Mag-log inSuara Anara yang parau dan serius membuat Rey tidak bisa mencurigainya. "Baik, saya akan segera datang."Anara bisa sedikit lega setelah Rey memberi kabar akan datang. Sementara Zavi masih berada di ruang PICU (Pediatric Intensive Care Unit).***Rafi tidak bisa tenang saat tahu jika Zavi dibawa ke rumah sakit dan Rey bilang sempat kejang dan koma. "Kamu keterlaluan menghukum anak itu. Sejak awal kondisi fisik Zavi itu lemah, ditambah tekanan mental sedikit saja pastilah dia langsung drop," ucap Sarah tidak jauh berbeda dengan suaminya, dia juga merasa takut. Rafi duduk dengan napas gelisah. Sarah berdecak, dia tidak mau disalahkan sendirian. Kemarin saat makan bersama keluarga Dea, Zavi membuat keributan. Anak itu tidak terima jika ayahnya akan menikah dengan Dea, lalu terang-terangan berteriak dan mengatakan hanya wanita yang mendonorkan ginjal untuknya yang akan jadi mamanya. Zavi bahkan sempat tantrum, anak itu menggebrak meja. Meski tenaganya kecil, namun sikap arogan itu je
Anara mengusap wajah kecil yang pucat itu, memastikan kondisi Zavi. Bibir Zavi bergumam, namun tidak terdengar jelas suara yang keluar. Melihat tubuh kecil yang basah Anara membopongnya keluar dari kamar mandi. Anara panik, tapi mencoba tetap tenang dengan mengganti baju Zavi yang basah lebih dulu. Anak itu butuh rasa hangat dan nyaman. ***“Nara, mau dibawa ke mana Zavi? Kalau masih demam biarkan dia istirahat di sini dulu!” tegur Sarah yang melihat Anara menggendong Zavi. “Tubuhnya sudah sangat lemas, bagaimana mungkin dibiarkan, Zavi harus ke rumah sakit!” Anara bersikeras, dia sudah memakaikan Zavi baju yang kering dan hangat, dia ingin membawa anak itu. Dia bukan ibu kandungnya, tapi sifat protektif keibuan membuatnya tidak bisa hanya diam melihat anak sekecil Zavi dibiarkan. Kemarin saat Anara melihat Zavi terakhir anak itu masih baik dan sehat, tidak ada gejala demam atau pun sakit. Jadi kondisi Zavi saat ini membuat Anara tidak bisa tenang. “Kami punya dokter keluarga.”
Rey kebingungan dengan sikap putranya, padahal dia belum mengecek kondisi Zavi setelah terbangun. "Kata Dokter kondisi Zavi sudah membaik. Dia hanya perlu beristirahat lebih banyak. Kamu tidak usah cemas, Rey. Mungkin Zavi ingin sendirian sekarang," kata Sarah tidak ingin membuat Rey cemas. "Kamu bisa berangkat kerja." Rey bimbang, dia punya kerjaan penting hari ini, namun kondisi Zavi membuatnya was-was. Rey mengirim pesan untuk Anara menjemput Zavi lebih awal. Sudah hampir satu jam Rey membujuk anak itu, namun Zavi tidak luluh sama sekali. Pintu tertutup rapat tanpa ada suara yang menyahut. “Oke. Kak Nara akan datang jemput, nanti kamu bisa sarapan dengannya.” Rey menyerah. Akhirnya dia merayu dengan pura-pura pergi. Rey pikir Anara akan jadi orang terakhir yang paling Zavi tunggu kedatangannya. “Tidak mau,” tolak Zavi keras, suaranya melengking menembus pintu. Dia bahkan tidak mau meski diiming-imingi dengan bujukan Anara. “Zavi tidak mau makan–” Rey menari
“Makasih, Pak Rey,” ucap Anara dengan suara tertekan. Dia tidak bisa lagi percaya diri. Respon Rey benar-benar di luar dugaannya. Anara membungkuk, Rey masih menatapnya dengan senyum miring lalu menggelengkan kepalanya pelan. “Saya permisi, Pak Rey–” Anara menarik diri, niatnya ingin ke kamar karena tidak ada lagi yang perlu dia layani. Tapi saat melewati ruang tengah, dia melihat Kev yang datang. “Hai, Nara, kita bertemu lagi!” sapa Kev dengan senyum antusias. Dia mendekat, membuat Anara yang kepalang basah terlihat harus basa-basi menyapanya. “Pak Kev, cari Pak Rey? Dia sedang makan malam.” “Mmm–” Kev berdiri di hadapan Anara. “Tidak juga, niatnya kalau ada kamu sih, maunya ketemu kamu,” imbuhnya tanpa malu, ucapannya penuh gombal khas playboy. Kev memakai baju casual, wajahnya segar dengan rambut yang dibiarkan tertata agak semrawut, memiliki kesan muda dan natural. Anara tersenyum canggung, dia hendak pamit namun Kev terus berbasa-basi. “Kamu terlihat cantik, bahkan pakaia
Mata Henry nyalang, dia menatap putrinya dengan emosi yang hampir meledak. “Kalau memang sejak awal Anda tidak menyukai ibuku harusnya cerai setelah menikah! Kenapa harus ada anak kedua dan ketiga!” Anara berteriak, dadanya yang sesak rasanya tidak tahan lagi. Anara mengutuk ayahnya, andai boleh, Anara juga tidak mau punya ayah seperti Henry! Orang bilang cinta pertama anak perempuan adalah ayahnya, namun bagi Anara sebaliknya. Ayahnya adalah lelaki brengsek yang pertama kali mengajarkannya tentang patah hati. “Anara, kau, benar-benar–” Henry menunjuk wajah Anara dengan geram, hampir saja dia kembali melayangkan tangannya. Tapi istrinya, mencegah dan lebih dulu maju. “Nara, kamu bilang saya jalang? Kamu pikir siapa yang lebih jalang? Di usiamu yang masih muda ini, kamu bahkan bekerja di club malam. Jual diri kan?” tuduh Siska dengan senyum mencibir. “Apa? Nara bekerja di club malam?” Henry yang baru tahu terlihat kaget. Matanya melotot tajam. “Nara, apa itu benar?” Gigi Anara g
Anara berlari tergesa-gesa menuju ke tempat parkir setelah setelah turun dari taksi. “Kak Nara!” panggil Zavi yang sudah menunggu sejak tadi. Dia tersenyum senang, berbeda dengan wanita paruh baya di sebelah anak itu. “Hm, lama banget kamu ini. Saya sudah menunggu hampir setengah jam!” ketus Sarah melirik jam tangannya. “Maaf, Bu Sarah. Zavi mau dibawa ke mana? Apa saya harus mendampinginya?” Zavi sudah melendot pada Anara. Anak itu yang sejak tadi membuat Sarah terpaksa harus menunggu Anara karena tidak mau dibujuk. “Tidak perlu. Saya dan suami mau ada acara jadi bawa Zavi–”“Kalau begitu saya minta izin dulu ke Pak Rey.” Anara pamit untuk menelpon Rey lebih dulu, sekalipun Sarah orang tua Rey, namun Anara tidak mau mengambil resiko. Anara berjalan agak jauh hanya untuk mengkonfirmasi pada Rey. Dia sudah berusaha sebaik mungkin agar pekerjaannya lolos penilaian dan bisa mendapat gaji dua puluh juta sebulan. “Bu Sarah bilang mau bawa Zavi tanpa perlu saya ikut, Pak Rey, boleh k







