Home / Romansa / Setelah Semua Luka Pulang / 87: Memanjakan Suami

Share

87: Memanjakan Suami

Author: Lavendulaaa
last update publish date: 2026-10-05 05:41:46

Hari cek kandunganku datang, aku membawa apa yang dibutuhkan langsung ke tas kerjaku. Aku tahu Mas Arlan memakai kemejanya sambil memperhatikanku yang sedang sibuk di depan mejaku. Pria itu mengambil dasi yang aku letakkan di atas tempat tidur dan memelukku dari belakang sambil mengusap perut buncitku.

Aku meminta Mas Arlan untuk melepaskannya terlebih dahulu agar aku bisa menata mejaku dan segera selesai. Mas Arlan enggan menurutinya malah menenggelamkan wajahnya di ceruk leher
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Setelah Semua Luka Pulang   90: Acara Empat Bulanan

    Tepat empat bulan sudah usia kehamilan Farin, hari ini harusnya Farin dan Arlan sudah berada di rumah Karin. Dikarenakan Arlan tiba-tiba harus meeting mendadak membuat Farin kesal. Dia sudah memperingatkan sejak seminggu lalu untuk libur sehari lagi. Dengan rasa kesalnya, Farin menyiapkan baju suaminya itu. Arlan keluar dari kamar mandi dengan handuk di pinggangnya melihat istrinya menaruh pakaian kantornya ke tempat tidur. Terlihat dengan jelas bagaimana wajah kesal istrinya. “Sayang, jangan marah. Aku cuma sebentar. Satu-dua jam juga udah selesai kok. Sebentar aja, gak akan lama. Janji, waktu makan siang aku udah di rumah Bunda,” kata Arlan mencoba meluluhkan kekesalan istrinya. Farin seolah tidak mendengar hanya diam dan memainkan HP-nya. Merasa bodoh amat dengan suaminya, selama dia sudah menyelesaikan tugasnya sebagai istri, lebih baik dia diam daripada banyak berkata kasar pada suaminya. Arlan segera menyelesaikan ber

  • Setelah Semua Luka Pulang   89: Sayang Kamu Banyak-Banyak

    -AUTHOR POVFarin dan Arlan turun dari kamar dengan pakaian santainya. Farin menggunakan dress selutut dengan sandal jepitnya. Farin sudah mulai menghindari menggunakan sepatu berhak tinggi dan memilih slip on atau sandal jepit, tapi wanita itu nyaman memakai sandal jepit, Arlan pun tidak mempermasalahkan penampilan istrinya yang penting aman untuk istri dan anaknya.Farin mengambilkan makan untuk suaminya dan tantenya melihat Farin yang terlihat semakin hari semakin cantik juga mendapat banyak perhatian dari Arlan. Arlan meminta tante Farin untuk makan terlebih dahulu sebelum ke rumah sakit menjemput Karin. “Sayang, ini masakanmu, ya?” tanya Arlan membuat Farin hanya memamerkan deretan giginya pada suaminya yang ada di sampingnya. “Tapi perutmu gak papa, ‘kan?” tanya Arlan khawatir.“Mas, aku gak papa. Jangan semua dilarang dong. Aku ‘kan istrimu, harusnya aku melakukan semua pekerjaan rumah, tapi kamu udah meringankanku deng

  • Setelah Semua Luka Pulang   88: Kandungan Farin

    -AUTHOR POVMobil Arlan berhenti di parkiran rumah sakit. Keduanya turun dan berjalan menuju ruangan dokter kandungan yang sudah membuat janji terlebih dahulu. Farin masuk bersama dengan Arlan menemui dokter kandungan. Dengan ramah, dokter kandungan itu menyapa sepasang suami-istri itu.Farin segera mengikuti sang dokter untuk memeriksa kandungannya. Wanita itu bahagia saat dokter menjelaskan bahwa keadaan kandungannya semakin sehat dan kuat. Dokter pun menyarankan untuk banyak mengonsumsi makanan bergizi, berserat dan susu ibu hamil. Arlan yang mendengarnya langsung menjawab dokter itu.“Gimana mau minum susu, Dok, kalau ada aroma susu aja dia sudah mual minta ampun,” sahut Arlan membuat wajah istrinya memerah malu. Dokter itu hanya tersenyum melihat pasangan di depannya ini. Farin pun juga menjelaskan akhirnya bahwa dia tidak bisa berteman baik dengan segala macam susu. “Kalau gitu saya beri sedikit vitamin ya, Bu,” kata Dok

  • Setelah Semua Luka Pulang   87: Memanjakan Suami

    Hari cek kandunganku datang, aku membawa apa yang dibutuhkan langsung ke tas kerjaku. Aku tahu Mas Arlan memakai kemejanya sambil memperhatikanku yang sedang sibuk di depan mejaku. Pria itu mengambil dasi yang aku letakkan di atas tempat tidur dan memelukku dari belakang sambil mengusap perut buncitku.Aku meminta Mas Arlan untuk melepaskannya terlebih dahulu agar aku bisa menata mejaku dan segera selesai. Mas Arlan enggan menurutinya malah menenggelamkan wajahnya di ceruk leherku. Aku beberapa kali mengucap istighfar karena tingkah suaminya yang sedang seperti ini. Dengan kesabaran yang tersisa, aku membalikkan badanku dan menatap heran suamiku itu. Dengan wajah tanpa dosa, Mas Arlan menyodorkan dasinya dan memintaku memasangkannya.“Kamu kenapa sih? Yang hamil aku, kenapa yang manja kamu, sih?” keluhku dengan tangan yang bergerak memasangkan dasi di lehernya. Dengan sedikit menjinjit untuk menyamakan tinggiku dengan Mas Arlan meskipun kini aku sudah men

  • Setelah Semua Luka Pulang   86: Menemani Bunda

    AUTHOR POVFarin baru saja selesai membantu Karin meminum obatnya dan duduk di samping Karin. Hana duduk di sisi lain dan bermanja pada Karin. Farin hanya menatapnya dan menggelengkan kepalanya melihat tingkah manja adiknya itu. HP Farin berdering membuat wanita itu segera mengangkatnya.“Halo, Rey. Ada berkas yang penting?” tanya Farin sedikit menjauh. [Iya Mbak, apa saya harus nyusulin Mbak?]“Kamu bawa ke sini aja. Aku tunggu,” kata Farin sebelum mematikan sambungan. Kebiasaan Karin adalah menanyakan Arlan dan kandungan Farin. Karin pun memberi banyak nasihat dan mengobrolkan banyak hal tentang kehamilan dan mengurus anak. Farin pun sudah sering mendengar cerita perjuangan Karin saat memiliki anak sepertinya dan itu saat susah orang tuanya. Karin harus melakukan banyak pekerjaan karena Imam bukan orang berada, untuk menghidupi dirinya saja butuh banyak usaha agar bisa membeli makan. Karena itu

  • Setelah Semua Luka Pulang   85: Jadi Anak Baik Untuk Bunda

    Farin terbangun saat merasakan mual. Dia bangkit dan menuju ke kamar mandi. Arlan yang duduk di sofa, langsung menyusul istrinya. Farin masih mual dan Arlan selalu setia menemani istrinya, jika dia merasakan istrinya terbangun. “Masih mual, Sayang?” tanya Arlan sambil mengurut punggung istrinya. Farin membasuh bibirnya lalu berdiri tegak. Dia memeluk Arlan dengan erat.“Udah gak separah awal-awal sih, Mas. Oh iya, emang ini jam berapa?” jawab Farin. Arlan melihat jam tangannya.“Jam tiga. Kamu tidur lagi aja, nanti aku bangunkan,” kata Arlan.“Kamu itu yang tidur. Nanti kamu kerja, Mas. Tidur sebentar ya. Kalau kamu sakit juga, aku bingung, Mas. Tidur ya,” ucap Farin yang memeluk tubuh suaminya. Arlan pun mengangguk dan menuruti perkataan istrinya. Farin duduk di samping brankar Bundanya dan menaruh kepalanya dengan tumpuan tangannya. Dipandangnya wajah Bundanya dengan lekat. Bagai film sejarah ya

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status