Partager

Bab 6

Auteur: Hea
Sejak saat itu, Karen mengurung diri di kamar dan tidak pernah keluar, seolah-olah dirinya tidak pernah ada.

Hingga tiba hari ulang tahun Evan. Kediaman mengadakan jamuan makan, dan Karen terpaksa kembali menampakkan diri.

Saat tiba waktunya memberikan hadiah, Julia hanya mempersembahkan sebuah kantong wewangian dengan sulaman biasa. Bahkan, rempah-rempah beraroma tajam di dalamnya pun bukan jenis yang disukai Evan. Evan justru menerimanya seolah-olah benda itu sangat berharga. Senyum tulus mengembang di matanya, bahkan dia langsung menghadiahi Julia sebuah liontin panjang umur yang berkilau hangat.

Semua tamu yang hadir terperangah.

Pasalnya, sudah menjadi rahasia umum bahwa untuk mendapatkan liontin panjang umur dari Kuil Pelindung Negara, seseorang harus berikrar bersedia mengorbankan sepuluh tahun usianya.

Julia pun terkejut hingga menutupi mulutnya dengan tangan. "Evan, hari ini adalah hari ulang tahunmu. Kenapa kamu memberiku benda yang begitu berharga?"

Evan menatapnya lekat-lekat, lalu berkata dengan suara lantang dan penuh kasih, "Karena itulah keinginanku. Aku rela mengorbankan sepuluh tahun usiaku demi memberimu umur panjang hingga seratus tahun, serta kehidupan yang damai dan penuh kebahagiaan."

Berdiri di sudut ruangan, Karen mendengar sumpah yang begitu mengguncang hati itu. Rasanya seolah-olah jantungnya terkoyak dengan paksa.

Pada akhirnya, dia tetap melangkah maju dan menyerahkan hadiah yang telah disiapkannya.

Sebuah kotak kayu cendana merah berkualitas tinggi, berisi sebuah kuas berbulu serigala yang dipilihnya dengan cermat.

Namun, ketika Evan membuka kotak itu di hadapan semua orang, benda yang terpampang di dalamnya ternyata adalah sebuah pakaian dalam berwarna merah menyala dengan sulaman bunga teratai kembar yang tumbuh dari satu tangkai.

"Wah!"

Seluruh ruangan langsung gempar.

Bibi Karen, istri Adipati Pelindung Negara, seketika membeku dengan wajah kelam. Dia tiba-tiba bangkit, bergegas menghampiri Karen, lalu mengangkat tangan dan menampar pipinya keras-keras.

"Anak durhaka! Aku mengasihani kalian yang sudah kehilangan kedua orang tua, makanya aku berbaik hati menampung kalian berdua! Dulu, kamu nggak tahu malu menggoda Evan, itu saja sudah keterlaluan! Sekarang, Evan sudah memiliki pujaan hati yang juga mencintainya, tapi kamu masih berani melakukan perbuatan sehina ini di siang bolong, di hadapan semua orang! Kamu mau menaruh muka Kediaman Adipati Pelindung Negara di mana?"

Bibi menegurnya dengan keras, lalu melimpahkan seluruh kesalahan kepada Karen.

Bagaimanapun juga, dulu, menyuruh Karen merayu Evan adalah siasat hina yang harus dirahasiakan. Bibi Karen tentu tidak mungkin mengakui perbuatannya sendiri.

Pipi Karen membengkak dan telinganya berdenging. Dia buru-buru membela diri, "Nggak, Bibi! Yang kuhadiahkan jelas-jelas sebuah kuas! Aku nggak tahu dari mana pakaian dalam ini berasal!"

"Masih berani membantah?" Bibi Karen sama sekali tidak memercayainya. "Pengawal! Tampar dia seratus kali! Setelah itu, seret wanita nggak tahu malu ini dan masukkan dia ke kurungan bambu buat ditenggelamkan! Hidup atau mati, biar nasibnya sendiri yang menentukan!"

Beberapa pelayan wanita bertubuh kekar segera maju dan mencengkeram lengan Karen. Mereka menyumpal mulutnya dengan kain lusuh, lalu menghujaninya dengan tamparan bertubi-tubi.

Plak! Plak! Plak!

Karen berjuang sekuat tenaga, tetapi semuanya sia-sia.

Tak lama kemudian, kedua pipinya sudah bengkak parah dan darah mengalir dari sudut bibirnya. Setelah itu, tangan dan kakinya diikat dengan kasar, lalu tubuhnya dimasukkan ke dalam kurungan bambu yang dingin sebelum ditenggelamkan ke kolam di halaman belakang.

Byur!

Air kolam yang dingin seketika menenggelamkan kepalanya. Sensasi tercekik menyerangnya dengan ganas.

Karen meronta dengan putus asa. Kesadarannya perlahan memudar ....

Apakah dia benar-benar akan mati dalam keadaan tertuduh secara tidak adil seperti ini? Bagaimana dengan adiknya ....

Tepat ketika dia hampir kehilangan kesadaran, tiba-tiba dia merasakan seseorang melompat ke dalam air, berjuang memutus tali yang mengikatnya, lalu menyeretnya ke tepi kolam.

Udara segar mengalir masuk ke paru-parunya, membuatnya terbatuk-batuk hebat. Dalam pandangannya yang masih samar, dia melihat sosok Evan yang basah kuyup dan tatapan matanya yang sulit ditebak.

Ketika kembali terbangun, Karen mendapati dirinya terbaring di ranjang yang sudah dikenalnya. Luka di pelipis dan punggung bawahnya telah dibalut dengan perban.

Evan ternyata sedang berjaga di sisinya.

"Kenapa ... kamu menyelamatkanku?" tanyanya dengan suara serak.

Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application

Dernier chapitre

  • Sinar Rembulan yang Lembut   Bab 25

    Waktu terus berlalu, tahun demi tahun berganti dalam ketenangan dan kedamaian.Setelah melewati berbagai cobaan, hubungan Karen dan Malvin menjadi makin erat.Malvin bukanlah orang yang pandai mengungkapkan perasaan dengan kata-kata, tetapi cintanya tercermin dalam setiap hal kecil yang dilakukannya.Dia selalu mengingat makanan kesukaan Karen, menyelimutinya dengan mantel saat istrinya membaca buku hingga larut malam, mendengarkan dengan saksama pendapatnya mengenai urusan kediaman, serta tanpa ragu membelanya di hadapan orang lain. Dia memberikan penghormatan, kepercayaan, dan perlindungan yang belum pernah Karen rasakan sebelumnya. Di kediaman jenderal, Karen bukan lagi gadis yatim piatu yang menumpang hidup di rumah orang lain, bukan pula Nona Karen yang harus bersusah payah mengambil hati orang-orang di sekitarnya. Kini, dia adalah nyonya rumah yang sah dan dihormati semua orang.Setahun kemudian, Karen melahirkan sepasang anak kembar laki-laki dan perempuan dengan selamat.Sang p

  • Sinar Rembulan yang Lembut   Bab 24

    Setelah mengucapkan kata-kata itu, kepalanya terkulai ke samping dan Evan benar-benar kehilangan kesadaran.Karen menatap wajahnya yang pucat pasi, merasakan seolah-olah nyawanya perlahan-lahan meninggalkan tubuhnya. Perasaannya begitu rumit hingga sulit diungkapkan.Ada keterkejutan, rasa takut yang baru mereda setelah bahaya berlalu, dan sedikit rasa haru yang sulit dijelaskan. Namun, yang paling mendominasi adalah beban berat yang terasa begitu besar hingga nyaris tak sanggup dia tanggung.Karen memejamkan mata sejenak. Dia segera menekan segala emosinya, lalu kembali menenangkan diri.Dia memberi perintah kepada para pelayan yang panik, "Cepat! Angkat Putra Pewaris Evan ke kereta! Segera kembali ke kota! Panggil tabib istana terbaik! Cepat!"Suaranya tenang dan tegas, memancarkan wibawa yang tidak terbantahkan.Seolah-olah telah menemukan sosok yang bisa diandalkan, semua orang segera melaksanakan perintahnya.Setibanya di kota, Kediaman Adipati Pelindung Negara gempar begitu mende

  • Sinar Rembulan yang Lembut   Bab 23

    Situasi perang di perbatasan utara makin genting, dengan kobaran api peperangan yang membentang di mana-mana. Di kediaman jenderal, Karen menjalani hari-hari yang tenang dan bermakna.Dia mengurus segala urusan kediaman dengan tertib, menggantikan Malvin untuk berbakti kepada orang tuanya, sekaligus menenangkan hati mereka. Saat senggang, dia menemani adiknya, Aurel, yang berangsur-angsur pulih, atau mempelajari buku-buku pengobatan dengan harapan dapat membantu merawat luka lama Malvin.Wajahnya perlahan-lahan kembali merona. Ketenangan dan ketegaran yang terpancar di antara alisnya membuatnya memancarkan pesona yang berbeda dari kecantikan seorang gadis muda yang lembut dan menawan. Kini, dia memiliki keanggunan seorang wanita dewasa yang matang.…Setelah melewati penyesalan yang begitu menyakitkan dan masa-masa ketika dirinya nyaris kehilangan akal, Evan akhirnya terjerumus ke dalam keputusasaan yang sunyi dan mati rasa.Dia tidak lagi berharap Karen akan memaafkannya. Bahkan, dia

  • Sinar Rembulan yang Lembut   Bab 22

    Setelah beristirahat selama lebih dari sebulan di vila kerajaan, kondisi Malvin telah pulih sebagian besar. Meskipun belum kembali ke kondisi puncaknya, kesehatannya sudah tidak lagi mengkhawatirkan.Situasi di istana terus berubah dengan cepat. Tiba-tiba, keadaan darurat muncul di perbatasan utara. Pasukan berkuda bangsa asing menyerbu wilayah perbatasan dan berhasil merebut beberapa kota berturut-turut. Situasinya sangat genting.Kaisar memanggil Malvin untuk menghadap pada malam itu juga. Di Balairung Emas, meskipun wajah Malvin masih menyisakan sedikit pucat akibat sakit, punggungnya tetap tegak dan tatapannya mantap membara."Jenderal Malvin, kondisi kesehatanmu ...." Kaisar tampak cemas.Malvin berlutut dengan satu kaki. Suaranya tenang dan penuh ketegasan. "Yang Mulia, hamba sudah pulih. Melindungi keluarga dan negara adalah kewajiban yang nggak mungkin hamba hindari! Mohon perkenankan hamba memimpin pasukan buat berangkat berperang, mengusir bangsa barbar dan merebut kembali wi

  • Sinar Rembulan yang Lembut   Bab 21

    Namun, semuanya belum berakhir. Evan melaporkan hasil penyelidikannya kepada kedua orang tuanya dan pihak istana.Bukti-bukti kejahatan Julia, mulai dari menjebak Nyonya Karen yang menyandang gelar kehormatan kekaisaran hingga menipu keluarga kerajaan, begitu kuat dan tidak terbantahkan. Kasus ini pun menggemparkan banyak pihak.Kaisar murka dan memerintahkan penyelidikan menyeluruh.Keluarga Pradana pun terseret dalam kasus tersebut dan dengan cepat mengalami kejatuhan. Semua gelar kehormatan Julia dicabut. Dia diturunkan statusnya menjadi rakyat biasa dan dijatuhi hukuman pengasingan ke tempat yang berjarak ratusan kilometer.Putri perdana menteri yang dulu berkedudukan tinggi itu akhirnya meninggal karena sakit di tengah perjalanan pengasingannya yang penuh penderitaan. Akhir hidupnya sungguh tragis.Sementara itu, Evan juga menjadi bahan tertawaan seluruh ibu kota karena ketidakmampuannya menilai orang. Untuk pertama kalinya, dia merasakan sendiri bagaimana rasanya menjadi bahan ej

  • Sinar Rembulan yang Lembut   Bab 20

    Baru setelah kehilangan Karen sepenuhnya, Evan tersadar bahwa cinta mendalam yang selama ini dia buang begitu saja ternyata telah mengakar hingga ke tulang sumsum.Selain itu, dia sendiri ternyata begitu bodoh.Penyesalan dan kesadaran yang datang terlambat membakar akal sehat Evan bagai api beracun. Dia mulai mengingat kembali dengan kalut segala sesuatu yang terjadi selama setahun terakhir, terutama setiap kejadian ketika Karen dipermalukan. Makin dia memikirkannya, makin banyak hal yang terasa janggal.Di balik kelembutan dan kebaikan hati Julia yang tampak sempurna tanpa cela, seolah selalu tersembunyi sedikit kelicikan dan kepura-puraan yang samar.Dia mengerahkan kekuatan Kediaman Adipati Pelindung Negara untuk mulai menyelidiki Julia secara diam-diam.Petunjuk pertama ditemukan dari pelayan yang menuduh Karen mendorong Julia hingga tercebur ke air saat jamuan menikmati bunga plum. Setelah bersusah payah, orang-orang Evan akhirnya menemukan pelayan itu di sebuah perkebunan terpen

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status