LOGINAku baru saja selesai masak dan kembali ke kamarku. Aku melihat suamiku masih tidur sambil memeluk anaknya. Aku memilih mandi dulu sebelum membangunkan dua pria kesayanganku itu.
Aku mamakai rok span pendek dan blush yang senada. Aku mengambil blazer dan menaruhnya di sofa. Aku membangunkan suami dan anakku. Keduanya sangat mirip, jika seperti ini. Aku menepuk pelan bahu suamiku membuatnya menggeliat. Dia membuka matanya perlahan.“Sudah pagi. Bangun, mandi.” AkuKami masih mengobrol bersama di ruang keluarga dengan Raka dan Lani yang bermain di dekat kami. Bunda menanyakan kondisi kehamilanku dan menasehatiku dengan banyak wejangan seperti biasanya yang juga aku dengar saat aku mengandung Raka. Mas Arlan dan Gilang pamit keluar untuk mencari makan siang. Aku mengatakan untuk mencari rujak juga untukku. Aku menginginkan rujak buah secara tiba-tiba. Mas Arlan mengangguk dan berangkat menggunakan motor. Raka mengajarkan banyak hal pada Lani, meski tangannya juga masih aktif menyusun lego. Raka melihatku dan tersenyum saat aku memperhatikannya. Raka memang sangat menawan, dia akan tumbuh menjadi pria yang sangat rupawan nantinya. “Raka udah kayak bibit unggul kamu sama Arlan, ya. Ganteng, iya, pintar iya, baik, iya, rajin, iya, tipe-tipe yang akan disukai banyak gadis nantinya.” Bunda mengeluarkan pendapatnya tentang Raka.“Mungkin. Farin beruntung punya Raka yang mendekati sempurna. Di
Setelah sarapan, kami berangkat ke sekolah Raka. Raka seperti biasa meminta berdiri di depanku dan berceloteh sendiri. Dia terkadang bernyanyi sesuka hatinya. Aku hanya diam dan menatap ke samping memperhatikan pinggir jalan yang terdapat beberapa orang berjalan di sana. Aku tersenyum melihat beberapa gadis berjalan bersama dan bersenda gurau. Aku jadi mengingat masa mudaku saat bersama Audrey, Febi dan Shania. Raka menepuk lenganku pelan. Aku segera menoleh ke arahnya dan menaikkan alisku. “Mama kenapa? Marahan sama Papa?” tanya Raka. Aku tersenyum dan menggelengkan kepalaku. Aku menarik pelan tubuh Raka mendekat. “Mama lihat di trotoar tadi ada kakak-kakak yang jalan di trotoar. Jadi ingat Tante Febi, Tante Audrey, sama Tante Shania. Raka ingat sama tantenya?” tanyaku. Raka terlihat mengingat. “Iya, Tante Shania itu yang matanya agak sipit itu ‘kan Mama?” tanya Raka. Aku menganggukkan kepala dan menyandarkan tubuhnya pada
Aku terbangun saat jam dinding di kamar Raka menunjukkan pukul 12 malam. Aku terkejut dan aku mengingat, jika aku berjanji untuk kembali ke kamar karena Mas Arlan memiliki sesuatu untuk dibicarakan. Aku segera turun dari tempat tidur Raka dan membenarkan selimut Raka. Aku berjalan masuk ke kamar dan melihat Mas Arlan masih belum tidur sambil memainkan HPnya. Aku melepas cardigan dan membersihkan wajahku sebentar. Setelah itu, aku naik ke tempat tidur dan duduk di samping Mas Arlan. Aku memeluk pinggangnya saat dia masih sibuk dengan HPnya. “Mas, maaf aku ketiduran di kamar Raka. Kamu kok gak bangunkan aku?” tanyaku. “Gak papa, aku memang belum tidur, aku masih urus kerjaan, nih.” Mas Arlan menunjukkan layar HPnya padaku dan memang benar dia sedang chatting dengan Roland. “Apa yang mau kamu bicarakan? Tentang aku atau Raka? Apa tentang kerjaan?” tanyaku. Mas Arlan menaruh HPnya dan merangkul bahuku. Dia j
Tanpa terasa usia kandunganku sudah berjalan tujuh bulan. Mas Arlan menemaniku cek kandungan hari ini. Dia memperhatikan hasil USG dengan senyum yang tidak pernah hilang dari wajahnya. Bahkan saat kami sudah berada di dalam mobil sekalipun, dia masih memperhatikannya.Wajah bahagia Mas Arlan terlihat tidak luntur sama sekali. Senyumnya yang mempesona mampu membuat para suster cantik memperhatikannya. Aku mencubit pelan pinggang Mas Arlan membuatnya menoleh dan ingin memprotesku.“Apa? Masih mau di sini? Raka udah nungguin tahu di rumah.” Mas Arlan menyodorkan kembali hasil USG padaku. Dia pun mulai menjalankan mobilnya meninggalkan parkiran rumah sakit. “Besok sudah hari sabtu, mau pulang ke Bunda apa Mama?” tanya Mas Arlan. “Tadi siang, Raka telfon dan bilang katanya ada pengumuman dari sekolahnya. Nanti dengar Raka dulu, baru kita rencanakan pulang ke mana, ya. Kalau acaranya kayak waktu itu, rekreasi, kita gak usah ke mana
Aku masuk ke rumah Mama dan melihat Mama yang kebetulan sedang membuat kue bersama Mbok Asih. Aku menyalami Mama bersama Raka dan Mas Arlan. Aku pun membantu Mama yang ingin membuat brownies. Aku dan Mama mengobrol berdua sambil membuat brownies. Mama terlihat baik-baik saja, meski sudah pasti merasa kesepian. Mas Arlan yang selalu mengunjungi Mama. Aku hanya mengikuti ucapan Mas Arlan untuk merahasiakan sebentar tentang kehamilanku. Bahkan Bunda sekalipun tidak tahu. Mama menanyakan tentang kesiapanku melakukan program anak kedua. “Iya, Ma. Bentar lagi, ya, maaf Farin jadi gak pernah ke sini. Farin minta maaf banget, ya, Ma.” Mama mengangguk dan Raka berdiri di kursi yang dia dorong mendekat. Dia melihat dengan dekat. Mas Arlan pun mengikutinya. “Nek, Mama sudah lama gak buat kue, tapi kue buatan Mama itu enak banget. Raka suka, Nenek pasti suka kue buatan Mama nanti.” Raka berceloteh sambil tangannya mengambil potongan coklat dan memasu
Pagi sekali aku tiba-tiba ingin membuat spageti. Aku meminta Mas Arlan mengizinkanku turun dan memasak sebentar. Aku mengatakan jika aku hanya ingin memasak. Mas Arlan menemaniku dan menyuruh Bi Yem mengerjakan hal yang lain saja. Mas Arlan sungguh menemaniku di dapur dan membiarkanku bergerak dengan leluasa meski dia masih melihatku. Dia pun mencicipi hasilnya dan membawanya keluar saat selesai. Melihat spagetiku jadi, niatku malah ingin makan telor. Aku mengambil telor di kulkas dan menggorengnya. Mas Arlan kembali dan menanyakan untuk apa telor. Aku hanya tersenyum dengan menunjukkan deretan gigiku.“Aku gak mau makan spagetinya. Aku mau makan telor, jadi kamu sama Raka makan aja spagetinya.” Mas Arlan menggelengkan kepalanya dan mengecup pipiku. “Kamu memang suka ngidam aneh, ya, meski masih wajar. Dulu, mau lihat aku makan seblak, sekarang masak spageti tapi makannya mau telor.” Aku terkekeh mendengarnya.







