LOGINAUTHOR POV
Arlan benar-benar menunjukkan kasih sayangnya pada Farin. Bahkan permintaan aneh istrinya pun akan dilakukan. Seperti halnya hari ini, Farin menginginkan Arlan makan seblak super pedas di depannya. Mereka sengaja pulang lebih cepat karena keinginan Farin yang termasuk ngaco.“Sayang, ini benaran super pedas?” tanya Arlan yang akan turun membeli seblak. Farin mengangguk yakin dan mengingatkan dua bungkus. Arlan mengangguk dan turun sedangkan Farin menungFarin membuka matanya dan menatap sisi tempat tidurnya sudah kosong dan pria yang selalu mendekap tubuhnya sudah tidak ada. Wanita itu memilih untuk ke kamar mandi dan membuka tirai sebentar. Malam sudah menyapa dan wanita ini memutuskan untuk pergi ke luar kamar mencari suaminya. Farin membuka pintu kamar dan melihat apartemennya sangat sepi seperti tidak ada kehidupan lain selain dirinya. Farin menghidupkan lampu ruang tengah dan mencari suaminya di berbagai sudut, namun tetap tidak dia temukan. Farin mulai duduk di sofa dan terdiam, Arlan tidak pernah pergi tanpa pamit atau meninggalkannya begitu saja seperti ini. Farin berpikir, suaminya itu masih marah karena kejadian kemarin. Farin menunggu satu jam hingga jam dinding di ruang tengah menunjukkan jam delapan malam waktu sekitar. Wanita itu mulai ragu Arlan kembali lagi. Tanpa disadari, Farin menangis dalam diam menunggu suaminya yang tidak kunjung datang. Tangisan Farin semakin menjadi bahkan pintu
Usia kehamilan Farin yang kini sudah menginjak lima bulan, membuat Arlan ingin mengajak Farin berlibur karena akhir-akhir ini wanitanya itu terlihat sibuk dengan pekerjaannya hingga tidak akan tidur jika Arlan tidak menegurnya. Farin baru selesai mandi dan menggunakan skincarenya. Wanita itu menyusul suaminya yang sudah duduk di tempat tidur.Arlan baru saja menegurnya dengan kesal karena tetap bertahan di depan laptop di saat jam dinding sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Farin memeluk pinggang Arlan yang sedang menatap TV dan tidak menghiraukannya. Farin merasa bersalah karena akhir-akhir ini dia membuat Arlan kesal. “Mas Arlan,” panggil Farin dengan lembut yang hanya dibalas dengan dehaman oleh Arlan. Farin masih berusaha mengalihkan perhatian suaminya itu dari TV. Beberapa kali Farin memanggil hanya dibalas dengan dehaman hingga akhirnya Arlan membuka suara.“Ambil libur sebentar. Kita pergi liburan sebentar.” Arlan melepaskan pelu
Tepat empat bulan sudah usia kehamilan Farin, hari ini harusnya Farin dan Arlan sudah berada di rumah Karin. Dikarenakan Arlan tiba-tiba harus meeting mendadak membuat Farin kesal. Dia sudah memperingatkan sejak seminggu lalu untuk libur sehari lagi. Dengan rasa kesalnya, Farin menyiapkan baju suaminya itu. Arlan keluar dari kamar mandi dengan handuk di pinggangnya melihat istrinya menaruh pakaian kantornya ke tempat tidur. Terlihat dengan jelas bagaimana wajah kesal istrinya. “Sayang, jangan marah. Aku cuma sebentar. Satu-dua jam juga udah selesai kok. Sebentar aja, gak akan lama. Janji, waktu makan siang aku udah di rumah Bunda,” kata Arlan mencoba meluluhkan kekesalan istrinya. Farin seolah tidak mendengar hanya diam dan memainkan HP-nya. Merasa bodoh amat dengan suaminya, selama dia sudah menyelesaikan tugasnya sebagai istri, lebih baik dia diam daripada banyak berkata kasar pada suaminya. Arlan segera menyelesaikan ber
-AUTHOR POVFarin dan Arlan turun dari kamar dengan pakaian santainya. Farin menggunakan dress selutut dengan sandal jepitnya. Farin sudah mulai menghindari menggunakan sepatu berhak tinggi dan memilih slip on atau sandal jepit, tapi wanita itu nyaman memakai sandal jepit, Arlan pun tidak mempermasalahkan penampilan istrinya yang penting aman untuk istri dan anaknya.Farin mengambilkan makan untuk suaminya dan tantenya melihat Farin yang terlihat semakin hari semakin cantik juga mendapat banyak perhatian dari Arlan. Arlan meminta tante Farin untuk makan terlebih dahulu sebelum ke rumah sakit menjemput Karin. “Sayang, ini masakanmu, ya?” tanya Arlan membuat Farin hanya memamerkan deretan giginya pada suaminya yang ada di sampingnya. “Tapi perutmu gak papa, ‘kan?” tanya Arlan khawatir.“Mas, aku gak papa. Jangan semua dilarang dong. Aku ‘kan istrimu, harusnya aku melakukan semua pekerjaan rumah, tapi kamu udah meringankanku deng
-AUTHOR POVMobil Arlan berhenti di parkiran rumah sakit. Keduanya turun dan berjalan menuju ruangan dokter kandungan yang sudah membuat janji terlebih dahulu. Farin masuk bersama dengan Arlan menemui dokter kandungan. Dengan ramah, dokter kandungan itu menyapa sepasang suami-istri itu.Farin segera mengikuti sang dokter untuk memeriksa kandungannya. Wanita itu bahagia saat dokter menjelaskan bahwa keadaan kandungannya semakin sehat dan kuat. Dokter pun menyarankan untuk banyak mengonsumsi makanan bergizi, berserat dan susu ibu hamil. Arlan yang mendengarnya langsung menjawab dokter itu.“Gimana mau minum susu, Dok, kalau ada aroma susu aja dia sudah mual minta ampun,” sahut Arlan membuat wajah istrinya memerah malu. Dokter itu hanya tersenyum melihat pasangan di depannya ini. Farin pun juga menjelaskan akhirnya bahwa dia tidak bisa berteman baik dengan segala macam susu. “Kalau gitu saya beri sedikit vitamin ya, Bu,” kata Dok
Hari cek kandunganku datang, aku membawa apa yang dibutuhkan langsung ke tas kerjaku. Aku tahu Mas Arlan memakai kemejanya sambil memperhatikanku yang sedang sibuk di depan mejaku. Pria itu mengambil dasi yang aku letakkan di atas tempat tidur dan memelukku dari belakang sambil mengusap perut buncitku.Aku meminta Mas Arlan untuk melepaskannya terlebih dahulu agar aku bisa menata mejaku dan segera selesai. Mas Arlan enggan menurutinya malah menenggelamkan wajahnya di ceruk leherku. Aku beberapa kali mengucap istighfar karena tingkah suaminya yang sedang seperti ini. Dengan kesabaran yang tersisa, aku membalikkan badanku dan menatap heran suamiku itu. Dengan wajah tanpa dosa, Mas Arlan menyodorkan dasinya dan memintaku memasangkannya.“Kamu kenapa sih? Yang hamil aku, kenapa yang manja kamu, sih?” keluhku dengan tangan yang bergerak memasangkan dasi di lehernya. Dengan sedikit menjinjit untuk menyamakan tinggiku dengan Mas Arlan meskipun kini aku sudah men







