LOGINMakan malam berlanjut dengan tawa yang lebih ceria. Arkan terus membicarakan rencananya untuk latihan basket di hari Sabtu bersama Abimanyu, sementara Aira sibuk meminta makanan penutup berupa mochi es krim. Bagi orang luar, mereka tampak seperti keluarga yang sempurna. Bagi Raisa, ini adalah titik balik, sebuah awal dari perjalanan panjang menuju ketenangan yang selama ini ia cari.Saat mereka keluar dari restoran, udara malam Jakarta terasa lebih bersahabat. Abimanyu menggandeng tangan Raisa, sementara Arkan dan Aira berjalan di depan dengan riang."Mas," panggil Raisa saat mereka sampai di parkiran.Abimanyu menoleh. "Ya?""Terima kasih untuk malam ini. Ini ... adalah malam yang tidak akan aku lupakan."Abimanyu tersenyum, senyum yang sangat menenangkan. "Iya Sa. Lagi pula masih ada banyak malam-malam indah yang menanti kita."Raisa mengangguk. Ia tahu ia membuat keputusan yang tepat. Urusan dengan Kavindra hanyalah satu bab terakhir yang harus ia tutup sebelum ia bisa mula
Raisa melangkah keluar rumah sakit. Di tangannya, selembar tanda terima berwarna putih terselip di dalam tasnya, sebuah dokumen yang menjadi saksi bisu atas permintaan aneh dari mantan suaminya."Satu minggu lagi, Mas Kavindra akan tahu jawabannya," gumam Raisa pelan pada dirinya sendiri.Ia teringat wajah Kavindra kemarin. Wajah yang biasanya angkuh, kini tampak memelas dan penuh ketidakpastian. Ada rasa iba yang menyeruak di dada Raisa. Meski luka yang pernah ia alami karena Kavindra sangat dalam, naluri medis dan sisi kemanusiaannya tidak bisa berbohong. Bagaimanapun, Kavindra adalah ayah dari anak-anaknya."Ibu Raisa?" Suara seorang pria dari meja resepsionis membuyarkan lamunannya. "Proses administrasi sudah selesai. Sampel telah kami terima dan akan segera masuk ke tahap analisis DNA. Hasilnya bisa diambil tepat tujuh hari dari sekarang."Raisa mengangguk mantap. "Terima kasih. Tolong pastikan kerahasiaannya tetap terjaga. Ini sangat sensitif.""Tentu, Bu. Kami menjamin pr
Suasana rumah Nadira masih tetap sama. Mewah dan dingin. Kavindra berdiri di depan pintu utama, menatap bayangannya sendiri pada permukaan pintu kayu yang dipoles mengilap. Ia merasa seperti orang asing di rumah yang dulunya ia tinggali selama bertahun-tahun.Seorang asisten rumah tangga membukanya. Nadira duduk di meja makan panjang, menyesap jus jeruk dengan gaun sutra hitam yang membalut tubuhnya. Sherly, putrinya, duduk di seberang meja dengan tablet di tangan, wajahnya tampak bosan."Vindra? Kamu datang juga?" Nadira meletakkan gelasnya. Matanya meneliti penampilan Kavindra dari ujung kaki ke ujung kepala. Kemeja murah, celana kain yang tidak disetrika sempurna, dan sepatu yang sudah terlihat lusuh. "Mau minta jatah bulanan lagi? Oh, aku lupa, kamu kan sudah melepaskan semua hakmu."Kavindra mengabaikan sindiran itu. Ia berjalan mendekat ke arah Sherly. "Hai, Sayang."Sherly mendongak. Matanya berbinar seketika. "Papa!" Gadis kecil itu melompat dari kursinya dan berlari meme
"Sama sekali tidak, Sa. Mereka pintar sekali, tadi sempat makan siang bareng dan tidur siang di dalam," jawab Kavindra, berusaha menjaga suaranya agar tetap terdengar tegap dan ikhlas. Ia lalu menoleh ke arah Abimanyu. "Terima kasih sudah mengantar Raisa ke sini, Dok."Abimanyu mengangguk sopan, tersenyum ramah tanpa ada nada merendahkan. "Sama-sama, Dokter Vindra. Kebetulan tadi saya sedang ada jadwal luang di rumah sakit, jadi sekalian menemani Raisa menjemput anak-anak.""Om Abi tadi bawa es krim cokelat loh di mobil buat Arkan sama Aira!" timpal Aira dengan polosnya, membuat Raisa buru-buru menyentuh pundak putrinya."Aira, tidak sopan bicara begitu di depan Papa," tegur Raisa halus.Kavindra hanya tersenyum getir, ia mengangguk pelan pada Aira. "Tidak apa-apa, Sayang. Bagus dong, dimakan ya es krimnya dari Om Abi."Melihat hari yang semakin sore, Raisa kemudian menunduk dan mengusap pipi Aira. "Ayo, anak-anak, kita pamit dulu sama Papa. Kita harus pulang sekarang.""Yah, c
Langkah kaki Kavindra terasa jauh lebih ringan saat menuntun Arkan dan Aira menuju rumahmya. Beberapa warga yang sedang duduk di pos ronda menyapa dengan ramah, dan Kavindra membalasnya dengan senyuman hangat."Nah, kita sudah sampai," ujar Kavindra sambil membuka pintu rumah.Arkan dan Aira melangkah masuk. Kedua anak itu langsung mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan yang luasnya tidak seberapa itu. Hanya ada satu ruang utama yang merangkap sebagai ruang tamu dan tempat tidur, sebuah meja kayu kecil dengan tumpukan buku medis, kipas angin dinding yang sudah agak berkarat, serta sebuah dapur kecil di sudut belakang."Wah, rumah Papa imut banget ya, Kak?" celetuk Aira polos sambil melepaskan sepatu sekolahnya."Bukan imut, Dek. Ini namanya minimalis," sahut Arkan mencoba terlihat dewasa, meski matanya tetap memancarkan rasa heran. Rumah ini bahkan lebih kecil dari kamar tidur mereka. Kavindra terkekeh pelan, menyembunyikan rasa sesak yang sempat mampir di dadanya. "Iya, r
Pagi itu, udara di pinggiran Jakarta terasa lebih segar setelah diguyur gerimis semalam, meski sisa-sisa air masih menggenang di aspal yang berlubang. Kavindra keluar dari rumah dengan kemeja flanel yang lengannya digulung hingga siku. Di tangannya, ada sebuah ponsel murah yang baru ia beli di konter depan gang seharga ratusan ribu rupiah jauh dari ponsel titanium yang biasa ia kantongi dulu.Ia memasukkan kartu SIM baru, lalu menarik napas dalam-dalam. Tidak ada lagi nomor kolega bisnis, tidak ada nomor Nadira, dan tidak ada nomor ibunya. Kontak di ponsel itu kini kosong, bersih, seolah merepresentasikan hidupnya yang baru saja lahir kembali."Pagi, Dokter Vindra!" sapa Mak Asih, penjual gorengan di ujung gang, yang sedang menata dagangannya.Kavindra tersenyum ramah, senyum tulus yang bertahun-tahun terkubur di balik ketegangan ruang rapat Syahreza Group. "Pagi, Mak. Wah, wangi sekali pisang gorengnya.""Ini, Dok, dibawa buat sarapan," ucap Mak Asih menyodorkan sebungkus kanton
Hari Minggu itu, suasana di apartemen Raisa terasa jauh lebih hidup. Sejak pukul sembilan pagi, bel pintu sudah berbunyi, di sana sosok Abimanyu yang berdiri tegap dengan senyum lebar. Di kedua tangannya, ia menjinjing kantong-kantong besar berisi bahan makanan segar."Selamat pagi, Dokter Raisa!"
Pagi itu, suasana di ruang kepala departemen pediatri terasa tegang. Raisa menatap tajam pria yang berdiri di depan mejanya dengan santai. Kavindra meletakkan sebuah brosur undangan resmi di atas meja Raisa. "Seminar Nasional Pediatri Modern: Inovasi Penanganan Penyakit Langka pada Anak"."Aku i
Lantai bawah RS Syahreza Medical Center pagi itu masih terasa sejuk. Kavindra yang biasanya ditakuti oleh ratusan karyawan itu kini berdiri mematung dengan dua kotak besar di tangannya. Satu kotak berisi mille-feuille cokelat premium dengan hiasan buah beri segar, dan satu lagi adalah kotak mainan
"Om cuma mau kenal sama anak hebat yang tadi berani membela Mamanya," jawab Kavindra jujur. Ia mengulurkan tangan, bermaksud mengacak rambut Arkan, tetapi Arkan menghindar dengan sopan."Jangan, Om. Rambutku baru dirapikan Mama tadi pagi," tolak Arkan.Kavindra tertawa kecil, suara tawa yang jara







