Home / Romansa / Setelah Semua Luka Pulang / 89: Sayang Kamu Banyak-Banyak

Share

89: Sayang Kamu Banyak-Banyak

Author: Lavendulaaa
last update publish date: 2026-10-06 05:46:02

-AUTHOR POV

Farin dan Arlan turun dari kamar dengan pakaian santainya. Farin menggunakan dress selutut dengan sandal jepitnya. Farin sudah mulai menghindari menggunakan sepatu berhak tinggi dan memilih slip on atau sandal jepit, tapi wanita itu nyaman memakai sandal jepit, Arlan pun tidak mempermasalahkan penampilan istrinya yang penting aman untuk istri dan anaknya.

Farin mengambilkan makan untuk suaminya dan tantenya melihat Farin yang terlihat semakin hari semak
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Setelah Semua Luka Pulang   99: Pertumbuhan Raka

    Satu tahun sudah sosok kecil Raka tumbuh di tengah-tengah keluarga da Costa. Kini pria kecil itu sedang bersama dengan Hana di rumah Karin. Wanita itu menemani keponakannya di tengah kehamilannya yang juga sudah membesar. Farin duduk di samping Raka dan mengusap rambut anaknya membuat Raka merangkak memeluknya. Hana yang melihatnya sangat gemas dengan tingkah Raka pada kakaknya. Raka berdiri memegang bahu Farin dengan perlahan.“Raka udah bisa jalan, Kak?” tanya Hana.“Udah, tapi beberapa langkah masihan. Baru minggu kemarin dia bisa jalan bikin aku sama Bi Yem heboh lihatnya,” jawab Farin pada adiknya itu. “Gak terasa udah satu tahun aja anakmu, ya, Kak,” kata Hana. Farin mengangguk sambil memegang tubuh Raka yang memeluknya manja. “Bunda belum pulang dari kafe sama Mas Arlan?” tanya Farin memangku Raka yang sedang memegang mainan. “Belum, Gilang juga belum pulang, aku suruh beli sarapan. Aku ma

  • Setelah Semua Luka Pulang   98: Menjaga Raka

    Satu bulan sudah kehadiran sosok kecil di hidup Farin dan Arlan yang membuat ramai rumah mereka dengan tangisannya yang kencang. Arlan masuk ke kamarnya dan melihat istrinya baru saja selesai memandikan Raka. Sejak Raka lahir, Arlan dan Farin menghabiskan waktu weekend di rumah mereka sendiri. Mereka jarang ke rumah orang tua mereka, karena menjaga Raka yang masih belum kuat diajak ke mana-mana. Farin meminta Arlan untuk mengerti anaknya sampai tiga bulan dan bisa diajak ke mana-mana dengan leluasa. “Raka sudah mandi?” tanya Arlan menyapa putranya. “Kamu dari mana?” balas Farin saat Arlan mengecup pipi Raka dengan gemas. “Keliling kompleks bentar terus main game di bawah, takut ganggu Raka tadi mau ke atas,” jawab Arlan yang tetap mencium pipi Raka dengan gemas. Farin memukul pelan bahu Arlan saat melihat Raka yang hampir menangis. “Udah, anak kamu nangis nanti. Mandi dulu sana, terus gantian jagain Raka. Aku

  • Setelah Semua Luka Pulang   97: Raka da Costa

    Kehadiran seorang bayi dalam kehidupan rumah tangga memang menjadi sesuatu yang ditunggu oleh keluarga. Begitu juga dengan keluarga Farin dan Arlan yang kini datang melihat bayi yang sangat tampan itu berada di samping Farin. Hana sangat gemas melihat keponakannya yang tampan dan mengemaskan. Bu Metha dan Pak Arkan mengucapkan selamat pada menantunya itu. Arlan tersenyum melihat istrinya yang terbaring di brankar bersama anaknya. Kebahagiaan terpancar dengan jelas di dalam ruang rawat ini. Seorang perawat masuk untuk memindahkan kembali bayi Farin ke ruang bayi. Mereka pun mengobrol sambil menanyakan kondisi Farin. Wanita itu hanya mengatakan bahwa dia sudah baik-baik saja. Malam tiba dan tinggalah Farin berdua dengan Arlan di ruang rawatnya. Pria itu tadi sudah sempat meninggalkan istrinya saat keluarga ada di sana untuk mengambil pakaiannya dan istrinya. Arlan duduk di samping brankar Farin. “Mas, boleh duduk ‘kan?” tanya

  • Setelah Semua Luka Pulang   96: Anak Pertama

    Farin membuka matanya, sudah dua bulan dia tidak berangkat ke kantor dan menyelesaikan pekerjaannya dari rumah. Itu pun dibatasi oleh suaminya. Wanita itu menatap suaminya yang terlelap dengan mendekapnya. Perlahan, Farin bangkit dari tidurnya. Dia masuk kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Setelah selesai, dia turun ke dapur. “Pagi, Nyonya.” Bi Yem menyapa Farin yang dibalas senyum. “Bi, tempenya dibikin tempe orek, ya,” pinta Farin yang langsung disetujui oleh Bi Yem. Farin membantu Bi Yem memotong tempe dan bahan lainnya. Bi Yem menyuruh majikannya untuk duduk saja, namun Farin menolaknya. Lauk sudah jadi, Farin mencuci tangannya dan kembali ke kamar untuk membangunkan suaminya. Farin duduk dan mengatur napasnya. Dia membangunkan suaminya dengan hati-hati. “Jam berapa?” tanya Arlan. “Jam tujuh. Kamu mandi, aku siapkan bajumu,” ujar Farin. Arlan bangkit

  • Setelah Semua Luka Pulang   95: Tujuh Bulan Kehamilan

    Matahari sudah mulai menyembunyikan sinarnya. Arlan sedang merapikan baju kokohnya dan sarungnya. Farin memoles wajahnya dan membenarkan hijab yang dia pakai. Arlan tersenyum melirik wanitanya yang sedang memakai hijab. Arlan mendekati istrinya dan memeluknya dari belakang. “Kamu semakin cantik memakai hijab seperti ini. Bagaimana aku bisa berpaling dari kamu kalau kaya gini,” puji Arlan yang menaruh dagunya ke bahu istrinya. Arlan mengusap lembut perut istrinya yang semakin membesar. Pria itu membalikkan tubuh istrinya dan memeluknya erat. Pria itu menyempatkan mencium kening istrinya. Farin memejamkan matanya merasakan kasih sayang Arlan. “I love you, Farina Azzalea da Costa,” bisik Arlan tepat di telinga istrinya. Farin membalas pelukan suaminya dan membisikkan balasan untuk suaminya. Mereka segera keluar dari kamar untuk melakukan acara pengajian tujuh bulanan yang diadakan di rumah mereka sendiri. Farin duduk di sampin

  • Setelah Semua Luka Pulang   94: Cuti?

    Dua hari ini, Karin tinggal di rumah Arlan bersama dengan Farin. Karin membantu Farin menyiapkan acara tujuh bulanan yang akan diselenggarakan pada akhir minggu ini. Karin pun banyak membantu anaknya itu untuk menjaga kandungannya selama tinggal bersama dengan anaknya. Farin turun dari lantai dua dan melihat suaminya yang sudah duduk bersama dengan Karin di meja makan. Wanita itu menenteng tas dan jas suaminya sebelum mendekati kedua manusia yang menjaganya. “Pagi Bun,” sapa Farin pada Karin sambil duduk di samping suaminya. Arlan ikut tersenyum saat istrinya duduk di sampingnya.“Pagi juga, Kak. Kamu niat cuti kapan, Kak?” tanya Karin. “Farin gak sepenuhnya cuti, paling Farin kerjakan dari rumah, tapi nanti delapan bulanan aja Bun,” jawab Farin.“Tapi jangan maksa, Sayang. Kalau bisa cuti aja,” sahut Arlan yang dibalas dengan anggukan oleh istrinya.Mereka mulai sarapan dan segera pamit berangkat

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status