MasukKeesokan paginya, suasana kelas sudah kembali ramai. Mahasiswa baru saling sapa, ada yang sibuk membicarakan tugas kelompok kemarin, ada juga yang masih mencari posisi duduk nyaman.
Aurelya datang dengan wajah masih setengah malas. Ia menaruh tas di bangku, lalu langsung merebahkan kepala di atas meja. “Hhh… baru hari kedua, tugas udah numpuk. Rasanya pengen balik tidur.” Shafira duduk di sampingnya sambil nyengir. “Rel, lo jangan drama deh. Lagian kemarin kan kerjaan kita udah lumayan banyak beres.” “Lumayan beres, tapi beres total kan belum,” sahut Aurelya ketus. Shafira mengedikkan dagu ke arah pintu. “Tuh, yang satu udah dateng.” Raksa masuk kelas dengan langkah tenang, tas hitam tersampir seperti biasa. Matanya langsung melirik sebentar ke arah Aurelya, tapi tanpa kata-kata ia duduk di bangku belakang, membuka buku catatannya, dan mulai menulis sesuatu. Aurelya buru-buru menegakkan kepala. “Kenapa dia keliatan rajin banget, sih? Nggak capek apa serius mulu?” Shafira terkekeh. “Rel, kalau lo liat dari sisi lain, itu keren tau. Cowok serius tuh jarang.” “Serius apaan. Itu namanya kaku,” Aurelya mendengus, tapi matanya tak sengaja kembali melirik ke belakang. Raksa tetap fokus, bahkan tidak sadar diperhatikan. Setelah kelas selesai, kelompok mereka sepakat untuk rapat sebentar di kantin. Satya membawa map tebal, Keira dengan laptopnya, sementara Shafira sudah siap dengan kamera ponsel. “Jadi,” Satya membuka pembicaraan, “hari ini kita tinggal ngerangkum hasil observasi kemarin. Raksa, lo udah nyusun catatannya?” Raksa mengangguk singkat. Ia mengeluarkan beberapa lembar kertas penuh coretan rapi. “Udah. Gue coba susun berdasarkan pola aktivitas. Tinggal ditambahin hasil wawancara dari Aurelya.” Aurelya yang sedang mengaduk jus jeruknya mendongak. “Eh, iya. Gue udah catet jawaban mereka, tapi masih acak.” “Gue bantuin rapihin, ya?” Keira menawarkan. Raksa menoleh sebentar ke arah Aurelya. “Kalau bisa, lo kasih ke gue dulu. Gue mau cocokin sama data observasi.” Nada suaranya tenang, tapi Aurelya merasa seperti ditantang. “Lo pikir gue nggak bisa nyocokin sendiri?!” Raksa menatapnya sebentar. “Bukan gitu. Gue cuma pengen hasilnya konsisten. Biar lebih gampang pas Keira analisis.” “Yaudah, nih.” Aurelya menyodorkan catatannya dengan nada setengah kesal. Tapi begitu Raksa mengambilnya, jari mereka sempat bersentuhan sebentar. Aurelya refleks menarik tangannya cepat. Wajahnya panas, tapi buru-buru ia meneguk jus untuk menutupi rasa kikuk. Shafira menahan senyum lebar, hampir ngakak melihat ekspresi sahabatnya. Rapat kecil itu berlangsung lancar. Satya membagi tugas menulis, Keira mengerjakan analisis, Shafira bagian dokumentasi. Raksa fokus mengetik ulang catatan di laptop pinjamannya, sementara Aurelya pura-pura sibuk menggambar di buku tulis, padahal sesekali matanya melirik. Ia tidak bisa bohong—cara Raksa bekerja benar-benar serius. Fokus, detail, tapi nggak pernah ribut. Diam-diam Aurelya merasa kagum, meski lidahnya enggan mengakuinya. Sampai akhirnya, ketika kelompok bubar, Raksa menghampiri Aurelya yang masih duduk. “Aurelya.” Aurelya mendongak cepat. “Apa lagi?!” Raksa menghela napas sebentar, lalu menaruh catatan di mejanya. “Tugas wawancara lo bagus. Jawabannya lumayan dalam. Nggak semua orang bisa dapet data kayak gini.” Aurelya terdiam. Pujian itu datang begitu saja, tanpa basa-basi, tanpa senyum berlebihan—tapi justru terasa tulus. “Eh… yaudah, makasih,” jawabnya terbata. Raksa hanya mengangguk singkat, lalu pergi begitu saja. Aurelya menatap punggungnya yang menjauh dengan wajah campur aduk. Dalam hatinya ia menggerutu, kenapa sih dia harus bikin gue bingung begini? Dan Shafira, yang sudah berdiri di dekat pintu, langsung bersiul kecil. “Rel, fix banget. Antara lo yang makin kepancing atau dia yang tanpa sadar bikin lo kepancing. Salah satu pasti ada yang jatuh duluan.” Aurelya menutup wajah dengan kedua tangannya. “Astaga, Fir. Gue nggak mau mikir sejauh itu!” Tapi jauh di dalam hati, Aurelya tahu—hubungan antara dia dan Raksa baru saja masuk ke fase yang lebih rumit. Awal kerja sama yang aneh, tapi entah kenapa… terasa menarik. Setelah bubar, Aurelya dan Shafira berjalan pelan menuju gerbang. Matahari siang lumayan terik, bikin kepala tambah berat. “Rel, lo sadar nggak sih? Raksa tadi nggak pernah nge-‘iya iya’ aja. Dia detail banget kalo ngomong. Tapi justru itu yang bikin kelompok kita rapi,” kata Shafira sambil menggigit roti isi. Aurelya mendengus, tapi bibirnya masih menahan senyum kecil. “Detail apaan. Menyebalkan lebih tepatnya. Kayak semua orang harus nurut cara dia.” “Hmm…” Shafira menaikkan alis. “Tapi lo kagum kan?” Aurelya langsung menoleh dengan tatapan menusuk. “Apaan sih, Fir! Gue kagum apanya. Ih, jangan halu deh.” Namun dalam hati ia tak bisa menyangkal. Jari yang sempat bersentuhan tadi masih membekas aneh di pikirannya. Sore harinya, Aurelya baru sampai kosan. Ia membuka buku catatan yang tadi sempat diambil Raksa. Di sudut kertas, ia menemukan satu tulisan kecil dengan pulpen hitam yang bukan miliknya: “Data udah bagus, tinggal lo atur urutannya. Biar lebih gampang nanti. –R” Aurelya mematung. Tulisan itu rapi tapi tegas, mirip orangnya. Ia menggigit bibir, antara kesal karena berani-beraninya si cowok nulis di catatannya, sekaligus merasa… diperhatikan. “Kenapa sih, Raksa… lo bikin gue bingung,” gumam Aurelya, menutup buku dengan cepat seakan takut ketahuan oleh dirinya sendiri. Keesokan harinya, sebelum kelas dimulai, Raksa tiba-tiba duduk di bangku sebelahnya. Aurelya yang sedang menulis asal di buku hampir tersedak napasnya sendiri. “Eh—apa-apaan lo duduk di sini?” Raksa hanya mengeluarkan flashdisk kecil dan meletakkannya di meja Aurelya. “Tugas kelompok. Gue udah nyusun draft. Cek dulu, siapa tahu ada yang kurang.” Aurelya menatap flashdisk itu, lalu menatap Raksa. “Lo nggak bisa kasih ke Keira aja? Kan biasanya dia yang analisis.” “Gue mau lo yang baca dulu,” jawab Raksa datar. “Lo yang wawancara, jadi lo yang paling ngerti konteks jawabannya.” Aurelya terdiam. Untuk pertama kalinya, dia merasa diakui kontribusinya. Sementara Raksa sudah membuka buku dan menulis sesuatu lagi, seolah duduk di sebelah Aurelya bukan hal aneh sama sekali. Di sisi lain, Shafira yang baru masuk kelas nyaris menjerit kecil melihat pemandangan itu. Ia buru-buru duduk di belakang mereka, mengeluarkan HP, dan berbisik pada dirinya sendiri. “Ya ampun… fix. Ini awal drama kampus yang gue tunggu-tunggu!” Aurelya akhirnya menyerah. Dengan berat hati, ia colok flashdisk pemberian Raksa ke laptop pinjaman dari kampus. Raksa duduk di sampingnya, tubuhnya condong sedikit ke depan. “Ini gue udah susun ringkasannya,” ucap Raksa sambil menunjuk layar. “Liat bagian yang ini, sesuai nggak sama jawaban yang lo catet kemarin?” Aurelya menggulir halaman Word yang penuh tabel rapi. Sebenarnya, dalam hati dia kaget. Rapi banget, detail pula. Dia bener-bener niat. “Hmm… iya sih, bener. Cuma di bagian narasumber dua ini, kayaknya agak kelewat deh. Mereka ngomong soal kendala waktu, inget nggak?” Aurelya menunjuk ke layar. Raksa mengangguk pelan. “Iya, bener. Gue nggak masukin karena datanya setengah. Lo bisa tambahin sekarang?” Aurelya mengangguk cepat, lalu mulai mengetik. Tapi tiap kali ia mengetik, Raksa diam-diam memperhatikan dari samping. Jarak mereka begitu dekat, sampai Aurelya bisa mencium samar aaroma parfume dari baju Raksa. Deg. Deg. Deg. Ya ampun, Rel, fokus dong. Jangan sampe salah ngetik gara-gara deg-degan begini! “Eh… ini… udah bener belum?” Aurelya memberanikan diri menoleh. Tapi sialnya, di saat yang sama, Raksa juga menoleh. Mata mereka bertemu. Raksa menatap lurus, tenang, tapi tajam. Jarak wajah mereka cuma beberapa senti. Aurelya refleks langsung menahan napas. Pipinya memerah, jari-jarinya membeku di atas keyboard. Raksa seolah menyadari reaksi Aurelya, dan bukannya menjauh, dia malah sedikit mencondongkan wajah. Suaranya rendah. “Lo nervous, ya?” Aurelya langsung menutup mata rapat-rapat. Dalam kepalanya, panik. Astaga, jangan bilang dia mau— Hening sejenak. Tapi bukannya ciuman, Raksa hanya menunjuk layar laptop dengan jarinya yang ada di dekat Aurelya. “Ketik tambahan data di sini. Itu yang tadi lo bilang.” Aurelya membuka mata perlahan. Wajahnya merah padam. “Hah? Oh… iya… iya…” buru-burunya mengetik lagi, jantung masih nggak karuan. Raksa hanya menghela napas kecil, seolah nggak sadar efeknya. “Gitu aja panik. Fokus aja, Aurelya.” Aurelya menggertakkan giginya pelan, mencoba menutupi rasa malu. Gila, gue kira dia mau nyium gue tadi! Astaga, Rel, lo kenapa sih?! Sementara dari bangku belakang, Shafira yang diam-diam ngintip hampir meledak menahan tawa. “Ya Tuhan… ini kalo beneran jadi, gue sumpah bakal jadi saksi sejarah kampus.” Aurelya menutup laptopnya begitu selesai ngetik tambahan data. Ia mendorong kursi sedikit menjauh dari Raksa, lalu bersedekap dengan muka masam. “Lo tuh ya… kalau jelasin sesuatu jangan deket-deket gitu, bisa kali agak jauhan dikit,” omelnya, pura-pura jutek. Raksa mengerutkan alis, ekspresinya tetap datar. “Kenapa? Kan biar lebih gampang nunjukin.” “Gampang buat lo, bikin deg-degan buat orang lain,” gumam Aurelya pelan, tapi untungnya nyaris nggak terdengar. Raksa sempat menatap sebentar, lalu mengangguk singkat. “Oke. Lain kali gue jaga jarak.” Ucapannya tenang, tapi entah kenapa malah bikin Aurelya makin salah tingkah. “Yaudah, selesai kan? Gue pergi dulu,” tambah Raksa sebelum bangkit dan melangkah keluar kelas. Begitu punggungnya menghilang di balik pintu, Aurelya langsung menutup wajah dengan kedua tangan. Pipinya panas sekali. “Ya ampun… Rel, lo apaan sih tadi? Bete-betean segala, padahal dalem hati lo kayak—” Shafira tiba-tiba nongol dari belakang, nggak tahan lagi menahan tawa. Aurelya cepat-cepat menjawab ketus, “Apaan sih, Fir! Gue sebel aja kalau orang kelewat deket.” “Tapi senyum lo sekarang lebar banget, Rel. Jangan bohong deh.” Shafira menyeringai jail. Aurelya buru-buru meraih tasnya. “Udah ah, gue pulang dulu. Nanti kalau lama-lama ngobrol sama lo, bisa makin ke-gap.” Shafira ngakak. “Fix banget lo mulai kepancing, Rel. Fix banget.” Aurelya hanya bisa menunduk, berusaha menenangkan detak jantungnya yang masih kacau. Ia tahu, sebete apapun ekspresi yang dipasang, kenyataannya… dia seneng banget barusan.Tapi ada sesuatu yang kembali utuh. Kepercayaan. Dan Aurel tau, kalau ujian ini bisa mereka lewatin— yang lain, pelan-pelan, akan menyusul. Raksa tau itu juga. Dia cuma nggak pernah jago nunjukinnya. Pagi itu, Raksa duduk di motor lebih lama dari biasanya sebelum turun. Mesin udah mati, helm masih di kepala, tapi pikirannya belum sampai kampus. Kepalanya penuh—bukan sama tugas, bukan juga sama deadline. Tapi sama Aurel. Bukan versi Aurel yang galak. Bukan juga yang dingin. Versi Aurel yang berdiri di lorong kemarin, bilang dia takut… tapi tetap milih tinggal. Kenapa orang bisa seberani itu? pikir Raksa. Ngaku takut, tapi nggak pergi. Raksa nggak terbiasa dengan itu. Sejak kecil, dia belajar satu hal: kalau sesuatu mulai terasa penting, jarak adalah cara paling aman. Dan sekarang, jarak itu justru yang hampir bikin semuanya runtuh. Raksa buka helm, menghela napas panjang, lalu akhirnya turun. Di kelas, Aurel duduk di tempat biasa. Raksa ngeliatnya
Dan untuk pertama kalinya, Aurel nggak merasa sendirian di dalam diam. Perasaan itu nggak langsung meledak jadi bahagia berlebihan. Nggak ada senyum lebay atau langkah ringan yang dibuat-buat. Justru semuanya terasa… stabil. Kayak sesuatu yang akhirnya nemu tempatnya. Besoknya, Aurel bangun dengan kepala lebih tenang. Masih ada pikiran tentang Raksa. Masih ada deg-degan kecil. Tapi nggak lagi bikin sesak. Di kampus, hari berjalan normal. Terlalu normal, malah. Raksa datang telat hari itu. Aurel sadar tanpa perlu nengok jam. Bangku di sebelahnya kosong lebih lama dari biasanya. Sekilas, dadanya nyentak—bukan panik, tapi refleks. Tenang, batinnya. Dia nggak ke mana-mana. Raksa baru muncul menjelang kelas dimulai. Wajahnya sama seperti biasa, tapi langkahnya sedikit lebih cepat. Dia duduk tanpa banyak basa-basi. “Pagi,” ucapnya pelan. “Pagi,” balas Aurel. Singkat. Tapi cukup. Namun sepanjang kelas, Raksa lebih banyak diam. Lebih dari biasanya. Fokusnya ke depan, ke catat
Aurel cuma bisa bilang, “Thanks,” dengan muka yang nggak jelas antara malu dan senang. Pintu lift keburu nutup sebelum dia sempat mikir lebih jauh. Pantulan wajahnya di kaca lift keliatan asing—pipinya agak hangat, matanya terlalu hidup buat dibilang biasa. Dia menghembuskan napas pelan. Aneh, batinnya. Satu kata doang. Tapi rasanya panjang. Di perjalanan pulang, Aurel lebih banyak diam. Tangannya sibuk mainin ujung jaket, sementara pikirannya muter ke satu titik yang sama—cara Raksa manggil namanya barusan. Pelan. Nggak lebay. Tapi kena. Bukan karena kata-katanya. Tapi karena caranya peduli tanpa nanya terlalu jauh. Malam itu, Aurel susah tidur. Bukan karena ribut. Justru karena terlalu sunyi. Dan di dalam sunyi itu, ada perasaan baru yang pelan-pelan berdiri. Nggak nyelonong. Nggak maksa. Cuma… nunggu disadari. Besoknya, kampus terasa beda. Bukan kampusnya yang berubah. Tapi Aurel yang datang dengan langkah sedikit lebih ringan. Dia masih jadi Aurel yang sama—nggak
Pilihan yang, cepat atau lambat, bakal nyeret mereka ke perasaan yang udah dari awal mereka coba sembunyiin. Mulai dari situ… hubungan Aurel dan Raksa mulai keliatan jelas—setidaknya buat orang-orang yang cukup peka ngeliatin keduanya dari jauh. Termasuk beberapa orang yang lagi ada di halaman kampus sore itu. Angin sore lewat pelan, nyeret daun-daun kering yang belum sempat disapu petugas kampus. Aurel lagi jalan pelan menuju gedung kelas, masih keinget omongan Raksa tadi malam. Besok bareng. Kata sederhana, tapi di kepala Aurel rasanya kayak suara yang terus ngegema. Sampai-sampai dia nggak sadar ada suara yang nyapa dari belakang. “Aurel?” Aurel noleh cepat. Shafira. Dengan totebag penuh sticky notes warna-warni dan wajah ceria seperti biasa. “Eh… Fira,” jawab Aurel, sedikit kaku karena kepalanya masih penuh Raksa. Shafira senyum, tapi tatapannya ngamatin. Peka, seperti biasa. “Lo kayak habis mikirin sesuatu.” Aurel buru-buru geleng. “Nggak.” “Yaudah,” Shafira anggu
Aurel langsung buang pandang. Karena kalau dia lihat lebih lama, dia takut kelewat ngerti apa maksud Raksa sebenarnya. Raksa kemudian ngelangkah lagi, tapi lebih pelan, kayak nunggu Aurel otomatis jalan di sampingnya. Dan Aurel beneran ikut. Tanpa mikir. Kayak kaki mereka udah nyari satu sama lain. Beberapa langkah kemudian— tanpa sengaja— jari mereka bersentuhan lagi. Tipis. Cepat. Tapi kali ini… Raksa nggak langsung narik tangannya. Aurel juga nggak. Mereka sama-sama ngebiarin momen itu lewat, tapi diamnya ngomong lebih banyak dari seluruh percakapan hari ini. Aurel ngerasa aneh. Aneh yang hangat. Aneh yang… bikin hati deg-degan. Raksa ngerasa cemas kecil, tapi bukan cemas yang bikin mundur. Cemas yang bikin dia sadar kalau dia udah mulai kehilangan kendali. Dan semua itu— sentuhan kecil, langkah yang pelan, tatapan yang keburu ngaku sebelum kata-kata— adalah awal dari sesuatu yang mereka sendiri belum siap buat akui. Tapi udah terjadi. Mereka cuma belum bila
Mulai dari situ — pelan, nyaris nggak kerasa — sesuatu di antara mereka berubah. Tetap sunyi. Tetap kecil. Tapi hadir. Raksa jalan duluan, tapi bukan kayak biasa yang langkahnya mantap dan cuek. Kali ini dia kayak… nahan diri. Biar Aurel nggak keteteran, biar ritme mereka tetap sama. Aurel nggak komentar. Tapi detik itu juga, dia tahu: ada hal yang nggak bisa dia pura-purain nggak kerasa. Mereka melewati koridor kampus yang adem, lampu-lampu kuning lembut, dan suara langkah yang echo pelan. Dan entah kenapa, suasana itu malah bikin semuanya terasa lebih dekat. Lebih pribadi. Sampai akhirnya, dari arah yang berlawanan… seseorang muncul. Seseorang yang bikin langkah Raksa ngehentiin sepersekian detik. Dan bikin Aurel merasakan udara di sekitarnya berubah. Alden. Cowok yang terkenal supel, pinter ngomong, dan… suka ngasih perhatian ke Aurel sejak semester kemarin. Alden senyum duluan. “Eh, Aurel.” Nadanya ramah — yang kayak biasanya aja — tapi entah kenapa terdengar t







