INICIAR SESIÓNPagi itu, suasana di RS Medika Utama terasa sedikit berbeda bagi Raisa. Setelah memastikan teman sejawatnya bersedia mengambil alih jadwal praktiknya, Raisa melangkah menuju fasilitas daycare rumah sakit tersebut.
"Ingat ya, Aira, Arkan, hari ini kalian main di sini dulu sama Suster Via. Mama ada urusan sebentar di tempat lain," ucap Raisa sambil berjongkok, merapikan kerah baju Arkan dan menyisipkan rambut Arunika Aira ke belakang telinga. "Mama mau ke rumah sakit yang besar itu ya? Yang ada es krim pelanginya?" tanya Arunika polos. Raisa tersenyum tipis, meski hatinya getir. "Mama ada pertemuan kerja, Sayang. Nanti kalau sudah selesai, Mama langsung jemput. Jangan nakal, ya?" "Siap, Mama!" seru Arkan sambil memberi hormat ala tentara, membuat Raisa tertawa kecil di tengah kegugupannya. Setelah berpamitan dengan teman dokternya yang menggantikan jadwalnya, Raisa menarik napas panjang. Ia mengganti jas putihnya dengan blazer formal hitamnya. Dengan langkah mantap, ia mengemudikan mobilnya menuju satu tempat yang paling ia hindari selama lima tahun terakhir: RS Syahreza Medical Center. Raisa melangkah memasuki lobi utama RS Syahreza. Aroma antiseptik dan kemewahan bangunan ini masih sama, tetapi kini Raisa datang dengan kepala tegak. Ia menuju meja resepsionis. "Selamat pagi. Saya dr. Raisa, saya ada janji temu dengan bagian SDM dan Direktur Utama atas rekomendasi dr. Selly," ucap Raisa dengan suara tenang. "Oh, Dokter Raisa! Mari, Dok. Bapak Direktur sudah berpesan jika Anda datang, langsung diantar ke ruangannya di lantai paling atas," jawab resepsionis itu dengan sangat ramah. Raisa langsung menuju lift. Saat lift bergerak naik, jantung Raisa berdegup kencang. Ketika pintu lift terbuka, ia melangkah di lantai atas itu. Namun, langkahnya terhenti saat melihat seorang pria jangkung sedang berdiri membelakanginya, menatap ke luar jendela besar yang menghadap ke kota. Punggung itu. Bahu itu. Raisa mengenalinya meski dalam kegelapan sekalipun. "Selly bilang kamu adalah dokter terbaik di angkatan kalian," ucap pria itu tanpa berbalik. Suaranya kini lebih berat dan dalam, penuh otoritas. Raisa menguatkan hati. "Saya di sini hanya untuk memenuhi permintaan teman saya, dr. Selly. Saya dengar Anda butuh pengganti sementara untuk departemen pediatri." Pria itu berbalik perlahan. Tatapannya yang tajam langsung mengunci mata Raisa. Ada kilatan keterkejutan yang berusaha disembunyikan oleh Kavindra di balik wajah datarnya. "Raisa?" bisik Kavindra. Ia melangkah mendekat, seolah ingin memastikan bahwa wanita di depannya bukan sekadar halusinasi. "Jadi, dokter hebat yang Selly ceritakan itu adalah kamu?" Raisa tetap berdiri diam, tidak mundur selangkah pun. "Saya dr. Raisa. Dan saya ke sini untuk urusan pekerjaan, Pak Kavindra. Jika Anda keberatan dengan latar belakang saya, saya bisa pergi sekarang juga." Kavindra terdiam, matanya menelusuri wajah Raisa, wanita yang dulu ia biarkan pergi dengan tuduhan mandul, kini berdiri dengan aura kecerdasan dan kekuatan yang luar biasa. "Kenapa kamu tidak bilang kalau itu kamu?" tanya Kavindra dengan nada yang sulit diartikan. "Karena bagi saya, Anda bukan lagi siapa-siapa selain pemilik rumah sakit tempat saya akan bekerja," jawab Raisa tajam. "Jadi, apakah kita bisa mulai membahas kontraknya?" Ia menyodorkan sebuah map kulit berwarna hitam berisi draf kontrak kerja yang sangat tebal. "Selly benar-benar memujimu, Raisa. Dia bilang kamu satu-satunya dokter yang berhasil menurunkan angka kematian bayi di Medika Utama sebesar tiga puluh persen dalam dua tahun," ucap Kavindra, suaranya kini lebih tenang. "Aku sudah menyiapkan penawaran yang tidak akan kamu dapatkan di rumah sakit mana pun di negeri ini." Raisa membuka map itu, membalik halamannya dengan gerakan anggun yang efisien. Matanya dengan cepat memindai angka-angka dan poin-poin hukum di sana. "Gaji pokok lima puluh juta per bulan, tunjangan perumahan, asuransi kesehatan kelas satu, dan bonus per tindakan yang sangat besar?" Raisa menutup map itu dan menatap Kavindra datar. "Penawaran yang sangat royal untuk seseorang yang dulu kamu anggap tidak berguna, Pak Direktur." Kavindra berdeham, merasa sesak oleh sindiran itu. "Itu harga untuk kompetensimu, Raisa. Aku tidak sedang membayar masa lalu. Aku butuh dokter terbaik untuk memimpin Departemen Pediatri yang baru. Kamu akan punya otoritas penuh atas staf perawat dan residen di bawahmu." "Dan soal jam kerja?" tanya Raisa. "Saya tidak mau ada sistem on-call yang tidak masuk akal. Saya punya prioritas lain di luar rumah sakit ini." "Prioritas apa?" tanya Kavindra cepat. Ada nada penasaran yang tak bisa ia sembunyikan. "Apa kamu sudah berkeluarga lagi?" Raisa tersenyum tipis, sebuah senyuman yang tidak mencapai matanya. "Itu bukan bagian dari kontrak kerja kita. Katakan saja, saya punya dua 'alasan' untuk selalu pulang tepat waktu." Kavindra tertegun, namun ia mencoba kembali fokus. "Baik. Aku setuju. Kamu bisa mengatur jadwalmu sendiri selama target pelayanan terpenuhi. Jadi, bisakah kamu mulai besok?" Raisa menggeleng pelan. "Tidak bisa. Saya butuh waktu satu minggu." "Satu minggu? Kenapa lama sekali?" "Saya punya etika profesi, Kavindra. Saya harus mengurus pengunduran diri secara resmi di RS Medika Utama. Saya harus melakukan serah terima pasien-pasien saya agar mereka tidak telantar. Saya bukan tipe orang yang pergi meninggalkan tanggung jawab begitu saja," ucap Raisa dengan penekanan yang menyindir cara Kavindra membuangnya dulu. Kavindra menyandarkan punggungnya ke kursi kebesarannya. Ia menatap Raisa lama, seolah ingin mencari celah di wajah wanita itu. "Satu minggu. Baiklah. Aku akan menyuruh bagian hukum merevisi tanggal mulaimu. Tapi sebagai gantinya, aku ingin kamu hadir di peresmian gedung baru anak Sabtu ini. Sebagai perkenalan dengan staf." "Akan saya usahakan jika jadwal saya senggang," jawab Raisa singkat sambil berdiri dan mengambil tasnya. "Raisa, tunggu," panggil Kavindra saat Raisa sudah berada di dekat pintu. Raisa berhenti, tetapi tidak berbalik. "Kamu keliatan sangat berbeda," ucap Kavindra lirih. "Lima tahun nggak ketemu kamu berubah." "Lima tahun memang waktu yang cukup untuk menyadari bahwa hidup saya jauh lebih berharga tanpa beban yang namanya 'keluarga Syahreza'," sahut Raisa tajam. Raisa pamit pada Kavindra. Tanpa menunggu jawaban, Raisa melangkah keluar dengan langkah mantap. Di dalam lift, Raisa bersandar pada dinding kaca yang dingin. Napasnya yang tadi ia tahan kini keluar dengan berat. Ia meraba ponselnya, melihat foto Aira dan Arkan yang menjadi wallpaper-nya. "Satu minggu," bisik Raisa pada dirinya sendiri. "Satu minggu untuk memastikan kalian tetap aman di Medika sebelum Mama harus menghadapi pria itu setiap hari.""Itu tidak ada hubungannya dengan pekerjaan, Pak Direktur," sahut Raisa dingin.Kavindra melangkah satu langkah lebih dekat, merendahkan suaranya agar tidak didengar tamu lain. "Jangan bercanda, Raisa. Lihat anak laki-laki ini. Aku seperti melihat cermin masa kecilku. Bagaimana mungkin anak dari pria lain bisa semirip ini denganku?"Raisa tetap tenang, meski di dalam hatinya ia gemetar hebat. "Banyak orang di dunia ini yang memiliki kemiripan wajah, Pak Kavindra. Mungkin itu hanya kebetulan, atau mungkin Tuhan sedang ingin menegurmu lewat wajah anak saya.""Mama, ayo pulang. Arkan udah bosan," celetuk Arkan sambil menarik ujung blazer Raisa. Suaranya yang tegas membuat Kavindra semakin terpaku."Kita pulang sekarang, Sayang," ucap Raisa. Ia menatap Kavindra untuk terakhir kalinya malam itu. "Permisi, Pak Direktur. Tugas saya di sini hanya hadir sebagai perkenalan. Saya harap setelah ini kita hanya bicara soal medis di rumah sakit."Raisa berbalik dan berjalan menjauh, meninggalka
Raisa berdiri di depan pintu kayu bertuliskan Ruang Direktur Utama RS Medika Utama. Ia menarik napas panjang, menyesuaikan letak map di pelukannya, lalu mengetuk pintu dengan mantap."Masuk." Suara bariton dr. Gunawan terdengar dari dalam.Pria paruh baya itu mendongak dan tersenyum lebar saat melihat Raisa. "Ah, dr. Raisa. Silakan duduk. Ada apa? Mau membahas pengajuan alat ventilator baru untuk ruang NICU?"Raisa duduk dengan tenang, tetapi sorot matanya menunjukkan ketetapan hati yang sulit digoyahkan. Ia meletakkan map putih itu di atas meja kerja sang Direktur. "Bukan, Dok. Saya ke sini untuk menyerahkan ini."dr. Gunawan mengambil map tersebut, membukanya, dan seketika senyumnya memudar. Matanya membelalak menatap baris demi baris kata di surat itu. "Pengunduran diri? Dokter Raisa, kamu bercanda, kan?""Saya serius, Dok. Saya mengajukan resign per hari ini, dengan masa transisi satu minggu untuk serah terima pasien," jawab Raisa lembut. dr. Gunawan menyandarkan punggungny
Pagi itu, suasana di RS Medika Utama terasa sedikit berbeda bagi Raisa. Setelah memastikan teman sejawatnya bersedia mengambil alih jadwal praktiknya, Raisa melangkah menuju fasilitas daycare rumah sakit tersebut."Ingat ya, Aira, Arkan, hari ini kalian main di sini dulu sama Suster Via. Mama ada urusan sebentar di tempat lain," ucap Raisa sambil berjongkok, merapikan kerah baju Arkan dan menyisipkan rambut Arunika Aira ke belakang telinga."Mama mau ke rumah sakit yang besar itu ya? Yang ada es krim pelanginya?" tanya Arunika polos.Raisa tersenyum tipis, meski hatinya getir. "Mama ada pertemuan kerja, Sayang. Nanti kalau sudah selesai, Mama langsung jemput. Jangan nakal, ya?""Siap, Mama!" seru Arkan sambil memberi hormat ala tentara, membuat Raisa tertawa kecil di tengah kegugupannya.Setelah berpamitan dengan teman dokternya yang menggantikan jadwalnya, Raisa menarik napas panjang. Ia mengganti jas putihnya dengan blazer formal hitamnya. Dengan langkah mantap, ia mengemudika
Kavindra mengernyitkan dahi. "Apa maksudmu?"Raisa tidak menjawab. Ia terus berjalan keluar melewati pintu belakang, menghindari kerumunan tamu. Ia memesan taksi online menuju sebuah kamar kos kecil berukuran 3x4 meter.Di dalam taksi, Raisa akhirnya menangis sesenggukan. Ia meraba perutnya yang masih datar, di mana ada dua nyawa di dalamnya. "Maafkan Mama, Sayang," isaknya. "Papa kalian sedang merayakan kebahagiaannya dengan wanita lain di sana. Mulai hari ini, hanya ada kita. Mama akan jadi dokter hebat untuk kalian. Mama janji."Lima tahun kemudian. "Ma! Arkan makan sayurnya pakai tangan!" teriak Aira Maharani, bocah perempuan sambil menunjuk kembarannya.Arkan Pradipta hanya menyengir. "Habisnya wortelnya licin, Ma. Susah pakai sendok."Raisa tertawa kecil sambil mengancingkan kemeja kerjanya. "Ya sudah, habis ini cuci tangan yang bersih. Mama ada jadwal operasi kecil pagi ini di Medika Utama."Raisa bekerja sebagai Spesialis Anak di RS Medika Utama, sebuah rumah sakit swa
Raisa duduk di tepi tempat tidur, menggenggam test pack. Di luar, suara tawa sinis Ibu Sofia dan suara rendah Kavindra masih terdengar. Tak lama kamar terbuka. Kavindra masuk dengan wajah tanpa dosa. Ia mulai melonggarkan dasinya, bahkan tidak menatap Raisa yang matanya sembap."Berhenti menangis, Raisa. Kamu tuh berlebihan," ucap Kavindra datar. "Ibu lagi emosi. Kamu tahu sendiri bagaimana beliau sangat menginginkan cucu."Raisa mendongak, menatap punggung suaminya dengan tatapan dingin. "Berlebihan? Dia menyebutku mandul, Vindra. Dia menyebutku investasi gagal di depan matamu. Dan kamu cuma diam sambil main ponsel?"Kavindra berbalik, menatap Raisa dengan kening berkerut. "Lalu aku harus apa? Membentak ibuku sendiri demi kamu? Aku sudah bilang, kalau kamu merasa tersinggung, buktikan dengan kehamilanmu. Tapi kenyataannya? Kamu lebih sering tidur di bangsal rumah sakit daripada tidur denganku di kamar ini."Raisa berdiri, memasukkan test pack itu jauh ke dalam laci meja riasnya
"Kapan kamu mau ngasih Ibu cucu, Raisa? Tiga tahun kalian menikah dan rumah ini masih sepi kayak kuburan. Nggak ada suara tangis bayi di rumah ini."Wajah Raisa memucat. "Bu, Raisa sedang berjuang menyelesaikan residen spesialis anak. Jadwal jaga Raisa sangat padat, dan kami juga sedang berusaha—""Berusaha? Tiga tahun, Raisa. Jangan-jangan memang kamu yang mandul?" potong Sofia tanpa belas kasihan. "Keluarga Syahreza itu butuh pewaris untuk mewarisi semua harta keluarga kami. Kavindra adalah putra tunggal. Kalau kamu tidak bisa memberikan anak, apa gunanya kamu di keluarga ini?""Ibu, tolong. Jangan mulai lagi." Kavindra akhirnya bersuara, tetapi nadanya datar. Tidak membela Raisa. "Jangan mulai lagi? Vindra, lihat istrimu! Dia terlalu sibuk mengurusi anak orang lain di rumah sakit sampai lupa dengan dirinya sendiri!" Sofia menggebrak meja ringan. "Ibu sudah konsultasi dengan dr. Hanum, spesialis kesuburan. Dia bilang di usia pernikahan kalian sekarang, kalau belum ada tanda-tan







