Share

Bab 10

Author: Ratu As
last update Huling Na-update: 2025-12-23 16:46:10

“Zavi?” Anara tidak menyangka akan melihat anak itu di hadapannya sekarang.

Kaki pendek itu begitu cepat berlari lalu menerjang ke arah Anara dan memeluk erat. Posisi Anara yang terduduk memudahkan Zavi untuk menyandarkan kepala Anara dalam dekapannya.

Zavi mengusap rambut Anara, gayanya persis manusia dewasa yang coba menenangkan.

“Kak Nara tidak apa-apa kan?” gumamnya dengan rasa haru bercampur sedih. “Zavi nyariin Kak Nara. Zavi … rindu banget!”

“I--iya, Zavi, Kakak tidak apa-apa. Tapi
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Siasat Menggoda Duda Kaya   Bab 118

    "Anara, berhenti bersandiwara. Aku tahu kamu belum tidur." ​Rey duduk di tepi ranjang yang empuk, jemarinya bergerak menarik dagu Anara agar wanita itu menoleh ke arahnya. Namun, Anara tetap bergeming dengan mata terpejam, berpura-pura terlelap dalam tidurnya. ​"Anara--" ​Rey berniat menyusupkan lengannya untuk mengangkat tubuh sang istri, namun Anara segera menggeliat. Dia membalikkan badan, memunggungi Rey dan merapat ke arah Zavi yang sedang mendengkur halus. ​"Mmm... ngantuk. Tidak mau pindah," gumam Anara pelan, namun suaranya masih cukup jelas tertangkap oleh indra pendengaran Rey. ​Rey menghela napas panjang, mencoba meredam kegelisahan yang membuncah di dadanya. Akhirnya, dia memilih mengalah. Dia tetap duduk di sana, merendahkan oktaf suaranya agar tidak mengusik tidur nyenyak Zavi. ​"Anara, wajahmu sedang bertebaran di seluruh penjuru internet. Bagaimana bisa kamu tetap tenang begini? Apa kamu tidak sadar kalau saat ini ribuan orang sedang membicarakanmu?" ​Di balik p

  • Siasat Menggoda Duda Kaya   Bab 117

    Salma terkekeh melihat perubahan ekspresi putrinya. Dia kira Anara gugup karena grogi Salma ingin mengenalkannya pada lelaki. Dia tidak tahu jika Anara gugup dan panik karena takut rahasia pernikahannya dengan Rey terbongkar. "Ibu, sudah sampai rumah!" Anara mengalihkan topik, dia bergegas mengajak ibunya untuk turun dari taksi. "Ibu maaf Nara enggak mampir ya. Nara langsung pulang, takutnya Zavi sudah menunggu." "Ah, baiklah. Hati-hati di jalan!" Anara menangguk, dia kembali duduk di taksi dan menghela napas lega. "Jangan lupa soal kencan buta! Ibu akan atur jadwalnya!" seru Salma dari luar denga kekehan dan lambaian tangan. "Astaga, kencan buta? Aku bahkan tidak pernah melakukannya!" Dia bergumam dan menggelengkan kepalanya. Tidak ingin pikirannya kacau dan terpengaruh, Anara memilih fokus ke ponsel. Dia melihat sosial media, ternyata berita tentangnya mulai bermunculan meski belum tranding, namun ini awal yang bagus. Tinggal menunggu beberapa waktu ke depan. ***Anara berja

  • Siasat Menggoda Duda Kaya   Bab 116

    "I--Ibu?" Anara cukup terkejut dengan kehadiran ibunya yang tiba-tiba, namun secara spontan Anara menarik Salma ke sisinya. "Aku ingin menyumbang satu lagu lagi khusus untuk ibuku. Belau wanita hebat yang selama ini membesarkanku dengan tangannya sendiri. Beliau wanita hebat yang bahkan sekali pun diabaikan dunia, namun tidak pernah mengabaikan anak-anaknya...." Anara bicara sebagai pembuka lagu, kata-katanya terdengar sangat mengiris. Tanpa sadar Salma pun menitikan air mata, ucapan putrinya membuatnya haru sekaligus sedih. Dia sedih karena teringat bagaimana perjuangan Anara selama ini, anak yang tumbuh besar dengan penuh luka dan kerja keras. Adam berdiri di barisan penoton, dia melihat ibu dan anak itu dengan penuh kagum dan simpatik. Menurutnya suara Anara memang bagus, wajahnya cantik dengan ekspresi ceria yang seolah menularkan energi positif pada siapa saja yang melihatnya. Penonton semakin banyak, silih berganti memberikan uang pada kantong pengamen yang saat ini juga be

  • Siasat Menggoda Duda Kaya   Bab 115

    Di kepala Salma, wanita cantik yang memeluk Zavi itu pastilah sosok yang selama ini mendampingi Rey.​Tanpa Salma sadari, foto yang tersimpan di galeri ponselnya itu bukanlah sebuah potret kebahagiaan, melainkan sebuah bom waktu yang siap menghancurkan perasaan putrinya sendiri."Yah, mati," gumam Salma, mendesah pelan saat ponsel justru mati kehabisan batrai sebelum dia kembali mengirim pesan pada Anara. "Pekerjaanmu sudah selesai?" tegur Adam yang kini berdiri tidak jauh dari tempat Salma. "Pak Adam?" Salma tersenyum canggung. "Ini baru saja selesai, dan saya berniat ingin pulang." "Bagaimana jika hari ini temani saya?" Adam tersenyum tipis--ramah dan teduh. Tentu saja Salma tidak bisa menolak. Dia merasa punya hutang yang harus dibayar dengan cara apa pun termasuk dengan menemai Adam mengobrol. ***Duduk di mobil mewah, jelas saja Salma merasa canggung dan tidak nyaman. Meski harusnya mereka punya obrolan yang seru tentang masa lalu, namun Salma lebih banyak diam. "Salma, ber

  • Siasat Menggoda Duda Kaya   Bab 114

    Rey menggandeng tangan kecil putranya melintasi koridor restoran yang tenang. Langkah mereka terhenti di depan sebuah pintu ruang privat. Begitu pintu terbuka, sosok Adel sudah menunggu di sana.​Saat Zavi melangkah masuk dan melihat wanita itu bangkit dari duduknya lalu melambaikan tangan dengan binar mata penuh harap, langkah bocah itu seketika terkunci. Ingatannya berputar cepat, wanita inilah yang tempo hari dia lihat bersama ayahnya di restoran ini!​"Dia--" Zavi mendongak, menatap ayahnya dengan sorot mata bertanya-tanya.​"Dia Ibu Adel. Kamu bisa memanggilnya begitu," jawab Rey pelan, suaranya terdengar sedikit berat.​Zavi tidak lantas menghambur. Alih-alih mendekat, dia justru menarik tangannya dari genggaman Rey. Ada keraguan yang sangat jelas terpancar dari wajah polosnya.​"Ayah..." suara Zavi mencicit, "dulu Ayah tidak suka kalau aku sering tanya tentang Ibu. Lalu kenapa tiba-tiba sekarang Ayah mempertemukan kami?"​Pertanyaan itu meluncur begitu saja, jujur dan menohok

  • Siasat Menggoda Duda Kaya   Bab 113

    Ehem! Kev berdeham, sebelum Erik bicara dia lebih dulu memperingatkan. Erik melirik ke arah Kev yang mengusap-usap lehernya dan memberi kode mata. "Anara, aku haus. Bisakah suruh pelayan untuk membuatkan kami minum lebih dulu?" pinta Kev memecah keheningan. Anara yang tadi mematung menunggu ucapan Rey, kini kembali fokus. "Ah ya, baiklah. Tunggu sebentar."Bergegas Anara ke belakang, dia menyuruh pembantu untuk membuatkan minuman dan melayani tamu. Di ruang tamu, Rey yang baru masuk dengan wajah semringah dan senyum samar terpergok oleh dua temannya yang sekarang menatap Rey dengan tatapan merasa konyol. "Hem, ada yang pulang dengan senyum-senyum. Sepertinya ada bunga tapi bukan di taman," sindir Kev yang membuat Rey seketika kembali memasang wajah kaku. "Kalian?" Rey mendengkus, padahal sudah terbayang wajah Anara sejak tadi. "Untuk apa kalian datang? Apa minggu ini sangat menganggur sampai harus ke sini?" kata Rey dengan raut tak suka yang tidak disembunyikan. Kev terkekeh t

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status