INICIAR SESIÓNYudha tiba di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat.Begitu memasuki gedung pengadilan, ia langsung menuju ruang arsip untuk memeriksa berkas perkara yang pernah diputus setahun lalu.Di lorong, tanpa sengaja ia berpapasan dengan Hakim Fajar Nugroho.Melihat Yudha, hakim itu langsung tersenyum ramah dan mengulurkan tangan."Wah, Pengacara Yudha. Tumben datang ke pengadilan hari ini. Sedang menangani perkara baru?"Nama Yudha memang sedang menjadi perbincangan di kalangan praktisi hukum.Sejak mendirikan Kantor Hukum di Jakarta, ia berkali-kali memenangkan perkara besar yang dianggap mustahil. Reputasinya membuat banyak hakim, jaksa, maupun pengacara mengenalnya.Yudha menjabat tangannya sambil tersenyum tipis."Saya datang untuk mempelajari kembali berkas perkara lama.""Perkara apa? Siapa tahu saya masih ingat.""Kasus Tasya Andini. Siswi SMP Negeri 13 Jakarta yang meninggal setahun lalu. Putusan ak
Akhirnya, pihak SMP Negeri 13 mengeluarkan pernyataan resmi.Isinya langsung diunggah ke seluruh media sosial sekolah dan dikirim ke berbagai media massa.SMP Negeri 13:"Menanggapi beredarnya berbagai informasi mengenai meninggalnya siswi kami, Tasya Andini, yang terjadi satu tahun lalu, serta banyaknya pemberitaan yang tidak dapat dipertanggungjawabkan dan berpotensi mencemarkan nama baik sekolah, kami mengimbau masyarakat agar hanya mengacu pada keterangan resmi yang kami sampaikan.""Peristiwa tersebut terjadi pada bulan Oktober tahun lalu. Tasya Andini diduga melompat dari salah satu bangunan sekolah dan meninggal dunia di lokasi kejadian. Kami turut berduka cita sedalam-dalamnya atas kepergian salah satu siswi kami.""Selama bersekolah, Tasya Andini dikenal sebagai siswi yang baik. Kami pun tidak pernah menyangka ia mengambil keputusan tersebut.""Begitu kejadian diketahui, pihak sekolah segera menghubungi layanan darurat dan ambulans. Namun sayangnya,
Yudha melirik panel sistem yang hanya bisa dilihat olehnya.Dalam sekejap, layar transparan itu terbuka. Puluhan berkas, rekaman, hingga bukti-bukti yang selama ini tersembunyi langsung muncul di hadapannya.Setelah gagal mendapatkan jawaban dari Pak Ganang, Yudha mencoba menemui Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum.Namun hasilnya tetap sama."Agar tidak mengganggu kegiatan belajar mengajar, kami tidak bisa memberikan keterangan apa pun."Kalimat itu terdengar seperti sudah dihafal.Tak menyerah, Yudha kembali mencoba menemui Kepala Sekolah.Sayangnya, jawaban yang ia terima masih persis sama.Tak ada penjelasan.Tak ada dokumen.Tak ada satu pun pihak sekolah yang bersedia membuka kembali kasus kematian Tasya.Bisa dibilang, selama berada di SMP Negeri 13, Yudha tidak memperoleh bukti apa pun secara langsung.Namun dari beberapa siswa yang diam-diam berani berbicara, ia mulai melihat gambaran besar tentang bagaimana sekolah itu dija
Pak Ganang melempar lembar hasil ujian hingga menghantam wajah seorang siswa laki-laki. Belum sempat anak itu bereaksi, Pak Ganang yang sudah dikuasai amarah langsung menendang tubuh siswa kelas sembilan tersebut sampai terhuyung beberapa langkah ke belakang. Tubuhnya tinggi besar dengan sorot mata yang mengintimidasi. Di SMP Negeri 13, tak ada satu pun murid yang berani membantah atau membuatnya marah. Lagi pula, sekolah itu merupakan salah satu dari lima SMP paling bergengsi di kota, dengan prestasi akademik yang selalu dibanggakan. Pak Ganang memang sudah lama dikenal sebagai guru yang keras. Memarahi, menghukum, bahkan sesekali melakukan kekerasan fisik kepada murid dianggapnya sebagai cara mendidik. Baginya, semakin tinggi tingkat kelulusan kelas yang diampunya, semakin besar pula peluangnya mendapat kenaikan pangkat dan tunjangan. Siswa itu perlahan kembali ke dalam kelas. Dengan tangan gemetar, ia mengambil selembar kertas berisi surat pernyataan. "Saya berjanji tidak
Yudha dan Martiyus berbincang selama hampir dua jam. Dalam waktu itu, Yudha benar-benar memahami seluruh masalah dan situasi yang menimpa keluarga itu.Setelah selesai menjelaskan, Martiyus menyerahkan semua dokumen dan bukti yang ia miliki kepada Yudha.Yudha menatap berkas-berkas itu, lalu berkata dengan nada tenang, “Soal biaya jasa pengacara, tidak perlu sampai tiga ratus juta. Dua ratus juta saja sudah cukup. Tapi ada satu kesepakatan: jika kita memenangkan kasus ini, biaya proses persidangannya tidak perlu kamu bayarkan lagi.”Sebenarnya, untuk menyewa jasa pengacara, angka segitu memang tidak terlalu tinggi. Namun kasus ini berbeda dari biasanya.Ada dua peristiwa yang saling berkaitan!Pertama, kasus diduga bunuh diri yang menimpa Tasya Andini.Kedua, kasus yang menimpa ibunya, Imelda, yang mengalami perundungan secara daring hingga akhirnya ia pun mengakhiri hidupnya.Kedua kasus ini akan diurus sekaligus!Dan Yudha yakin ia sanggup menangani keduanya. Selain itu, kasus ini d
Di media sosial, topik yang paling ramai dibicarakan bukanlah gosip selebritas atau hiburan. Yang menduduki puncak trending justru kabar memilukan.Imelda, ibu dari Tasya Andini, nekat melompat dari sebuah gedung dan meninggal dunia.Keluarga yang dulu berjumlah tiga orang kini hanya menyisakan sang ayah, Martiyus.Usianya baru empat puluh enam tahun, tetapi hanya dalam semalam, seluruh rambutnya berubah putih.Sambil memegang foto istri dan putrinya, Martiyus menahan air mata. Di dalam hatinya hanya ada satu pertanyaan yang belum pernah terjawab.Apa yang sebenarnya terjadi pada putrinya?Video wawancaranya langsung meledak di media sosial.Yudha tercengang saat melihat berita itu."Apa yang sebenarnya terjadi?"Dia membuka topik yang sedang trending di TokTok, tetapi potongan-potongan informasi yang ada tidak cukup untuk membuatnya memahami keseluruhan kasus.Dalam video itu, Martiyus berkata dengan suara bergetar,"Setahun yang lalu, pu







