MasukAku melihat Arlan yang masuk ke dalam mobil yang disediakan oleh koleganya untuk menjemputnya. Aku melangkah meninggalkan hotel dan menuju supermarket yang berada tidak jauh dari hotel. Aku berbelanja untuk upacara kematian Jae. Aku ingin melakukannya sama seperti keluarga Jae. Aku ingin pergi ke apartemen dan melakukannya. Aku membeli banyak barang yang akan aku butuhkan dan membeli bahan makanan lain.
Hari cek kandunganku datang, aku membawa apa yang dibutuhkan langsung ke tas kerjaku. Aku tahu Mas Arlan memakai kemejanya sambil memperhatikanku yang sedang sibuk di depan mejaku. Pria itu mengambil dasi yang aku letakkan di atas tempat tidur dan memelukku dari belakang sambil mengusap perut buncitku.Aku meminta Mas Arlan untuk melepaskannya terlebih dahulu agar aku bisa menata mejaku dan segera selesai. Mas Arlan enggan menurutinya malah menenggelamkan wajahnya di ceruk leherku. Aku beberapa kali mengucap istighfar karena tingkah suaminya yang sedang seperti ini. Dengan kesabaran yang tersisa, aku membalikkan badanku dan menatap heran suamiku itu. Dengan wajah tanpa dosa, Mas Arlan menyodorkan dasinya dan memintaku memasangkannya.“Kamu kenapa sih? Yang hamil aku, kenapa yang manja kamu, sih?” keluhku dengan tangan yang bergerak memasangkan dasi di lehernya. Dengan sedikit menjinjit untuk menyamakan tinggiku dengan Mas Arlan meskipun kini aku sudah men
AUTHOR POVFarin baru saja selesai membantu Karin meminum obatnya dan duduk di samping Karin. Hana duduk di sisi lain dan bermanja pada Karin. Farin hanya menatapnya dan menggelengkan kepalanya melihat tingkah manja adiknya itu. HP Farin berdering membuat wanita itu segera mengangkatnya.“Halo, Rey. Ada berkas yang penting?” tanya Farin sedikit menjauh. [Iya Mbak, apa saya harus nyusulin Mbak?]“Kamu bawa ke sini aja. Aku tunggu,” kata Farin sebelum mematikan sambungan. Kebiasaan Karin adalah menanyakan Arlan dan kandungan Farin. Karin pun memberi banyak nasihat dan mengobrolkan banyak hal tentang kehamilan dan mengurus anak. Farin pun sudah sering mendengar cerita perjuangan Karin saat memiliki anak sepertinya dan itu saat susah orang tuanya. Karin harus melakukan banyak pekerjaan karena Imam bukan orang berada, untuk menghidupi dirinya saja butuh banyak usaha agar bisa membeli makan. Karena itu
Farin terbangun saat merasakan mual. Dia bangkit dan menuju ke kamar mandi. Arlan yang duduk di sofa, langsung menyusul istrinya. Farin masih mual dan Arlan selalu setia menemani istrinya, jika dia merasakan istrinya terbangun. “Masih mual, Sayang?” tanya Arlan sambil mengurut punggung istrinya. Farin membasuh bibirnya lalu berdiri tegak. Dia memeluk Arlan dengan erat.“Udah gak separah awal-awal sih, Mas. Oh iya, emang ini jam berapa?” jawab Farin. Arlan melihat jam tangannya.“Jam tiga. Kamu tidur lagi aja, nanti aku bangunkan,” kata Arlan.“Kamu itu yang tidur. Nanti kamu kerja, Mas. Tidur sebentar ya. Kalau kamu sakit juga, aku bingung, Mas. Tidur ya,” ucap Farin yang memeluk tubuh suaminya. Arlan pun mengangguk dan menuruti perkataan istrinya. Farin duduk di samping brankar Bundanya dan menaruh kepalanya dengan tumpuan tangannya. Dipandangnya wajah Bundanya dengan lekat. Bagai film sejarah ya
DOOORSuara tembakan membuat aku ikut masuk dan melihat apa yang terjadi. Seorang polisi menghalangiku. Aku melihat Mas Arlan terduduk dan Om Rafli terkapar. Om Rafli segera dibawa oleh para polisi itu, aku tidak tahu bagaimana keadaannya.“Pak Arlan, baik-baik saja? Lukanya butuh diobati, Pak,” kata seorang polisi saat aku mengikutinya mendekat. Aku melihat lengan Mas Arlan terluka karena pisau yang tergeletak tidak jauh dari tempatnya.“Saya akan urus luka saya. Tinggalkan saya dengan istri saya berdua,” kata Mas Arlan yang membuat polisi itu mengangguk dan melangkah pergi. Aku duduk dan menunduk tanpa berani menatapnya. Sebuah jaket tersampir di bahuku membuatku mengangkat kepalaku sedikit dan memilih menunduk kembali. Belum juga menunduk, Mas Arlan memegang daguku dan membuatku menatap wajahnya.“Kamu marah karena aku gak mau dengar kamu? Karena aku gak setuju sama kamu?” tanya Mas Arlan. “Engg
Aku berdiri di samping brankar yang di mana terbaringtubuh lemah Bunda di atasnya. Aku dan Mas Arlan mendapat giliran jaga sore hingga besok pagi. Aku menggenggam tangan Bunda yang masih belum sadarkan diri. Dalam hatiku rapalkan banyak doa dan kata sayang yang jarang terucap. “Sayang, duduk aja dulu. Bunda udah gak papa. Kita tunggu Bunda siuman,” kata Mas Arlan menyadarkanku. Aku menghampirinya yang sudah duduk di sofa yang ada di ruang rawat kelas president ini. Aku duduk dan tangannya langsung merangkul pundakku. “Mas, Kamu gak merasa ini berlebihan gitu? Ini terlalu mewah, Mas. Kelas VVIP aja udah terlalu mewah buat aku. Apalagi ini, sampai ada akses lift segala, astagaaa,” keluhku yang sedari tadi sempat terpaku sebelum melihat tubuh lemah Bunda. “Bunda itu juga Bundaku. Aku mau yang terbaik buat Bunda. Lagian di sini aman, gak mungkin itu suami Tantemu masuk sini. Di sini ketat penjagaannya, Sayang
AUTHOR POV Farin terdiam melihat Bundanya. Wanita itu tersungkur membuat Bundanya membantunya berdiri kembali. Tangan pria itu mendorong Bunda Farin hingga mengenai sebuah guci. Sedang wanita yang ditolong Bundanya itu adalah kakak Bundanya juga didorong setelah ditampar dengan keras. Farin menjerit melihat Bundanya terkena guci. “Bundaaa!!” jerit Farin membuat Arlan yang berada di pintu rumah juga terkejut. Farin berjalan mundur saat melihat pria tua itu mendekatinya. Arlan datang mendekat dan menyembunyikan Farin di balik tubuhnya. “Mas, Bunda, Mas,” tangis Farin pelan. Arlan masih diam dan menatap pria di depannya dengan tajam. Ibu mertuanya butuh pertolongan, tapi Arlan belum bisa meninggalkan istrinya yang semakin dekat dengan pria itu. “Anda pergi sebelum saya panggil polisi dan memasukkan anda ke penjara!” ancam Arlan yang melihat pria itu mulai menatapnya. Arlan tetap menjaga Farin hingga pria i







