Share

Bab 3

Author: TJ
Keesokan paginya, aku berangkat kerja ke sebuah kafe di Jalan Meranti.

Biasanya, aku bekerja di balik meja kasir. Namun, pada saat itu kafe sedang meluncurkan menu musim panas, jadi manajer memberiku kostum berbentuk cangkir kopi raksasa dan menyuruhku keluar untuk membagikan kupon.

Menjelang siang, panas Kota Ravena membuat kostum itu terasa seperti oven berjalan yang lupa dimatikan.

Aku menyelinap ke belakang gedung, melepas kepala kostum yang terbuat dari busa tebal, lalu mengangkat sebotol air ke bibir.

"Nadira?"

Aku membeku.

Keluargaku berdiri di dekat pintu masuk butik mewah di seberang jalan.

Ayah dan Ibu ada di sana, bersama Arvin, Elvano, dan Keisha. Sepertinya mereka kembali pergi berbelanja untuk Keisha.

Arvin dan Elvano membawa beberapa kantong belanja dari merek-merek ternama.

Keisha tidak membawa apa pun. Dia memang tidak perlu melakukannya.

Ibu menatap seragamku, lalu kostum konyol yang tergeletak di sampingku. Raut terkejut terlihat di wajahnya, kemudian berubah menjadi sesuatu yang nyaris menyerupai kekhawatiran.

"Kamu sedang apa di sini?" Dia buru-buru menghampiriku. "Kamu sampai basah kuyup karena keringat."

"Aku sedang kerja."

"Kerja?" Alisnya mengernyit. "Nadira, setiap bulan rekeningmu selalu ditransfer 130 juta. Kenapa kamu bekerja?"

"Dulunya memang begitu."

Ekspresi Arvin langsung mengeras. "Maksudmu apa?"

"Sejak Januari, yang masuk ke rekeningku setiap bulan cuma delapan juta."

"Itu nggak mungkin," kata Ibu. "Kantor keuangan keluarga kita selalu mentransfer uangnya secara otomatis."

"Mereka memang mentransfernya," jawabku. "Tapi nggak ke aku."

Aku menemukan uang yang hilang itu sejak empat bulan lalu.

Ketika aku menanyakannya ke Pak Rasyid, pengelola keuangan keluarga, dia terlihat sangat merasa bersalah.

Keisha memberitahunya bahwa aku sudah setuju memberikan sebagian besar uang bulananku kepadanya. Karena Keisha tinggal di kediaman Mahendra sementara aku tidak, Pak Rasyid mempercayainya.

Aku langsung memberi tahu Ibu, Ayah, dan Arvin pada waktu itu.

Keisha menangis dan bersikeras bahwa itu hanyalah sebuah kesalahpahaman.

Keluargaku justru memutuskan bahwa aku menggunakan masalah uang itu sebagai alasan untuk menuduhnya, dan untuk memaksa masuk kembali ke kediaman Mahendra.

Setelah itu, aku berhenti bertanya dan memberitahunya.

Sebagai gantinya, aku mencari pekerjaan di kafe.

"Kamu sudah pernah menceritakan ini sebelumnya," kata Arvin dingin. "Kenapa kamu masih bohong soal itu?"

"Aku nggak bohong."

Keisha mendekat ke Ibu.

"Pak Rasyid melakukan kesalahan, dan aku sudah meminta maaf atas kesalahpahaman itu," katanya lembut. "Kurasa permintaan maafku masih belum cukup bagi Nadira."

Ibu menyentuh lengannya dengan lembut sebelum kembali menatapku.

"Kalau kamu benar-benar kesulitan, seharusnya kamu bilang."

"Aku sudah bilang."

Tapi tidak ada yang mempercayaiku.

Mereka tidak pernah mempertanyakan Pak Rasyid atau meminta untuk melihat catatan keuangan. Keisha memberikan cerita versinya, dan itu sudah cukup menjadi bukti bagi mereka.

Elvano diam sepanjang waktu.

Aku menatapnya, lagi-lagi aku merasa bodoh karena berharap dia akan mengingat malam-malam ketika aku meneleponnya, bahwa aku tidak sanggup membayar ongkos pulang lagi.

Sebaliknya, dia justru menghela napas.

"Nad, kamu sudah keterlaluan."

Jari-jariku mencengkeram botol air semakin erat.

"Kamu sudah menuduh seseorang," katanya. "Itu beda dengan menjelaskan kalau kamu sedang butuh bantuan."

Suaranya tenang dan masuk akal, suara yang digunakan ketika ingin membuat kekejaman terdengar seperti sesuatu hal yang wajar.

"Pak Rasyid memang melakukan kesalahan. Tapi kamu mengubahnya menjadi bukti kalau seluruh keluargamu sedang memusuhimu. Kalau kamu memang butuh bantuan keuangan, kamu bisa menelepon Ibu."

Rahang Elvano mengeras.

"Ini bukan tempat untuk buat keributan. Minta maaf ke Ibu, lalu kita lupakan semuanya."

Aku menatapnya.

Bahkan kalau aku menunjukkan catatan rekening kepada mereka, tidak akan ada yang berubah.

Keisha tidak mengambil uangku. Pak Rasyid hanya salah memahami ucapannya.

Dan entah bagaimana, akulah yang seharusnya menjelaskan semuanya dengan lebih baik.

Tidak ada lagi yang perlu kukatakan. Aku mengambil kepala kostum yang terbuat dari busa itu.

"Pergilah. Aku harus kembali bekerja."

Aku memasang kostum itu di kepala, menutup diri dari mereka.

Dunia seketika menjadi gelap, panas dan pengap yang tak tertahankan.

Di belakangku, napas Keisha tiba-tiba terdengar terengah-engah.

"Maafkan aku …." desahnya. "Kamu pasti marah."

Aku spontan berbalik melihatnya.

Keisha mundur dan menabrak sebuah rak pajangan logam. Aku mengulurkan tangan untuk menangkapnya, tetapi Arvin langsung menerobos di antara kami, mendorongku ke samping sebelum menarik Keisha menjauh.

Dorongan itu membuat tubuhku terhempas ke dinding bata.

Dahiku membentur rangka keras yang ada di dalam kostum.

Sakitnya meledak seketika, membuat dahiku berdenyut.

Aku meraba dinding dengan satu tangan untuk menopang tubuhku, kepalaku rasanya berputar dan sementara pandanganku nyaris gelap.

"Tenang, Keisha," bisik Elvano di belakangku. "Lihat aku. Tarik napas."

Ibu sudah memanggil seseorang untuk mengambilkan air.

Sementara itu, Ayah memerintahkan salah satu pengawal untuk membawa mobil ke hadapannya.

Tak seorang pun menanyakan bagaimana keadaanku.

Aku menyelinap keluar lewat pintu belakang kafe sebelum mereka melihatku menangis.

Menjelang akhir shift, memar gelap sudah muncul di dahiku.

Namun setidaknya, hari ini adalah hari gajian.

Dua hari lagi. Setelah itu, aku akan meninggalkan tempat ini dan naik pesawat menuju Kota Astera. Aku hanya perlu uang gaji ini untuk sampai ke sana.

Aku memang sengaja meminta dibayar tunai karena kantor keuangan Keluarga Mahendra masih memantau rekening bankku.

Manajer menyerahkan sebuah amplop berisi upahku selama dua minggu, lalu aku berjalan menuju gerobak makanan yang letaknya beberapa gedung dari kafe.

Aku hanya ingin makan ayam dengan nasi dan minum es teh lemon.

Untuk pertama kalinya di hari itu, aku hampir tersenyum.

Kemudian penjualnya mengangkat salah satu lembar uangku ke arah cahaya.

Ekspresinya langsung berubah.

"Kamu mau menipuku?"

"Maksudnya?"

"Semua uang ini palsu."

Orang-orang di sekitar mulai menoleh dan memperhatikan kami.

Penjual itu menunjuk ke arahku. Suaranya meninggi di tengah keramaian jalan.

"Kamu datang ke gerobakku dengan membawa uang palsu dan berharap aku nggak sadar? Pergi dari sini sebelum aku panggil polisi!"

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Simpan Mahkotamu, Aku Memilih ITA   Bab 9

    Tiga hari setelah Elvano meninggalkan Kota Astera, skandal Keluarga Mahendra akhirnya terungkap.Ravena News tidak pernah menayangkan wawancara mereka di Kediaman Mahendra.Sebaliknya, salah satu kru berita mulai mempertanyakan bagaimana mungkin salah satu siswa paling berprestasi di Negara Ardhana bisa menghilang tanpa keluarganya sendiri tahu ke mana dia pergi.Mantan teman-teman sekolahku pun mulai berbicara.Lalu, manajer kafe mengakui bahwa Ibu pernah mengambil gajiku dan menggantinya dengan uang palsu.Pengelola gedung juga mengonfirmasi bahwa aku telah tinggal sendirian selama setahun di salah satu gedung milik Keluarga Mahendra.Berita itu pun menyebar ke seluruh Kota Ravena.[Si Kembar Mahendra yang Dilupakan: Jenius Nasional Tinggal Sendirian Tanpa Perlindungan, Sementara Keluarganya Merayakan Saudarinya][Menang Olimpiade Sains, Menolak Universitas Cakrawala, dan Meninggalkan Keluarganya Demi Institut Teknologi Astera]Aku melihat berita itu saat sedang makan pizza bersama t

  • Simpan Mahkotamu, Aku Memilih ITA   Bab 8

    Dua minggu kemudian, Elvano menemukanku di Universitas Institut Astera.Aku baru saja keluar dari perpustakaan ketika melihatnya berdiri di kaki tangga.Elvano terlihat kelelahan. Pakaiannya memang rapi, tetapi bayangan gelap di bawah matanya menunjukkan betapa sedikitnya waktu yang dia habiskan untuk tidur.Begitu melihatku, wajahnya langsung dipenuhi kelegaan."Nad."Dia buru-buru menghampiriku."Aku sudah mencarimu ke mana-mana."Aku berhenti, tetapi tidak berlari ke dalam pelukannya.Dulu, semarah apa pun aku kepadanya, melihat wajahnya saja sudah cukup untuk meluluhkan hatiku.Sekarang, aku hanya bertanya, "Kamu mau apa?"Elvano terdiam sesaat.Lalu jemarinya semakin erat menggenggam sesuatu di tangannya."Aku salah," katanya pelan. "Seharusnya kita berada di Universitas Cakrawala bersama."Dia mengulurkan kartu pos yang dulu kusobek di apartemen.Seseorang telah menyatukan kedua potongannya dengan hati-hati menggunakan selotip, tetapi bekas sobekannya masih membelah gambar menara

  • Simpan Mahkotamu, Aku Memilih ITA   Bab 7

    Hujan membasahi kaca jendela ketika pesawatku mendarat di bandara Kota Astera.Tak ada seorang pun yang menungguku di luar area pengambilan bagasi.Selama bertahun-tahun, hal seperti itu pasti akan menyakitiku.Sebagian besar hidupku kuhabiskan dengan menunggu, menunggu Ibu untuk menepati janjinya, menunggu Ayah memandangku dengan bangga, menunggu Arvin memperlakukanku seperti seorang adik, dan menunggu Elvano kembali menjadi laki-laki yang dulu pernah berjanji akan menungguku di Universitas Cakrawala.Namun sekarang, untuk pertama kalinya, sendirian justru terasa seperti sebuah kebebasan bagiku.Begitu menyalakan ponsel, layarku langsung dipenuhi panggilan tak terjawab.Aku mengabaikan semuanya dan memesan kendaraan, lalu memberikan alamat Institut Teknologi Astera kepada supir taksi.Program riset musim panas universitas sudah menyiapkan tempat tinggalku di kampus. Begitu tiba, seorang koordinator pascasarjana sudah menungguku di lobi dengan membawa kartu identitas dan kunci kamar."

  • Simpan Mahkotamu, Aku Memilih ITA   Bab 6

    Sepuluh menit kemudian, kru berita dipersilakan masuk ke ruang tamu.Di mata publik, Keluarga Mahendra dikenal sebagai pengusaha yang sangat berkuasa. Namun di dalam rumah ini, tak seorang pun boleh melupakan siapa dirinya sebenarnya.Perempuan yang memimpin kru itu memperkenalkan diri sebagai reporter pendidikan dari Ravena News. Seorang kamerawan dan produser berdiri di belakangnya, keduanya tampak jelas tidak nyaman berada di bawah pengawasan para pengawal."Kami ke sini untuk mencari Nona Nadira Mahendra," kata reporter itu. "Apakah dia ada di sini?"Ekspresi Ibu langsung bingung. "Untuk apa kalian mencari Nadira?"Reporter itu melirik ke sekeliling ruangan, tampak terkejut mendengar pertanyaan tersebut."Bukankah kalian sudah mendengar tentang beritanya?"Mata Ayah menyipit. "Mendengar apa?""Nadira menjadi juara pertama dalam Olimpiade Sains Nasional Muda," kata reporter itu.Tak seorang pun di ruangan yang bergerak."Dia juga meraih medali emas untuk Tim Nasional Negara Ardhana

  • Simpan Mahkotamu, Aku Memilih ITA   Bab 5

    Kediaman Mahendra sedang sibuk dengan berbagai persiapan.Paket penyambutan mahasiswa Universitas Adikara milik Keisha memenuhi bagian tengah meja ruang keluarga. Map biru dan emas itu terbuka di samping bendera kampus, ada buku panduan mahasiswa baru, dan surat penerimaan yang sudah dibaca Ibu setidaknya enam kali."Keisha kita akan kuliah di Universitas Adikara," katanya, tak mampu menyembunyikan senyumnya. "Semua tutor dan konsultan selama ini, ternyata sepadan dengan hasilnya."Ayah duduk di seberangnya, memeriksa daftar tamu di tabletnya."Kita punya dua putri yang akan berangkat kuliah. Keluarga kita harus merayakannya dengan semestinya."Dia mulai menyebut nama para tokoh berpengaruh, keluarga sekutu, dan pejabat yang akan diundang."Kita buka ballroom saja," usul Ibu. "Kedua anak kita bisa masuk bersama."Arvin menggeleng sambil menggulir daftar kontaknya."Ballroom tidak akan cukup besar kalau kita mengundang semua keluarga Kota Ravena. Lebih baik gunakan halaman yang ada di s

  • Simpan Mahkotamu, Aku Memilih ITA   Bab 4

    Malam itu, aku kembali ke apartemen dengan keadaan perut kosong, sementara uang palsu tadi masih kusimpan di dalam tas.…Keesokan paginya, aku langsung pergi ke kafe. Begitu masuk, aku menghampiri meja kasir dan melemparkan amplop itu ke atasnya."Kenapa Anda membayarku dengan uang palsu?"Manajerku bahkan tidak terlihat terkejut."Aku nggak melakukannya.""Maksudnya?""Kemarin, ibumu datang bersama dua pengawal. Dia mengambil gajimu dan meninggalkan amplop itu sebagai gantinya."Lututku terasa lemas ketika mendengarnya."Gajiku diberikan kepadanya?""Ibumu itu istri kepala Keluarga Mahendra," katanya dengan bibir mengerucut pahit. "Menurutmu, apa yang bisa aku lakukan?"Aku berpegangan pada meja kasir untuk menjaga keseimbangan."Katanya, kamu perlu belajar kalau mencari uang sendiri itu nggak semudah yang kamu kira," lanjutnya. "Dan kalau kamu mengalami masalah, kamu akan ingat siapa yang seharusnya kamu andalkan."Aku menghela napas pelan sebelum akhirnya berbalik dan pergi meningg

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status