LOGIN"Kau bukan cukup berlebihan Tuan Shen. Tapi kau sangat berlebihan!" ujar seorang gadis bersayap yang datang tanpa diduganya.
Shen Xiao menoleh ke arahnya. Gadis dengan sayap biru cantik itu seorang Blue Phoenix, Hewan kontraknya, tampak menunjukkan raut wajah kesal sembari bersedekap dada.
"Darimana saja kau? Aku menunggu mu sejak tadi, kau tidak ada muncul." Tanpa peduli perkataan gadis Phoenix itu, Shen Xiao lebih memperdulikan keberadaannya sedari tadi yang tak ada bersamanya malah menghilang dan membuatnya repot sendiri berhadapan para Kultivator Aliran Hitam di sini.
"Aku hanya berjalan-jalan di sekitaran hutan di dekat sini," ujar gadis Phoenix itu, Xin Xin, namanya. Gadis itu tampak menunjukkan wajah tak bersalahnya padahal Tuannya—Shen Xiao, sudah memasang wajah mengesalkan.
"Apa gunanya kau menjadi Hewan kontrak ku jika kau malah mengabaikan ku?!" tunjuk Shen Xiao memakinya.
"Aku tidak mengabaikan mu! Kau sendiri yang tidak menghubungi ku!" elaknya tak ingin disalahkan. "Lagian, siapa yang akan tahu jika kau dalam situasi seperti ini, huh?" dengusnya memalingkan wajah ke arah lain.
Shen Xiao menggerutu kesal dalam hatinya, "Bisa-bisanya aku memiliki Hewan kontrak yang tidak menurut seperti ini."
"Siapa bocah ini? Sepertinya dia memiliki darah Red Phoenix." Xin Xin, gadis Phoenix itu terbang di atas Lin Tian yang pingsan. Ia memeriksa keningnya, baru saja disentuh keningnya, ada simbol api merah yang muncul merespon cepat sentuhannya.
Melihatnya juga. Shen Xiao menjadi penasaran dengan Lin Tian. Kemarahannya yang tadi disebabkan Xin Xin menjadi hilang digantikan tawa lantangnya yang menggelegar.
"Aku mendapatkan barang langkah! Ha ha ha!"
"Dia bukan barang," ujar Xin Xin menatapnya malas.
"Sama saja, yang terpenting dia akan berguna untukku, khe ... khe ... khe ... ini akan menarik," gumamnya menyeringai misterius.
Xin Xin yang melihat ekspresi wajah yang ditunjukkan Tuan-nya menjadi merinding sendiri. Biasanya jika Shen Xiao menunjukkan ekspresi mengerikan seperti ini, sudah pasti ada sesuatu yang berbahaya sedang direncanakannya.
---
Di pegunungan berkabut yang di dalamnya terdapat Sekte Besar Aliran Hitam.
Kini terlihat di suatu ruangan. Berkumpulnya para Kultivator Tingkat Tinggi yang merupakan para Tetua dan Peninggi Sekte. Sekte ini adalah Sekte Kabut Hitam. Sekte tertinggi para Kultivator Aliran Hitam. Dan ditempat inilah para Kultivator muda diajarkan.
Tapi, tentu Sekte Aliran Hitam tak sebanyak Sekte Aliran Putih yang tak bisa dihitung jumlahnya. Baik dari Sekte Tingkat Rendah sekalipun, Sekte Aliran Putih pemenang jumlahnya. Namun jumlah bukanlah hal yang menentukan kekuatan Sekte. Tapi kemampuan dari para penerusnya, murid-muridnya, itulah yang menjadi penentu suatu Sekte dinyatakan Sekte besar.
Dan di Sekte Kabut Hitam inilah tempat para jenius Kultivator dan Beladiri berada cukup banyak sampai-sampai salah satu Sekte Aliran Hitam ini sangat diwaspadai.
"Duan Chen, tindakan mu ceroboh sekali, Misi yang kau berikan kepada murid-murid kita itu suatu tindakan yang gegabah!"
Seorang pria tua kurus berjanggut panjang hitam dan memilih wajah yang pucat pasih seperti mayat hidup itu berdiri dari duduknya dan menggebrak meja seraya menunjuk pria berbadan kekar yang bertelanjang dada memiliki kulit paling gelap sendiri di antara yang lain.
Brak!
"Kau membuat beberapa murid berbakat kita terbunuh!" ujar pria berjanggut panjang itu penuh amarah.
"Aku tidak bersalah, mereka yang memaksa meminta Misi itu," ujar pria berbadan kekar itu mengelak. Duan Chen, pria itu seorang Tetua Sekte atau pengajar di Sekte ini dan juga memiliki kerja sambilan sebagai penjaga Misi para murid Sekte Kabut Hitam.
"Harusnya kamu menghalangi mereka!" kata Tetua Wu—Wu Ming, seorang pengajar di Sekte juga dan ia memiliki status yang lebih besar dari Duan Chen.
Duan Chen melipat tangannya di dada, pria kekar itu berkata dengan angkuh, "Aku tidak bersalah, yang salah itu murid didik mu dan juga keponakan mu. Aku tahu kau marah pada ku karena keponakan mu menjadi korbannya. Tapi, tak seharusnya kau menyalahkan ku yang tugasku di sini hanya mengajar dan menjaga pusat Misi. Jika ku katakan aku sudah melarang mereka, maka aku sudah melarang, tetapi para bocah nakal itu memaksa ku memberikan Misi itu pada mereka dengan ancaman bahwa mereka akan melaporkan itu kepada mu. Ck, ck, mereka bocah yang cerdik dan manja. Cara didikan mu itu cukup mengesankan ku." Geleng-geleng Tetua Duan Chen saat memikirkannya.
"Ka-kau ... apa maksud mu mengatakan itu?! Kau ingin bertarung dengan ku?!"
"Sudah cukup Tetua Wu. Kau juga Tetua Duan," ujar Tetua Agung melirik Tetua Wu Ming dan Tetua Duan De bergantian.
Mereka berdua langsung terdiam tak berani berbicara lagi jika sudah angkat tangan Tetua Agung yang memiliki tempramen paling susah ditebak diantara Tetua lainnya.
Tetua Agung seorang Kultivator yang sudah hidup cukup lama tapi tubuhnya tampak awet muda dibandingkan Tetua lainnya. Meskipun begitu, kemampuannya jangan diragukan lagi, apalagi ia baru saja keluar dari latihan tertutupnya selama beberapa tahun ini.
"Sepertinya banyak kekacauan yang terjadi selama aku latihan tertutup," katanya begitu lembut, tapi terasa jelas bila ia begitu sangat kecewa mengenai masalah besar yang menimpa Sektenya ini.
"Ini semua karena keteledoran kami. Tetua Agung bisa menghukum kami semua yang ada di sini," ujar wanita bercadar hitam tipis yaitu Tetua Huanran dengan hati-hati membuka suaranya begitu lembut.
Semuanya mengangguk setuju karena tak ada pilihan lain selain mengikutinya, daripada harus menerima pertanyaan yang menyulitkan mereka dari Tetua Agung yang sangat mereka takuti.
"Saat aku latihan tertutup, aku juga memusatkan pengelihatan ku untuk mengamati Sekte ini. Aku cukup senang kalian bisa menemukan bakat-bakat yang luar biasa. Setidaknya itu menutupi masalah saat ini, tapi tentu saja, kejadian kali ini aku tidak ingin terulang kembali." Diakhir katanya, Tetua Agung menekankan perkataannya dengan aura pembunuh yang dimilikinya.
Semua Tetua merasa napasnya tercekat dan tubuh mereka menjadi bergetar. Padahal mereka berada di tingkat yang lumayan tinggi sebagai Tetua, tetapi itu terasa tak sebanding jika harus dibandingkan dengan kekuatan Tetua Agung mereka.
"Kami janji tidak akan mengulanginya lagi!" seru para Tetua yang ada di sini kecuali Tetua Agung yang hanya memasang wajah ramahnya sebagai topeng wajahnya di hadapan mereka semua.
Dan di saat mereka semua keluar. Tetua Agung yang masih berada di ruangan itu mengubah sikapnya yang semula ramah menjadi dingin tanpa sedikit pun ekspresi ditunjukkan di wajahnya.
"Siapapun yang mengambil nyawa murid-murid Sekte ku, aku pastikan kamu habis di tangan ku!" ujarnya dengan suara keras, namun tak terdengar keluar karena ruangan ini kedap suara.
Sedangkan pelaku yang membunuh sebagian banyak murid-murid dari Sekte Kabut Hitam yang membantai Desa Matahari. Tampak kini tengah ribut berebutan daging bakar yang dibakarnya tanpa ingin membagikan daging buruannya kepada mereka berdua, Xin Xin dan Lin Tian.
"Kalian jika ingin daging, buru saja sendiri, jangan ambil milikku!" tegasnya melarang mereka berdua mengambil daging miliknya.
"Nasib... nasib. Kulitku yang sehalus sutra ini pasti sudah berubah jadi kertas amplas," keluh Shen Xiao sambil menyeka pasir dari bulu matanya. Ia menyentakkan tongkat bambunya ke pasir dengan gusar. "Long Long, kau lihat? Bahkan matahari di sini pun sepertinya ingin mencuri ketampananku." "Tuan, simpan keluhanmu. Ada rombongan besar di depan," bisik Shen Long dari balik kerah baju. Iring-iringan mewah itu berhenti tepat di depan Shen Xiao. Saat tandu diturunkan dan sosok wanita berkulit eksotis itu keluar, Shen Xiao langsung memutar tubuhnya membelakangi mereka. "Wah, siapa ini? Sepertinya aku sedang bermimpi. Mana mungkin pria yang katanya tak akan pernah menginjak tanah ini lagi sekarang berada di sini?" suara wanita itu mengalun rendah, penuh godaan. "Aku tidak kenal dia, Long Long. Ayo jalan," gumam Shen Xiao ketus. "Kau mau jalan ke mana, Shen Xiao? Tidak ada gunanya membuang muka. Punggungmu saja aku
Setelah mendengar tentang "Sumpah Kematian", Kepala Suku Zarand tidak punya pilihan. Ia tidak ingin Ellie mati sia-sia hanya karena kutukan cinta yang mustahil. Shen Xiao akhirnya dibebaskan, sementara Teng Fei dan Tan Wei resmi menjadi "jaminan" untuk membantu suku Zarand bertahan hidup di tengah hutan rimbun yang penuh binatang buas. "Shen Xiao! Kau benar-benar bajingan tidak punya hati!" teriak Teng Fei dari kejauhan. Wajahnya merah padam saat dua prajurit raksasa suku Zarand memegang pundaknya, memaksanya memegang kapak kayu yang besar. "Tuan tampan apanya?! Kau itu iblis licik! Beraninya kau menukar kami dengan kebebasanmu!" Tan Wei ikut memaki, suaranya melengking menembus rimbunnya pepohonan. Shen Xiao berhenti di ambang gerbang kayu suku Zarand. Ia menoleh perlahan, memasang senyum paling manis yang ia miliki. "Kenapa kalian berisik sekali? Bukankah ini bagus? Kalian bisa melatih otot di hutan yang asri ini. Anggap saja ini balas budi karena kalian sudah menjadikanku 'adi
"Bagaimana ini? Shen Xiao, ayolah teman, rendah hati sedikitlah demi kita semua. Kita bisa celaka kalau kau tidak berhubungan baik .... ah ya maksudnya bertunangan dengan Nona Ellie." Teng Fei gelisah berjalan mondar-mandir sendiri menggigit jari telunjuknya sesekali melihat ke arah Shen Xiao sambil memikirkan bagaimana keadaan mereka jika Shen Xiao memilih tidak peduli seperti ini. Pemuda itu malah tiduran santai-santai kelihatan tidak mikir sama sekali. "Itu aku yang rugi kalian yang untung. Kalau membuat keputusan itu pikirkan dulu matang-matang dan tanya dulu kepada orangnya yang bersangkutan sebelum asal memutuskannya. Kau pikir aku akan peduli. Cih! Tentu tidak." Shen Xiao memiringkan tubuhnya melanjutkan tidurnya setelah menjawab Teng Fei bicara. Merasa enggan melihat wajah Teng Fei yang penuh permohonan padanya. "Nona Ellie cantik apa ruginya? Kalau wajahku tampan saja sudah kugunakan dengan baik. " "Itu kenapa wajahmu jelek. Kau pria serakah bila mendapatkan kesempurnaan
Itu suatu hal yang gila. Shen Xiao menelisik pandang ke arah gadis yang berdiri di depan pintu masuk yang terus memasang ekspresi ramah dan hangatnya begitu menghayutkan siapapun yang akan melihatnya. Satu hal yang pasti, ia sangat cantik. Mengalihkan tatap ke arah Teng Fei, lantas Shen Xiao berbisik, "Kau yang benar saja Teng Fei. Aku tidak bisa menikah dengannya." "Kenapa? Kau tidak rugi juga, dia cantik dan kriteria istri idaman yang sempurna untuk dinikahi." "Bukan begitu masalahnya." Shen Xiao memijit pangkal hidungnya. "Ada sesuatu yang membuatku tidak bisa menikahi gadis ataupun wanita lain." "Jadi kau sudah pernah menikah sebelumnya?" Teng Fei menanggapinya terperanjat kaget. "Bukan, hais~ aku belum pernah menikah. Tapi aku sudah memiliki sumpah dan perjanjian menikah dengan seorang gadis lain. Jika aku mengingkarinya, bukan hanya nyawaku yang terenggut, nyawa gadis atau wanita lain yang kunikahi akan terancam bahaya juga." "Kau membuatku takut." Membahas soal kematian,
Pembicaraan mereka terhenti tatkala terdengar suara pusaran air dari sungai di dekat mereka."Sepertinya ada sesuatu." Teng Fei mencoba mendekati untuk memeriksanya.Belum sempat melangkah lebih jauh Shen Xiao mengatakan perintah penuh peringatan tegas, "Jangan mendekatinya jika tidak ingin mati." Tan Wei menoleh, mencoba bertanya, "Itu sebenarnya apa yang terjadi?"Shen Xiao juga penasaran. Ia hanya memperkirakan, "Sungai ini tidak biasa, di dalamnya pasti ada sesuatu. Bisa jadi ada Demon Best di dalamnya.""Tuan, sepertinya kau benar," timpal Shen Long."Shen Long apa kamu sudah memeriksanya?" tanya Shen Xiao pada Hewan bersisik itu."Belum," geleng Shen Long. "Aku hanya percaya dengan perkataanmu Tuan."Shen Xiao menunjukkan pandangan datarnya. "Bukan itu jawaban yang seharusnya kudengar darimu.""Tuan! Shen Long akan memeriksanya!" ucapnya seketika saat melihat ketidaksenangan Shen Xiao padanya, Shen Long langsung saja mengepakkan sayap kecilnya, terbang ke arah sungai beraliran l
Sesuatu meluncur dari atas dalam waktu tak dapat diperkirakan hampir tepat mengenai Shen Xiao dan Teng Fei yang berada di bawahnya. BLAAAARR! Atas suara memekik Tan Wei yang menyuruh mereka menyingkir, keduanya dapat berhasil selamat dari sesuatu yang jatuh dari atas langit tersebut hingga menimbulkan suara hantaman yang sangat keras mengenai tanah. Shen Xiao hampir merasakan jantungnya terlepas setelah dua kali dikejutkan. Pemuda itu berada dalam posisi berdiri saling berdekatan dengan Teng Fei, karena di saat tadi, ia ditarik Teng Fei cepat menjauh bersama. "Itu apa?" Terdengar gumaman pelan Teng Fei penuh rasa penasaran terhadap sesuatu yang jatuh itu dari atas begitu sangat cepat hampir saja tak disadarinya. Karena rasa penasarannya yang terlalu besar. Teng Fei memutuskan mendekati tempat itu. Perlahan ia berjalan untuk melihat sesuatu yang masih tertutup kepulan debu. Ada kilatan cahaya biru terang yang mulai terlihat dari balik debu yang menutupi. Itu seperti petir. Dan ben







