เข้าสู่ระบบAnara memijat pelipisnya, lalu menggeleng pelan. "Mama cuma enek, kayaknya gara-gara tadi makan sesuatu deh," ujar Anara mencari alasan. "Kalau begitu pagi ini biar Zavi berangkat sama aku saja. Kamu jemput siang nanti." Rey, meski terlihat tak acuh namun masih punya kemanusiaan. Setidaknya dia tidak memaksa Anara untuk tetap menjalankan tugasnya di saat seperti itu. Anara mengangguk, dia memaksakan senyumnya lalu memilih beristirahat. *** Sepanjang perjalanan Zavi terus mengoceh, anak itu mulai aktif dan pandai berceria. Dia tidak murung, bahkan pada Rey yang biasanya bicara seperlunya. "Ayah, Mama selain pinter gambar, pinter nyanyi, Mama juga pinter nawar barang loh," celoteh Zavi tidak penting. Tapi anak itu tetap mengatakannya. "Oh ya? Barang apa yang berhasil dia tawar?" Zavi mengambil tasnya lalu menunjukkan gantungan kunci unik. "Ini, harganya mahal loh. Orang botak di toko antik bilang harganya lima ratus ribu, tapi Mama bisa mendapatkannya dengan han
Tangan Anara lembut memainkan kerah baju Rey dengan kerlingan menggoda dia masih terus berusaha. Rey berdecih, tangan yang tadi memegangi pinggang Anara kini terlepas dan beralih mencekal Anara agar tidak banyak ulah. "Malam pertama?" Rey tersenyum mencibir. "Kamu sudah tidak tahan? Kamu sangat mengagumi ketampanan dan kegagahanku?" Rey bicara dengan percaya diri dan tatapan mengejek. Ucapan Rey ada benarnya, dia memang tampan dan gagah, tapi sebenarnya Anara belum sampai terbuai karena itu. Apalagi tahu sifat Rey yang menyebalkan. Sepertinya akan sulit untuk Anara sungguhan menyukainya. Dia hanya butuh uang! Anara berdeham, tersenyum malu-malu. Ingin kembali beraksi, tapi Rey lebih dulu bergerak dengan berdiri sehingga Anara di pangkuannya terjatuh ke lantai. Buuuggh! "Aw!" Anara memekik, dia mungkin kaget dengan respon Rey yang menolaknya mentah-mentah, lebih kaget lagi karena tahu Rey sangat tega. Bokong Anara terasa ngilu dibuatnya. "Meski melayaniku menjadi salah satu tuga
Tidak ada supir yang mengantarkan obat alergi hingga sore. Dan anehnya Rey juga tidak merasakan ada yang bereaksi dalam tubuhnya. Anara mungkin menipunya! Wanita itu benar-benar susah ditebak dan menjengkelkan. *** Rey tidak melihat Anara sejak tadi meski dia pulang lebih awal. Dia juga tidak melihat Zavi bermain di ruang tengah. Mereka berdua ada di kamar sejak tadi. Rey yang baru menghabiskan makan malamnya sendiri berniat ke kamar Zavi. Terdengar suara cekikikan dari dalam."Mama, bagaimana jika kita buat Ayah jadi monster jahatnya? Peran itu sangat cocok untuknya." Tawa Anara pecah. "Boleh juga. Baiklah Mama akan gambar Monster Rey-Rey, wajahnya mirip Ayah Rey dengan badan laba-laba bagaimana?" Zavi mengangguk antusias. "Mama tambahkan ekor kalajengking di belakang! Monsternya akan terlihat makin menakutkan!" Tangan Anara lincah menggoreskan pensil di atas buku gambar. Rey dari pintu yang sedikit terbuka, menebak-nebak apa yang sedang keduanya lakukan. Seru sekali. Namun
Sontak saja tanpa panjang lebar Tiara langsung kicep. "Wah, beneran masih muda dan sangat tampan. Rupanya kamu pintar memilih suami, Nara. Kamu sangat beruntung!" Weny kali ini berdecak antusias. Dia ikut senang dan tersenyum semringah, merasa ikut mendapat berkah dari pernikahan Anara. Dia menyikut Tiara. "Kamu harus memberi selamat, bagaimana pun Anara kan keponakanmu." Anara masih menunggu repson wanita paruh baya itu, namun ternyata sikap Tiara tetap angkuh dan tidak mau melunak. "Mana uang untuk melunasi utang ibumu? Tadi kamu bilang akan membayarnya juga kan?" tagih Tiara tanpa tahu malu. Dia mau uangnya tapi enggan bersikap baik. "Tentu saja," Anara tetap tersenyum tidak gentar. Dia mengambil uang cash dari tasnya. Weny dan Tiara sama-sama melihat amplop yang terlihat tebal, lalu satu gepok uang ratusan ribu Anara keluarkan. "Ini lebih dari lima belas juta. Aku bayar lunas hutang ibuku beserta bunganya." Senyum Tiara terbit, matanya melebar, tangannya menodong hendak m
"Baiklah. Kalau begitu, Ibu mimpi saja," imbuh Anara dengan senyum manis dan kerlingan penuh arti. Sarah tahu apa maksudnya itu dan dia menggertakkan giginya. Benar apa yang Sarah pikiran, gadis miskin itu sejak awal memang menargetkan Rey! Dia pura-pura baik pada Zavi hanya untuk menarik perhatian putranya. Sungguh sialan, Rey masuk dalam jebakan wanita itu. Tangan Sarah mengepal, dia kesal tapi tidak tahu bagaimana harus melampiaskannya. "Ayah, Anara hanya gadis miskin, tidak berpendidikan, bukan dari keluarga terhormat. Semua yang ada pada dirinya hanya minus! Dia tidak pantas Ayah anggap sebagai cucu menantu, dia tidak pantas untuk Rey!" Erwin bisa melihat raut wajah Sarah yang tidak terima. Erwin berdiri, dia berniat masuk tanpa memedulikan ocehan putrinya. "Ayah tidak dengar? Anara itu--" "Kalau dia tidak pantas untuk Rey, apa menurutmu Rey pantas untuknya? Rey bahkan jauh tidak pantas." "Maksud Ayah apa! Rey punya segalanya!" "Ya. Orang luar akan melih
Anara mengusap wajahnya, dia jadi agak ragu tadi benar-benar merasakan ada yang mengecup bibirnya atau tidak? "Zavi, kamu mau apa?" Anara bertanya pada Zavi yang menatapnya polos. "Mau ambil drone," jawab Zavi lalu berlari ke arah ayahnya yang mengambil drone di mobil. "Ayah, sudah siap? Ayo terbangkan!" Rey membawa drone dan remot kontrol, keduanya kembali berjalan menjauh dari Anara yang duduk di tikar dekat mobil. Zavi sangat antusias dengan drone, jadi dia hanya menghiraukan ayahnya saja sekarang. Anara menyentuh bibirnya pelan. Apa dia sedang berhalusinasi? Ingatannya melayang pada malam kelam itu. Belakangan ini dia merasa semakin sensitif dan kerap teringat sentuhan-sentuhan lelaki tersebut. Mungkin karena saat itu matanya tertutup, yang paling jelas tertinggal dalam ingatannya adalah bagaimana lelaki itu menyentuhnya. “Mama, ayo lihat! Ternyata tidak jauh dari sini ada gembala sapi, loh!” teriak Zavi antusias sambil melambaikan tangan, mengajak Anara mendekat.







