Home / Romansa / Sisa Cinta Mantan Suamiku / Bab 3. Arkan dah Aira

Share

Bab 3. Arkan dah Aira

Author: Agniya14
last update Last Updated: 2026-01-26 15:15:54

Kavindra mengernyitkan dahi. "Apa maksudmu?"

​Raisa tidak menjawab. Ia terus berjalan keluar melewati pintu belakang, menghindari kerumunan tamu. Ia memesan taksi online menuju sebuah kamar kos kecil berukuran 3x4 meter.

​Di dalam taksi, Raisa akhirnya menangis sesenggukan. Ia meraba perutnya yang masih datar, di mana ada dua nyawa di dalamnya.

​"Maafkan Mama, Sayang," isaknya. "Papa kalian sedang merayakan kebahagiaannya dengan wanita lain di sana. Mulai hari ini, hanya ada kita. Mama akan jadi dokter hebat untuk kalian. Mama janji."

Lima tahun kemudian.

"Ma! Arkan makan sayurnya pakai tangan!" teriak Aira Maharani, bocah perempuan sambil menunjuk kembarannya.

​Arkan Pradipta hanya menyengir. "Habisnya wortelnya licin, Ma. Susah pakai sendok."

​Raisa tertawa kecil sambil mengancingkan kemeja kerjanya. "Ya sudah, habis ini cuci tangan yang bersih. Mama ada jadwal operasi kecil pagi ini di Medika Utama."

​Raisa bekerja sebagai Spesialis Anak di RS Medika Utama, sebuah rumah sakit swasta yang menjadi kompetitor berat RS Syahreza. Selama lima tahun, ia berhasil membangun nama besarnya sendiri sebagai dr. Raisa Andriana. Tidak ada yang tahu bahwa ia adalah mantan istri dari Kaivan Elvan Syahreza.

​"Ma, nanti di tempat penitipan boleh main lego?" tanya Arkan sambil menyampirkan tas punggungnya.

​"Boleh, Sayang. Asal jangan berebut dengan teman yang lain ya," jawab Raisa sambil mencium kening kedua anaknya bergantian.

*

Raisa baru saja selesai memeriksa pasien terakhirnya di RS Medika Utama ketika ponselnya bergetar di atas meja. Nama Selly muncul di layar. Selly adalah teman sesama dokter anak yang sudah ia kenal sejak masa koas.

​"Halo, Sel?"

​"Raisa! Oh God, akhirnya diangkat. Kamu sibuk? Makan siang bareng ya di kafe depan RS-mu. Ada hal darurat yang mau aku omongin. Please, jangan nolak!"

​Raisa melirik jam tangannya. "Bisa, kok. Kebetulan jadwalku baru ada lagi jam dua. Ada apa sih? Suaramu panik banget."

​"Ketemu aja dulu. Aku sudah di jalan!"

​Raisa setuju dan menemui Selly di kafe dekat rumah sakit Medika.

​Selly sudah duduk di pojok ruangan dengan wajah gelisah saat Raisa tiba. Begitu Raisa duduk, Selly langsung menggenggam tangannya.

​"Raisa, cuma kamu satu-satunya orang yang aku percaya buat gantiin posisi aku."

​Raisa mengerutkan kening. "Gantiin posisi apa? Kamu mau ke mana?"

​"Suamiku dapat promosi jabatan di London, Rai. Dan aku harus ikut minggu depan. Masalahnya, aku terikat kontrak setahun lagi di rumah sakit tempatku praktek sekarang. Pihak manajemen bilang, aku boleh pergi asalkan aku bawa pengganti yang kompetensinya setara atau lebih hebat dari aku."

​Raisa menyesap jus jeruknya pelan. "Kenapa harus aku? Kamu tahu kan aku sudah nyaman di Medika?"

​"Karena ini rumah sakit besar, Rai! Fasilitasnya lengkap, gajinya hampir dua kali lipat dari Medika, dan mereka butuh spesialis anak yang punya pengalaman menangani kasus neonatologi seperti kamu. Aku sudah kasih profilmu ke mereka, dan mereka tertarik banget!"

​Raisa mulai merasa tidak enak. "Rumah sakit mana, Sel?"

​Selly menarik napas panjang. "RS Syahreza Medical Center."

​Raisa hampir tersedak. Ia meletakkan gelasnya dengan dentingan yang agak keras.

​"Kamu kenapa? Raisa, itu rumah sakit terbaik di kota ini sekarang. Direkturnya baru ganti, katanya lulusan Jerman dan dia mau bikin departemen anak jadi yang nomor satu di Asia. Ini kesempatan emas buat kariermu!"

​"Selly, aku punya alasan pribadi yang nggak bisa aku jelasin," Raisa mencoba menolak dengan halus.

​"Rai, aku mohon." Selly menatapnya dengan mata berkaca-kaca. "Kalau aku nggak dapat pengganti, aku harus bayar penalti kontrak yang jumlahnya gila-gilaan. Belum lagi urusan visaku bisa terhambat. Kamu satu-satunya dokter anak yang aku tahu punya dedikasi setinggi itu. Kamu nggak perlu selamanya di sana, cukup selesaikan sisa kontrakku saja."

​Raisa terdiam. Pikirannya melayang ke Aira dan Arkan. Biaya sekolah mereka akan semakin mahal, dan tabungan pendidikan yang ia siapkan butuh dana lebih.

​"Rai, direkturnya sekarang profesional banget, kok. Dia nggak akan ikut campur urusan medis. Namanya kalau nggak salah dr. Kavindra Elvan Syahreza. Kamu kenal?"

​Raisa membuang muka, mencoba menyembunyikan getaran di matanya. "Hanya tahu namanya."

​"Tolong ya, Raisa? Besok ada pertemuan perkenalan buat dokter baru di sana. Datang aja dulu, lihat suasananya. Kalau kamu benar-benar nggak sreg, aku nggak akan paksa. Tapi tolong, datangi dulu undangannya."

​Raisa menghela napas panjang. Ia teringat bagaimana dulu ia terusir dari rumah itu. Sekarang, ia punya kesempatan untuk kembali bukan sebagai menantu yang dihina, tapi sebagai dokter spesialis yang dibutuhkan.

​"Oke," jawab Raisa akhirnya. "Aku akan datang ke pertemuan besok. Tapi aku nggak janji bakal ambil posisimu ya, Sel."

​"Aaaa! Terima kasih, Raisa! Kamu memang malaikat!" Selly memeluk Raisa dengan erat.

Malamnya di apartemen Raisa. Ia sedang duduk menemani putranya bermain. "Ma, kenapa wajahnya kayak habis makan lemon?" tanya Arshaka sambil menyusun lego di lantai ruang tamu.

​Raisa tersenyum, berlutut di samping putranya. "Mama cuma lagi mikir, Sayang. Besok Mama kerjaan di tempat lain. Kang sama Aira besok di daycare agak lama nggak apa-apa?"

​Aira muncul dari kamar dengan boneka kelincinya. "Nggak, Ma. Asal Mama janji jangan capek-capek. Nanti kalau Mama sakit, yang kasih kita peluk siapa?"

​Raisa memeluk kedua anaknya dengan erat. Dadanya sesak. Ia tahu, melangkah masuk ke RS Syahreza sama saja dengan masuk ke kandang singa.

Namun, demi masa depan Aira dan Arkan, ia harus membuktikan bahwa Raisa yang sekarang tidak bisa lagi dihancurkan oleh kata-kata "mandul" atau "tidak berguna".

​"Mama janji. Mama kuat karena ada kalian," bisik Raisa.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Sisa Cinta Mantan Suamiku    Bab 6. RS Syahreza

    "Itu tidak ada hubungannya dengan pekerjaan, Pak Direktur," sahut Raisa dingin.​Kavindra melangkah satu langkah lebih dekat, merendahkan suaranya agar tidak didengar tamu lain. "Jangan bercanda, Raisa. Lihat anak laki-laki ini. Aku seperti melihat cermin masa kecilku. Bagaimana mungkin anak dari pria lain bisa semirip ini denganku?"​Raisa tetap tenang, meski di dalam hatinya ia gemetar hebat. "Banyak orang di dunia ini yang memiliki kemiripan wajah, Pak Kavindra. Mungkin itu hanya kebetulan, atau mungkin Tuhan sedang ingin menegurmu lewat wajah anak saya."​"Mama, ayo pulang. Arkan udah bosan," celetuk Arkan sambil menarik ujung blazer Raisa. Suaranya yang tegas membuat Kavindra semakin terpaku.​"Kita pulang sekarang, Sayang," ucap Raisa. Ia menatap Kavindra untuk terakhir kalinya malam itu. "Permisi, Pak Direktur. Tugas saya di sini hanya hadir sebagai perkenalan. Saya harap setelah ini kita hanya bicara soal medis di rumah sakit."​Raisa berbalik dan berjalan menjauh, meninggalka

  • Sisa Cinta Mantan Suamiku    Bab 5. Siapa Mereka?

    Raisa berdiri di depan pintu kayu bertuliskan Ruang Direktur Utama RS Medika Utama. Ia menarik napas panjang, menyesuaikan letak map di pelukannya, lalu mengetuk pintu dengan mantap.​"Masuk." Suara bariton dr. Gunawan terdengar dari dalam.​Pria paruh baya itu mendongak dan tersenyum lebar saat melihat Raisa. "Ah, dr. Raisa. Silakan duduk. Ada apa? Mau membahas pengajuan alat ventilator baru untuk ruang NICU?"​Raisa duduk dengan tenang, tetapi sorot matanya menunjukkan ketetapan hati yang sulit digoyahkan. Ia meletakkan map putih itu di atas meja kerja sang Direktur. "Bukan, Dok. Saya ke sini untuk menyerahkan ini."​dr. Gunawan mengambil map tersebut, membukanya, dan seketika senyumnya memudar. Matanya membelalak menatap baris demi baris kata di surat itu. "Pengunduran diri? Dokter Raisa, kamu bercanda, kan?"​"Saya serius, Dok. Saya mengajukan resign per hari ini, dengan masa transisi satu minggu untuk serah terima pasien," jawab Raisa lembut. ​dr. Gunawan menyandarkan punggungny

  • Sisa Cinta Mantan Suamiku    Bab 4. Satu Minggu

    Pagi itu, suasana di RS Medika Utama terasa sedikit berbeda bagi Raisa. Setelah memastikan teman sejawatnya bersedia mengambil alih jadwal praktiknya, Raisa melangkah menuju fasilitas daycare rumah sakit tersebut.​"Ingat ya, Aira, Arkan, hari ini kalian main di sini dulu sama Suster Via. Mama ada urusan sebentar di tempat lain," ucap Raisa sambil berjongkok, merapikan kerah baju Arkan dan menyisipkan rambut Arunika Aira ke belakang telinga.​"Mama mau ke rumah sakit yang besar itu ya? Yang ada es krim pelanginya?" tanya Arunika polos.​Raisa tersenyum tipis, meski hatinya getir. "Mama ada pertemuan kerja, Sayang. Nanti kalau sudah selesai, Mama langsung jemput. Jangan nakal, ya?"​"Siap, Mama!" seru Arkan sambil memberi hormat ala tentara, membuat Raisa tertawa kecil di tengah kegugupannya.​Setelah berpamitan dengan teman dokternya yang menggantikan jadwalnya, Raisa menarik napas panjang. Ia mengganti jas putihnya dengan blazer formal hitamnya. Dengan langkah mantap, ia mengemudika

  • Sisa Cinta Mantan Suamiku    Bab 3. Arkan dah Aira

    Kavindra mengernyitkan dahi. "Apa maksudmu?"​Raisa tidak menjawab. Ia terus berjalan keluar melewati pintu belakang, menghindari kerumunan tamu. Ia memesan taksi online menuju sebuah kamar kos kecil berukuran 3x4 meter.​Di dalam taksi, Raisa akhirnya menangis sesenggukan. Ia meraba perutnya yang masih datar, di mana ada dua nyawa di dalamnya. ​"Maafkan Mama, Sayang," isaknya. "Papa kalian sedang merayakan kebahagiaannya dengan wanita lain di sana. Mulai hari ini, hanya ada kita. Mama akan jadi dokter hebat untuk kalian. Mama janji."Lima tahun kemudian. "Ma! Arkan makan sayurnya pakai tangan!" teriak Aira Maharani, bocah perempuan sambil menunjuk kembarannya.​Arkan Pradipta hanya menyengir. "Habisnya wortelnya licin, Ma. Susah pakai sendok."​Raisa tertawa kecil sambil mengancingkan kemeja kerjanya. "Ya sudah, habis ini cuci tangan yang bersih. Mama ada jadwal operasi kecil pagi ini di Medika Utama."​Raisa bekerja sebagai Spesialis Anak di RS Medika Utama, sebuah rumah sakit swa

  • Sisa Cinta Mantan Suamiku    Bab 2. Jangan Cari Aku Lagi

    Raisa duduk di tepi tempat tidur, menggenggam test pack. Di luar, suara tawa sinis Ibu Sofia dan suara rendah Kavindra masih terdengar. ​Tak lama kamar terbuka. Kavindra masuk dengan wajah tanpa dosa. Ia mulai melonggarkan dasinya, bahkan tidak menatap Raisa yang matanya sembap.​"Berhenti menangis, Raisa. Kamu tuh berlebihan," ucap Kavindra datar. "Ibu lagi emosi. Kamu tahu sendiri bagaimana beliau sangat menginginkan cucu."​Raisa mendongak, menatap punggung suaminya dengan tatapan dingin. "Berlebihan? Dia menyebutku mandul, Vindra. Dia menyebutku investasi gagal di depan matamu. Dan kamu cuma diam sambil main ponsel?"​Kavindra berbalik, menatap Raisa dengan kening berkerut. "Lalu aku harus apa? Membentak ibuku sendiri demi kamu? Aku sudah bilang, kalau kamu merasa tersinggung, buktikan dengan kehamilanmu. Tapi kenyataannya? Kamu lebih sering tidur di bangsal rumah sakit daripada tidur denganku di kamar ini."​Raisa berdiri, memasukkan test pack itu jauh ke dalam laci meja riasnya

  • Sisa Cinta Mantan Suamiku    Bab 1. Wanita Mandul

    "Kapan kamu mau ngasih Ibu cucu, Raisa? Tiga tahun kalian menikah dan rumah ini masih sepi kayak kuburan. Nggak ada suara tangis bayi di rumah ini."​Wajah Raisa memucat. "Bu, Raisa sedang berjuang menyelesaikan residen spesialis anak. Jadwal jaga Raisa sangat padat, dan kami juga sedang berusaha—"​"Berusaha? Tiga tahun, Raisa. Jangan-jangan memang kamu yang mandul?" potong Sofia tanpa belas kasihan. "Keluarga Syahreza itu butuh pewaris untuk mewarisi semua harta keluarga kami. Kavindra adalah putra tunggal. Kalau kamu tidak bisa memberikan anak, apa gunanya kamu di keluarga ini?"​"Ibu, tolong. Jangan mulai lagi." Kavindra akhirnya bersuara, tetapi nadanya datar. Tidak membela Raisa. ​"Jangan mulai lagi? Vindra, lihat istrimu! Dia terlalu sibuk mengurusi anak orang lain di rumah sakit sampai lupa dengan dirinya sendiri!" Sofia menggebrak meja ringan. "Ibu sudah konsultasi dengan dr. Hanum, spesialis kesuburan. Dia bilang di usia pernikahan kalian sekarang, kalau belum ada tanda-tan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status