Share

2

last update publish date: 2025-11-24 16:43:59

Tangan besar laki-laki itu mulai melucuti kancing baju Felly perlahan, melemparkan pakaian gadis itu ke sembarang arah. Sentuhan yang entah sengaja atau tak sengaja dari jemari kasar itu membuat bulu kuduk Felly meremang hebat. 

Tanpa sadar, tubuh atas Felly sudah terekspos dengan jelasnya. Kemejanya entah sudah terbang ke mana, menyisakan bra putih yang polos.

Asetnya tidak sebesar milik selebriti terkenal di negaranya, pun tak sekecil itu. Pas untuk ukuran tubuhnya tanpa perlu menyiksa ataupun insecure dibuatnya.

"Cantik," bisik lelaki itu yang kini bibirnya sudah menjelajahi leher Felly dengan lihainya.

"A-nghh, j-jangan digigit," balas Felly dengan pelan.

Ada gelenyar aneh yang tak bisa ia jelaskan. Bagian bawahnya sudah berkedut hebat. Ia belum pernah merasakan ini sebelumnya.

"AAHHH, j-jangan di situ!" tangan Felly menahan tangan laki-laki itu yang bergerak di atas kemaluannya yang masih terbungkus dengan celana jeans ketat.

"Sssttt, nanti juga enak," bisik laki-laki itu yang kemudian menggigit cuping telinga Felly dengan lembut. 

Hal itu rupanya mampu mengalihkan perhatian Felly hingga tanpa ia sadari, tangan besar itu sudah menelusup masuk ke dalam celananya.

"Kamu bilang jangan, tapi kamu sudah basah di sini," bisik lelaki itu dengan seduktif. 

Felly menggigit bibirnya, rangsangan di area vitalnya benar-benar tak bisa ia tahan. 

"Ng-nghh, s-stop!"

Saat laki-laki itu kian liar menjamah, akhirnya isakan Felly pun pecah.

"Ahh! J-jangan, kumohon jangan. Hiks …" Isakan yang perlahan menjadi sebuah gerungan penuh kesedihan.

Hal itu membuat lelaki itu terdiam. “Apa kamu baru di sini? Masih perawan?” tanyanya dengan kening berkerut.

Felly tak sanggup menjawab, tubuhnya bergetar karena sisa sensasi yang asing, berpadu dengan rasa takut yang membuatnya menangis.

Lelaki itu menghela napas dan membiarkan Felly, berbaring di samping Felly tanpa berkata apapun lagi.

Entah pukul berapa, Felly bergerak pelan. Lututnya masih begitu ngilu akibat didorong oleh para preman yang merangkap jadi debt collector semalam, pun badannya masih sakit-sakit sebab pelariannya dari kejaran debt collector kemarin.

Dengan erangan tertahan, Felly turun dari ranjang. Dalam keremangan, ia berjalan menuju sebuah pintu yang sudah ia ketahui sebagai kamar mandi. 

Di dalam, ia mengguyur tubuhnya dengan air dingin. Air mata kembali membasahi pipinya, namun samar oleh air yang mengalir dari shower yang menyala.

"Semalam aku masih dikasihani oleh laki-laki itu, tapi hari ini bagaimana? Apa aku kabur saja? Nasibku begini sekali. Sudahlah yatim piatu, dijual pula oleh debt collector itu untuk melunasi hutang-hutang ayahku. Huhuhu …"

Suara Felly serak, berkejaran dengan suara air yang tiada henti membasahi tubuhnya.

Tak ingin berlama-lama meratap, Felly segera mematikan keran dan meraih handuk dari kabinet kamar mandi.

Ia keluar dari ruangan basah itu, menatap sekeliling yang temaram, membuatnya kesulitan mengenali bajunya sendiri.

Di pinggir ranjang, nampak siluet seseorang masih tertidur dengan lelapnya, seolah tak terganggu dengan aktivitas Felly yang sudah bergerak ke sana kemari.

"Kalau aku menyalakan lampu, apakah akan mengganggu tidurnya?" gumam Felly.

Setelah pertimbangan panjang, Felly akhirnya mendekati saklar lampu dan menyalakannya.

"Maaf mengganggu tidurmu, aku hanya sebentar," gumamnya yang ia yakin hanya akan didengar oleh dirinya sendiri.

Felly mengendap-endap memunguti bajunya satu persatu. Saat mengambil bra-nya yang tercecer di dekat ranjang, Felly sempatkan melirik pada laki-laki itu yang masih tertidur.

"Tampan," gumamnya, yang entah kenapa ada perasaan tak menentu di dalam dadanya.

Mengingat semalam ia hampir direnggut keperawanannya oleh seorang laki-laki tampan, sosoknya sangat menawan membuatnya merasa jika laki-laki ini terlalu buruk.

Walaupun kata dua preman yang membawanya semalam itu telah berusia empat puluh, mungkin jika jadi direnggut dia tak akan sedih berkepanjangan.

"Ah, dasar otakku."

Memang, ketampanan bisa mengaburkan kewarasan.

Segera tersadar, Felly lalu kembali mematikan lampu utama dan berganti pakaian di sana. Pikirnya, toh, laki-laki itu masih tertidur.

Setelah kembali berpakaian rapi, Felly menatap bingung antara laki-laki itu dan juga pintu keluar.

"Aku pergi dulu, terima kasih, walaupun aku tak tau kenapa aku berterima kasih padamu. Ya, setidaknya aku tidak akan diganggu selama enam bulan ke depan."

Dengan mengendap-endap dan langkah dibuat sepelan mungkin, Felly membuka pintu dan keluar dari kamar itu dengan aman.

Preman-preman yang menungguinya pun tak nampak batang hidungnya, klub yang semalam ramai oleh musik yang berdentang, kini nampak sepi melompong. Hanya ada beberapa orang yang bekerja di sini tengah membereskan segala kekacauan.

Marvin menatap pada pintu yang tertutup, pandangannya tajam.

Ia kemudian berdiri, membiarkan selimut hangat itu jatuh ke lantai dan membuatnya tak diselimuti barang sehelai benangpun. Tubuhnya bak pahatan dewa Yunani begitu sempurna.

Dengan langkah tegap, ia berjalan menuju kamar mandi dan mulai mengguyur tubuhnya agar lebih segar.

Ingatannya berputar pada pemandangan tubuh Felly semalam, meski tak jadi menidurinya karena iba.

"Shh, sialan," desisnya kala menyadari area selatannya telah berdiri tegak. Membuatnya mau tak mau mengurutnya hingga pelepasan datang.

Seusai mandi, Marvin mengambil gawainya dan menghubungi seseorang.

"Cari tau tentang gadis yang semalam tidur denganku." titahnya tanpa bisa dibantah.

Seminggu berlalu sejak kejadian malam itu. Felly menatap penuh binar pada berkas di tangannya.

Dirinya baru saja membayar uang kuliahnya untuk semester baru yang sudah dilaksanakan dua minggu lalu. Memang sangat mepet, untung saja pihak keuangan kampus bisa menerima alasannya sehingga ia bisa membayar dengan sedikit terlambat.

Kematian ayahnya tentu saja alasan yang tak bisa ditolak siapapun.

Hari ini, tidak ada jadwal. Felly akan langsung ke minimarket untuk bekerja. Namun, di tengah perjalanannya, langkahnya terhenti saat sebuah suara memanggilnya.

"FELLY!" suara cempreng namun ramah itu membuat Felly berbalik dan tersenyum.

"Gistaaa!" Felly merentangkan tangannya dan sahabatnya itu langsung menyambut.

Mereka berpelukan cukup lama, sampai kemudian Gista menarik lengan Felly menuju saung yang berada di bawah pohon besar.

"Kamu sudah baikan?" tanya Gista dengan tatapan penuh kekhawatiran. Pasalnya, sahabatnya sejak semester satu ini menghilang begitu saja setelah mengabari ayahnya meninggal dunia.

Gista tidak bisa menghubungi Felly yang mematikan ponselnya karena terus diteror oleh para debt collector yang entah mengetahui nomornya dari mana.

Felly mengangguk menanggapi pertanyaan Gista.

"Puji Tuhan sudah lebih baik. Bagaimana perkuliahan semester lima? Apakah menyenangkan?" tanya Felly sembari tersenyum gemas. 

Melihat bagaimana frustrasinya wajah Gista, sudah dapat dipastikan semuanya tidak baik-baik saja.

"Stres, kepalaku rasanya mau pecah. Baru pembukaan semester saja tugas kita sudah bertubi-tubi. Dosen-dosen itu tidak tau apa kalau kita juga butuh kehidupan yang normal?"

Gista menggerutu dengan penuh semangat, mengumpati beberapa dosen yang selalu menggunakan template yang sama saat melihat mahasiswanya menggerutu mengenai tugas.

"Kalian ini sudah mahasiswa, seharusnya bisa mengatur hidup kalian dengan baik. Saya dulu juga pernah merasakan seperti kalian. Cih, kalau tau sudah pernah merasakan, kenapa harus balas dendam pada kita yang tidak tau apapun, kan? Huh."

Felly tergelak, Gista dan banyolannya memang selalu bisa menghiburnya.

"Omong-omong, kapan kamu akan masuk ke kelas lagi?" tanya Gista.

Felly mengetuk-ngetuk dagunya dengan jemari, lalu tersenyum dan menjawab, "Besok. Aku akan mulai masuk. Aku sudah membayar biaya kuliah tadi."

Gista mengangguk puas. "Oke! Aku akan tandai bangku untukmu."

Felly mendengus, "Tandai bangku apanya. Kamu, kan, selalu telat, yang ada aku yang mengetap kursi untukmu."

Gista cengengesan. "Hehe, selama dua minggu ini aku selalu terlambat dan duduk paling depan, betul-betul di hadapan dosen. Oh, bicara mengenai dosen, ada satu dosen tampaaaann sekali. Tapi killer parah! Satu sisi aku suka melihat wajahnya, namun di sisi lain jantungku juga tidak aman karena tatapannya setajam silet!"

Felly hanya tersenyum. "Kamu ini, aku jadi penasaran siapa dosen yang membuat kepalamu berlubang itu."

"Namanya Pak Marvin Lee! Makanya kamu harus masuk besok!”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Simpanan Dosen Tampan   140

    Tidak ada yang terburu-buru bergerak.Felly masih berada di dalam pelukan Marvin, menikmati rasa tenang yang sejak tadi memenuhi dadanya. Untuk pertama kalinya sejak mereka tiba di Italia, pikirannya benar-benar diam.Tidak memikirkan kampus.Tidak memikirkan masa depan.Tidak memikirkan jarak.Hanya saat ini yang berisi mereka berdua.Entah berapa lama mereka berdiri seperti itu sampai akhirnya Marvin menunduk sedikit, dagunya hampir menyentuh puncak kepala Felly.“Capek?” Marvin bertanya.Felly menggeleng pelan.“Nggak.”“Yakin?”“Nggak ngantuk juga.”Marvin mengangkat sebelah alis.“Kamu tahu sekarang jam berapa?”Felly berkedip beberapa kali sebelum akhirnya mengangkat kepala untuk melihat wajah pria itu.“Jam berapa?”“Mas juga nggak tahu. Nggak pakai jam tangan. Ponsel juga kayaknya di meja tadi.”Felly terdiam. Lalu beberapa detik kemudian tertawa kecil.Marvin ikut tersenyum tipis.“Aku kira Mas tahu.”“Gampang banget nggak fokus kamu, ya.”Felly meringis kecil.“Ya habis Mas

  • Simpanan Dosen Tampan   139

    “Mas?” panggilnya dengan lembut.“Hm?”“Nanti… aku hidup sendiri di sini, ya? Tanpa Mas, tanpa Gista, tanpa semuanya?”Marvin terdiam.Tatapannya tidak lepas dari wajah Felly.Beberapa menit yang lalu wanita itu masih berkeliling rumah dengan penuh antusias. Matanya berbinar melihat setiap sudut ruangan, membayangkan kehidupan baru yang mungkin menunggunya di kota ini.Namun sekarang ekspresi itu menghilang.Yang tersisa hanyalah keraguan yang sejak tadi berusaha ia sembunyikan.Marvin menyadari bahwa yang membuat Felly takut bukanlah kampus itu.Bukan pula Italia.Melainkan semua yang harus ia tinggalkan untuk sampai ke sana.Marvin masih belum menjawab.Ruangan itu tiba-tiba terasa lebih sunyi dari sebelumnya, meski sebenarnya tidak ada yang berubah. Suara kecil dari luar jendela masih ada, hembusan angin sore masih bergerak pelan, cahaya keemasan masih jatuh di lantai kamar itu.Tapi bagi Felly, semuanya seperti sedikit menjauh.Tangannya yang tadi ringan kini terasa sedikit kaku d

  • Simpanan Dosen Tampan   138

    Felly menatap penuh kekaguman pada seisi rumah yang kini ia pijaki. Lantai marmernya yang mengkilat, dan beberapa ornament khas Eropa yang megah.“Suka?” tanya Marvin yang memeluk Felly dari belakang dan melingkarkan kedua lengannya di perut wanita itu. Dagunya ia topang di bahu Felly di mana si empunya sedang sibuk menatap sekeliling rumah dengan takjub.“Woah… megah sekali. Mama itu… orang kaya banget, ya, Mas?”Marvin terkekeh. “Tidak mau sombong, tapi… ya… sekaya itu,” jawab Marvin.Felly menoleh, jarak wajahnya dengan Marvin tak sampai sejengkal, bahkan napas laki-laki itu menerpa wajahnya dengan hangat.Mata mereka bertatapan, lalu Marvin memajukan wajahnya dan mencium bibir Felly dengan singkat.“Malah melamun,” tegur Marvin saat Felly sadar akan keterkejutannya dicium Marvin.“Bukan melamun,” jawab Felly cepat. “Tidak menyangka saja mama punya properti semegah ini. Dan aku akan tinggal di sini kalau jadi kuliah di sini?”Marvin mengangguk, ia berdiri tegak dan memutar wajah is

  • Simpanan Dosen Tampan   137

    Di dalam bilik kantin itu, suasana perlahan kembali stabil.Hanya tersisa Felly dan Marvin yang duduk berhadapan, dengan sisa makanan yang tidak lagi terlalu disentuh. Di luar kaca pembatas, kantin masih ramai seperti biasa, mahasiswa datang dan pergi dengan urusan masing-masing, tapi semua itu terasa seperti berada di dunia yang agak jauh.Di dalam bilik, justru sebaliknya.Heningnya tidak terasa kosong. Lebih seperti jeda yang nyaman setelah banyak hal yang terjadi sejak pagi. Felly duduk dengan posisi sedikit bersandar, matanya sesekali bergerak mengikuti aktivitas di luar, tapi tidak ada yang benar-benar ia kejar dengan pikirannya.Marvin tetap tenang di depannya, melanjutkan makan dengan ritme yang santai, sesekali berhenti sebentar tanpa menunjukkan terburu-buru. Tidak ada percakapan yang dipaksakan, tidak ada kebutuhan untuk mengisi ruang.Hanya suasana yang berjalan pelan, seolah dunia memberi mereka waktu sebentar untuk diam.Felly tidak langsung bicara. Ia hanya duduk sambil

  • Simpanan Dosen Tampan   136

    Keesokan harinya…Setelah pertemuan dengan Miss Claudy, tur kampus mereka berlanjut ke beberapa gedung lain yang belum sempat dikunjungi sehari sebelumnya.Rebecca masih sesekali menjelaskan fasilitas kampus, sementara Elena lebih banyak melontarkan komentar-komentar spontan yang berhasil membuat Felly tertawa beberapa kali.Mereka melihat perpustakaan utama yang luas dengan beberapa lantai khusus untuk penelitian dan ruang diskusi. Setelah itu, mereka berkeliling ke student center, area organisasi mahasiswa, hingga asrama internasional yang letaknya tidak terlalu jauh dari gedung fakultas.Semakin banyak tempat yang ia lihat, semakin jelas pula gambaran kehidupan kampus itu di kepalanya.Tidak lagi terasa seperti tempat asing yang hanya ia lihat dari brosur atau cerita orang lain.Perlahan, tempat itu mulai terlihat seperti tempat yang benar-benar dihuni manusia. Tempat orang belajar, mengeluh soal tugas, begadang menjelang ujian, dan menjalani kehidupan sehari-hari.Menjelang siang,

  • Simpanan Dosen Tampan   135

    Rebecca memimpin mereka untuk masuk lebih jauh. Beberapa kali Elena maupun Marvin memperkenalkan beberapa gedung yang mungkin nantinya akan banyak dikunjungi oleh Felly jika ia jadi untuk pindah ke kampus ini.“Nah, seluruh ruangan di sini khusus untuk para staf kampus, termasuk dosen. Jadi tidak akan sulit mencarinya. Ayo,” Rebecca masuk dan berhenti di depan pintu bercat mahogany.Di atasnya tertera papan label bertuliskan “HEAD OF STUDY PROGRAM – English Literature”Rebecca mengetuk pintu beberapa kali, lalu terdengar suara seorang wanita dari dalam untuk mempersilakan mereka masuk.Pintu terbuka, memperlihatkan seorang perempuan dengan penampilan rapi dan profesional, mengenakan kemeja krem dengan rambut yang diikat rendah. Usianya tidak jauh dari Rebecca, tapi ada aura percaya diri yang membuatnya langsung terlihat dominan di ruang itu.“Hi, Mrs. Rebecca.”Tatapannya langsung bergerak ke arah rombongan kecil di depannya.Lalu berhenti sedikit lebih lama saat melihat Marvin.“I h

  • Simpanan Dosen Tampan   84

    Marvin terkekeh sinis di kursinya. "Kalau itu yang kalian harapkan, maaf harus mengecewakan."Lalu, layar besar di ujung meja menyala. Berisi bukti-bukti penting kejahatan orang-orang yang menyerang Marvin."Pak Hadi, anda sungguh sangat mengecewakan. Penggelapan dana miliaran, padahal jabatan suda

  • Simpanan Dosen Tampan   83

    “Ada apa?” tanya Devan meski ia sudah bisa menebak permasalahan apa yang timbul akibat masalah ini.“Harga saham turun hampir sepuluh persen. Para pemegang saham memaksa untuk rapat.”Devan menarik napas panjang, ia berdiri dan menepuk pundak Marvin.“Selesaikanlah. Urusan media biar jadi urusanku

  • Simpanan Dosen Tampan   82

    “Bu Intan bicara apa saja, sayang?” tanya Marvin setelah mendudukkan Felly di sofa.Felly tersenyum, menarik Marvin yang tampak khawatir untuk duduk di sampingnya.“Tidak bicara apa-apa. Hanya menanyakan apakah aku terpaksa menikah sama kamu, Mas.” Felly menjawab dengan jujur.Marvin terdiam, lamat

  • Simpanan Dosen Tampan   80

    Hari yang ditakutkan akhirnya datang.Felly tengah bercermin, mengolesi rambutnya dengan vitamin sebelum mengeringkannya denga hair dryer. Dua jam lagi kelasnya akan dimulai, Marvin sebagai dosennya.Sungguh sebuah kebetulan yang entah harus mereka rayakan atau takutkan.Marvin keluar dari kamar ma

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status