Compartilhar

Bab 7

Autor: Hea
Evan mengalihkan pandangannya dan berkata dengan nada dingin, "Bagaimanapun juga, kamu itu adik sepupuku. Aku nggak mungkin membiarkanmu mati begitu saja di depan mataku. Ada dua alasan kenapa aku nggak langsung menyelamatkanmu waktu itu. Pertama, aku nggak mau mempermalukan ibu di depan banyak orang. Kedua ... aku berharap kejadian itu bisa memberimu pelajaran, agar kelak kamu menjaga kehormatan diri dan nggak lagi melakukan kesalahan. Kalau nggak, nanti nggak bakal ada yang berani menikahimu."

Dia terdiam sejenak, lalu menatap mata Karen dan berkata dengan tegas, kata demi kata, "Selain itu, di hatiku, cuma ada Julia seorang."

Hati Karen terasa sakit luar biasa. Dia tidak mengerti mengapa Evan bisa begitu yakin dengan perasaannya. "Kenapa ... kenapa kamu begitu mencintainya?"

Evan kembali mengalihkan pandangan dan menatap kejauhan. Nada suaranya terdengar samar, tetapi keyakinannya tak tergoyahkan. "Menyukai seseorang ya karena memang menyukainya. Memangnya harus ada alasan?"

Karen memejamkan mata dan tidak lagi berkata apa-apa.

Tak ada yang lebih menyakitkan daripada hati yang telah benar-benar mati.

"Karena kamu sudah nggak apa-apa, beristirahatlah dan pulihkan kesehatanmu."

Setelah meninggalkan pesan itu, Evan bangkit dan pergi.

Selama beberapa hari berikutnya, Karen hanya berdiam diri di kamarnya sambil memulihkan luka-lukanya.

Hingga pada suatu hari, Julia datang seorang diri untuk menjenguknya.

Setelah berpura-pura menunjukkan perhatian selama beberapa saat, Karen akhirnya muak melihat topeng kepalsuan itu. Dia berkata dengan dingin, "Di sini cuma ada kita berdua. Nggak perlu berpura-pura lagi. Pakaian dalam di hadiah ulang tahun Evan itu, kamu yang menukarnya, 'kan? Kenapa kamu tega mencelakaiku seperti ini?"

Senyum lembut di wajah Julia seketika lenyap, digantikan oleh kebencian dan kecemburuan yang dingin. "Kenapa? Karena kamu terlalu cantik! Selama kamu masih muncul di hadapan Evan, aku nggak bakal pernah bisa merasa tenang! Cuma dengan menyingkirkanmu sepenuhnya, aku bisa hidup tanpa rasa khawatir!"

Belum selesai berbicara, Julia tiba-tiba mencabut tusuk konde dari rambutnya, lalu menggores pipinya sendiri dengan keras hingga meninggalkan luka berdarah. Sesaat kemudian, dia menjerit dan menjatuhkan diri ke lantai!

Hampir bersamaan dengan itu, Evan menerobos masuk. Begitu melihat luka berdarah di wajah Julia, raut mukanya langsung berubah drastis. "Apa yang terjadi?"

Julia menangis hingga wajahnya basah oleh air mata. Sambil menunjuk Karen, dia berkata, "Evan ... hari itu, bibi memukul Dik Karen, lalu dia melampiaskan semua kekesalannya kepadaku .... Dia bilang, kalau bukan karena aku, kamu pasti bakal menyukainya .... Jadi, dia ... dia merusak wajahku!"

Evan murka. Dia segera menggendong Julia dan membawanya mencari tabib istana. Sebelum pergi, dia sempat melirik Karen dengan tatapan sedingin es, seolah-olah sedang memandang orang mati.

Malam itu, Evan datang untuk meminta pertanggungjawaban Karen. Suaranya sedingin es. "Semua yang kukatakan sebelumnya kamu anggap angin lalu, ya? Sudah kubilang aku nggak menyukaimu. Kenapa kamu terus-menerus menyakiti Julia?"

Karen berusaha menjelaskan dengan sia-sia, "Aku nggak melakukannya! Dia sendiri yang ...."

Evan menatap wajah Karen yang pucat, tetapi tetap bersikeras membela diri. Entah mengapa, amarah dan kejengkelan tiba-tiba membuncah dalam hatinya.

Kenapa wanita ini tidak mau mengakui kesalahannya? Kenapa dia terus-menerus menguji kesabarannya?

"Cukup!" bentak Evan, memotong perkataan Karen. Matanya dipenuhi rasa muak. "Bahkan sampai sekarang, kamu masih berani berdalih! Sepertinya, kamu nggak bakal menyerah sebelum merasakan penderitaan yang cukup!"

Demi membuat Karen benar-benar "menyadari kenyataan", Evan bahkan langsung memerintahkan agar Karen dijebloskan ke penjara bawah tanah kekaisaran yang suram dan mengerikan.

Dalam waktu singkat, hanya tiga hari, Karen telah mengalami berbagai penyiksaan di dalam penjara itu.

Dicambuk, jari-jarinya dijepit dengan alat penyiksa. Saat diseret keluar, tubuhnya sudah dipenuhi luka dan berlumuran darah. Nyawanya nyaris melayang.

Namun, selama tiga hari itu, sisa perasaan Karen terhadap Evan yang masih tertinggal pun hancur sepenuhnya.

Ketika dia dilempar keluar dari penjara seperti kain lap yang sudah usang, dua kereta kuda telah menunggunya di luar.

Kereta pertama berhiaskan ornamen sederhana. Itulah kereta yang dikirim kediaman adipati untuk menjemputnya. Kereta kedua memancarkan aura dingin dan mengintimidasi. Kereta itu datang dari kediaman jenderal untuk menjemput pengantin wanita yang akan dinikahkan demi membawa keberuntungan bagi sang jenderal yang sedang sakit.

Pengurus kediaman jenderal maju ke depan dan berkata dengan hormat, tetapi tegas, "Nona Karen, hari ini adalah hari pernikahan Anda dengan jenderal kami. Pernikahan ini diharapkan membawa keberuntungan untuk jenderal. Adik Anda sudah lebih dulu dijemput dan dibawa ke kediaman jenderal buat tinggal sementara. Silakan naik ke kereta, Nona."

Karen mengangguk lemah. Suaranya serak ketika menjawab, "Aku mengerti. Izinkan aku berbicara sebentar dengan orang-orang dari kediaman adipati."

Dengan tubuh yang remuk dan penuh luka, dia melangkah tertatih-tatih menuju kereta kediaman adipati. Dia berkata pelan ke kusir, "Tolong sampaikan ke kakak sepupuku ...."

"Terima kasih ... karena dia masih bersedia mengirim orang buat menjemputku."

"Tapi ... aku nggak bakal kembali."

"Aku bakal menikah."

"Mulai sekarang, semua utang budi dan dendam di antara kita ... sudah lunas. Baik hidup maupun mati ... kita nggak bakal pernah bertemu lagi."

Setelah mengatakan itu, dia tidak lagi melirik kusir tersebut. Karen perlahan berbalik, lalu menerima kain penutup kepala pengantin berwarna merah menyala dari pelayan kediaman jenderal, lalu tanpa ragu memakainya ke kepalanya.

Kain penutup kepala merah itu menyembunyikan wajahnya yang dipenuhi bekas cambukan dan lebam. Kain itu juga menutupi secercah cahaya terakhir di matanya.

Kemudian, tanpa sedikit pun keraguan, dia menaiki kereta kuda milik kediaman jenderal.

Roda kereta berputar, membawanya menuju masa depan yang sama sekali tidak dia ketahui.

Sekaligus memutuskan sepenuhnya benang terakhir yang masih menghubungkan dirinya dengan Evan.

Sesuai keinginannya ….

Karen tak akan pernah lagi, dan tak bisa lagi … mengusiknya.

Continue a ler este livro gratuitamente
Escaneie o código para baixar o App

Último capítulo

  • Sinar Rembulan yang Lembut   Bab 25

    Waktu terus berlalu, tahun demi tahun berganti dalam ketenangan dan kedamaian.Setelah melewati berbagai cobaan, hubungan Karen dan Malvin menjadi makin erat.Malvin bukanlah orang yang pandai mengungkapkan perasaan dengan kata-kata, tetapi cintanya tercermin dalam setiap hal kecil yang dilakukannya.Dia selalu mengingat makanan kesukaan Karen, menyelimutinya dengan mantel saat istrinya membaca buku hingga larut malam, mendengarkan dengan saksama pendapatnya mengenai urusan kediaman, serta tanpa ragu membelanya di hadapan orang lain. Dia memberikan penghormatan, kepercayaan, dan perlindungan yang belum pernah Karen rasakan sebelumnya. Di kediaman jenderal, Karen bukan lagi gadis yatim piatu yang menumpang hidup di rumah orang lain, bukan pula Nona Karen yang harus bersusah payah mengambil hati orang-orang di sekitarnya. Kini, dia adalah nyonya rumah yang sah dan dihormati semua orang.Setahun kemudian, Karen melahirkan sepasang anak kembar laki-laki dan perempuan dengan selamat.Sang p

  • Sinar Rembulan yang Lembut   Bab 24

    Setelah mengucapkan kata-kata itu, kepalanya terkulai ke samping dan Evan benar-benar kehilangan kesadaran.Karen menatap wajahnya yang pucat pasi, merasakan seolah-olah nyawanya perlahan-lahan meninggalkan tubuhnya. Perasaannya begitu rumit hingga sulit diungkapkan.Ada keterkejutan, rasa takut yang baru mereda setelah bahaya berlalu, dan sedikit rasa haru yang sulit dijelaskan. Namun, yang paling mendominasi adalah beban berat yang terasa begitu besar hingga nyaris tak sanggup dia tanggung.Karen memejamkan mata sejenak. Dia segera menekan segala emosinya, lalu kembali menenangkan diri.Dia memberi perintah kepada para pelayan yang panik, "Cepat! Angkat Putra Pewaris Evan ke kereta! Segera kembali ke kota! Panggil tabib istana terbaik! Cepat!"Suaranya tenang dan tegas, memancarkan wibawa yang tidak terbantahkan.Seolah-olah telah menemukan sosok yang bisa diandalkan, semua orang segera melaksanakan perintahnya.Setibanya di kota, Kediaman Adipati Pelindung Negara gempar begitu mende

  • Sinar Rembulan yang Lembut   Bab 23

    Situasi perang di perbatasan utara makin genting, dengan kobaran api peperangan yang membentang di mana-mana. Di kediaman jenderal, Karen menjalani hari-hari yang tenang dan bermakna.Dia mengurus segala urusan kediaman dengan tertib, menggantikan Malvin untuk berbakti kepada orang tuanya, sekaligus menenangkan hati mereka. Saat senggang, dia menemani adiknya, Aurel, yang berangsur-angsur pulih, atau mempelajari buku-buku pengobatan dengan harapan dapat membantu merawat luka lama Malvin.Wajahnya perlahan-lahan kembali merona. Ketenangan dan ketegaran yang terpancar di antara alisnya membuatnya memancarkan pesona yang berbeda dari kecantikan seorang gadis muda yang lembut dan menawan. Kini, dia memiliki keanggunan seorang wanita dewasa yang matang.…Setelah melewati penyesalan yang begitu menyakitkan dan masa-masa ketika dirinya nyaris kehilangan akal, Evan akhirnya terjerumus ke dalam keputusasaan yang sunyi dan mati rasa.Dia tidak lagi berharap Karen akan memaafkannya. Bahkan, dia

  • Sinar Rembulan yang Lembut   Bab 22

    Setelah beristirahat selama lebih dari sebulan di vila kerajaan, kondisi Malvin telah pulih sebagian besar. Meskipun belum kembali ke kondisi puncaknya, kesehatannya sudah tidak lagi mengkhawatirkan.Situasi di istana terus berubah dengan cepat. Tiba-tiba, keadaan darurat muncul di perbatasan utara. Pasukan berkuda bangsa asing menyerbu wilayah perbatasan dan berhasil merebut beberapa kota berturut-turut. Situasinya sangat genting.Kaisar memanggil Malvin untuk menghadap pada malam itu juga. Di Balairung Emas, meskipun wajah Malvin masih menyisakan sedikit pucat akibat sakit, punggungnya tetap tegak dan tatapannya mantap membara."Jenderal Malvin, kondisi kesehatanmu ...." Kaisar tampak cemas.Malvin berlutut dengan satu kaki. Suaranya tenang dan penuh ketegasan. "Yang Mulia, hamba sudah pulih. Melindungi keluarga dan negara adalah kewajiban yang nggak mungkin hamba hindari! Mohon perkenankan hamba memimpin pasukan buat berangkat berperang, mengusir bangsa barbar dan merebut kembali wi

  • Sinar Rembulan yang Lembut   Bab 21

    Namun, semuanya belum berakhir. Evan melaporkan hasil penyelidikannya kepada kedua orang tuanya dan pihak istana.Bukti-bukti kejahatan Julia, mulai dari menjebak Nyonya Karen yang menyandang gelar kehormatan kekaisaran hingga menipu keluarga kerajaan, begitu kuat dan tidak terbantahkan. Kasus ini pun menggemparkan banyak pihak.Kaisar murka dan memerintahkan penyelidikan menyeluruh.Keluarga Pradana pun terseret dalam kasus tersebut dan dengan cepat mengalami kejatuhan. Semua gelar kehormatan Julia dicabut. Dia diturunkan statusnya menjadi rakyat biasa dan dijatuhi hukuman pengasingan ke tempat yang berjarak ratusan kilometer.Putri perdana menteri yang dulu berkedudukan tinggi itu akhirnya meninggal karena sakit di tengah perjalanan pengasingannya yang penuh penderitaan. Akhir hidupnya sungguh tragis.Sementara itu, Evan juga menjadi bahan tertawaan seluruh ibu kota karena ketidakmampuannya menilai orang. Untuk pertama kalinya, dia merasakan sendiri bagaimana rasanya menjadi bahan ej

  • Sinar Rembulan yang Lembut   Bab 20

    Baru setelah kehilangan Karen sepenuhnya, Evan tersadar bahwa cinta mendalam yang selama ini dia buang begitu saja ternyata telah mengakar hingga ke tulang sumsum.Selain itu, dia sendiri ternyata begitu bodoh.Penyesalan dan kesadaran yang datang terlambat membakar akal sehat Evan bagai api beracun. Dia mulai mengingat kembali dengan kalut segala sesuatu yang terjadi selama setahun terakhir, terutama setiap kejadian ketika Karen dipermalukan. Makin dia memikirkannya, makin banyak hal yang terasa janggal.Di balik kelembutan dan kebaikan hati Julia yang tampak sempurna tanpa cela, seolah selalu tersembunyi sedikit kelicikan dan kepura-puraan yang samar.Dia mengerahkan kekuatan Kediaman Adipati Pelindung Negara untuk mulai menyelidiki Julia secara diam-diam.Petunjuk pertama ditemukan dari pelayan yang menuduh Karen mendorong Julia hingga tercebur ke air saat jamuan menikmati bunga plum. Setelah bersusah payah, orang-orang Evan akhirnya menemukan pelayan itu di sebuah perkebunan terpen

Mais capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status