Share

10

last update Last Updated: 2025-12-15 16:14:42

“Selamat siang, Bu?” Felly memasuki ruangan dosen dan menyapa Bu Intan yang kebetulan tengah berada di ruangan.

Bu Intan tersenyum ramah. “Selamat siang, Felly. Mau ketemu Pak Marvin, ya?”

Felly mengangguk. “I-iya, Bu. Ada yang mau dikasih, katanya.”

Bu Intan menoleh ke kanan dan ke kiri, lalu memanggil Felly untuk mendekat.

“Kamu sudah memikirkan baik-baik keputusan ini, Felly?” tanya Bu Intan yang membuat Felly kebingungan.

“Maksud ibu?”

“Ya itu, kabar sudah beredar, kamu bakal dijadikan asis
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Simpanan Dosen Tampan   78

    Kehebohan tidak mereda dalam semalam. Sengaja dibiarkan merebak bak virus aneh yang mengguncang dunia maya—dan juga dunia nyata.Marvin dan Felly memilih untuk menutup diri. Menghabiskan waktu berdua di apartemen selama weekend setelah memposting foto-foto viral di kampus saat lalu.Tak ada yang mengganggu sebab semua orang tahu jika mereka berdua membutuhkan waktu keintiman agar kecanggungan yang disebabkan oleh insiden beberapa waktu lalu bisa menguap.Sosial media mereka juga dipegang oleh Olivia dan Devan. Mereka benar-benar menikmati hidup tanpa diganggu apapun.Felly baru saja selesai mandi ketika ponselnya, yang semalaman ia matikan, akhirnya ia hidupkan kembali.Awalnya hanya satu getaran, lalu disusul getaran lain yang menandakan pesan masuk bertumpuk begitu banyaknya.“Banyak sekali,” gumam Felly dengan sedikit merinding.Tanda merah di aplikasi whatsappnya sampa bertuliskan ‘99+’ saking banyaknya.Marvin menyusul dengan rambut basahnya. Ia memeluk Felly dari belakang dan me

  • Simpanan Dosen Tampan   77

    Selesai.Hanya butuh satu kali tekan, dan semuanya selesai.Sesederhana itu.Tapi dunia mereka tidak akan pernah sama lagi setelah ini. Hanya dalam hitungan menit, ponsel Marvin bergetar tanpa henti.Notifikasi masuk bersahutan. Tak hanya ponsel Marvin, namun juga ponsel Felly yang mulai bergetar. Memunculkan notifikasi pesan dari berbagai kalangan.Ada yang dari teman sekelas, mahasiswa lain yang pernah diajar, bahkan dosen-dosen juga yang tidak berani mengkonfrontasi langsung pada Marvin.Felly menatap Marvin dengan ringisan kaku. “Ramai,” ucapnya retoris.Marvin terkekeh. Ia mengambil ponsel Felly dan membuka whatsappnya. Pesan tak berhenti datang, seperti memborbardir dengan instruksi serentak.Marvin mengarahkan tombolnya pada status whatsapp milik Felly. Kemudian mengarahkan jarinya untuk menambahkan foto dan mengambil foto dirinya dengan Felly yang ada di pelukannya. Ia membuat caption tanpa Felly ketahui.—Saya benar-benar suaminya Felly. Berhenti meneror istri saya. Dia keta

  • Simpanan Dosen Tampan   76

    Marvin berdiri di depan jendela ruang kerjanya, memandang halaman yayasan yang pagi itu tampak lebih sibuk dari biasanya. Mahasiswa nampak berlalu-lalang, dosen berjalan dengan tergesa, semua terlihat normal di mana menyadarkan Marvin bahwa kejadian berdarah yang ia alami beberapa waktu lalu tak mempengaruhi kehidupan mereka sama sekali.Ia sudah kembali dari rumah sakit dua hari lalu dan langsung menyambangi tempat kerjanya. Sudah terlalu lama ditinggalkan, banyak berkas yang harus ia kerjakan setelah lama mendekam di ranjang pasien.Hari ini adalah hari penentuan, di mana ia akan mengumumkan pada dunia bahwa Felly adalah istrinya. Jantungnya berdegup tak nyaman, di kepalanya mengukir ribuan kata untuk mengungkapkan cintanya pada Felly.Ya, cinta.Marvin sudah mengakui itu kini tanpa ragu lagi.Di belakangnya, Felly duduk di sofa panjang, kedua tangannya saling menggenggam di atas pangkuan. Ia memperhatikan punggung Marvin yang tegap namun tampak rapuh bersamaan.“Mas, kamu yakin?” t

  • Simpanan Dosen Tampan   75

    BRAK!“FELLY! KAMU VIRAL DAN TRENDING DI MANA-MANA!”Suara Gista nyaring dan panik. Ia bahkan tidak melihat siapa saja yang ada di ruangan itu. Matanya hanya tertuju pada Felly dan Marvin yang ada di ruangan itu.Gista berjalan cepat mendekat, nyaris tersandung kakinya sendiri.“Felly… ini… ini…” Tangannya terangkat, menunjukkan layar ponselnya.“Apa ini?” Felly mengernyit bingung.Ruangan yang tadinya dipenuhi dengan kesedihan dan tangisan, kini berubah menjadi tegang kembali.Felly membelalakkan matanya karena di layar itu ponsel Gista nampak ada foto Marvin yang tengah bercengkrama dengan Felly yang wajahnya tanpa sensor. Benar-benar dibuka tanpa izin seolah dirinya adalah objek umum yang pantas dipertontonkan. Dengan judul besar di atasnya:SEMPAT DIRUMORKAN GAY, PROFESOR DAN PEMIMPIN YAYASAN KHATULISTIWA TERLIBAT SKANDAL DENGAN MAHASISWI DI KAMPUSNYA?Ada pula judul dari redaksi lain:MAHASISWI SIMPANAN DOSEN TAMPAN DI KAMPUS SWASTA TERKUAK, BAGAIMANA REAKSI ISTRI SAH DOSEN ITU?

  • Simpanan Dosen Tampan   74

    Air mata Marvin jatuh lagi. Kali ini lebih banyak. Bahunya bergetar hebat, tak sanggup lagi menahan tangisnya.“Aku… aku membenci Mama,” suaranya pecah.Pengakuan itu keluar begitu saja tanpa filter maupun pertahanan. Seolah sudah menunggu lama untuk dikeluarkan begitu saja.Bu Dyas tidak marah mendengar pengakuan itu. Pun merasa tak berhak untuk sekadar tersinggung. Ia hanya menatap putranya dengan mata seorang ibu yang teduh. “Aku tahu.”Dua kata itu lembut terdengar, dan justru itu yang membuat Marvin semakin hancur.“Aku tahu kamu membenciku, dan aku membiarkannya. Tapi kalau dengan itu kamu tetap hidup Mama akan memilih dibenci selamanya,” lanjut Bu Dyas dengan suara yang akhirnya retak. Marvin tak lagi menanggapi, tangisnya begitu pilu terdengar. Felly mengusap bahu Marvin dengan penuh kasih, lantas memberi jarak pada Bu Dyas yang mulai melangkah pelan.Sampai akhirnya ia berdiri tepat di hadapan putranya.Marvin masih menunduk. Tangannya mengepal di atas selimut, seolah ber

  • Simpanan Dosen Tampan   73

    Lima tahun lalu adalah…“…kecelakaan Papa,” ucap Marvin pelan.Bu Dyas memejamkan mata sebentar, lalu mengangguk membenarkan.“Semua orang menyebutnya kecelakaan. Tapi aku tidak pernah percaya.”Ia berbalik. Tatapannya terkunci pada Marvin yang mulai terlihat tak nyaman.Felly bisa merasakan jari Marvin menegang di genggamannya.“Truk itu muncul dari arah yang tidak seharusnya,” lanjut Bu Dyas. “Jalurnya kosong di cuaca yang cerah. Dan sopirnya… terlalu mudah menyerah.”Ia tersenyum hambar dengan kepahitan yang begitu kentara.Devan mengernyit.“Maksud Tante?”“Hanya lima tahun penjara, untuk membunuh suamiku,” jawab Bu Dyas dengan kecut.Sunyi.Olivia menutup mulutnya pelan. Oliver mengumpat lirih.Marvin sendiri tidak mengatakan apa-apa. Tapi rahangnya mengeras.“Aku menyelidikinya sendiri, diam-diam. Tanpa sepengetahuan siapa pun.” Matanya beralih ke Marvin. “Termasuk kamu.”Marvin menatap ibunya. Ada sesuatu di matanya. Campuran antara rasa terkejut, terluka, dan juga bingung haru

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status