Share

04: Kesempatan

Penulis: Lavendulaaa
last update Tanggal publikasi: 2026-07-17 01:27:17

Aku parkirkan motorku di parkiran sekolah dan melepas helm yang kupakai. Sebuah motor berhenti di sampingku dan si pengendara menepuk bahuku saat aku merapikan rambutku. Aku menolehkan wajahku datar. Laila, gadis ini terlihat tersenyum cerah menyambut hari ini sembari melepas helmnya.

“Rin, kita bisa datang barengan ya hari ini,” bangganya.

“Bukannya setiap hari kita bareng,” singkatku.

“Itu ‘kan barengnya dari perpustakaan. Hari ini beda, kita bareng dari parkiran,” katanya lagi. Aku turun dari motor dan berjalan mendahuluinya yang masih berada di motornya. Dia mengejarku dan berjalan bersamaku. 

“La, gak bosen apa selalu ngejar aku?” tanyaku yang berhenti tiba-tiba. Laila ikut berhenti dan melihat ke arahku yang masih menatap ke depan. 

“Kamu temen aku, ngapain bosen? ‘Kan emang pribadi kita terbalik, jadi kesannya aku ngejar kamu. Padahal, kamu nunggu aku biar jalan bareng,” jawabnya. Benar, meski selalu meninggalkannya aku selalu memperlambat langkahku untuk menyamai langkahnya. Aku berjalan kembali dan Laila merangkulku.

“La, kamu gak bosen sama si dekil?” tanya Balkhis yang dapat kudengar dari dua bangku di sampingku. Suaranya pelan, namun dapat masuk dengan sempurna ke telingaku.

“Apaan sih, Khis? Kalaupun dia dekil kaya yang kamu omongin, enggak seharusnya dia diperlakukan kaya gitu. Dia manusia, Khis, punya perasaan. Gak malu kamu sama kerudungmu?” Suara Laila terdengar membelaku. 

Aku tahu, Laila baik, tapi aku enggak mau dia mendapat musuh karena aku. Sesuatu di hatiku terasa perih dan membuat mataku memproduksi air mata berlebihan. Aku tidak ingin menumpahkannya, aku menata napasku memperlambat jatuhnya air mata itu. Percakapan Balkhis mempertahankan statementnya tentang keburukanku masih terdengar. Aku memaksa mataku terpejam dan menulikan telingaku dengan memasang headset di telingaku.

***

Aku mengajak Laila ke tempat yang bisa dipakai berbicara dengan leluasa. Taman sekolah cocok digunakan karena sepi saat jam pulang. Jam tanganku menunjukkan pukul setengah 6 sore maka dari itu, sekolah sangat sepi, tidak akan ada kemungkinan siapapun mendengar ceritaku.

“La, kamu bilang mau jadi teman dengarku, ‘kan?” tanyaku memulai percakapan. Dia menganggukkan kepalanya. Aku hanya melihatnya dari ekor mataku dan menghela napas perlahan.

“Dengarkan aku dan enggak ada pengulangan dari apa yang aku ceritakan. Fokusmu meleset semua akan berakhir,” kataku membuatnya melihatku.

“Aku anak broken home. Aku hidup sama Kakek dan Bundaku. Ayahku meninggalkanku sejak aku masih duduk di bangku TK. Miriskan?” kataku memulai cerita. Aku tahu wajahnya berubah seolah kasihan dengan apa yang aku alami. Ini yang sangat tidak aku sukai, tatapan kasihan.

“Aku gak butuh rasa kasihanmu. Kala kamu kasihan, ceritanya berakhir aja,” sindirku membuatnya mencekal tanganku yang akan berdiri. Dia menggelengkan kepalanya dan menyuruhku melanjutkan ceritaku. Aku melanjutkan ceritaku tentang aku yang berubah menjadi sosok dingin dan menyebalkan seperti ini. Setelah menyelesaikan ceritaku, dia memelukku dan menangis.

“Aku enggak kasihan sama kamu, Rin. Hanya ini naluriku sebagai teman melihat situasi yang terjadi sama kamu. Berat ya, Rin? Cerita aja, Rin, apa pun yang kamu rasain. Aku beneran jadi teman dengar kamu, Rin,” isaknya sambil memelukku. Aku merenggangkan pelukannya dan menatapnya dengan wajah datarku.

“Enggak usah nangis. Kalau emang masih mau temenan sama aku, aku siap berbagi sama kamu. Tapi, kalau kamu malu sama aku yang seperti ini, kamu bisa tinggalin aku segera. Aku enggak akan marah,” kataku memegang bahunya. Aku berdiri dari dudukku dan melihatnya.

“Ayo pulang. Makin malam horror sekolah,” ajakku yang membuatnya berdiri dan menghapus air matanya. Kami berjalan beriringan, dia banyak mengoceh tentang dirinya membuatku mau tidak mau mendengarkannya. 

***

“KAKAAAAK, AKU MASIH PINJEM! KENAPA UDAH DIMINTA SIH?!” teriak Hana membuat telingaku pengang. Aku memejamkan mata dan menghitung mundur 1-10 sebelum mendengar suara Bunda yang akan menceramahiku.

“Ada apa lagi sih?! Kalian enggak bisa apa diam kaya anak tetangga?! Adik-kakak enggak ada akurnya sama sekali!” Suara Bunda yang menghampiriku. Tepat, tebakanku ternyata tepat. Bunda akan mengeluarkan kata mutiaranya sebentar lagi.

“Kakak, kenapa lagi ini? Bisa enggak Kakak enggak goda Adik kamu terus. Kakak bikin Adik teriak terus, enggak capek?” tanya Bunda.

“Aku yang salah Bun?” tanyaku membela diri.

“Terus siapa yang salah? Kamu harusnya ngalah sama adikmu bukan malah berantem terus gini,” kata Bunda yang kekeh menyalahkanku.

Aku muak, aku lelah. Bunda hanya membela Hana. Bunda tidak pernah bertanya siapa yang salah. Bunda hanya selalu bertanya ‘Ada apa?’, Bunda selalu menyuruhku mengalah. Aku lelah. Aku langsung mengambil bolpoin yang menyebabkan masalah ini ada dan mematahkannya.

“Bukan aku enggak mau ngalah. Hana yang enggak tahu diri menggunakan barangku. Bunda bisa marahin aku, tapi maaf, semua hak barangku masih ada sama aku. Aku membelinya susah payah Bun. Kehilangan satu bolpoin memang enggak membuat hatiku sakit, tapi melihat Bunda marah karena bolpoin sialan ini membuat hatiku sakit Bun. Permisi!” ucapku meninggalkan Bunda dan Hana yang melihat tanganku berdarah karena ulahku sendiri. 

Aku berlalu dan pergi ke kamar lalu menguncinya. Aku putar lagu dengan suara yang akan membuatku pengang dan menenggelamkan wajahku dalam bantal. Aku menangis, semua tumpah begitu saja. Aku menangis hingga kelelahan dan tertidur dengan sendirinya.

***

Aku masih duduk di bangku kafe setelah tadi mengganti seragamku. Aku lihat tangan kiriku yang terbalut perban membuatku mengingat apa yang terjadi semalam. Aku ingat betul bagaimana Bunda memarahiku dengan wajah kesalnya hingga bagaimana tatapan Bunda pada lukaku semalam. Aku terus berada di kafe ini hingga tidak aku sangka, aku telah menghabiskan 4 gelas jus jeruk yang sedari tadi aku pesan. 

Jam tanganku menunjukkan waktu pukul setengah 4 sore. Ini sudah masuk waktu pulang sekolah di sekolahku. Aku menghidupkan HPku yang sedari tadi tidak aku matikan hanya aku silent agar tidak menggangguku. Terlihat banyak panggilan dari Laila yang membuatku sedikit tenang karena gadis itu masih mau menghubungiku setelah apa yang dia dengar kemarin. Aku memilih untuk menelepon balik Laila.

“Halo, La?” sapaku di telepon.

“Aku ada di kafe dekat sekolah. Udah pulang?” kataku setelah mendengar suara Laila dari ujung sana.

“Iya, aku tunggu,” ujarku.

Aku memutuskan sambungan setelah mendengar dia akan menyusulku. Aku kembali fokus pada gelas jus jerukku yang masih tersisa setengah. Aku lihat di luar jendela dengan jelas, Laila sedang memarkir motor dan melepas helmnya. Dia masuk ke kafe dengan tergesa-gesa. Dia menatapku dari arah pintu masuk dan berlari ke arahku.

“Kamu kenapa bolos? Astagfirullah, ini kenapa, Rin?!” paniknya setelah melihat tangan kiriku. Aku melepaskan tangannya yang menyentuh tangan kiriku. Dia duduk di depanku dan menatapku meminta penjelasan.

“Aku bolos karena banyak pikiran. Ini luka karena ulahku,” singkatku.

“Kamu depresi?” tanyanya pelan. Aku menggelengkan kepala tidak yakin dengan keadaanku. Laila menatapku dalam membuatku tersenyum tipis, seketika dia ikut tersenyum.

“Senyum gitu kan cantik, Rin. Kamu belum siap cerita kenapa sampai bolos segala?” puji dan tanyanya.

“Aku bertengkar sama Bunda. Ini luka karena bolpoin sialan pembawa masalah,” jawabku.

“Bolpoin?” terlihat dia bingung dengan apa yang kukatakan.

“Adikku yang mengambil bolpoinku tanpa mengatakan apa pun. Aku marah dan mengambilnya kembali, dia malah bikin Bunda marah sama aku. Berakhirlah itu bolpoin di tanganku,” jelasku membuat dia mengangguk mengerti. Dia tidak menghakimiku, dia benar-benar menjadi teman dengarku. Aku tersenyum tipis saat dia beranjak untuk memesan makanan dan minuman untuknya, aku hanya meminta dia memesankanku segelas jus jeruk lagi.

“Aku senang, Rin. Kamu kasih kesempatan buat jadi teman dengarmu. Makasih ya, Rin,” katanya saat kembali dan membawa pesanannya. Aku menatapnya dengan tatapan yang lebih lembut dari biasanya.

"Kesempatan, ya? Benar kata Febi, kamu pantas diberi kesempatan, La." batinku menatapnya. Aku merasa keputusanku tidak salah untuk memberi Laila kesempatan untuk menjadi teman dan sahabat yang sebenarnya. 

**

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Setelah Semua Luka Pulang   147: Raka Mau Main

    Setelah masalah rumah Tante selesai, kami tinggal menunggu kabar dari Gilang yang mengontak pihak bank untuk menanyakan masalah transaksi yang tersisa. Aku duduk di sofa kamar bersama dengan Raka yang berbaring di pahaku. Dia berceloteh dan memainkan robotnya. Mas Arlan masih menyelesaikan pekerjaan yang sudah dia telantarkan beberapa hari lalu. Raka mengajak jalan-jalan tapi terpaksa menunggu Mas Arlan menyelesaikan pekerjaannya terlebih dahulu. Aku dan Raka pun menonton TV meski mata Raka tidak menontonnya. Raka terlihat mulai bosan menunggu Papanya yang bekerja di meja belajarku. “Papa, Papa masih lama?” tanya Raka sambil tiduran di pahaku.“Sebentar lagi. Tunggu bentar ya. Habis ini kita ke kafe terus jalan deh ke mana Raka mau,” sahut Mas Arlan. “Raka pingin berenang di water park, tapi Papa lama, ini sudah siang.” Raka sudah terlihat kesal karena Papanya yang masih sibuk kerja. Raka mulai menaruh robotnya dan meminta r

  • Setelah Semua Luka Pulang   146: Menyelesaikan Masalah

    Setelah beberapa hari lalu aku menyelesaikan urusan surat wasiat Tante, aku mengunjungi Om Rafli. Suamiku menggenggam tanganku dan membalas dengan tatapan tajamnya. Dia duduk di depan Om Rafli dan tetap diam menatap tajam pria tua itu. Aku berdeham dan membuat kedua pria itu menoleh. Aku tersenyum melihat suamiku sebentar. Aku mengangguk menenangkan suamiku yang terlihat kesal. “Om, Farin cuma mau tanya. Apa Om buat Tante tersiksa karena semua yang Tante punya jatuh ke tangan Farin, meski tanpa Farin tahu?” tanyaku. “Kamu sudah tahu ternyata. Di mana surat-suratnya?” Om Rafli menanyakannya. Suamiku terlihat tenang, tapi matanya yang tajam mengawasi pergerakan Om Rafli. “Farin urus semua. Farin juga gak berpikir untuk memberikannya. Bukankah selama ini Om sudah menikmatinya? Om gak kerja dan seenaknya bawa anak tanpa ingin merawatnya. Justru Tante Farin yang rawat anak Om.”“Sekarang itu punya Farin dan Hana. Itu ada kekuatan

  • Setelah Semua Luka Pulang   145: Ayah

    Bunda terlihat lebih membaik tidak seperti kemarin. Aku masih tinggal di rumah Bunda. Suamiku pun ikut menambah cutinya hingga akhir minggu ini saat aku melakukannya. Hari ini kami mulai menyelesaikan masalah Tante, setelah kemarin aku mengurus akta kematian. Sungguh keterlaluan, tidak ada yang mengurus surat sepenting itu. Beruntung Hana tau kalau Bunda yang menyimpan berkas-berkas punya Tante. Aku pun mengurusnya dengan baik dan hari ini akan menemui Omi. Aku duduk di depan TV saat Raka menemani Lani bermain dan Hana membantu Bunda. Aku mulai menghubungi Omi melalui chat, karena ini terlalu pagi untuk menghubunginya langsung tanpa menanyakan kesibukannya. Omi meneleponku dan aku segera mengangkatnya.Aku mengatakan rencana akan menemui Omi dan seniornya untuk menyelesaikan masalah Tante. Kami pun membuat janji temu. Dia mengatakan untuk aku menemuinya jam 10 nanti. Aku mematikan panggilan setelah mengucapkan salam. Suamiku turun setelah

  • Setelah Semua Luka Pulang   144: Bunda Sehat-Sehat, Ya ....

    Aku tidak tidur dan hanya memperhatikan Bunda yang sedang terlelap. Aku sedikit lega karena Bunda tidak separah Kakek. Aku meregangkan tubuhku saat mendengar masijd telah berbunyi. Aku memperhatikan Bunda sebentar dan keluar dari kamar Bunda untuk membangunkan suamiku. Aku membuka pintu kamar dan melihatnya sudah siap.“Kamu gak tidur?” tanyaku mendekat merapikan bajunya. Dia tersenyum melihatku. “Tidur sebentar. Tadi Raka menggeliat, jadi aku bangun deh.” Aku mengangguk dan melihatnya merapikan rambut sebelum menggunakan kopiah. Aku mengecup pipinya membuatnya menggelengkan kepala.“Mau sekarang?” Dia menatapku dengan tatapan menggodanya yang selalu membuatku kesal. Aku mencubit pinggangnya. “Berangkat sana. Makin tua makin ke mana-mana pikiranmu.” Dia tertawa pelan dan menyodorkan tangannya. Aku menyalaminya dan dia mengecup keningku. “Aku berangkat. Assalamualaikum.” Dia keluar dan senyumku me

  • Setelah Semua Luka Pulang   143: Bunda Mau Ketemu Ayah

    Aku terbangun saat mendengar suara Mas Arlan yang membangunkanku. Aku melihat jam dan masih tengah malam. Aku terdiam dan melihat Mas Arlan yang berdiri di depanku. Mas Arlan memang tidak tidur menjaga Bunda yang terkadang terbangun tengah Malam sesuai laporan Hana. Setelah aku rasa siap membuka suara, aku mendongakkan kepalaku dan melihat wajah Mas Arlan yang menatapku. Aku menanyakan dengan tatapanku. Dia malah membuang napas berat melihatku. “Kamu capek ya?” tanyanya. Aku menggelengkan kepalaku sebentar.“Enggak. Aku masih ngumpulin nyawa. Kenapa?” Aku kembali menanyakan apa yang terjadi pada Mas Arlan. “Bunda bangun, untung ada Hana. Bunda mau ngomong sama kamu.” Mas Arlan mengusap rambutku.“Ke kamar mandi?” tanyaku. Mas Arlan menganggukkan kepalanya sambil tangannya masih mengusap rambutku lembut. Aku berdiri dan mencengkeram piyama Mas Arlan sambil memejamkan mataku. Jika aku terlalu banyak pikiran selal

  • Setelah Semua Luka Pulang   142: Secercah Harapan

    Aku dan suamiku berada di kamar saat Hana menyuruh kami istirahat terlebih dahulu. Raka sudah tertidur bersama Lani di tempat tidur. Hana kembali menemani Bunda. Aku memainkan HPku dan mengecek uang di beberapa rekeningku. “500 juta, selama 10 tahun. Belum tau bunganya. Gilang gak kasih tau. Bunda menggantikan menyicil hutang sejak Tante meninggal.” Perkataan Hana terus berputar. Suamiku juga melakukan apa yang aku lakukan. Aku menyandarkan kepalaku ke bahunya dan mulai menangis. Ini sungguh berat menerima kenyataan seperti ini lagi. Bukan karena besar jumlahnya, tapi keadaan Bunda terguncang. “Mas, ini terlalu besar. Kita bahkan gak tahu bunganya berapa. Apa bisa kita selesaikan semua? Aku gak mau merepotkanmu dengan masalah keluargaku yang tidak ada ujungnya. Kepalaku terasa berat, Mas. Aku terlalu takut ini baru satu yang keluar ke permukaan. Aku takut makin merepotkanmu,” tangisku.“Kamu ngomong apa sih? Kamu istriku. Ud

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status