Share

127

last update publish date: 2026-05-22 11:06:56

Sepeninggal Elena dari hadapan keduanya, Felly kembali duduk di sofa dan kepalanya menunduk. Kedua tangannya saling terpaut tak tenang di atas pahanya.

Marvin menyadari hal itu.

Diam-diam senyum tersungging di bibirnya, dan dengan gerakan pelan, ia berdiri dan duduk di samping Felly.

“Cemburu?” tanyanya retoris.

Felly mendengus, tak menatap Marvin sama sekali bahkan sedikit menggeser tubuhnya agar tidak menempel pada suaminya itu.

Marvin tidak sebal, ia justru terkekeh. Dengan gerakan cepat, ia
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (2)
goodnovel comment avatar
jamalia Hakim
jgn pake lama lanjutannya kk
goodnovel comment avatar
Kiki Kustanti
akhirnyaaaa sehat selalu utk kk nya
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Simpanan Dosen Tampan   136

    Keesokan harinya…Setelah pertemuan dengan Miss Claudy, tur kampus mereka berlanjut ke beberapa gedung lain yang belum sempat dikunjungi sehari sebelumnya.Rebecca masih sesekali menjelaskan fasilitas kampus, sementara Elena lebih banyak melontarkan komentar-komentar spontan yang berhasil membuat Felly tertawa beberapa kali.Mereka melihat perpustakaan utama yang luas dengan beberapa lantai khusus untuk penelitian dan ruang diskusi. Setelah itu, mereka berkeliling ke student center, area organisasi mahasiswa, hingga asrama internasional yang letaknya tidak terlalu jauh dari gedung fakultas.Semakin banyak tempat yang ia lihat, semakin jelas pula gambaran kehidupan kampus itu di kepalanya.Tidak lagi terasa seperti tempat asing yang hanya ia lihat dari brosur atau cerita orang lain.Perlahan, tempat itu mulai terlihat seperti tempat yang benar-benar dihuni manusia. Tempat orang belajar, mengeluh soal tugas, begadang menjelang ujian, dan menjalani kehidupan sehari-hari.Menjelang siang,

  • Simpanan Dosen Tampan   135

    Rebecca memimpin mereka untuk masuk lebih jauh. Beberapa kali Elena maupun Marvin memperkenalkan beberapa gedung yang mungkin nantinya akan banyak dikunjungi oleh Felly jika ia jadi untuk pindah ke kampus ini.“Nah, seluruh ruangan di sini khusus untuk para staf kampus, termasuk dosen. Jadi tidak akan sulit mencarinya. Ayo,” Rebecca masuk dan berhenti di depan pintu bercat mahogany.Di atasnya tertera papan label bertuliskan “HEAD OF STUDY PROGRAM – English Literature”Rebecca mengetuk pintu beberapa kali, lalu terdengar suara seorang wanita dari dalam untuk mempersilakan mereka masuk.Pintu terbuka, memperlihatkan seorang perempuan dengan penampilan rapi dan profesional, mengenakan kemeja krem dengan rambut yang diikat rendah. Usianya tidak jauh dari Rebecca, tapi ada aura percaya diri yang membuatnya langsung terlihat dominan di ruang itu.“Hi, Mrs. Rebecca.”Tatapannya langsung bergerak ke arah rombongan kecil di depannya.Lalu berhenti sedikit lebih lama saat melihat Marvin.“I h

  • Simpanan Dosen Tampan   134

    Rebecca berjalan paling depan, langkahnya stabil seperti sudah hafal setiap sudut kampus itu. Elena di sebelahnya sesekali menoleh, memberi komentar kecil tentang mahasiswa yang lewat atau gedung yang mereka lewati.“Gedung English Literature ada di sisi sana,” kata Rebecca sambil sedikit menunjuk ke arah depan.Felly mengangguk pelan, mengikuti di tengah rombongan itu. Tangannya masih sesekali meremas ujung coat Marvin, walau sudah tidak seerat tadi di mobil.Marvin berjalan di sampingnya, sedikit di belakang separuh langkah, seolah sengaja memberi ruang agar Felly bisa melihat semuanya tanpa terganggu.Udara kampus terasa berbeda. Lebih terbuka, tapi juga lebih ramai dari yang ia bayangkan.Mereka melewati beberapa kelompok mahasiswa yang sedang duduk di tangga bangunan, sebagian tertawa pelan sambil membawa kopi, sebagian lain sibuk dengan laptop di pangkuan. Bahasa asing terdengar berselang-seling di udara, membuat Felly sesekali hanya menangkap potongan kata yang tidak sepenuhnya

  • Simpanan Dosen Tampan   133

    Marvin melirik jam tangannya sekali sebelum mengangguk kecil. “Rebecca dan Elena sudah nunggu di bawah,” katanya santai.Felly langsung panik kecil. “Hah? Kok Mas nggak bilang dari tadi!”“Aku bilang sekarang,” jawab Marvin tenang sambil merapikan coat di bahu Felly sedikit lebih lurus. “Lagipula kamu lama di kamar mandi.”“Siapa yang bikin lama?!” balas Felly cepat, langsung sadar dan menutup mulutnya sendiri.Marvin cuma terkekeh.Tanpa banyak drama lagi, mereka akhirnya turun dari apartemen menuju lobi.Begitu pintu lift terbuka—“Lama banget,” suara Elena langsung terdengar tajam.Rebecca di sebelahnya hanya tersenyum kecil, jauh lebih kalem. “Selamat pagi… atau siang?”Felly langsung menunduk sedikit malu. “Maaf… kesiangan.”Elena menyipit ke arah Marvin. “Kesiangan atau sengaja dikasih kesempatan bangun siang?”Marvin tidak tersinggung sedikit pun. “Keduanya.”“Mas!” Felly langsung menyikut pelan pinggangnya.Rebecca tertawa kecil melihat interaksi itu. “That’s okay, Felly. Aku

  • Simpanan Dosen Tampan   132

    Malam panas berakhir, Marvin dan Felly masih bergelung di dalam selimut meski matahari sudah mulai meninggi.Sampai kemudian, suara dering ponsel milik Marvin membangunkan si empunya barang.Marvin mengerang, dengan mata tertutup ia meraba nakas di samping ranjang.“Halo?” sapanya dengan suara serak khas bangun tidur.“Kamu di mana?” suara Elena terdengar sebal.Marvin peka, langsung melihat jam di ponselnya yang sudah menunjukkan pukul sebelas siang.“Oh, sudah siang,” ujar Marvin tanpa rasa bersalah.Elena mendengus, “Rebecca ada janji dengan orang, diundur saja sekalian jam tiga, bagaimana? Aku yakin Felly pun pasti belum bangun.”Marvin terkekeh. “Terima kasih sudah pengertian. Aku akan datang tepat waktu nanti.”Elena menggumam dan langsung memutus panggilan. Marvin hanya bisa menipiskan bibirnya dan menoleh ke arah Felly yang masih terlelap.Ia mendekat, bubuhkan kecupan kecil di kening Felly hingga istri kecilnya itu mengernyitkan alisnya. Tampak sedikit terganggu dengan perlak

  • Simpanan Dosen Tampan   131

    Keheningan kembali melanda. Felly menyandarkan kepalanya pada bahu Marvin. Tangannya membolak-balikkan brosur kampus dan beberapa berkas pendukung yang diberikan Marvin tadi.“Besok… kamu belum siap, kita tidak perlu pergi besok. Kamu bisa ambil waktu sebanyak yang kamu butuhkan, sayang,” ucap Marvin dengan lembut.Ia menyadari jika alur hidup Felly bukanlah miliknya. Ia akan mencoba agar Felly tidak merasa ditinggal lagi.Felly pun menyadari niat baik Marvin, ia diam-diam tersenyum tipis dan merasa lega.Marvin yang keras kepala itu ternyata bisa berubah juga.“Aku tetap mau pergi besok. Udah terlalu lama libur, aku takut otakku nggak bisa dipakai lagi.”Marvin terkekeh, ia mengelus rambut Felly dengan lembut. “Baiklah.”“Tapi aku boleh menentukan jurusan yang aku inginkan sendiri, kan?” tanya Felly sedikit ragu.Marvin perlahan menjauhkan kepala Felly dari bahunya, ia menggenggam kedua tangan Felly dan menatapnya penuh kasih.“Boleh,” jawabnya kemudian.Ditatap begitu, Felly jadi sa

  • Simpanan Dosen Tampan   84

    Marvin terkekeh sinis di kursinya. "Kalau itu yang kalian harapkan, maaf harus mengecewakan."Lalu, layar besar di ujung meja menyala. Berisi bukti-bukti penting kejahatan orang-orang yang menyerang Marvin."Pak Hadi, anda sungguh sangat mengecewakan. Penggelapan dana miliaran, padahal jabatan suda

  • Simpanan Dosen Tampan   83

    “Ada apa?” tanya Devan meski ia sudah bisa menebak permasalahan apa yang timbul akibat masalah ini.“Harga saham turun hampir sepuluh persen. Para pemegang saham memaksa untuk rapat.”Devan menarik napas panjang, ia berdiri dan menepuk pundak Marvin.“Selesaikanlah. Urusan media biar jadi urusanku

  • Simpanan Dosen Tampan   82

    “Bu Intan bicara apa saja, sayang?” tanya Marvin setelah mendudukkan Felly di sofa.Felly tersenyum, menarik Marvin yang tampak khawatir untuk duduk di sampingnya.“Tidak bicara apa-apa. Hanya menanyakan apakah aku terpaksa menikah sama kamu, Mas.” Felly menjawab dengan jujur.Marvin terdiam, lamat

  • Simpanan Dosen Tampan   80

    Hari yang ditakutkan akhirnya datang.Felly tengah bercermin, mengolesi rambutnya dengan vitamin sebelum mengeringkannya denga hair dryer. Dua jam lagi kelasnya akan dimulai, Marvin sebagai dosennya.Sungguh sebuah kebetulan yang entah harus mereka rayakan atau takutkan.Marvin keluar dari kamar ma

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status