Share

Bab 2

Author: TJ
Jenius.

Itu adalah sebuah kata yang sudah digunakan oleh orang-orang untuk menggambarkanku selama ini.

Keisha lebih cantik, lebih manis, dan jauh lebih pandai membuat orang ingin melindunginya.

Sedangkan aku, yang kumiliki hanyalah otakku.

Sekali aku membaca sebuah buku, aku akan langsung mengingat setiap halamannya. Aku bisa melihat pola yang luput dari perhatian orang lain dan memecahkan masalah yang bahkan mereka belum selesai menjelaskannya.

Tapi orang tuaku tidak pernah lebih menyayangiku karena hal itu.

Ketika Arvin menunjukkan kecerdasan yang sama, Ayah menyebutnya sebagai seorang ahli strategi sejak lahir, pewaris yang sempurna untuk kerajaan bisnis Keluarga Mahendra.

Ketika aku melakukan hal yang sama, Ibu hanya menghela napas.

"Seorang perempuan dari Keluarga Mahendra harus cukup cerdas buat bertahan hidup, Nadira. Tapi jangan terlalu cerdas sampai setiap pria di ruangan ini merasa tersaingi."

Keisha tidak pernah membuat siapa pun merasa tersaingi.

Dia meminta Arvin menjelaskan hal-hal yang sebenarnya sudah dia pahami. Dia membiarkan Ayah mengambil keputusan untuknya. Dia menatap Elvano seolah setiap kata yang diucapkannya begitu berharga untuk diingat.

Aku jenius, jadi aku dianggap bisa mengurus diriku sendiri.

Sedangkan Keisha itu rapuh, jadi dia mendapatkan kamar yang lebih bagus, lebih banyak pengawal, dan perhatian semua orang lebih dulu tertuju padanya.

Sementara aku? Sifat yang membuat Arvin dianggap layak mewarisi keluarga justru membuat mereka berpikir bahwa aku bisa mengurus diriku sendiri. Seolah-olah karena aku kuat, aku tidak membutuhkan keluarga.

Kemudian aku bertemu Elvano saat tahun kedua SMA.

Dia setahun lebih tua dariku dan belum pernah bertemu Keisha.

Ketika kuceritakan bagaimana keluargaku memandangku, dia mengernyit.

"Sejak kapan jadi jenius itu adalah sebuah kekurangan?"

Dia menggenggam tanganku di atas meja perpustakaan.

"Jangan mengecilkan dirimu hanya karena orang lain merasa terintimidasi olehmu, Nad."

Dia adalah orang pertama yang membuatku percaya bahwa kecerdasanku bukan sesuatu yang harus kusesali.

Lalu dia bertemu Keisha.

Beberapa bulan kemudian, aku melihatnya tertawa ketika Keisha pura-pura tidak mengerti permainan kartu sederhana.

"Adikmu sama sekali nggak tahu cara memainkannya," katanya setelah itu, masih tersenyum. "Lucu juga."

Aku mengabaikan rasa tidak nyaman yang muncul di dadaku.

Aku mencintainya karena dialah orang pertama yang mengatakan bahwa menjadi jenius bukanlah sebuah dosa.

Sekarang, dia menggunakan hal itu sebagai alasan untuk mengambil sesuatu dariku.

"Kamu akan berhasil di mana pun," katanya.

Ruang keluarga mendadak sunyi

Arvin mengetukkan satu jarinya ke sandaran kursi.

"Jadi?" tanyanya. "Katakan sesuatu, Nadira. Nggak ada yang menyakitimu. Kami sedang melindungi keluarga."

Melindungi keluarga. Seolah aku tidak pernah menjadi bagian dari keluarga itu.

Aku segera menundukkan kepala, berusaha menyembunyikan mataku yang mulai memerah.

"Oke."

Aku akan memberikan apa yang mereka inginkan. Aku akan menjauh dari Keisha, juga dari seluruh Keluarga Mahendra.

Yang tidak mereka ketahui adalah aku sudah menerima tawaran dari Institut Teknologi Astera.

Tiga hari lagi, aku akan pergi.

Kelegaan langsung terasa di seluruh ruangan.

Ibu segera meraih beberapa kantong hadiah dari belakang sofa.

"Jangan murung begitu," katanya. "Kami juga membelikan sesuatu untukmu."

Kami juga, katanya.

Hadiah-hadiah itu diletakkan di depanku seolah semuanya bisa menyelesaikan masalah.

Padahal aku sudah melihat apa yang diberikan kepada Keisha: sebuah mobil mewah, jam tangan mewah, gelang berlian, dan biola antik yang langka.

Hadiahku ditaruh dalam empat kantong sederhana, dan semuanya terasa seperti pemberian ala kadarnya, sekadar formalitas.

Ayah memberiku pena tinta dari meja kerjanya.

Arvin menyerahkan buku bisnis yang sudah dibacanya, lengkap dengan catatan yang masih tertulis di bagian pinggir halaman.

Ibu memberiku tas kanvas sisa dari salah satu acara amalnya.

Hadiah Elvano adalah sebuah gaun yang pernah dipakai sekali oleh Keisha. Labelnya sudah tidak ada, tapi aku mengenalinya dari akun sosial media milik Keisha.

Empat hadiah yang dipilih tanpa sedikit pun memikirkan apa yang sebenarnya kusukai.

"Nah," kata Ibu ceria. "Bukan cuma Keisha yang dirayakan."

Aku hampir tertawa.

Mereka telah mengambil Universitas Cakrawala dariku, lalu memberiku gaun bekas Keisha sebagai gantinya.

Aku mengumpulkan semua kantong itu dan berdiri.

"Nadira," panggil Ibu ketika aku hampir sampai di pintu.

Aku menoleh.

Dia sempat ragu sebelum bertanya, "Kamu mau tinggal untuk makan malam?"

Tinggal?

Aku lahir di rumah ini.

Dan sekarang, aku bahkan harus meminta izin untuk makan di meja mereka.

"Nggak bisa, terima kasih."

Begitu keluar dari kediaman Mahendra, aku membuang keempat hadiah itu ke tempat sampah di samping pos penjagaan, lalu memanggil taksi.

Di tengah perjalanan kembali ke apartemenku, ponselku bergetar.

Keisha mengunggah foto baru di akunnya.

[Akhirnya, makan malam keluarga yang tenang.]

Foto itu memperlihatkan Ibu, Ayah, Arvin, dan Elvano duduk di bawah lampu kristal di ruang makan utama.

Meja makan dipenuhi tiram, udang, sup kepiting, dan lobster pedas.

Semua hidangan itu mengandung makanan laut. Dan aku memiliki alergi parah terhadapnya.

Kalau aku tetap tinggal, satu-satunya makanan yang mungkin bisa kumakan dengan aman hanyalah roti, itu pun tergantung pisau mana yang sebelumnya tidak digunakan untuk menyentuh makanan laut.

Sesampainya di apartemen, aku menarik koper dari dalam lemari.

Empat figur LEGO itu masih duduk mengelilingi buku-buku pelajaranku, berpura-pura menjadi keluarga yang tidak pernah benar-benar menemaniku di sini.

Aku memutar tubuh keempat figur itu menghadap dinding.

Kemudian aku melihat kartu pos di atas meja.

Elvano memberikannya kepadaku sebelum dia bertemu Keisha. Di bagian depan kartu itu terpampang menara kampus Universitas Cakrawala yang menjulang di bawah langit cerah Serandia.

Di bagian belakangnya, tertulis tujuh kata dengan tulisan tangan Elvano yang miring.

[Aku akan menunggumu di Universitas Cakrawala, Nad.]

Aku menatap tulisan itu cukup lama.

Lalu menyobek kartu pos itu menjadi dua.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Simpan Mahkotamu, Aku Memilih ITA   Bab 9

    Tiga hari setelah Elvano meninggalkan Kota Astera, skandal Keluarga Mahendra akhirnya terungkap.Ravena News tidak pernah menayangkan wawancara mereka di Kediaman Mahendra.Sebaliknya, salah satu kru berita mulai mempertanyakan bagaimana mungkin salah satu siswa paling berprestasi di Negara Ardhana bisa menghilang tanpa keluarganya sendiri tahu ke mana dia pergi.Mantan teman-teman sekolahku pun mulai berbicara.Lalu, manajer kafe mengakui bahwa Ibu pernah mengambil gajiku dan menggantinya dengan uang palsu.Pengelola gedung juga mengonfirmasi bahwa aku telah tinggal sendirian selama setahun di salah satu gedung milik Keluarga Mahendra.Berita itu pun menyebar ke seluruh Kota Ravena.[Si Kembar Mahendra yang Dilupakan: Jenius Nasional Tinggal Sendirian Tanpa Perlindungan, Sementara Keluarganya Merayakan Saudarinya][Menang Olimpiade Sains, Menolak Universitas Cakrawala, dan Meninggalkan Keluarganya Demi Institut Teknologi Astera]Aku melihat berita itu saat sedang makan pizza bersama t

  • Simpan Mahkotamu, Aku Memilih ITA   Bab 8

    Dua minggu kemudian, Elvano menemukanku di Universitas Institut Astera.Aku baru saja keluar dari perpustakaan ketika melihatnya berdiri di kaki tangga.Elvano terlihat kelelahan. Pakaiannya memang rapi, tetapi bayangan gelap di bawah matanya menunjukkan betapa sedikitnya waktu yang dia habiskan untuk tidur.Begitu melihatku, wajahnya langsung dipenuhi kelegaan."Nad."Dia buru-buru menghampiriku."Aku sudah mencarimu ke mana-mana."Aku berhenti, tetapi tidak berlari ke dalam pelukannya.Dulu, semarah apa pun aku kepadanya, melihat wajahnya saja sudah cukup untuk meluluhkan hatiku.Sekarang, aku hanya bertanya, "Kamu mau apa?"Elvano terdiam sesaat.Lalu jemarinya semakin erat menggenggam sesuatu di tangannya."Aku salah," katanya pelan. "Seharusnya kita berada di Universitas Cakrawala bersama."Dia mengulurkan kartu pos yang dulu kusobek di apartemen.Seseorang telah menyatukan kedua potongannya dengan hati-hati menggunakan selotip, tetapi bekas sobekannya masih membelah gambar menara

  • Simpan Mahkotamu, Aku Memilih ITA   Bab 7

    Hujan membasahi kaca jendela ketika pesawatku mendarat di bandara Kota Astera.Tak ada seorang pun yang menungguku di luar area pengambilan bagasi.Selama bertahun-tahun, hal seperti itu pasti akan menyakitiku.Sebagian besar hidupku kuhabiskan dengan menunggu, menunggu Ibu untuk menepati janjinya, menunggu Ayah memandangku dengan bangga, menunggu Arvin memperlakukanku seperti seorang adik, dan menunggu Elvano kembali menjadi laki-laki yang dulu pernah berjanji akan menungguku di Universitas Cakrawala.Namun sekarang, untuk pertama kalinya, sendirian justru terasa seperti sebuah kebebasan bagiku.Begitu menyalakan ponsel, layarku langsung dipenuhi panggilan tak terjawab.Aku mengabaikan semuanya dan memesan kendaraan, lalu memberikan alamat Institut Teknologi Astera kepada supir taksi.Program riset musim panas universitas sudah menyiapkan tempat tinggalku di kampus. Begitu tiba, seorang koordinator pascasarjana sudah menungguku di lobi dengan membawa kartu identitas dan kunci kamar."

  • Simpan Mahkotamu, Aku Memilih ITA   Bab 6

    Sepuluh menit kemudian, kru berita dipersilakan masuk ke ruang tamu.Di mata publik, Keluarga Mahendra dikenal sebagai pengusaha yang sangat berkuasa. Namun di dalam rumah ini, tak seorang pun boleh melupakan siapa dirinya sebenarnya.Perempuan yang memimpin kru itu memperkenalkan diri sebagai reporter pendidikan dari Ravena News. Seorang kamerawan dan produser berdiri di belakangnya, keduanya tampak jelas tidak nyaman berada di bawah pengawasan para pengawal."Kami ke sini untuk mencari Nona Nadira Mahendra," kata reporter itu. "Apakah dia ada di sini?"Ekspresi Ibu langsung bingung. "Untuk apa kalian mencari Nadira?"Reporter itu melirik ke sekeliling ruangan, tampak terkejut mendengar pertanyaan tersebut."Bukankah kalian sudah mendengar tentang beritanya?"Mata Ayah menyipit. "Mendengar apa?""Nadira menjadi juara pertama dalam Olimpiade Sains Nasional Muda," kata reporter itu.Tak seorang pun di ruangan yang bergerak."Dia juga meraih medali emas untuk Tim Nasional Negara Ardhana

  • Simpan Mahkotamu, Aku Memilih ITA   Bab 5

    Kediaman Mahendra sedang sibuk dengan berbagai persiapan.Paket penyambutan mahasiswa Universitas Adikara milik Keisha memenuhi bagian tengah meja ruang keluarga. Map biru dan emas itu terbuka di samping bendera kampus, ada buku panduan mahasiswa baru, dan surat penerimaan yang sudah dibaca Ibu setidaknya enam kali."Keisha kita akan kuliah di Universitas Adikara," katanya, tak mampu menyembunyikan senyumnya. "Semua tutor dan konsultan selama ini, ternyata sepadan dengan hasilnya."Ayah duduk di seberangnya, memeriksa daftar tamu di tabletnya."Kita punya dua putri yang akan berangkat kuliah. Keluarga kita harus merayakannya dengan semestinya."Dia mulai menyebut nama para tokoh berpengaruh, keluarga sekutu, dan pejabat yang akan diundang."Kita buka ballroom saja," usul Ibu. "Kedua anak kita bisa masuk bersama."Arvin menggeleng sambil menggulir daftar kontaknya."Ballroom tidak akan cukup besar kalau kita mengundang semua keluarga Kota Ravena. Lebih baik gunakan halaman yang ada di s

  • Simpan Mahkotamu, Aku Memilih ITA   Bab 4

    Malam itu, aku kembali ke apartemen dengan keadaan perut kosong, sementara uang palsu tadi masih kusimpan di dalam tas.…Keesokan paginya, aku langsung pergi ke kafe. Begitu masuk, aku menghampiri meja kasir dan melemparkan amplop itu ke atasnya."Kenapa Anda membayarku dengan uang palsu?"Manajerku bahkan tidak terlihat terkejut."Aku nggak melakukannya.""Maksudnya?""Kemarin, ibumu datang bersama dua pengawal. Dia mengambil gajimu dan meninggalkan amplop itu sebagai gantinya."Lututku terasa lemas ketika mendengarnya."Gajiku diberikan kepadanya?""Ibumu itu istri kepala Keluarga Mahendra," katanya dengan bibir mengerucut pahit. "Menurutmu, apa yang bisa aku lakukan?"Aku berpegangan pada meja kasir untuk menjaga keseimbangan."Katanya, kamu perlu belajar kalau mencari uang sendiri itu nggak semudah yang kamu kira," lanjutnya. "Dan kalau kamu mengalami masalah, kamu akan ingat siapa yang seharusnya kamu andalkan."Aku menghela napas pelan sebelum akhirnya berbalik dan pergi meningg

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status