FAZER LOGINAku parkirkan motorku di parkiran sekolah dan melepas helm yang kupakai. Sebuah motor berhenti di sampingku dan si pengendara menepuk bahuku saat aku merapikan rambutku. Aku menolehkan wajahku datar. Laila, gadis ini terlihat tersenyum cerah menyambut hari ini sembari melepas helmnya.
“Rin, kita bisa datang barengan ya hari ini,” bangganya. “Bukannya setiap hari kita bareng,” singkatku. “Itu ‘kan barengnya dari perpustakaan. Hari ini beda, kita bareng dari parkiran,” katanya lagi. Aku turun dari motor dan berjalan mendahuluinya yang masih berada di motornya. Dia mengejarku dan berjalan bersamaku. “La, gak bosen apa selalu ngejar aku?” tanyaku yang berhenti tiba-tiba. Laila ikut berhenti dan melihat ke arahku yang masih menatap ke depan. “Kamu temen aku, ngapain bosen? ‘Kan emang pribadi kita terbalik, jadi kesannya aku ngejar kamu. Padahal, kamu nunggu aku biar jalan bareng,” jawabnya. Benar, meski selalu meninggalkannya aku selalu memperlambat langkahku untuk menyamai langkahnya. Aku berjalan kembali dan Laila merangkulku. “La, kamu gak bosen sama si dekil?” tanya Balkhis yang dapat kudengar dari dua bangku di sampingku. Suaranya pelan, namun dapat masuk dengan sempurna ke telingaku. “Apaan sih, Khis? Kalaupun dia dekil kaya yang kamu omongin, enggak seharusnya dia diperlakukan kaya gitu. Dia manusia, Khis, punya perasaan. Gak malu kamu sama kerudungmu?” Suara Laila terdengar membelaku. Aku tahu, Laila baik, tapi aku enggak mau dia mendapat musuh karena aku. Sesuatu di hatiku terasa perih dan membuat mataku memproduksi air mata berlebihan. Aku tidak ingin menumpahkannya, aku menata napasku memperlambat jatuhnya air mata itu. Percakapan Balkhis mempertahankan statementnya tentang keburukanku masih terdengar. Aku memaksa mataku terpejam dan menulikan telingaku dengan memasang headset di telingaku. *** Aku mengajak Laila ke tempat yang bisa dipakai berbicara dengan leluasa. Taman sekolah cocok digunakan karena sepi saat jam pulang. Jam tanganku menunjukkan pukul setengah 6 sore maka dari itu, sekolah sangat sepi, tidak akan ada kemungkinan siapapun mendengar ceritaku. “La, kamu bilang mau jadi teman dengarku, ‘kan?” tanyaku memulai percakapan. Dia menganggukkan kepalanya. Aku hanya melihatnya dari ekor mataku dan menghela napas perlahan. “Dengarkan aku dan enggak ada pengulangan dari apa yang aku ceritakan. Fokusmu meleset semua akan berakhir,” kataku membuatnya melihatku. “Aku anak broken home. Aku hidup sama Kakek dan Bundaku. Ayahku meninggalkanku sejak aku masih duduk di bangku TK. Miriskan?” kataku memulai cerita. Aku tahu wajahnya berubah seolah kasihan dengan apa yang aku alami. Ini yang sangat tidak aku sukai, tatapan kasihan. “Aku gak butuh rasa kasihanmu. Kala kamu kasihan, ceritanya berakhir aja,” sindirku membuatnya mencekal tanganku yang akan berdiri. Dia menggelengkan kepalanya dan menyuruhku melanjutkan ceritaku. Aku melanjutkan ceritaku tentang aku yang berubah menjadi sosok dingin dan menyebalkan seperti ini. Setelah menyelesaikan ceritaku, dia memelukku dan menangis. “Aku enggak kasihan sama kamu, Rin. Hanya ini naluriku sebagai teman melihat situasi yang terjadi sama kamu. Berat ya, Rin? Cerita aja, Rin, apa pun yang kamu rasain. Aku beneran jadi teman dengar kamu, Rin,” isaknya sambil memelukku. Aku merenggangkan pelukannya dan menatapnya dengan wajah datarku. “Enggak usah nangis. Kalau emang masih mau temenan sama aku, aku siap berbagi sama kamu. Tapi, kalau kamu malu sama aku yang seperti ini, kamu bisa tinggalin aku segera. Aku enggak akan marah,” kataku memegang bahunya. Aku berdiri dari dudukku dan melihatnya. “Ayo pulang. Makin malam horror sekolah,” ajakku yang membuatnya berdiri dan menghapus air matanya. Kami berjalan beriringan, dia banyak mengoceh tentang dirinya membuatku mau tidak mau mendengarkannya. *** “KAKAAAAK, AKU MASIH PINJEM! KENAPA UDAH DIMINTA SIH?!” teriak Hana membuat telingaku pengang. Aku memejamkan mata dan menghitung mundur 1-10 sebelum mendengar suara Bunda yang akan menceramahiku. “Ada apa lagi sih?! Kalian enggak bisa apa diam kaya anak tetangga?! Adik-kakak enggak ada akurnya sama sekali!” Suara Bunda yang menghampiriku. Tepat, tebakanku ternyata tepat. Bunda akan mengeluarkan kata mutiaranya sebentar lagi. “Kakak, kenapa lagi ini? Bisa enggak Kakak enggak goda Adik kamu terus. Kakak bikin Adik teriak terus, enggak capek?” tanya Bunda. “Aku yang salah Bun?” tanyaku membela diri. “Terus siapa yang salah? Kamu harusnya ngalah sama adikmu bukan malah berantem terus gini,” kata Bunda yang kekeh menyalahkanku. Aku muak, aku lelah. Bunda hanya membela Hana. Bunda tidak pernah bertanya siapa yang salah. Bunda hanya selalu bertanya ‘Ada apa?’, Bunda selalu menyuruhku mengalah. Aku lelah. Aku langsung mengambil bolpoin yang menyebabkan masalah ini ada dan mematahkannya. “Bukan aku enggak mau ngalah. Hana yang enggak tahu diri menggunakan barangku. Bunda bisa marahin aku, tapi maaf, semua hak barangku masih ada sama aku. Aku membelinya susah payah Bun. Kehilangan satu bolpoin memang enggak membuat hatiku sakit, tapi melihat Bunda marah karena bolpoin sialan ini membuat hatiku sakit Bun. Permisi!” ucapku meninggalkan Bunda dan Hana yang melihat tanganku berdarah karena ulahku sendiri. Aku berlalu dan pergi ke kamar lalu menguncinya. Aku putar lagu dengan suara yang akan membuatku pengang dan menenggelamkan wajahku dalam bantal. Aku menangis, semua tumpah begitu saja. Aku menangis hingga kelelahan dan tertidur dengan sendirinya. *** Aku masih duduk di bangku kafe setelah tadi mengganti seragamku. Aku lihat tangan kiriku yang terbalut perban membuatku mengingat apa yang terjadi semalam. Aku ingat betul bagaimana Bunda memarahiku dengan wajah kesalnya hingga bagaimana tatapan Bunda pada lukaku semalam. Aku terus berada di kafe ini hingga tidak aku sangka, aku telah menghabiskan 4 gelas jus jeruk yang sedari tadi aku pesan. Jam tanganku menunjukkan waktu pukul setengah 4 sore. Ini sudah masuk waktu pulang sekolah di sekolahku. Aku menghidupkan HPku yang sedari tadi tidak aku matikan hanya aku silent agar tidak menggangguku. Terlihat banyak panggilan dari Laila yang membuatku sedikit tenang karena gadis itu masih mau menghubungiku setelah apa yang dia dengar kemarin. Aku memilih untuk menelepon balik Laila. “Halo, La?” sapaku di telepon. “Aku ada di kafe dekat sekolah. Udah pulang?” kataku setelah mendengar suara Laila dari ujung sana. “Iya, aku tunggu,” ujarku. Aku memutuskan sambungan setelah mendengar dia akan menyusulku. Aku kembali fokus pada gelas jus jerukku yang masih tersisa setengah. Aku lihat di luar jendela dengan jelas, Laila sedang memarkir motor dan melepas helmnya. Dia masuk ke kafe dengan tergesa-gesa. Dia menatapku dari arah pintu masuk dan berlari ke arahku. “Kamu kenapa bolos? Astagfirullah, ini kenapa, Rin?!” paniknya setelah melihat tangan kiriku. Aku melepaskan tangannya yang menyentuh tangan kiriku. Dia duduk di depanku dan menatapku meminta penjelasan. “Aku bolos karena banyak pikiran. Ini luka karena ulahku,” singkatku. “Kamu depresi?” tanyanya pelan. Aku menggelengkan kepala tidak yakin dengan keadaanku. Laila menatapku dalam membuatku tersenyum tipis, seketika dia ikut tersenyum. “Senyum gitu kan cantik, Rin. Kamu belum siap cerita kenapa sampai bolos segala?” puji dan tanyanya. “Aku bertengkar sama Bunda. Ini luka karena bolpoin sialan pembawa masalah,” jawabku. “Bolpoin?” terlihat dia bingung dengan apa yang kukatakan. “Adikku yang mengambil bolpoinku tanpa mengatakan apa pun. Aku marah dan mengambilnya kembali, dia malah bikin Bunda marah sama aku. Berakhirlah itu bolpoin di tanganku,” jelasku membuat dia mengangguk mengerti. Dia tidak menghakimiku, dia benar-benar menjadi teman dengarku. Aku tersenyum tipis saat dia beranjak untuk memesan makanan dan minuman untuknya, aku hanya meminta dia memesankanku segelas jus jeruk lagi. “Aku senang, Rin. Kamu kasih kesempatan buat jadi teman dengarmu. Makasih ya, Rin,” katanya saat kembali dan membawa pesanannya. Aku menatapnya dengan tatapan yang lebih lembut dari biasanya. "Kesempatan, ya? Benar kata Febi, kamu pantas diberi kesempatan, La." batinku menatapnya. Aku merasa keputusanku tidak salah untuk memberi Laila kesempatan untuk menjadi teman dan sahabat yang sebenarnya. **Masa awal kuliahku, kuhabiskan dengan tugas, tugas dan tugas. Bahkan hari sabtu yang biasanya aku bisa menghabiskan waktu dengan maraton drama korea, kini semakin jarang. Aku geli sendiri mengingat aku yang semakin kecanduan drama korea karena Laila. Dia sering main ke rumah karena memang dia gagal masuk ke tempat yang diinginkannya. Hari sabtu ini aku sudah muak dengan laptopku yang mengeluarkan rangkaian kalimat yang harus aku buat. Aku memilih untuk menutupnya setelah menyimpan apa yang sudah aku kerjakan. Aku keluar dari kamar dan menghidupkan TV yang mulai jarang ditonton itu. “Assalamualaikum!” Suara salam seseorang yang membuatku merutuki memilih untuk menghidupkan TV. Kubiarkan TV menyala dan menjawab salam itu sembari berjalan ke arah pintu untuk membukanya. Terlihat sepasang orang tua yang terlihat berusia 60 akhir. Aku mengerutkan keningku melihat mereka tersenyum. Wanita tua itu menarik tubuhku dan memeluknya membuatku membulatkan mataku sempurna.‘Apaan nih orang? Sok k
Pemakaman kakek berjalan lancar, Kak Dana menggandeng tanganku dan Hana untuk meninggalkan gundukan tanah yang baru itu. Aku menyeret langkahku untuk mengikuti langkah kaki Kak Dana. Hana segera masuk ke rumah setelah kami sampai. Aku duduk di depan rumah melihat tempat di mana kakek disucikan. Air mataku jatuh kembali membuat Kak Dana dengan sigap memelukku. Laila datang bersama Tia dan Jihan. Mereka melihatku masih dalam pelukan Kak Dana pun hanya terdiam.“Ada temanmu. Udah sedihnya. Kakak masuk dulu,” pamit Kak Dana. Laila duduk dan memelukku menggantikan Kak Dana. Aku terdiam dalam pelukan Laila. Bukan aku sudah tidak sedih, hanya saja aneh aku menumpahkan kesedihanku pada mereka.“Rin, yang ikhlas ya. Aku dengar dari Papi tadi waktu ujian,” kata Laila saat melepaskan pelukannya. Jihan dan Tia tersenyum memegang tanganku menguatkanku. Aku membalas senyum mereka dengan sedikit terpaksa. ***Mama menyuruhku masuk agar tidak semakin banyak ujian praktik yang harus aku susul. Bunda
Aku melalui masa baru di kelas 3 SMA. Teman sekelasku masih sama, masih ada Vedo, Balkhis dan teman-temannya, tapi juga masih ada Jihan, Tia, dan Laila yang bersamaku. Aku tetap melakukan les tambahan bersama Laila dan belajar bersama dengan Tia dan Jihan. Kakek selalu menyemangatiku dan mendukung semua keinginanku.“Kek, ini aku harus isi data buat BK. Harus isi apa ya, Kek?” tanyaku saat duduk bersama di depan tv dan kubawa lembaran data yang menyatakan jurusan dan universitas mana yang diinginkan. “Kakak mau jadi apa loh? Pertimbangkan dengan baik,” kata Kakek menyerahkan sepenuhnya padaku.“Kakak mundur dari kedokteran, kakak mau jadi dokter sejak dulu. Tapi mahal, kakak gak mau lagi. Otak kakak juga gak akan sampai,” kataku menjelaskan keadaanku. Kakek mendengarkan dengan saksama meskipun matanya masih menatap tayangan tv yang digemarinya.“Kakak mau urus tanah Kakek. Kakak mau masuk pertanian, apa kakak boleh ke IPB?” lanjutku membuat kakek menolehkan kepalanya menatapku.“IPB,
Semester telah berlalu dengan cepat dan hari ini adalah hari terakhir Kak Dana mengerjakan ujian nasional yang telah seminggu ini dijalaninya. Aku duduk di depan TV karena tidak ada kegiatan saat libur seperti ini. Aku berlibur ke rumah Kak Dana selama dia ujian nasional, aku jadi menemaninya belajar dan mendengarkan keluhannya setiap hari. Kak Dana masuk dan duduk di sampingku dengan seragam yang masih melekat di badannya. Dia semakin merebahkan tubuhnya dengan pahaku yang menjadi bantalan untuk kepalanya. “Susah Kak?” tanyaku.“Enggak juga kalau mau belajar” jawabnya.“Kamu bisa gak? Jangan bilang kamu bilang gini karena kamu gak bisa dan semalam kamu gak belajar. Iya kan?” tuduhku. Dia menatapku tajam dari bawahku membuatku takut. Aku menutup matanya dengan tanganku.“Biasa aja lihatnya, gak usah nakutin,” kataku. Dia meraih tanganku dan menyingkirkannya. “Kamu belajar dari sekarang, biar nanti gak susah. Aku bakal lanjut di luar kota, Rin. Kalau hal kaya waktu itu kembali lagi,
Lukaku sudah sembuh setelah dirawat baik oleh Kak Dana. Dia tinggal sementara karena menemaniku yang memang terkadang tidak ambil pusing dengan lukaku. Kakek juga marah melihat kondisiku sebelumnya. Balkhis diskorsing beberapa hari karena seseorang melaporkannya ke BK. “Kakak pulang kapan? Belum mau ujian?” tanyaku selama perjalanan ke sekolah. Kak Dana mengantarku dengan dalih luka di tanganku. Kak Dana memang bukan kakak kandungku, dia hanya kakak sepupuku, tapi rasa sayangnya membuatku seolah adik kandungnya. Dia memperlakukanku dan Hana dengan baik berbeda dengan sepupunya yang lain. “Kakak sudah tahu apa yang terjadi tentang ‘minggu kemarin’mu” ucapnya membuat keningku mengerut heran.“Kamu dilecehkan? Siapa orangnya? Cowok kemarin?” “Kata siapa kak? Farin baik-baik aja kok.”“Kakek. Beneran dia kayanya.” Aku terdiam, aku tidak ingin Kak Dana mendatangi Vedo dan mencari masalah dengannya. Mobil Kak Dana sudah berhenti di depan sekolah.“Farin sekolah dulu. Farin sayang kakak.
Lepas dari Vedo yang sudah berubah setelah satu minggu tidak menunjukan batang hidungnya di sekolah. Hari ini dia kembali sekolah dan tentunya sudah tidak mengusikku. Dia menyapaku seperti yang sering dilakukan oleh Tia dan Jihan. Aku dan Laila pun tak mempedulikannya. “Sok cantik! Ngaca dong kamu itu dekil kayak orang enggak mandi!” serang Balkhis membuatku dan Laila terpaksa menoleh. Laila menggandengku untuk berdiri dan meninggalkan Balkhis. Justru itu membuat Balkhis marah. Balkhis menarikku kasar dan mendorongku dengan keras. Aku merintih pelan saat ujung meja mengenai perutku. “FARIN!!!” teriak Laila terkejut melihatku terdorong.“Butuh kaca kamu? Nih!” kata Balkhis menjambrak rambutku dan menyodorkan sebuah kaca padaku. Aku tidak merespons. Dia mendorongku hingga jatuh dan menyenggol kaca itu. Benturan meja dengan kepalaku membuatku mulai pening. Dia memaksaku berdiri dan secara tidak sengaja aku memegang kaca pecah itu hingga melukai tanganku. Melihat tanganku terluka, Balkh







