로그인Aku terbangun saat mendengar suara Mas Arlan yang membangunkanku. Aku melihat jam dan masih tengah malam. Aku terdiam dan melihat Mas Arlan yang berdiri di depanku. Mas Arlan memang tidak tidur menjaga Bunda yang terkadang terbangun tengah Malam sesuai laporan Hana.
Setelah aku rasa siap membuka suara, aku mendongakkan kepalaku dan melihat wajah Mas Arlan yang menatapku. Aku menanyakan dengan tatapanku. Dia malah membuang napas berat melihatku.“Kamu capek ya?” tSetelah masalah rumah Tante selesai, kami tinggal menunggu kabar dari Gilang yang mengontak pihak bank untuk menanyakan masalah transaksi yang tersisa. Aku duduk di sofa kamar bersama dengan Raka yang berbaring di pahaku. Dia berceloteh dan memainkan robotnya. Mas Arlan masih menyelesaikan pekerjaan yang sudah dia telantarkan beberapa hari lalu. Raka mengajak jalan-jalan tapi terpaksa menunggu Mas Arlan menyelesaikan pekerjaannya terlebih dahulu. Aku dan Raka pun menonton TV meski mata Raka tidak menontonnya. Raka terlihat mulai bosan menunggu Papanya yang bekerja di meja belajarku. “Papa, Papa masih lama?” tanya Raka sambil tiduran di pahaku.“Sebentar lagi. Tunggu bentar ya. Habis ini kita ke kafe terus jalan deh ke mana Raka mau,” sahut Mas Arlan. “Raka pingin berenang di water park, tapi Papa lama, ini sudah siang.” Raka sudah terlihat kesal karena Papanya yang masih sibuk kerja. Raka mulai menaruh robotnya dan meminta r
Setelah beberapa hari lalu aku menyelesaikan urusan surat wasiat Tante, aku mengunjungi Om Rafli. Suamiku menggenggam tanganku dan membalas dengan tatapan tajamnya. Dia duduk di depan Om Rafli dan tetap diam menatap tajam pria tua itu. Aku berdeham dan membuat kedua pria itu menoleh. Aku tersenyum melihat suamiku sebentar. Aku mengangguk menenangkan suamiku yang terlihat kesal. “Om, Farin cuma mau tanya. Apa Om buat Tante tersiksa karena semua yang Tante punya jatuh ke tangan Farin, meski tanpa Farin tahu?” tanyaku. “Kamu sudah tahu ternyata. Di mana surat-suratnya?” Om Rafli menanyakannya. Suamiku terlihat tenang, tapi matanya yang tajam mengawasi pergerakan Om Rafli. “Farin urus semua. Farin juga gak berpikir untuk memberikannya. Bukankah selama ini Om sudah menikmatinya? Om gak kerja dan seenaknya bawa anak tanpa ingin merawatnya. Justru Tante Farin yang rawat anak Om.”“Sekarang itu punya Farin dan Hana. Itu ada kekuatan
Bunda terlihat lebih membaik tidak seperti kemarin. Aku masih tinggal di rumah Bunda. Suamiku pun ikut menambah cutinya hingga akhir minggu ini saat aku melakukannya. Hari ini kami mulai menyelesaikan masalah Tante, setelah kemarin aku mengurus akta kematian. Sungguh keterlaluan, tidak ada yang mengurus surat sepenting itu. Beruntung Hana tau kalau Bunda yang menyimpan berkas-berkas punya Tante. Aku pun mengurusnya dengan baik dan hari ini akan menemui Omi. Aku duduk di depan TV saat Raka menemani Lani bermain dan Hana membantu Bunda. Aku mulai menghubungi Omi melalui chat, karena ini terlalu pagi untuk menghubunginya langsung tanpa menanyakan kesibukannya. Omi meneleponku dan aku segera mengangkatnya.Aku mengatakan rencana akan menemui Omi dan seniornya untuk menyelesaikan masalah Tante. Kami pun membuat janji temu. Dia mengatakan untuk aku menemuinya jam 10 nanti. Aku mematikan panggilan setelah mengucapkan salam. Suamiku turun setelah
Aku tidak tidur dan hanya memperhatikan Bunda yang sedang terlelap. Aku sedikit lega karena Bunda tidak separah Kakek. Aku meregangkan tubuhku saat mendengar masijd telah berbunyi. Aku memperhatikan Bunda sebentar dan keluar dari kamar Bunda untuk membangunkan suamiku. Aku membuka pintu kamar dan melihatnya sudah siap.“Kamu gak tidur?” tanyaku mendekat merapikan bajunya. Dia tersenyum melihatku. “Tidur sebentar. Tadi Raka menggeliat, jadi aku bangun deh.” Aku mengangguk dan melihatnya merapikan rambut sebelum menggunakan kopiah. Aku mengecup pipinya membuatnya menggelengkan kepala.“Mau sekarang?” Dia menatapku dengan tatapan menggodanya yang selalu membuatku kesal. Aku mencubit pinggangnya. “Berangkat sana. Makin tua makin ke mana-mana pikiranmu.” Dia tertawa pelan dan menyodorkan tangannya. Aku menyalaminya dan dia mengecup keningku. “Aku berangkat. Assalamualaikum.” Dia keluar dan senyumku me
Aku terbangun saat mendengar suara Mas Arlan yang membangunkanku. Aku melihat jam dan masih tengah malam. Aku terdiam dan melihat Mas Arlan yang berdiri di depanku. Mas Arlan memang tidak tidur menjaga Bunda yang terkadang terbangun tengah Malam sesuai laporan Hana. Setelah aku rasa siap membuka suara, aku mendongakkan kepalaku dan melihat wajah Mas Arlan yang menatapku. Aku menanyakan dengan tatapanku. Dia malah membuang napas berat melihatku. “Kamu capek ya?” tanyanya. Aku menggelengkan kepalaku sebentar.“Enggak. Aku masih ngumpulin nyawa. Kenapa?” Aku kembali menanyakan apa yang terjadi pada Mas Arlan. “Bunda bangun, untung ada Hana. Bunda mau ngomong sama kamu.” Mas Arlan mengusap rambutku.“Ke kamar mandi?” tanyaku. Mas Arlan menganggukkan kepalanya sambil tangannya masih mengusap rambutku lembut. Aku berdiri dan mencengkeram piyama Mas Arlan sambil memejamkan mataku. Jika aku terlalu banyak pikiran selal
Aku dan suamiku berada di kamar saat Hana menyuruh kami istirahat terlebih dahulu. Raka sudah tertidur bersama Lani di tempat tidur. Hana kembali menemani Bunda. Aku memainkan HPku dan mengecek uang di beberapa rekeningku. “500 juta, selama 10 tahun. Belum tau bunganya. Gilang gak kasih tau. Bunda menggantikan menyicil hutang sejak Tante meninggal.” Perkataan Hana terus berputar. Suamiku juga melakukan apa yang aku lakukan. Aku menyandarkan kepalaku ke bahunya dan mulai menangis. Ini sungguh berat menerima kenyataan seperti ini lagi. Bukan karena besar jumlahnya, tapi keadaan Bunda terguncang. “Mas, ini terlalu besar. Kita bahkan gak tahu bunganya berapa. Apa bisa kita selesaikan semua? Aku gak mau merepotkanmu dengan masalah keluargaku yang tidak ada ujungnya. Kepalaku terasa berat, Mas. Aku terlalu takut ini baru satu yang keluar ke permukaan. Aku takut makin merepotkanmu,” tangisku.“Kamu ngomong apa sih? Kamu istriku. Ud







