Mag-log inPagi berikutnya, suasana kampus jauh lebih ramai. Mahasiswa baru berseliweran dengan map kuning di tangan, beberapa sibuk mencari kelas, sebagian lain asyik ngobrol membentuk kelompok.
Aurelya melangkah dengan wajah cemberut sambil menenteng botol minum. Ia masih kesal kalau mengingat kejadian kemarin di aula. “Nyebelin banget, sumpah. Baru ketemu udah bisa bikin emosi kayak gitu,” gumamnya pelan. Shafira yang berjalan di sampingnya cuma nyengir. “Rel, jangan bilang lo kepikiran terus gara-gara Raksa?” “Apaan sih, Fir! Nggak banget deh,” Aurelya menukas cepat, tapi pipinya memerah. Shafira sengaja menahan tawa. “Ya udah, gue diem. Tapi kalo lo ketemu dia lagi, jangan meledak-ledak kayak kemarin, ya. Malu diliatin anak satu angkatan.” Aurelya hanya mendengus dan melangkah lebih cepat. Namun, seolah semesta sengaja bercanda, dari arah berlawanan muncul Raksa. Dengan tas hitam tersampir di bahu, wajah datarnya tetap sama—tenang, dingin, seolah dunia nggak punya urusan penting untuknya. Tatapan Aurelya dan Raksa sempat bertabrakan. Sekejap, waktu seperti berhenti. Aurelya buru-buru memalingkan muka, tapi Raksa justru tetap menatapnya, matanya dalam, tenang, tanpa ekspresi berlebihan. “Rel…” Shafira berbisik, menahan geli. “Kayaknya lo baru aja ketahuan masih kepikiran.” Aurelya mendesis pelan. “Sssh!” Raksa melewati mereka tanpa suara. Tapi, sebelum benar-benar jauh, ia berhenti. Menoleh sedikit. “Aurelya.” Aurelya terkejut mendengar namanya disebut. “Apa lagi?” nadanya refleks naik. Raksa menatapnya dengan tatapan yang sulit ditebak. “Jadwal kelas lo... ada yang bentrok, kan? Kalau mau, nanti gue tunjukin cara baca sistemnya biar lebih gampang.” Shafira menutup mulutnya menahan tawa, jelas menikmati momen itu. Aurelya, di sisi lain, merasa tersulut. “Lo pikir gue nggak bisa?!” Raksa tidak berubah ekspresi sedikit pun. “Bukan gitu maksud gue. Gue cuma nawarin.” “Ya, gue nggak butuh ditolong.” Aurelya menyambar cepat, lalu berbalik melangkah pergi dengan langkah besar. Shafira menggeleng tak percaya sambil menepuk kening. “Rel, lo sadar nggak kalo tadi tuh cowok jarang banget nawarin bantuan ke siapa pun?” Aurelya berhenti sejenak, tapi tetap tak menoleh. “Biarlah. Gue nggak peduli.” Tapi di dalam hati kecilnya, Aurelya tahu—kalimat Raksa tadi menggema lebih lama dari yang ia harapkan. Sementara itu, Raksa menatap punggung Aurelya yang menjauh. Untuk pertama kalinya, ia sendiri bingung kenapa mulutnya gatal menawarkan bantuan, padahal biasanya ia paling malas terlibat. Ada sesuatu pada Aurelya. Sesuatu yang membuat sikap dinginnya tidak lagi cukup untuk menjaga jarak. Dan di sinilah api dan es mulai bersinggungan—saling memicu, saling menguji, tanpa mereka sadari sedang menyiapkan panggung untuk cerita yang lebih dalam. Aurelya masih kesal sendiri waktu masuk ke kelas. Ia duduk dengan wajah murung, sementara Shafira asik ngobrol sama teman-teman baru. Namun, ketenangan kelas nggak berlangsung lama ketika dosen pengampu masuk sambil membawa tumpukan kertas. “Selamat pagi. Karena kalian mahasiswa baru, saya ingin kalian langsung membiasakan diri dengan kerja kelompok. Minggu ini kita mulai dengan tugas observasi kecil. Saya sudah bentuk kelompoknya. Tidak ada tawar-menawar.” Seketika kelas gaduh. Beberapa mahasiswa bersorak karena sekelompok dengan teman dekatnya, tapi sebagian lain langsung mengeluh. Nama-nama pun dipanggil satu per satu. Aurelya menunduk, berdoa dalam hati supaya nggak sekelompok dengan orang yang paling bikin dia kesel. Tapi semesta lagi-lagi punya selera humor yang buruk. “Kelompok empat: Raksa Adityan, Aurelya Pramesthi, Shafira Arunika, Satya Narendra, dan Keira Maheswari.” Aurelya spontan mendongak. “Apa-apaan sih ini…” gumamnya kesal. Shafira justru sumringah. “Asik! Gue sekelompok sama lo, Rel. Eh… plus Raksa juga.” Ia sengaja menahan tawa. Raksa hanya mengangkat alis tipis tanpa komentar. Ekspresinya tetap datar, seolah pengumuman itu nggak berarti apa-apa. Setelah kelas selesai, mereka diminta untuk berkumpul sesuai kelompok. Aurelya berdiri dengan tangan terlipat di dada, jelas-jelas malas. Satya, si cowok kalem berkacamata, langsung mengambil inisiatif. “Oke, karena kita harus observasi di sekitar kampus, gimana kalau kita bagi peran biar cepat?” katanya tenang. “Setuju,” jawab Raksa singkat. Aurelya mendengus. “Yaudah, terserah. Gue ikut aja.” Satya menatapnya sebentar, lalu menuliskan nama di catatannya. “Aurelya, kamu bisa handle bagian wawancara. Shafira dokumentasi, Keira analisis, Raksa dan aku observasi lapangan.” Aurelya hampir protes, tapi Shafira langsung menepuk lengannya pelan. “Udah, Rel. Santai aja, kan bareng-bareng juga.” Raksa hanya melirik sekilas ke arah Aurelya, lalu kembali fokus pada catatan. Tapi entah kenapa, Aurelya merasa lirikan itu bikin jantungnya berdebar lebih cepat—bukan karena suka, tapi karena sebel. Atau mungkin… ada alasan lain yang belum mau ia akui. Mereka pun sepakat bertemu sore nanti untuk mulai observasi. Aurelya keluar kelas dengan langkah besar, diikuti Shafira yang masih sibuk menggoda. “Rel, serius deh, ini kesempatan emas. Lo bisa liat sisi lain Raksa.” “Gue nggak butuh liat sisi lain dia. Yang gue liat sekarang aja udah cukup ngeselin,” sahut Aurelya cepat. Tapi dalam hati kecilnya, ada rasa penasaran yang mulai tumbuh—apakah Raksa benar-benar cuma sekadar dingin, atau ada sesuatu yang lain di balik sikapnya itu? Dan sore nanti, saat mereka dipaksa bekerja sama, jawaban itu mulai sedikit demi sedikit terkuak. Sore itu, suasana kampus mulai sepi. Matahari condong ke barat, cahaya keemasan menimpa gedung-gedung dengan bayangan panjang. Di taman depan perpustakaan, kelompok empat sudah berkumpul. Satya langsung buka map berisi lembar tugas. “Oke, kita harus observasi interaksi mahasiswa di ruang publik. Gue sama Raksa fokus catat pola aktivitas, Aurelya handle wawancara singkat ke beberapa mahasiswa, Shafira foto-foto, dan Keira nanti analisis data.” “Fine,” jawab Aurelya malas. Ia bersandar di bangku, memainkan bolpoin di tangannya. Sementara itu, Raksa sudah berdiri agak jauh, memperhatikan sekitar dengan wajah serius. Tangannya sibuk menulis catatan cepat di kertas, matanya fokus penuh. Aurelya sempat melirik sekilas, berniat untuk mengabaikan. Tapi semakin lama ia perhatikan, semakin jelas terlihat kalau Raksa benar-benar serius. Caranya mengamati detail kecil, dari siapa yang duduk sendiri, siapa yang ngobrol berkelompok, sampai ritme interaksi mahasiswa di taman, semuanya dicatat rapi. “Rel, ayo mulai wawancara,” Shafira menyenggol bahunya. “Oh, iya.” Aurelya mendekati dua mahasiswi yang duduk sambil membaca buku. Ia bertanya beberapa hal, lalu kembali ke kelompok sambil mencatat jawaban mereka. Ketika Aurelya hendak duduk, ia melihat Raksa jongkok di dekat air mancur kecil, mencatat pola anak-anak yang lewat. Angin sore meniup rambutnya, membuatnya terlihat berbeda. Dingin, iya. Tapi kali ini dingin yang fokus, bukan dingin yang nyebelin. “Raksa,” panggil Satya. “Hm?” Raksa menjawab tanpa menoleh, tangannya masih sibuk menulis. “Detail banget lo nyatet.” Raksa mengangguk tipis. “Kalau observasi setengah-setengah, nanti hasilnya juga nggak valid.” Aurelya sempat tertegun. Ia nggak menyangka orang yang tadi pagi bikin darahnya mendidih bisa seserius itu kalau lagi belajar. Shafira yang duduk di samping Aurelya menyikut pelan. “Tuh kan… lo liat sendiri.” “Apaan sih…” Aurelya buru-buru menunduk, pura-pura menulis di kertasnya. Tapi matanya nggak berhenti melirik ke arah Raksa. Raksa berdiri lagi, berjalan ke arah mereka sambil merapikan kertas catatannya. “Aurelya, kalau bisa tambahin pertanyaan tentang alasan mereka pilih duduk di tempat tertentu. Itu bisa nyambung ke analisis Keira.” Aurelya sempat bengong. “Eh… iya.” “Nggak usah terlalu panjang, cukup dua sampai tiga pertanyaan tambahan.” Raksa berbicara datar, tapi matanya menatap lurus, serius. Untuk pertama kalinya, Aurelya merasa seperti bukan lagi berhadapan dengan cowok nyebelin, tapi partner yang bisa diandalkan. Di dalam hati, Aurelya mendesah pelan. Oke, mungkin gue agak salah sangka. Dia nggak selalu nyebelin… Tapi tentu saja, mulutnya tetap keras kepala. “Yaudah, gue usahain.” Raksa hanya mengangguk singkat sebelum kembali fokus ke catatannya. Dan Aurelya, tanpa bisa mencegah, mulai menatap punggung dingin itu dengan perasaan yang jauh lebih rumit dari sekadar benci. Satu jam lebih berlalu. Catatan di tangan Satya sudah hampir penuh, Shafira puas dengan hasil dokumentasi fotonya, dan Keira sudah siap menuliskan analisis sederhana. “Kayaknya cukup untuk hari ini,” ujar Satya sambil menutup mapnya. “Besok tinggal kita rangkum bareng-bareng.” Mereka semua sepakat, tapi belum ada yang benar-benar beranjak. Angin sore masih sejuk, bangku taman terasa nyaman, jadi kelompok itu memilih untuk duduk sebentar melepas lelah. Raksa duduk agak terpisah, membuka botol minum dan meneguk perlahan. Matanya masih menatap catatannya, seolah pikirannya belum berhenti bekerja. Aurelya tanpa sadar memperhatikan. Dia serius banget, ya. Bahkan setelah selesai pun masih mikirin detail tugas… pikirnya. Shafira, yang duduk tepat di samping Aurelya, langsung menyeringai nakal. Ia sengaja berbisik cukup keras untuk didengar. “Hm, keknya ada yang mulai jatuh cinta, nih…” Aurelya langsung menoleh cepat. “Hah?! Apaan sih lo, Fir!” serunya dengan nada tinggi. Keira dan Satya menoleh penasaran, tapi Shafira buru-buru menutup mulut sambil tertawa kecil. “Ups, nggak, nggak. Nggak usah heboh gitu dong. Gue cuma bilang, dari tadi ada yang matanya nggak bisa lepas dari Raksa.” Wajah Aurelya langsung panas. “Lo ngaco! Gue cuma… eh… cuma kaget aja liat dia ternyata bisa serius. Gue kira dia tuh nyebelin 24 jam, ternyata nggak.” Shafira semakin ngakak. “Nah, itu namanya bibit, Rel. Bibit-bibit cinta.” “Apaan sih!” Aurelya meraih botol minumnya dan pura-pura sibuk meneguk isinya, menutupi pipinya yang memerah. Sementara itu, Raksa yang duduk agak jauh ternyata sempat menoleh sebentar. Ia tidak menunjukkan reaksi apa pun, tapi ada sedikit tarikan di sudut bibirnya—senyum samar yang hampir tidak terlihat. Dan sore itu, tanpa ada yang benar-benar menyadari, benih kecil yang disebut Shafira memang mulai tumbuh.Tapi ada sesuatu yang kembali utuh. Kepercayaan. Dan Aurel tau, kalau ujian ini bisa mereka lewatin— yang lain, pelan-pelan, akan menyusul. Raksa tau itu juga. Dia cuma nggak pernah jago nunjukinnya. Pagi itu, Raksa duduk di motor lebih lama dari biasanya sebelum turun. Mesin udah mati, helm masih di kepala, tapi pikirannya belum sampai kampus. Kepalanya penuh—bukan sama tugas, bukan juga sama deadline. Tapi sama Aurel. Bukan versi Aurel yang galak. Bukan juga yang dingin. Versi Aurel yang berdiri di lorong kemarin, bilang dia takut… tapi tetap milih tinggal. Kenapa orang bisa seberani itu? pikir Raksa. Ngaku takut, tapi nggak pergi. Raksa nggak terbiasa dengan itu. Sejak kecil, dia belajar satu hal: kalau sesuatu mulai terasa penting, jarak adalah cara paling aman. Dan sekarang, jarak itu justru yang hampir bikin semuanya runtuh. Raksa buka helm, menghela napas panjang, lalu akhirnya turun. Di kelas, Aurel duduk di tempat biasa. Raksa ngeliatnya
Dan untuk pertama kalinya, Aurel nggak merasa sendirian di dalam diam. Perasaan itu nggak langsung meledak jadi bahagia berlebihan. Nggak ada senyum lebay atau langkah ringan yang dibuat-buat. Justru semuanya terasa… stabil. Kayak sesuatu yang akhirnya nemu tempatnya. Besoknya, Aurel bangun dengan kepala lebih tenang. Masih ada pikiran tentang Raksa. Masih ada deg-degan kecil. Tapi nggak lagi bikin sesak. Di kampus, hari berjalan normal. Terlalu normal, malah. Raksa datang telat hari itu. Aurel sadar tanpa perlu nengok jam. Bangku di sebelahnya kosong lebih lama dari biasanya. Sekilas, dadanya nyentak—bukan panik, tapi refleks. Tenang, batinnya. Dia nggak ke mana-mana. Raksa baru muncul menjelang kelas dimulai. Wajahnya sama seperti biasa, tapi langkahnya sedikit lebih cepat. Dia duduk tanpa banyak basa-basi. “Pagi,” ucapnya pelan. “Pagi,” balas Aurel. Singkat. Tapi cukup. Namun sepanjang kelas, Raksa lebih banyak diam. Lebih dari biasanya. Fokusnya ke depan, ke catat
Aurel cuma bisa bilang, “Thanks,” dengan muka yang nggak jelas antara malu dan senang. Pintu lift keburu nutup sebelum dia sempat mikir lebih jauh. Pantulan wajahnya di kaca lift keliatan asing—pipinya agak hangat, matanya terlalu hidup buat dibilang biasa. Dia menghembuskan napas pelan. Aneh, batinnya. Satu kata doang. Tapi rasanya panjang. Di perjalanan pulang, Aurel lebih banyak diam. Tangannya sibuk mainin ujung jaket, sementara pikirannya muter ke satu titik yang sama—cara Raksa manggil namanya barusan. Pelan. Nggak lebay. Tapi kena. Bukan karena kata-katanya. Tapi karena caranya peduli tanpa nanya terlalu jauh. Malam itu, Aurel susah tidur. Bukan karena ribut. Justru karena terlalu sunyi. Dan di dalam sunyi itu, ada perasaan baru yang pelan-pelan berdiri. Nggak nyelonong. Nggak maksa. Cuma… nunggu disadari. Besoknya, kampus terasa beda. Bukan kampusnya yang berubah. Tapi Aurel yang datang dengan langkah sedikit lebih ringan. Dia masih jadi Aurel yang sama—nggak
Pilihan yang, cepat atau lambat, bakal nyeret mereka ke perasaan yang udah dari awal mereka coba sembunyiin. Mulai dari situ… hubungan Aurel dan Raksa mulai keliatan jelas—setidaknya buat orang-orang yang cukup peka ngeliatin keduanya dari jauh. Termasuk beberapa orang yang lagi ada di halaman kampus sore itu. Angin sore lewat pelan, nyeret daun-daun kering yang belum sempat disapu petugas kampus. Aurel lagi jalan pelan menuju gedung kelas, masih keinget omongan Raksa tadi malam. Besok bareng. Kata sederhana, tapi di kepala Aurel rasanya kayak suara yang terus ngegema. Sampai-sampai dia nggak sadar ada suara yang nyapa dari belakang. “Aurel?” Aurel noleh cepat. Shafira. Dengan totebag penuh sticky notes warna-warni dan wajah ceria seperti biasa. “Eh… Fira,” jawab Aurel, sedikit kaku karena kepalanya masih penuh Raksa. Shafira senyum, tapi tatapannya ngamatin. Peka, seperti biasa. “Lo kayak habis mikirin sesuatu.” Aurel buru-buru geleng. “Nggak.” “Yaudah,” Shafira anggu
Aurel langsung buang pandang. Karena kalau dia lihat lebih lama, dia takut kelewat ngerti apa maksud Raksa sebenarnya. Raksa kemudian ngelangkah lagi, tapi lebih pelan, kayak nunggu Aurel otomatis jalan di sampingnya. Dan Aurel beneran ikut. Tanpa mikir. Kayak kaki mereka udah nyari satu sama lain. Beberapa langkah kemudian— tanpa sengaja— jari mereka bersentuhan lagi. Tipis. Cepat. Tapi kali ini… Raksa nggak langsung narik tangannya. Aurel juga nggak. Mereka sama-sama ngebiarin momen itu lewat, tapi diamnya ngomong lebih banyak dari seluruh percakapan hari ini. Aurel ngerasa aneh. Aneh yang hangat. Aneh yang… bikin hati deg-degan. Raksa ngerasa cemas kecil, tapi bukan cemas yang bikin mundur. Cemas yang bikin dia sadar kalau dia udah mulai kehilangan kendali. Dan semua itu— sentuhan kecil, langkah yang pelan, tatapan yang keburu ngaku sebelum kata-kata— adalah awal dari sesuatu yang mereka sendiri belum siap buat akui. Tapi udah terjadi. Mereka cuma belum bila
Mulai dari situ — pelan, nyaris nggak kerasa — sesuatu di antara mereka berubah. Tetap sunyi. Tetap kecil. Tapi hadir. Raksa jalan duluan, tapi bukan kayak biasa yang langkahnya mantap dan cuek. Kali ini dia kayak… nahan diri. Biar Aurel nggak keteteran, biar ritme mereka tetap sama. Aurel nggak komentar. Tapi detik itu juga, dia tahu: ada hal yang nggak bisa dia pura-purain nggak kerasa. Mereka melewati koridor kampus yang adem, lampu-lampu kuning lembut, dan suara langkah yang echo pelan. Dan entah kenapa, suasana itu malah bikin semuanya terasa lebih dekat. Lebih pribadi. Sampai akhirnya, dari arah yang berlawanan… seseorang muncul. Seseorang yang bikin langkah Raksa ngehentiin sepersekian detik. Dan bikin Aurel merasakan udara di sekitarnya berubah. Alden. Cowok yang terkenal supel, pinter ngomong, dan… suka ngasih perhatian ke Aurel sejak semester kemarin. Alden senyum duluan. “Eh, Aurel.” Nadanya ramah — yang kayak biasanya aja — tapi entah kenapa terdengar t







