Share

Bab 3

Author: Ratu As
last update Last Updated: 2025-12-15 15:22:47

Rey tidak menjawab pertanyaan Anara, dia fokus pada lelaki yang tadi memukulkan botol minuman. 

Rey menatap lelaki itu dengan tajam, namun ditanggapi dengan tak acuh dan omelan tak jelas. 

“Pak Rey, dia mabuk karena tadi minum banyak. Sepertinya dia tidak sadar siapa Anda. Tapi tolong… maafkan teman saya ini,” kata pria lain yang kini gugup dan tidak menyangka dengan kehadiran Rey. “Saya yang akan memberinya pelajaran–” 

Rey tidak memperpanjang masalah, kedatangannya ke sana juga bukan untuk berdebat. Jadi dia memilih untuk mengabaikan hal tadi, masih ada hal yang lebih penting harus dia bahas. 

“Saya ada perlu dengannya–” Rey beralih menatap Anara yang memijit pelipisnya. 

“Pak Rey, Anda mencariku?”

Rey mengangguk lalu memintanya ikut keluar, tidak ada yang berani mencegah. Semua orang tahu jelas siapa Rey, mereka tidak mungkin berani menyinggung. 

Anara mengikuti langkah Rey dengan berjalan memegangi dinding. Perlahan, dia merasa banyak yang tidak beres. Selain kepalanya pusing, kakinya terasa lemas dan ada yang aneh dalam tubuhnya. 

‘Sialan, apa minuman tadi juga mengandung obat? Pantas saja aku mudah sekali mabuk,’ batin Anara berdecak. 

“Saya ingin membahas soal donor ginjal—” 

Langkah Rey terhenti tepat di dekat mobil, Anara yang tidak fokus tidak sadar dengan posisi hingga menubruk punggung Rey di depannya. 

“Eh, maaf, Pak Rey—”

Kalimat Anara terputus ketika kakinya tiba-tiba terasa seperti jelly. Gerakannya kacau, refleks kedua tangannya mencengkeram lengan Rey, dan tubuhnya menyender begitu saja di punggung lelaki itu. Dari luar, siapa pun pasti mengira dia sedang memeluk.

Rey tidak bereaksi berlebihan. Wajahnya tetap tenang, sorot matanya dingin namun waspada. 

Dia menurunkan pandangan, melihat lengannya yang Anara cengkeram. Jemari lentik itu kuat meremasnya seolah menekan kekuatan di sana karena tidak punya tenaga untuk berdiri. 

Anara tidak langsung menjawab, akalnya mungkin tinggal separuh. Hidungnya justru sibuk mengendus. Tanpa sadar, dia menikmati aroma maskulin dari parfum Rey—wanginya segar, dewasa, dan entah kenapa membuat dia semakin tidak terkendali. Namun di tengah pengaruh alkohol dan obat itu Anara tetap berusaha waras. 

Rey membalik badan dan memegang lengan Anara yang hampir jatuh saat tidak ditopang. 

Anara mendongak, pipinya memerah dengan tatapan sayu. Tangannya tidak mau berhenti, bahkan sekarang berani meraba-raba dada Rey. Rasanya begitu kekar dan bidang, badan seperti ini yang Anara mau. Dia mulai memiliki fantasi gila. 

“Atletis sekali, mm–” gumam Anara mulai meracau. Dia tersenyum-senyum tak jelas. 

Rey memerhatikan, dia tahu jelas jika saat ini Anara mabuk. 

“Apa yang kamu lakukan?” tanya Rey singkat, suaranya rendah dan terkendali. 

Gadis itu mungkin terkejut dengan suara Rey, namun detik berikutnya justru terpesona. Di telinganya, suara Rey terdengar serak dan sangat seksi. 

“Maaf–” Anara meringis kaku, dia mengepalkan tangannya agar tidak bersikap lancang lagi. “Pak Rey, aku tidak bisa mengendalikan tanganku.” 

“Kamu–” Rey menyipitkan mata, melihat kondisi Anara yang semakin buruk. 

“Pak Rey, kamu tampan sekali,” puji Anara ingin membelai wajah Rey, tapi dengan cepat tangannya kembali dicekal. 

“Kamu mabuk,” Rey menghela napas. Padahal dia ingin bicara serius untuk membahas soal donor ginjal, tapi kondisi Anara sangat tidak memungkinkan. 

Anara tidak lagi menyahut, dia malah sibuk menggesekkan dirinya ke tubuh Rey. Mencari kehangatan dan rasa nyaman. Wajahnya pun dia senderkan dan dia usap-usap ke dada Rey. 

Rey mulai merasa geli dan risih. Dia mendorong kepala gadis itu. “Berhenti bersikap tidak jelas. Kamu sedang memancing saya?”

Tidak ada jawaban, Anara melepaskan tangannya dari cekalan Rey dan ganti memeluknya erat-erat. Bahkan bibirnya tidak berhenti mengecup-ngecup. Dia sungguh berubah jadi gadis gila. 

“Ck!” Rey berdecak frustasi. Sepertinya tidak ada harapan Anara tersadar. 

“Pak Yanto, bantu saya–” Rey lalu memberi perintah pada supir untuk membantunya melepaskan Anara dan memasukkannya ke mobil. 

Anara dipaksa duduk di kursi penumpang mobil Rey. Gadis itu awalnya terlihat anteng dengan menyenderkan kepalanya ke pintu.

“Nara, saya ingin  membahas soal–” Rey ikut masuk ke mobilnya. Duduk di kursi bersebelahan dengan Anara, namun saat dia melihatnya, tangan Anara sedang bergerak liar, meraba leher, dada, perut, dan hampir menyingkap roknya. 

Rey melotot kaget, detik berikutnya buru-buru Rey mencekal tangan gadis itu. 

“Lepas–” Anara berontak. “Pak Rey, cium aku!” pintanya tanpa malu memajukan bibir.

Rey yang berusaha menghindar sampai kepalanya terbentur-bentur. 

“Pak Rey, Anda butuh bantuan?” Supir yang tadi sudah duduk di kursi kemudi hendak keluar namun Rey mencegahnya. 

“Jalan  saja, Pak. Saya bisa mengatasinya.”

Rey yang tidak nyaman melihat gadis itu bergerak seperti cacing kepanasan langsung mengamankannya. Dia memasangkan seat belt, lalu mengikat kaki dan tangan Anara. Bibirnya yang terus menjilat tak jelas juga Rey jajali dengan permen. 

“Mmmh–” Anara tidak bisa lagi berontak. 

Dia menatap Rey dengan mata berkaca-kaca penuh harap, namun Rey membalasnya dengan senyum mencibir dan napas lega. 

“Lebih baik kamu tidur,” kata Rey, menepukkan tangannya yang sudah sukses mengikat tangan dan kaki Anara dengan ikatan seadanya. 

Sekarang Rey bisa duduk dengan tenang. Dia bahkan menyumpal telinganya dengan earbuds dan mendengarkan musik, tidak lagi peduli dengan gadis di sampingnya yang sudah persis seperti korban penculikan. 

“Kita pulang saja,” titah Rey pada supir yang tadi bertanya hendak membawa Anara ke mana. “Dia bisa menginap di rumah–”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Siasat Menggoda Duda Kaya   Bab 73

    Rey berdeham, sedangkan Kev lebih terang-terangan. "Erik, kalau kamu memutuskan untuk mengejar Anara sepertinya harus menjauhi Pak Henry dan keluarganya.""Memang kenapa?" Erik kebingungan karena saat acara pelelangan itu dia sendiri yang tidak ikut. Rey mengendikkan bahunya saat Erik menoleh ke arahnya. Dia yang paling diam dan enggan menjelaskan apa pun, meski Rey tahu lebih banyak dari siapa pun. "Aku tidak tahu ada masalah apa di antara mereka. Tapi sepertinya hubungan Anara dengan keluarga Pak Henry tidak cukup baik," jelas Kev. Mereka masih berdiri bersama saat Anara berjalan ke arah Zavi lalu melihat Mia yang datang dengan keluarganya termasuk Henry. "Kamu?" Henry melihat Anara saat jalan melewatinya, mungkin tatapannya pada Anara terkesan heran. Bagaimana Anara bisa datang ke acara kamu elite seperti ini?"Apa kamu datang dengan lelaki yang waktu itu?" Maksud Henry jelas Kev, lelaki yang mendampingi Anara saat di pelelangan. Anara tersenyum miring. "Dengan siapa aku data

  • Siasat Menggoda Duda Kaya   Bab 72

    Rey menegur, wajahnya yang kaku dan dingin membuat tiga wanita itu berhenti. "Rey?" Dea langsung mengadu. "Ibunya Adel dan adiknya itu main kasar, mereka tidak hanya memaki tapi juga menamparku!" "Kamu lebih dulu menyulut emosi kami. Kamu sengaja memprovokasi!" tuduh Erina dengan ekspresi kesal. Rey berdeham. "Sudahlah, kalian kalau mau ribut bisa lanjutkan nati kalau acaranya sudah selesai. Jangan membuat acara yang sudah Pak Rafi buat jadi berantakan," katanya tenang. Rey lalu menatap Dea untuk segera beranjak dan mengikutinya. "Ish!" Dea melirik kesal pada Erina sambil berlalu pergi membuntut Rey. Sementara Erina dan Sisi berlalu ke toilet untuk merapikan lagi penampilan mereka. ***"Mereka sangat menyebalkan, Rey! Kalau bukan aku, siapa yang tahan berada di sisimu?! Mantan mertua dan adik iparmu selalu saja ikut campur!" Rey terkekeh pelan. "Kamu yang paling berani. Tapi pipimu tidak apa-apa kan?"Rey menyingkirkan rambut poni Dea, melihat sekilas pipi yang sebelumnya dita

  • Siasat Menggoda Duda Kaya   Bab 71

    Anara berdeham. Dia hanya sedang mencoba gaun itu, bukan berarti berniat memakainya. "Aku akan cari gaun yang lain, tenang saja. Masih ada waktu, aku--""Tidak perlu. Kemarin Zavi sudah memilihkannya untukmu. Kamu bisa ambil di kamarku," kata Rey yang kemudian kembali menjauh dan melangkah mundur.Lelaki itu lebih dulu keluar saat Anara masih mematung. Zavi sudah memilihkan gaun untuknya? Rasa penasaran Anara melonjak, buru-buru dia letakan gaun dari Erik itu dan bergegas ke kamar Rey. ***Anara mengetuk pintu beberapa kali, namun tidak ada sahutan. Dia pikir Rey tidak ada di dalam, Anara berniat tetap masuk karena sebelumnya Rey bilang Anara bisa mengambil gaun itu di kamarnya. "Kenapa, Dea? Ya, nanti malam aku akan menjemputmu." Suara Rey terdengar ketika Anara sudah membuka pintunya. Ternyata lelaki itu sedang berdiri di dekat jendela dan bertelepon. "Tidak masalah. Tenang saja," kata Rey masih memegang ponsel di dekat telinganya. Dia berbalik dan mendapati Anara mematung di

  • Siasat Menggoda Duda Kaya   Bab 70

    Zavi tersenyum, dia mendorong kotak itu masuk dengan dibantu Anara. Sementara Rey tidak ikut ke rumah. Dia langsung kembali ke kantor setelah mengantar Zavi. "Ini kado untuk Mama dan adek bayi!" kata Zavi yang membuat Anara tertegun. "Adek bayi?" Zavi mengangguk ceria. "Ya, kata Ayah, Mama sedang hamil. Iya kan?""Ayahmu yang kasih tahu kalau Mama hamil?" Zavi mengangguk lagi, dia lihat ekspresi Anara yang tampak tidak menyangka dan haru. Jelas saja Anara kehabisan kata-kata, dia senang juga masih bingung dengan keadaan. Rey memberi tahu Zavi kalau dia hamil? Itu berarti Rey memang benar-benar tidak keberatan. "Mama, kenapa menangis? Ayo buka!" Zavi melihat air mata mamanya yang menetes. Anara mengusap pipinya lalu tersenyum. "Perasaan ibu hamil memang sangat sensitif, Mama sangat terharu. Kamu dan Ayah baik sekali. Makasih ya?" Anara meraih tubuh kecil Zavi lalu memeluknya erat. "Mama tenang saja, Nanti Zavi akan selalu jagain Mama sama Adek! Zavi bakal jadi kakak yang kuat

  • Siasat Menggoda Duda Kaya   Bab 69

    Ekspresi terkejut Zavi sangat lucu, Rey terkekeh pelan karenanya. Bahkan bibir kecil Zavi sampai ternganga lebar. "Benar." Rey mengangguk. "Apa kamu senang?" Mata Zavi yang jernih mulai berkaca-kaca, mungkin menahan haru. "Zavi bakal punya adek? Tentu saja senang! Sangat senang! Kakek buyut juga pasti akan sangat senang!" Heboh anak itu sampai ingin meloncat-loncat. Rey terduduk mengamati euforia putranya, setelah Zavi tenang barulah dia mengajak Zavi keluar dari mobil. "Kok, berhenti di sini, Yah? Mau ke mana?" Zavi mengamati sekitar, dia berada di tempat parkir sebuah butik. "Katanya kamu dan Mama mau pergi ke acara Kakek Rafi? Harus persiapan kan? Zavi boleh pilih gaun yang cocok untuk Mama.""Wah, beneran? Hari ini Ayah baik banget!" Senyum Zavi terus mengembang. Anak itu berjalan masuk dengan digandenh ayahnya. Di dalam, ada banya gaun yang cantik-cantik, namun Zavi dan Rey kurang bisa memilih. Keduanya saling pandang. "Ayah, apa warna baju yang Mama suka?" "Bukankah ha

  • Siasat Menggoda Duda Kaya   Bab 68

    Anara mengigit bibir bawahnya lalu menggeleng pelan. Dia semakin menunduk dalam, mungkin bukan hanya karena merasa bodoh tapi juga menyesal. "Tidak tahu?" Suara Rey sedikit menekan. "Ini semua kesalahanku, aku ... aku pernah menjalin hubungan one night stand dengan lelaki asing," jelas Anara dengan suara yang ragu. Dia tidak mungkin jujur pada Rey kalau dia jual diri demi uang. Bukan hanya malu, Anara mungkin takut Rey berpikir semakin rendah tentang dirinya. Rey memalingkan wajahnya, ekspresinya sedikit buruk saat melihat wajah bodoh Anara. "Kamu sama sekali tidak ingat tentangnya?" "Bukan, bukan begitu!" Anara menggerakkan tangannya, dia kembali gugup karena bingung harus menjelaskan bagaimana. "Saat kami berhubungan aku sama sekali tidak melihat jelas wajahnya. Aku tidak tahu apa pun tentangnya. Jadi aku tidak bisa meminta dia bertanggung jawab!" Anara pikir Rey akan meminta Anara untuk meminta pertanggungjawaban lelaki itu, dia pun panik. Awalnya Anara merasa bisa men

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status