分享

Bab 4. Satu Minggu

作者: Agniya14
last update publish date: 2026-01-26 15:16:30

Pagi itu, suasana di RS Medika Utama terasa sedikit berbeda bagi Raisa. Setelah memastikan teman sejawatnya bersedia mengambil alih jadwal praktiknya, Raisa melangkah menuju fasilitas daycare rumah sakit tersebut.

​"Ingat ya, Aira, Arkan, hari ini kalian main di sini dulu sama Suster Via. Mama ada urusan sebentar di tempat lain," ucap Raisa sambil berjongkok, merapikan kerah baju Arkan dan menyisipkan rambut Arunika Aira ke belakang telinga.

​"Mama mau ke rumah sakit yang besar itu ya? Yang ada es krim pelanginya?" tanya Arunika polos.

​Raisa tersenyum tipis, meski hatinya getir. "Mama ada pertemuan kerja, Sayang. Nanti kalau sudah selesai, Mama langsung jemput. Jangan nakal, ya?"

​"Siap, Mama!" seru Arkan sambil memberi hormat ala tentara, membuat Raisa tertawa kecil di tengah kegugupannya.

​Setelah berpamitan dengan teman dokternya yang menggantikan jadwalnya, Raisa menarik napas panjang. Ia mengganti jas putihnya dengan blazer formal hitamnya.

Dengan langkah mantap, ia mengemudikan mobilnya menuju satu tempat yang paling ia hindari selama lima tahun terakhir: RS Syahreza Medical Center.

​Raisa melangkah memasuki lobi utama RS Syahreza. Aroma antiseptik dan kemewahan bangunan ini masih sama, tetapi kini Raisa datang dengan kepala tegak. Ia menuju meja resepsionis.

​"Selamat pagi. Saya dr. Raisa, saya ada janji temu dengan bagian SDM dan Direktur Utama atas rekomendasi dr. Selly," ucap Raisa dengan suara tenang.

​"Oh, Dokter Raisa! Mari, Dok. Bapak Direktur sudah berpesan jika Anda datang, langsung diantar ke ruangannya di lantai paling atas," jawab resepsionis itu dengan sangat ramah.

​Raisa langsung menuju lift. Saat lift bergerak naik, jantung Raisa berdegup kencang. Ketika pintu lift terbuka, ia melangkah di lantai atas itu.

Namun, langkahnya terhenti saat melihat seorang pria jangkung sedang berdiri membelakanginya, menatap ke luar jendela besar yang menghadap ke kota.

​Punggung itu. Bahu itu. Raisa mengenalinya meski dalam kegelapan sekalipun.

​"Selly bilang kamu adalah dokter terbaik di angkatan kalian," ucap pria itu tanpa berbalik. Suaranya kini lebih berat dan dalam, penuh otoritas.

​Raisa menguatkan hati. "Saya di sini hanya untuk memenuhi permintaan teman saya, dr. Selly. Saya dengar Anda butuh pengganti sementara untuk departemen pediatri."

​Pria itu berbalik perlahan. Tatapannya yang tajam langsung mengunci mata Raisa. Ada kilatan keterkejutan yang berusaha disembunyikan oleh Kavindra di balik wajah datarnya.

​"Raisa?" bisik Kavindra. Ia melangkah mendekat, seolah ingin memastikan bahwa wanita di depannya bukan sekadar halusinasi. "Jadi, dokter hebat yang Selly ceritakan itu adalah kamu?"

​Raisa tetap berdiri diam, tidak mundur selangkah pun. "Saya dr. Raisa. Dan saya ke sini untuk urusan pekerjaan, Pak Kavindra. Jika Anda keberatan dengan latar belakang saya, saya bisa pergi sekarang juga."

​Kavindra terdiam, matanya menelusuri wajah Raisa, wanita yang dulu ia biarkan pergi dengan tuduhan mandul, kini berdiri dengan aura kecerdasan dan kekuatan yang luar biasa.

​"Kenapa kamu tidak bilang kalau itu kamu?" tanya Kavindra dengan nada yang sulit diartikan.

​"Karena bagi saya, Anda bukan lagi siapa-siapa selain pemilik rumah sakit tempat saya akan bekerja," jawab Raisa tajam. "Jadi, apakah kita bisa mulai membahas kontraknya?"

Ia menyodorkan sebuah map kulit berwarna hitam berisi draf kontrak kerja yang sangat tebal.

​"Selly benar-benar memujimu, Raisa. Dia bilang kamu satu-satunya dokter yang berhasil menurunkan angka kematian bayi di Medika Utama sebesar tiga puluh persen dalam dua tahun," ucap Kavindra, suaranya kini lebih tenang. "Aku sudah menyiapkan penawaran yang tidak akan kamu dapatkan di rumah sakit mana pun di negeri ini."

​Raisa membuka map itu, membalik halamannya dengan gerakan anggun yang efisien. Matanya dengan cepat memindai angka-angka dan poin-poin hukum di sana.

​"Gaji pokok lima puluh juta per bulan, tunjangan perumahan, asuransi kesehatan kelas satu, dan bonus per tindakan yang sangat besar?" Raisa menutup map itu dan menatap Kavindra datar. "Penawaran yang sangat royal untuk seseorang yang dulu kamu anggap tidak berguna, Pak Direktur."

​Kavindra berdeham, merasa sesak oleh sindiran itu. "Itu harga untuk kompetensimu, Raisa. Aku tidak sedang membayar masa lalu. Aku butuh dokter terbaik untuk memimpin Departemen Pediatri yang baru. Kamu akan punya otoritas penuh atas staf perawat dan residen di bawahmu."

​"Dan soal jam kerja?" tanya Raisa. "Saya tidak mau ada sistem on-call yang tidak masuk akal. Saya punya prioritas lain di luar rumah sakit ini."

​"Prioritas apa?" tanya Kavindra cepat. Ada nada penasaran yang tak bisa ia sembunyikan. "Apa kamu sudah berkeluarga lagi?"

​Raisa tersenyum tipis, sebuah senyuman yang tidak mencapai matanya. "Itu bukan bagian dari kontrak kerja kita. Katakan saja, saya punya dua 'alasan' untuk selalu pulang tepat waktu."

​Kavindra tertegun, namun ia mencoba kembali fokus. "Baik. Aku setuju. Kamu bisa mengatur jadwalmu sendiri selama target pelayanan terpenuhi. Jadi, bisakah kamu mulai besok?"

​Raisa menggeleng pelan. "Tidak bisa. Saya butuh waktu satu minggu."

​"Satu minggu? Kenapa lama sekali?"

​"Saya punya etika profesi, Kavindra. Saya harus mengurus pengunduran diri secara resmi di RS Medika Utama. Saya harus melakukan serah terima pasien-pasien saya agar mereka tidak telantar. Saya bukan tipe orang yang pergi meninggalkan tanggung jawab begitu saja," ucap Raisa dengan penekanan yang menyindir cara Kavindra membuangnya dulu.

​Kavindra menyandarkan punggungnya ke kursi kebesarannya. Ia menatap Raisa lama, seolah ingin mencari celah di wajah wanita itu. "Satu minggu. Baiklah. Aku akan menyuruh bagian hukum merevisi tanggal mulaimu. Tapi sebagai gantinya, aku ingin kamu hadir di peresmian gedung baru anak Sabtu ini. Sebagai perkenalan dengan staf."

​"Akan saya usahakan jika jadwal saya senggang," jawab Raisa singkat sambil berdiri dan mengambil tasnya.

​"Raisa, tunggu," panggil Kavindra saat Raisa sudah berada di dekat pintu.

​Raisa berhenti, tetapi tidak berbalik.

​"Kamu keliatan sangat berbeda," ucap Kavindra lirih. "Lima tahun nggak ketemu kamu berubah."

​"Lima tahun memang waktu yang cukup untuk menyadari bahwa hidup saya jauh lebih berharga tanpa beban yang namanya 'keluarga Syahreza'," sahut Raisa tajam.

Raisa pamit pada Kavindra. Tanpa menunggu jawaban, Raisa melangkah keluar dengan langkah mantap.

​Di dalam lift, Raisa bersandar pada dinding kaca yang dingin. Napasnya yang tadi ia tahan kini keluar dengan berat. Ia meraba ponselnya, melihat foto Aira dan Arkan yang menjadi wallpaper-nya.

​"Satu minggu," bisik Raisa pada dirinya sendiri. "Satu minggu untuk memastikan kalian tetap aman di Medika sebelum Mama harus menghadapi pria itu setiap hari."

在 APP 繼續免費閱讀本書
掃碼下載 APP

最新章節

  • Sisa Cinta Mantan Suamiku    Bab 34. Ambil Alih Rumah Sakit

    Setelah menghancurkan kebohongan Nadira, kini ada satu benteng kepalsuan lagi yang harus ia runtuhkan, ibunya sendiri, Sofia. Wanita yang selama ini menjadi dalang utama di balik dalih "demi nama baik keluarga", yang rela mengorbankan kebahagiaan dan nurani anak kandungnya demi kekuasaan dan bursa saham.​Kavindra melangkah masuk dengan langkah yang mantap. Satpam penjaga gerbang yang mengenali mantan tuan mudanya buru-buru membukakan pintu tanpa berani bertanya.​Kavindra menerobos masuk ke dalam rumah. Suasana rumah hening. ​"Vindra?" Sofia menoleh, sedikit terkejut melihat putranya berdiri di ambang pintu. Namun dalam hitungan detik, raut wajahnya kembali mengeras, penuh keangkuhan seperti biasa. "Bagaimana? Sudah puas jadi orang miskin di gang kumuh itu? Mama sudah dengar kamu datang mengamuk di rumah Nadira. Kamu benar-benar mempermalukan nama Syahreza!"​Kavindra berjalan mendekat. Setiap langkah kakinya menggema di ruangan yang luas itu. Wajahnya tidak lagi memancarkan rasa ta

  • Sisa Cinta Mantan Suamiku    Bab 33. Hasil Tes DNA

    Di sebuah kafe kecil yang tenang, Raisa duduk berhadapan dengan Kavindra. Di atas meja kayu, sebuah amplop putih tebal berstempel resmi dari laboratorium medis tergeletak.​Raisa menatap mantan suaminya dengan tatapan yang sulit diartikan, ada rasa iba, keprihatinan, dan kesedihan yang mendalam.​"Hasilnya sudah keluar, Mas," ucap Raisa pelan, menggeser amplop itu mendekat ke arah Kavindra.​Tangan Kavindra bergetar saat menyentuh kertas tebal tersebut. Suasana di sekitar mereka seolah mendadak hening. Kavindra menarik napas panjang, mencoba menetralkan detak jantungnya yang bergemuruh. Dengan hati-hati, ia merobek pinggiran amplop dan mengeluarkan beberapa lembar kertas laporan medis di dalamnya.​Matanya langsung tertuju pada baris tabel paling bawah, pada bagian kesimpulan ilmiah yang tertulis dengan cetak tebal:​Probabilitas Keayahan (Probability of Paternity): 0%Dengan ini disimpulkan bahwa Kavindra Syahreza DIBUKTIKAN BUKAN MERUPAKAN AYAH BIOLOGIS dari Sherly Syahreza.​Kavind

  • Sisa Cinta Mantan Suamiku    Bab 32. Mimpi Baru

    ​Makan malam berlanjut dengan tawa yang lebih ceria. Arkan terus membicarakan rencananya untuk latihan basket di hari Sabtu bersama Abimanyu, sementara Aira sibuk meminta makanan penutup berupa mochi es krim. Bagi orang luar, mereka tampak seperti keluarga yang sempurna. Bagi Raisa, ini adalah titik balik, sebuah awal dari perjalanan panjang menuju ketenangan yang selama ini ia cari.​Saat mereka keluar dari restoran, udara malam Jakarta terasa lebih bersahabat. Abimanyu menggandeng tangan Raisa, sementara Arkan dan Aira berjalan di depan dengan riang.​"Mas," panggil Raisa saat mereka sampai di parkiran.​Abimanyu menoleh. "Ya?"​"Terima kasih untuk malam ini. Ini ... adalah malam yang tidak akan aku lupakan."​Abimanyu tersenyum, senyum yang sangat menenangkan. "Iya Sa. Lagi pula masih ada banyak malam-malam indah yang menanti kita."​Raisa mengangguk. Ia tahu ia membuat keputusan yang tepat. Urusan dengan Kavindra hanyalah satu bab terakhir yang harus ia tutup sebelum ia bisa mula

  • Sisa Cinta Mantan Suamiku    Bab 31. Lamaran

    Raisa melangkah keluar rumah sakit. Di tangannya, selembar tanda terima berwarna putih terselip di dalam tasnya, sebuah dokumen yang menjadi saksi bisu atas permintaan aneh dari mantan suaminya.​"Satu minggu lagi, Mas Kavindra akan tahu jawabannya," gumam Raisa pelan pada dirinya sendiri.​Ia teringat wajah Kavindra kemarin. Wajah yang biasanya angkuh, kini tampak memelas dan penuh ketidakpastian. Ada rasa iba yang menyeruak di dada Raisa. Meski luka yang pernah ia alami karena Kavindra sangat dalam, naluri medis dan sisi kemanusiaannya tidak bisa berbohong. Bagaimanapun, Kavindra adalah ayah dari anak-anaknya.​"Ibu Raisa?" Suara seorang pria dari meja resepsionis membuyarkan lamunannya. "Proses administrasi sudah selesai. Sampel telah kami terima dan akan segera masuk ke tahap analisis DNA. Hasilnya bisa diambil tepat tujuh hari dari sekarang."​Raisa mengangguk mantap. "Terima kasih. Tolong pastikan kerahasiaannya tetap terjaga. Ini sangat sensitif."​"Tentu, Bu. Kami menjamin pr

  • Sisa Cinta Mantan Suamiku    Bab 30. Tes DNA

    Suasana rumah Nadira masih tetap sama. Mewah dan dingin. Kavindra berdiri di depan pintu utama, menatap bayangannya sendiri pada permukaan pintu kayu yang dipoles mengilap. Ia merasa seperti orang asing di rumah yang dulunya ia tinggali selama bertahun-tahun.​Seorang asisten rumah tangga membukanya. Nadira duduk di meja makan panjang, menyesap jus jeruk dengan gaun sutra hitam yang membalut tubuhnya. Sherly, putrinya, duduk di seberang meja dengan tablet di tangan, wajahnya tampak bosan.​"Vindra? Kamu datang juga?" Nadira meletakkan gelasnya. Matanya meneliti penampilan Kavindra dari ujung kaki ke ujung kepala. Kemeja murah, celana kain yang tidak disetrika sempurna, dan sepatu yang sudah terlihat lusuh. "Mau minta jatah bulanan lagi? Oh, aku lupa, kamu kan sudah melepaskan semua hakmu."​Kavindra mengabaikan sindiran itu. Ia berjalan mendekat ke arah Sherly. "Hai, Sayang."​Sherly mendongak. Matanya berbinar seketika. "Papa!" Gadis kecil itu melompat dari kursinya dan berlari meme

  • Sisa Cinta Mantan Suamiku    Bab 29

    ​"Sama sekali tidak, Sa. Mereka pintar sekali, tadi sempat makan siang bareng dan tidur siang di dalam," jawab Kavindra, berusaha menjaga suaranya agar tetap terdengar tegap dan ikhlas. Ia lalu menoleh ke arah Abimanyu. "Terima kasih sudah mengantar Raisa ke sini, Dok."​Abimanyu mengangguk sopan, tersenyum ramah tanpa ada nada merendahkan. "Sama-sama, Dokter Vindra. Kebetulan tadi saya sedang ada jadwal luang di rumah sakit, jadi sekalian menemani Raisa menjemput anak-anak."​"Om Abi tadi bawa es krim cokelat loh di mobil buat Arkan sama Aira!" timpal Aira dengan polosnya, membuat Raisa buru-buru menyentuh pundak putrinya.​"Aira, tidak sopan bicara begitu di depan Papa," tegur Raisa halus.​Kavindra hanya tersenyum getir, ia mengangguk pelan pada Aira. "Tidak apa-apa, Sayang. Bagus dong, dimakan ya es krimnya dari Om Abi."​Melihat hari yang semakin sore, Raisa kemudian menunduk dan mengusap pipi Aira. "Ayo, anak-anak, kita pamit dulu sama Papa. Kita harus pulang sekarang."​"Yah, c

  • Sisa Cinta Mantan Suamiku    Bab 21. Koki Dadakan

    Hari Minggu itu, suasana di apartemen Raisa terasa jauh lebih hidup. Sejak pukul sembilan pagi, bel pintu sudah berbunyi, di sana sosok Abimanyu yang berdiri tegap dengan senyum lebar. Di kedua tangannya, ia menjinjing kantong-kantong besar berisi bahan makanan segar.​"Selamat pagi, Dokter Raisa!"

  • Sisa Cinta Mantan Suamiku    Bab 12. Sampel

    Pagi itu, suasana di ruang kepala departemen pediatri terasa tegang. Raisa menatap tajam pria yang berdiri di depan mejanya dengan santai. ​Kavindra meletakkan sebuah brosur undangan resmi di atas meja Raisa. "Seminar Nasional Pediatri Modern: Inovasi Penanganan Penyakit Langka pada Anak".​"Aku i

  • Sisa Cinta Mantan Suamiku    Bab 11. Penolakan

    Lantai bawah RS Syahreza Medical Center pagi itu masih terasa sejuk. Kavindra yang biasanya ditakuti oleh ratusan karyawan itu kini berdiri mematung dengan dua kotak besar di tangannya. Satu kotak berisi mille-feuille cokelat premium dengan hiasan buah beri segar, dan satu lagi adalah kotak mainan

  • Sisa Cinta Mantan Suamiku    Bab 8. Tidak Tahu Alamat

    "Om cuma mau kenal sama anak hebat yang tadi berani membela Mamanya," jawab Kavindra jujur. Ia mengulurkan tangan, bermaksud mengacak rambut Arkan, tetapi Arkan menghindar dengan sopan.​"Jangan, Om. Rambutku baru dirapikan Mama tadi pagi," tolak Arkan.​Kavindra tertawa kecil, suara tawa yang jara

更多章節
探索並免費閱讀 優質小說
GoodNovel APP 免費暢讀海量優秀小說,下載喜歡的書籍,隨時隨地閱讀。
在 APP 免費閱讀書籍
掃碼在 APP 閱讀
DMCA.com Protection Status