Farin menahan emosi menanggapinya. 

“Bun, besok suruh bawa data yang kemarin Kakak minta” seru Farin mengingatkan Bundanya.

“Surat ceraimu, jangan lupa, Rin” kata Kakak Bunda membuat Farin melirik Bunda. Farin sudah cukup faham arti kata cerai meski belum sedetail itu. Farin menyudahi makannya dan meninggalkan meja makan dengan tidak sopannya. Farin seketika marah mendengar perkataan Kakak dari Bundanya itu. Farin duduk di meja belajar dan membuka bukunya. Farin yang berada di kamar yang sama dengan Tantenya itu berlagak seolah sedang belajar dan tak menghiraukan Tantenya yang sedang memainkan hpnya. Ketukan pintu membuat Farin menoleh dengan malas pada Tantenya itu.

“Kak, ini data yang di suruh bawa besok. Langsung di masukan tas, biar gak lupa ya kak” kata Karin begitu pintu kamar itu terbuka. Karin masuk dan mendekati Farin, gadis itu terdiam. Karin mencium puncak kepala Farin dan melihatnya belajar.

“Belajar yang rajin ya, Kak. Bunda keluar dulu” kata Karin hanya di angguki oleh Farin. Farin melihat kepergian Bundanya dari ekor matanya. 

***

Farin, gadis ini masih tidak bisa menerima kenyataan bahwa kedua orangtuanya telah berpisah. Ujian nasional dia lalui dengan hati yang berat. Hampir satu tahun sudah dia mendengar kabar itu tapi tetap saja tidak bisa menerima hal itu. Bertahun-tahun dia menunggu kedatangan sosok Ayahnya, namun kenyataan berkata lain. 

“Farin, kenapa? Sedih ya?” tanya Fira.

“Hah? Enggak kok, Fir. Oh iya, kita mau nampil satu kelas kan ya buat perpisahan, gimana lagunya?” kata Farin mengalihkan obrolan mereka. 

“Iya, kita bakalan nyanyi lagu Samsons yang Kenangan Terindah. Kamu tahu kan?” 

“Tahu, udah yuk pulang. Hari terakhir ujian sudah selesai, itu anak sekolah lain yang disini juga udah pulang” ajak Farin. Keduanya pun berjalan pulang bersama. Kondisi hati Farin masih belum sepenuhnya membaik. Farin hanya selalu menyembunyikan dan terbiasa menyembunyikan.

Farin tidak berhasil masuk ke sekolah yang di inginkan Bundanya. Farin berhasil masuk ke SMP negri pun merasa bahagia, namun tetap saja Bundanya masih sebal karena merasa kecewa dengan Farin. 

“Kakak gak belajar apa gimana sih kak?” tanya Karin membuat Farin menahan emosinya. Wajar, Farin di usianya yang sangat labil harus mengatasi hatinya yang sangat menyakitkan untuk di pendam sendiri.

“Bunda, kakak sudah coba yang terbaik. Kalo Bunda masih maksa, kakak gak usah sekolah gak papa. Setidaknya kakak gak sedikitpun nyontoh Bun. Kakak jujur” sahut Farin membuat Karin terdiam. Karin sadar, anaknya mulai memasuki usia remaja awal dan emosinya mulai labil. Farin berlalu dari hadapan Karin dan mengambil tas kecilnya.

“Kakak mau jalan dulu. Bunda gak usah pikirin kakak” pamit Farin yang beranjak dari rumah dan pergi. Karin menghela nafas beratnya melihat anak gadisnya sudah berubah. Air mata farin turun selama kakinya melangkah meninggalkan rumah. Farin bukan kabur seperti di drama atau sinetron. Farin hanya ingin sendiri, Farin lelah menahan semuanya. Farin berjongkok di samping gundukan tanah yang sudah jarang dia datangi sejak sibuk dengan ujiannya.

“Nenek, Farin sedih. Farin boleh menyerah gak nek? Farin capek denger Bunda kecewa sama Farin. Farin bodoh nek. Farin gak kaya Hana yang katanya pintar dan cepat tanggap. Nenek tahu kalo Ayah dan Bunda berpisah? Sejak kapan nek? Apa sejak Farin TK dan Hana masih 2 bulan itu? Semua gak tahu nek, kalo Farin sakit hati. Farin juga kecewa nek. Farin pingin bisa pergi nek. Nenek gak pingin peluk Farin?” tangis Farin di samping gundukan tanah yang merupakan makam dari neneknya. Farin menghabiskan waktunya dengan menceritakan kisahnya dan menangis di samping gundukan tanah itu. 

***

Hari pertama SMP membuat Farin mengenal beberapa teman baru. Tapi pribadi Farin berubah drastis, dari seorang yang ceria menjadi seorang yang pendiam dan hanya berbicara jika di perlukan. Farin mengenal Febi, Shania, dan Audrey karena mereka sekelas. Farin dan Febi pun sering pulang jalan bersama membuat mereka jadi kenal satu sama lain. Ada teman yang juga dari SDnya, namun mereka sudah tidak sedekat itu saat mereka memiliki teman baru. 

“Rin, kamu emang diam gini orangnya?” tanya Febi saat pulang bersama membuat Farin menoleh kearahnya dan menggelengkan kepalanya.

“Lalu, kenapa diam aja? Kan kamu jadi di remehin sama orang lain, Rin” 

“Aku gak berhak ngatur hidup mereka. Aku marah saat mereka menjelekanku, tapi itu mulut mereka. Selama bukan badan aku yang di sakiti aku bisa menahannya. Makasih udah ingetin aku”

“Jadi kamu sendiri, RIn. Setidaknya saat bersama aku, Shania, dan Audrey. Oke?” pinta Febi. Entah apa yang ada pikiran Farin, dia malah mengiyakan dan menyetujuinya. Sejak itu pertemanan mereka mulai di bangun bersama. 

**

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Setelah Semua Luka Pulang   147: Raka Mau Main

    Setelah masalah rumah Tante selesai, kami tinggal menunggu kabar dari Gilang yang mengontak pihak bank untuk menanyakan masalah transaksi yang tersisa. Aku duduk di sofa kamar bersama dengan Raka yang berbaring di pahaku. Dia berceloteh dan memainkan robotnya. Mas Arlan masih menyelesaikan pekerjaan yang sudah dia telantarkan beberapa hari lalu. Raka mengajak jalan-jalan tapi terpaksa menunggu Mas Arlan menyelesaikan pekerjaannya terlebih dahulu. Aku dan Raka pun menonton TV meski mata Raka tidak menontonnya. Raka terlihat mulai bosan menunggu Papanya yang bekerja di meja belajarku. “Papa, Papa masih lama?” tanya Raka sambil tiduran di pahaku.“Sebentar lagi. Tunggu bentar ya. Habis ini kita ke kafe terus jalan deh ke mana Raka mau,” sahut Mas Arlan. “Raka pingin berenang di water park, tapi Papa lama, ini sudah siang.” Raka sudah terlihat kesal karena Papanya yang masih sibuk kerja. Raka mulai menaruh robotnya dan meminta r

  • Setelah Semua Luka Pulang   146: Menyelesaikan Masalah

    Setelah beberapa hari lalu aku menyelesaikan urusan surat wasiat Tante, aku mengunjungi Om Rafli. Suamiku menggenggam tanganku dan membalas dengan tatapan tajamnya. Dia duduk di depan Om Rafli dan tetap diam menatap tajam pria tua itu. Aku berdeham dan membuat kedua pria itu menoleh. Aku tersenyum melihat suamiku sebentar. Aku mengangguk menenangkan suamiku yang terlihat kesal. “Om, Farin cuma mau tanya. Apa Om buat Tante tersiksa karena semua yang Tante punya jatuh ke tangan Farin, meski tanpa Farin tahu?” tanyaku. “Kamu sudah tahu ternyata. Di mana surat-suratnya?” Om Rafli menanyakannya. Suamiku terlihat tenang, tapi matanya yang tajam mengawasi pergerakan Om Rafli. “Farin urus semua. Farin juga gak berpikir untuk memberikannya. Bukankah selama ini Om sudah menikmatinya? Om gak kerja dan seenaknya bawa anak tanpa ingin merawatnya. Justru Tante Farin yang rawat anak Om.”“Sekarang itu punya Farin dan Hana. Itu ada kekuatan

  • Setelah Semua Luka Pulang   145: Ayah

    Bunda terlihat lebih membaik tidak seperti kemarin. Aku masih tinggal di rumah Bunda. Suamiku pun ikut menambah cutinya hingga akhir minggu ini saat aku melakukannya. Hari ini kami mulai menyelesaikan masalah Tante, setelah kemarin aku mengurus akta kematian. Sungguh keterlaluan, tidak ada yang mengurus surat sepenting itu. Beruntung Hana tau kalau Bunda yang menyimpan berkas-berkas punya Tante. Aku pun mengurusnya dengan baik dan hari ini akan menemui Omi. Aku duduk di depan TV saat Raka menemani Lani bermain dan Hana membantu Bunda. Aku mulai menghubungi Omi melalui chat, karena ini terlalu pagi untuk menghubunginya langsung tanpa menanyakan kesibukannya. Omi meneleponku dan aku segera mengangkatnya.Aku mengatakan rencana akan menemui Omi dan seniornya untuk menyelesaikan masalah Tante. Kami pun membuat janji temu. Dia mengatakan untuk aku menemuinya jam 10 nanti. Aku mematikan panggilan setelah mengucapkan salam. Suamiku turun setelah

  • Setelah Semua Luka Pulang   144: Bunda Sehat-Sehat, Ya ....

    Aku tidak tidur dan hanya memperhatikan Bunda yang sedang terlelap. Aku sedikit lega karena Bunda tidak separah Kakek. Aku meregangkan tubuhku saat mendengar masijd telah berbunyi. Aku memperhatikan Bunda sebentar dan keluar dari kamar Bunda untuk membangunkan suamiku. Aku membuka pintu kamar dan melihatnya sudah siap.“Kamu gak tidur?” tanyaku mendekat merapikan bajunya. Dia tersenyum melihatku. “Tidur sebentar. Tadi Raka menggeliat, jadi aku bangun deh.” Aku mengangguk dan melihatnya merapikan rambut sebelum menggunakan kopiah. Aku mengecup pipinya membuatnya menggelengkan kepala.“Mau sekarang?” Dia menatapku dengan tatapan menggodanya yang selalu membuatku kesal. Aku mencubit pinggangnya. “Berangkat sana. Makin tua makin ke mana-mana pikiranmu.” Dia tertawa pelan dan menyodorkan tangannya. Aku menyalaminya dan dia mengecup keningku. “Aku berangkat. Assalamualaikum.” Dia keluar dan senyumku me

  • Setelah Semua Luka Pulang   143: Bunda Mau Ketemu Ayah

    Aku terbangun saat mendengar suara Mas Arlan yang membangunkanku. Aku melihat jam dan masih tengah malam. Aku terdiam dan melihat Mas Arlan yang berdiri di depanku. Mas Arlan memang tidak tidur menjaga Bunda yang terkadang terbangun tengah Malam sesuai laporan Hana. Setelah aku rasa siap membuka suara, aku mendongakkan kepalaku dan melihat wajah Mas Arlan yang menatapku. Aku menanyakan dengan tatapanku. Dia malah membuang napas berat melihatku. “Kamu capek ya?” tanyanya. Aku menggelengkan kepalaku sebentar.“Enggak. Aku masih ngumpulin nyawa. Kenapa?” Aku kembali menanyakan apa yang terjadi pada Mas Arlan. “Bunda bangun, untung ada Hana. Bunda mau ngomong sama kamu.” Mas Arlan mengusap rambutku.“Ke kamar mandi?” tanyaku. Mas Arlan menganggukkan kepalanya sambil tangannya masih mengusap rambutku lembut. Aku berdiri dan mencengkeram piyama Mas Arlan sambil memejamkan mataku. Jika aku terlalu banyak pikiran selal

  • Setelah Semua Luka Pulang   142: Secercah Harapan

    Aku dan suamiku berada di kamar saat Hana menyuruh kami istirahat terlebih dahulu. Raka sudah tertidur bersama Lani di tempat tidur. Hana kembali menemani Bunda. Aku memainkan HPku dan mengecek uang di beberapa rekeningku. “500 juta, selama 10 tahun. Belum tau bunganya. Gilang gak kasih tau. Bunda menggantikan menyicil hutang sejak Tante meninggal.” Perkataan Hana terus berputar. Suamiku juga melakukan apa yang aku lakukan. Aku menyandarkan kepalaku ke bahunya dan mulai menangis. Ini sungguh berat menerima kenyataan seperti ini lagi. Bukan karena besar jumlahnya, tapi keadaan Bunda terguncang. “Mas, ini terlalu besar. Kita bahkan gak tahu bunganya berapa. Apa bisa kita selesaikan semua? Aku gak mau merepotkanmu dengan masalah keluargaku yang tidak ada ujungnya. Kepalaku terasa berat, Mas. Aku terlalu takut ini baru satu yang keluar ke permukaan. Aku takut makin merepotkanmu,” tangisku.“Kamu ngomong apa sih? Kamu istriku. Ud

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status