MasukSetelah meminum obat dari Rey, Anara tertidur selama beberapa jam.
Dia terbangun dengan kaget dan linglung. Dipikirnya dia ketiduran di club, namun saat otaknya mengingat kembali satu per satu yang dia lewati semalam, Anara pun berdecak frustasi. “Astaga, apa yang sudah kulakuan–” Anara baru teringat sudah bertindak tak sopan pada Rey. Dia begitu berani ingin mencium, bahkan memeluk dan meraba-raba dada lelaki itu. Sungguh biadab, untung Rey tahu Anara sedang dalam kondisi mabuk. Kalau tidak, bisa kena pasal pelecehan! Anara memindai sekeliling, dia berada di kamar mewah yang asing, namun dia bisa menembak jika itu bukan kamar hotel tapi mungkin rumah Rey. Anara melihat jam yang menunjuk pukul setengah empat, di luar masih gelap. Namun Anara tidak bisa kembali tidur. Kepalanya masih sedikit pusing tapi tidak terlalu parah, dia memilih ke kamar mandi dan membersihkan diri agar lebih segar. *** Saat keluar kamar, Anara mendengar suara anak menangis dan meracau lalu suara Rey yang sedang menenangkan. Anara mendongak, melihat ke arah tangga di mana Rey sedang berjalan sambil menggendong Zavi yang terbangun. “Suuut, tidak apa-apa. Ada Ayah–” Rey coba menenangkan anaknya yang menangis sambil menyandarkan dagunya di pundak Rey. Anara mendekat, dia menunggu tepat di bawah tangga. “Dia terbangun? Ini masih jam empat pagi–” “Dia sering begini,” jawab Rey yang membuat tangis Zavi makin keras karena tidak suka ada yang bicara. Anak itu terus terisak-isak namun tidak ada satu pun kata yang dia ucapkan. Rey menggendong sambil menepuk-nepuk punggung anak itu pelan. “Apa aku boleh menggendongnya?” Anara mengulurkan tangan, secara naluriah sebagai seorang wanita, dia mungkin tergugah ingin menenangkan anak itu. Rey ragu, tapi saat Anara coba memegang tangan anak itu, Zavi tidak menolak. Pelan-pelan Rey memindahkan Zavi dalam dekapan Anara. Tubuh Zavi terbilang kecil dan kurus, tidak sulit untuk digendong meski sudah lima tahun. Zavi menggeliat, dia kembali meraung ingin lepas, namun Anara erat memeganginya agar tidak jatuh lalu membisikinya pelan. “Sayang, ayo tidur lagi. Kamu enggak sendiri, aku temenin kamu tidur ya–” ucapnya pelan dan lembut. Tangan Anara juga mengusap-usap kepala Zavi. Zavi yang tadi memberontak ingin turun, kini melemaskan tubuhnya dalam gendongan Anara. Meski masih terisak, dia tidak menolaknya. Anara berjalan mondar-mandir hanya untuk membuat Zavi kembali tertidur dalam gendongan karena nyanyiannya. Sejak tadi, Rey masih di sana. Dia duduk di sofa sambil mengamati dan mendengar lagu penghantar tidur yang Anara nyanyikan. Suaranya memang merdu, terdengar halus juga lembut. Anara berhasil menidurkan Zavi kembali. Anak itu pulas dan nyaman dalam dekapannya. “Pak Rey, di mana kamar Zavi?” tanya Anara dengan suara pelan, namun Rey terlihat masih melamun. “Pak Rey—” ulangnya yang membuat Rey terkejut, dia menatap Anara dan buru-buru berdeham. “Apa yang kamu butuhkan?” tanyanya sedikit gugup. Anara tersenyum tipis. “Di mana kamar Zavi? Aku akan membaringkannya.” Rey segera bangkit. “Ada di atas.” Rey menunjuk ke arah tangga. “Mari saya tunjukkan.” Anara membuntut langkah Rey ke lantai dua. Kamar Zavi berada tepat di samping kamar ayahnya. Biasanya anak itu tidur sendiri meski ada babysitter yang menjaganya. “Pak Rey, soal semalam… aku minta maaf,” ucap Anara di tengah langkahnya. Dia merasa sangat tidak enak hati. “Lupakan saja, saya tahu kamu mabuk.” Rey seolah enggan membahasnya lagi. Anara pun tersenyum lega. Anara membungkukkan badan untuk menurunkan Zavi ke kasur, namun tangan mungilnya justru memeluk leher Anara erat-erat seakan enggan melepas. Rey yang melihat respon anaknya, merasa kasihan. “Kamu bisa temani dia tidur? Toh, sebentar lagi pagi–” Permintaan Rey, sesuai apa yang Anara rasakan. Dia juga tidak ingin memaksa Zavi melepaskan tangannya dan ingin menemani anak itu tidur. “Baiklah, tidak masalah. Aku akan berjaga di sini,” ujar Anara tidak keberatan. Dia ikut naik ke ranjang lalu tidur di sebelah Zavi yang masih terus memeluknya seperti anak monyet yang menempel dalam gendongan induknya. “Tidur lagi ya, Sayang–” bisik Anara sambil memiringkan badannya dan menepuk-nepuk pelan pundak anak itu. Zavi terlelap, dia merasakan kehangatan dan rasa nyaman yang sebelumnya tidak pernah dia rasakan. Sementara Anara pun kembali ikut tidur. Meski bar-bar begitu, dia punya sisi keibuan, dan tahu bagaimana caranya memperlakukan anak kecil karena dia punya beberapa adik. Rey tidak keberatan, dia biarkan putranya tidur dengan wanita penghibur itu. Mungkin kedekatan mereka untuk beberapa saat ini akan baik untuk keberlangsungan operasi yang akan segera dilakukan. Ginjal Anara cocok untuk Zavi. *** Zavi menggeliat, tangan kecil yang tadi memeluk Anara erat-erat kini terlepas. Anak itu mengerjap, ketika menyadari siapa yang tidur di sampingnya, mata bulatnya terpaku. Anak itu menatap Anara lekat-lekat namun tidak bicara apa pun. Dia diam dengan sikap yang tenang, meski samar-samar ingat dengan kejadian semalam di mana dia menangis dan digendong Anara. “Mmm, kamu sudah bangun?” tanya Anara lembut, dia membuka mata dengan senyum hangat. Sikap Zavi yang diam saja sambil menatap Anara membuat gadis itu terkekeh. “Kenapa? Kamu bingung kenapa aku tidur di sini? Tadi waktu kamu kebangun kan Kakak yang gendong, loh,” kata Anara setengah meledek. “Kamu yang menahanku untuk tetap di sini. Jadi aku temani kamu tidur.” Anara menjelaskan dengan sikapnya yang selalu riang. “Benarkah? Kurasa bukan aku, tapi Kak Nara yang sengaja ingin tidur di kasur empukku kan? Buktinya tangan Kak Nara terus memelukku,” elak Zavi dengan sikapnya yang tak acuh. Anara tidak kesal, dia malah tertawa kecil dengan sikap dan jawaban anak itu. Menggemaskan. Memang mulutnya pedas, tapi wajahnya terlalu imut untuk dimarahi. “Oh astaga, bocah ini pintar sekali–” Tangan Anara memang masih berada di pinggang kecil Zavi. “Kamu lucu, Kakak suka.” Bukannya tersinggung dengan sikap jual mahal Zavi, Anara semakin suka meledeknya. Dia bahkan sengaja mengeratkan pelukan dan menempelkan tubuhnya, lalu mengusap-usap hidungnya ke pipi Zavi. Anak itu kegelian, namun tidak marah. Tanpa sadar, justru Zavi tertawa kecil. Tawa yang membuat lelaki di ambang pintu merasa kaget. Sudah sangat lama, Rey tidak pernah melihat putranya tertawa ceria bersama orang lain. Dia pikir putranya yang genius itu kehilangan kemampuan untuk bermanja dan bersikap layaknya anak-anak. Ehem! Rey berdeham, mengagetkan keduanya yang tadi masih asyik bercanda dan saling gelitik. “Pak Rey?” “Ayah?” Wajah Zavi yang semula tertawa kini kembali datar. “Kak Nara sangat kekanakan. Pagi-pagi sudah berulah. Wanita memang banyak tingkah.” Bibir Anara sampai terbuka lebar begitu mendengar ucapan sok dewasa dari anak di sebelahnya. Tadi Zavi begitu riang bercanda bersamanya, kini sikapnya berubah begitu cepat. “Hm, oh ya? Tapi Ayah lihat kamu suka bercanda dengannya–” Rey bersedekap di pintu, menatap putranya dengan senyum geli. “Tidak, mana mungkin–” Anak itu turun dari ranjang. “Aku ingin mandi–” Dengan sangat mandiri Zavi berjalan ke kamar mandi. Dia sengaja menghindar hanya untuk menutupi rasa malunya. Rey melihat Anara yang masih bengong di atas ranjang. Sorot matanya terus mengikuti ke mana bocah itu pergi. “Zavi jarang bersikap hangat dengan orang lain. Jangan tersinggung, begitu memang sifatnya–” Rey bicara sambil membenarkan kacamatanya. Terdengar seperti orang tua yang tidak enak hati dengan sikap putranya. Atau seseorang yang coba menjelaskan agar gadis itu tidak terlalu banyak berpikir.Salma mengangguk dengan sisa rasa bersalah yang masih membekas di wajahnya. "Benar, dia ada di lantai atas, di ruang privat..." "Aku akan mencarinya," tegas Rey sembari bangkit berdiri secara refleks. Sebelum benar-benar melangkah pergi, dia menyempatkan diri berpamitan dengan raut wajah yang sangat serius. "Ibu, saya sungguh tulus terhadap putri Ibu. Saya dan anak saya sangat mencintainya. Tolong... beri kami restu," pinta Rey sungguh-sungguh. Kali ini, Salma tidak bisa menahan senyum tipisnya. Dia melihat binar ketulusan yang murni di mata pria itu. "Baiklah, Nak Rey. Karena pernikahan itu sudah terjadi, Ibu juga tidak mungkin meminta kalian berpisah. Ibu hanya bisa berdoa semoga kebahagiaan selalu menyertai rumah tangga kalian." "Terima kasih, Bu," Rey bernapas lega. "Sekali lagi, saya minta maaf." Setelah kembali berpamitan, Rey melangkah cepat menuju lift. Pikirannya berkecamuk, dia harus segera menemui Anara sebelum istrinya itu benar-benar ditaksir oleh lelaki lain.
Salma terlonjak kaget. Dia mengusap pipinya yang terasa panas dan mulai membiru akibat hantaman yang begitu mendadak. Dengan napas yang masih tersengal, dia menatap dua wanita di hadapannya dengan penuh tanda tanya."Apa maksud kalian?" Salma menatap bingung. Dia merasa tidak memiliki masalah apa pun dengan mereka. Terlebih, dia sudah lama tidak bertemu dengan Henry. Seharusnya Sophie tidak punya alasan untuk bersikap sekasar ini padanya.Sarah dan Sophie hanya melempar senyum sinis. Satu tamparan tentu belum cukup untuk melampiaskan amarah yang sedari tadi mereka bendung. Keduanya sama-sama geram oleh ulah Anara, namun mereka memilih memberikan pelajaran kepada Salma sebagai ibu kandungnya.Sarah, yang sudah terhasut oleh provokasi Sophie, tidak perlu berpikir panjang saat diajak melabrak Salma. Dia memiliki tujuan yang sama--mencari pelampiasan. Gara-gara Anara, suaminya sempat mendekam di penjara. Meski sekarang sudah bebas, karier suaminya hancur berantakan. Terlebih lagi, pu
"Sepertinya kamu sangat menikmati berita di internet akhir-akhir ini?" tegur Rey. Pria itu berdiri di dekat sofa sambil menenggak minuman dingin, matanya memperhatikan Anara yang tampak begitu santai memainkan ponsel dengan senyum puas yang tak tertutupi.Anara berdeham kecil. Dia mendongak, menatap Rey dengan binar kemenangan di matanya."Tentu saja. Anda sudah lihat beritanya, kan, Pak Rey? Saudara tirimu diserang habis-habisan oleh Mia. Sekarang dia kritis, dan Mia... gadis kebanggaan itu kini terancam mendekam di penjara. Sebenarnya aku tidak senang dengan musibah yang Aldo alami, hanya saja--""Dia juga pantas mendapatkannya. Kalau Mia dan Alex masuk penjara karena saling serang, mati akan lebih baik untuk manusia seperti Aldo," jawab Rey enteng.Dia terkekeh pelan. Berita tentang Aldo yang kritis dan Mia yang hancur sama sekali tidak mengusik ketenangannya. Sebaliknya, dia justru merasa terhibur melihat sisi lain istrinya yang ternyata cukup berbahaya."Pak Rey, apa kamu tah
"Zavi, apa kamu sedang membujuk Mama?" Anara tersenyum geli. Dia membungkukkan badan, lalu mencubit pelan pipi Zavi yang tembam."Nara, pada Zavi kamu mudah sekali luluh," suara bariton Rey tiba-tiba terdengar di dekat mereka. Pria itu menatap Anara dengan intensitas yang sulit diartikan. "Tapi kenapa padaku, tidak?""Zavi terlalu manis. Kalau Pak Rey?" Anara tersenyum miring, seolah sedang bercanda, padahal dia sedang melemparkan sindiran tajam."Ayah! Kenapa Ayah datang menjemput?" tanya Zavi riang, memecah ketegangan di antara kedua orang tuanya.Rey mengalihkan perhatian sejenak dari Anara. "Kebetulan tadi Ayah ada pekerjaan di sekitar sini. Kalian mau langsung pulang? Ayo, ikut mobil Ayah saja," ajak Rey tanpa ragu.Dia berjalan di samping Anara. Saat tangan Rey hendak meraih dan menggenggam jemari wanita itu, Anara dengan sigap menarik tangannya menjauh. Namun, refleks Rey tak kalah cepat. Gagal mendapatkan tangan, dia justru merengkuh pinggang Anara dengan posesif.Rey m
Foto-foto yang tercecer itu menunjukkan sisi gelap yang tak pernah mereka bayangkan sebelumnya. Bukan hanya Mia, kedua orang tuanya pun membeku di tempat dengan napas tertahan."Mia, apa yang sebenarnya terjadi?! Ini pasti foto editan, kan?" Henry bertanya dengan suara yang mulai meninggi, mencoba menyangkal kenyataan pahit yang terpampang di depan matanya.Mia hanya bisa tergagap. Lidahnya seolah lumpuh. Dia sendiri masih tidak percaya melihat kekasihnya, Aldo, tertangkap kamera dalam pose mesra bersama seorang lelaki."Mereka... bermain api? Astaga, apa Aldo sungguh seorang penyuka sesama jenis?" Sophie melotot, otaknya seolah sulit memproses pemandangan itu. "Mia! Selama ini hubungan kalian normal, kan? Tidak ada yang aneh dari perilaku Aldo selama ini?!"Sophie terus mendesak, menuntut penjelasan yang bahkan Mia sendiri tidak tahu jawabannya. Mia akhirnya ambruk, terduduk lemas di lantai sambil kembali menangis frustrasi. "Aku akan menanyakannya... aku harus tahu langsung d
"Anara, aku tahu kamu belum tidur--"Anara menarik napas panjang lalu mengembuskannya dengan kasar. Dia menyentak tangan Rey yang melingkar di pinggangnya sejak tadi, menciptakan jarak yang dingin di antara mereka."Untuk apa aku marah?" Anara mengubah posisinya menghadap Rey, memaksakan sebuah senyum yang jelas-jelas terlihat rapuh."Aku dan Adel tidak punya hubungan apa pun. Kami hanya sebatas orang tua untuk Zavi," jelas Rey berusaha membela diri."Kalau begitu, kita sama," potong Anara cepat. Dia tidak habis pikir dengan jalan pikiran pria di hadapannya ini. Jika Rey memang menganggapnya istri, bukankah seharusnya ada keterbukaan? Namun sejak awal, Rey tidak pernah melakukan itu. "Kita juga hanya sebatas orang tua untuk Zavi.""Maksudmu?" Kening Rey berkerut. Ekspresinya masih tampak datar, namun ada kilat kegelisahan di matanya.Anara kembali berbaring telentang, menatap langit-langit kamar. "Sejak awal kita menikah karena Zavi, bukan? Bukan pernikahan seperti orang lain
Acara berlanjut hingga selesai dengan lancar. Zavi tampak sangat bahagia, begitu pun Anara yang merasa puas melihat segalanya berjalan sesuai rencana.Tepat di akhir acara saat Anara dan Zavi hendak melangkah keluar gedung, sosok Adel tiba-tiba muncul. Dia tidak datang sendiri, seorang anak perempu
"Yaps. Aku orang pertama yang akan menyuruh mereka bercerai kalau sampai Rey macam-macam pada Anara," sahut Erik tanpa keraguan sedikit pun.Kev hanya menyunggingkan senyum miring. Kekecewaan yang ditumpuk Rey selama ini sudah meluap. Baginya, sudah saatnya berhenti pasang badan untuk teman breng
Salma terkekeh melihat perubahan ekspresi putrinya. Dia kira Anara gugup karena grogi Salma ingin mengenalkannya pada lelaki. Dia tidak tahu jika Anara gugup dan panik karena takut rahasia pernikahannya dengan Rey terbongkar. "Ibu, sudah sampai rumah!" Anara mengalihkan topik, dia bergegas mengaja
Sore hari, Salma bersiap pulang setelah menyelesaikan shift paginya. Langkahnya terasa ringan, hingga tiba-tiba dia kembali berpapasan dengan Shopie. Sialnya, wanita itu datang bersama anak dan suaminya.Salma refleks memperlambat langkah, berpura-pura tidak melihat. Namun, seperti biasa, Shopie ta







