เข้าสู่ระบบKavindra mengernyitkan dahi. "Apa maksudmu?"
Raisa tidak menjawab. Ia terus berjalan keluar melewati pintu belakang, menghindari kerumunan tamu. Ia memesan taksi online menuju sebuah kamar kos kecil berukuran 3x4 meter. Di dalam taksi, Raisa akhirnya menangis sesenggukan. Ia meraba perutnya yang masih datar, di mana ada dua nyawa di dalamnya. "Maafkan Mama, Sayang," isaknya. "Papa kalian sedang merayakan kebahagiaannya dengan wanita lain di sana. Mulai hari ini, hanya ada kita. Mama akan jadi dokter hebat untuk kalian. Mama janji." Lima tahun kemudian. "Ma! Arkan makan sayurnya pakai tangan!" teriak Aira Maharani, bocah perempuan sambil menunjuk kembarannya. Arkan Pradipta hanya menyengir. "Habisnya wortelnya licin, Ma. Susah pakai sendok." Raisa tertawa kecil sambil mengancingkan kemeja kerjanya. "Ya sudah, habis ini cuci tangan yang bersih. Mama ada jadwal operasi kecil pagi ini di Medika Utama." Raisa bekerja sebagai Spesialis Anak di RS Medika Utama, sebuah rumah sakit swasta yang menjadi kompetitor berat RS Syahreza. Selama lima tahun, ia berhasil membangun nama besarnya sendiri sebagai dr. Raisa Andriana. Tidak ada yang tahu bahwa ia adalah mantan istri dari Kaivan Elvan Syahreza. "Ma, nanti di tempat penitipan boleh main lego?" tanya Arkan sambil menyampirkan tas punggungnya. "Boleh, Sayang. Asal jangan berebut dengan teman yang lain ya," jawab Raisa sambil mencium kening kedua anaknya bergantian. * Raisa baru saja selesai memeriksa pasien terakhirnya di RS Medika Utama ketika ponselnya bergetar di atas meja. Nama Selly muncul di layar. Selly adalah teman sesama dokter anak yang sudah ia kenal sejak masa koas. "Halo, Sel?" "Raisa! Oh God, akhirnya diangkat. Kamu sibuk? Makan siang bareng ya di kafe depan RS-mu. Ada hal darurat yang mau aku omongin. Please, jangan nolak!" Raisa melirik jam tangannya. "Bisa, kok. Kebetulan jadwalku baru ada lagi jam dua. Ada apa sih? Suaramu panik banget." "Ketemu aja dulu. Aku sudah di jalan!" Raisa setuju dan menemui Selly di kafe dekat rumah sakit Medika. Selly sudah duduk di pojok ruangan dengan wajah gelisah saat Raisa tiba. Begitu Raisa duduk, Selly langsung menggenggam tangannya. "Raisa, cuma kamu satu-satunya orang yang aku percaya buat gantiin posisi aku." Raisa mengerutkan kening. "Gantiin posisi apa? Kamu mau ke mana?" "Suamiku dapat promosi jabatan di London, Rai. Dan aku harus ikut minggu depan. Masalahnya, aku terikat kontrak setahun lagi di rumah sakit tempatku praktek sekarang. Pihak manajemen bilang, aku boleh pergi asalkan aku bawa pengganti yang kompetensinya setara atau lebih hebat dari aku." Raisa menyesap jus jeruknya pelan. "Kenapa harus aku? Kamu tahu kan aku sudah nyaman di Medika?" "Karena ini rumah sakit besar, Rai! Fasilitasnya lengkap, gajinya hampir dua kali lipat dari Medika, dan mereka butuh spesialis anak yang punya pengalaman menangani kasus neonatologi seperti kamu. Aku sudah kasih profilmu ke mereka, dan mereka tertarik banget!" Raisa mulai merasa tidak enak. "Rumah sakit mana, Sel?" Selly menarik napas panjang. "RS Syahreza Medical Center." Raisa hampir tersedak. Ia meletakkan gelasnya dengan dentingan yang agak keras. "Kamu kenapa? Raisa, itu rumah sakit terbaik di kota ini sekarang. Direkturnya baru ganti, katanya lulusan Jerman dan dia mau bikin departemen anak jadi yang nomor satu di Asia. Ini kesempatan emas buat kariermu!" "Selly, aku punya alasan pribadi yang nggak bisa aku jelasin," Raisa mencoba menolak dengan halus. "Rai, aku mohon." Selly menatapnya dengan mata berkaca-kaca. "Kalau aku nggak dapat pengganti, aku harus bayar penalti kontrak yang jumlahnya gila-gilaan. Belum lagi urusan visaku bisa terhambat. Kamu satu-satunya dokter anak yang aku tahu punya dedikasi setinggi itu. Kamu nggak perlu selamanya di sana, cukup selesaikan sisa kontrakku saja." Raisa terdiam. Pikirannya melayang ke Aira dan Arkan. Biaya sekolah mereka akan semakin mahal, dan tabungan pendidikan yang ia siapkan butuh dana lebih. "Rai, direkturnya sekarang profesional banget, kok. Dia nggak akan ikut campur urusan medis. Namanya kalau nggak salah dr. Kavindra Elvan Syahreza. Kamu kenal?" Raisa membuang muka, mencoba menyembunyikan getaran di matanya. "Hanya tahu namanya." "Tolong ya, Raisa? Besok ada pertemuan perkenalan buat dokter baru di sana. Datang aja dulu, lihat suasananya. Kalau kamu benar-benar nggak sreg, aku nggak akan paksa. Tapi tolong, datangi dulu undangannya." Raisa menghela napas panjang. Ia teringat bagaimana dulu ia terusir dari rumah itu. Sekarang, ia punya kesempatan untuk kembali bukan sebagai menantu yang dihina, tapi sebagai dokter spesialis yang dibutuhkan. "Oke," jawab Raisa akhirnya. "Aku akan datang ke pertemuan besok. Tapi aku nggak janji bakal ambil posisimu ya, Sel." "Aaaa! Terima kasih, Raisa! Kamu memang malaikat!" Selly memeluk Raisa dengan erat. Malamnya di apartemen Raisa. Ia sedang duduk menemani putranya bermain. "Ma, kenapa wajahnya kayak habis makan lemon?" tanya Arshaka sambil menyusun lego di lantai ruang tamu. Raisa tersenyum, berlutut di samping putranya. "Mama cuma lagi mikir, Sayang. Besok Mama kerjaan di tempat lain. Kang sama Aira besok di daycare agak lama nggak apa-apa?" Aira muncul dari kamar dengan boneka kelincinya. "Nggak, Ma. Asal Mama janji jangan capek-capek. Nanti kalau Mama sakit, yang kasih kita peluk siapa?" Raisa memeluk kedua anaknya dengan erat. Dadanya sesak. Ia tahu, melangkah masuk ke RS Syahreza sama saja dengan masuk ke kandang singa. Namun, demi masa depan Aira dan Arkan, ia harus membuktikan bahwa Raisa yang sekarang tidak bisa lagi dihancurkan oleh kata-kata "mandul" atau "tidak berguna". "Mama janji. Mama kuat karena ada kalian," bisik Raisa.Setelah menghancurkan kebohongan Nadira, kini ada satu benteng kepalsuan lagi yang harus ia runtuhkan, ibunya sendiri, Sofia. Wanita yang selama ini menjadi dalang utama di balik dalih "demi nama baik keluarga", yang rela mengorbankan kebahagiaan dan nurani anak kandungnya demi kekuasaan dan bursa saham.Kavindra melangkah masuk dengan langkah yang mantap. Satpam penjaga gerbang yang mengenali mantan tuan mudanya buru-buru membukakan pintu tanpa berani bertanya.Kavindra menerobos masuk ke dalam rumah. Suasana rumah hening. "Vindra?" Sofia menoleh, sedikit terkejut melihat putranya berdiri di ambang pintu. Namun dalam hitungan detik, raut wajahnya kembali mengeras, penuh keangkuhan seperti biasa. "Bagaimana? Sudah puas jadi orang miskin di gang kumuh itu? Mama sudah dengar kamu datang mengamuk di rumah Nadira. Kamu benar-benar mempermalukan nama Syahreza!"Kavindra berjalan mendekat. Setiap langkah kakinya menggema di ruangan yang luas itu. Wajahnya tidak lagi memancarkan rasa ta
Di sebuah kafe kecil yang tenang, Raisa duduk berhadapan dengan Kavindra. Di atas meja kayu, sebuah amplop putih tebal berstempel resmi dari laboratorium medis tergeletak.Raisa menatap mantan suaminya dengan tatapan yang sulit diartikan, ada rasa iba, keprihatinan, dan kesedihan yang mendalam."Hasilnya sudah keluar, Mas," ucap Raisa pelan, menggeser amplop itu mendekat ke arah Kavindra.Tangan Kavindra bergetar saat menyentuh kertas tebal tersebut. Suasana di sekitar mereka seolah mendadak hening. Kavindra menarik napas panjang, mencoba menetralkan detak jantungnya yang bergemuruh. Dengan hati-hati, ia merobek pinggiran amplop dan mengeluarkan beberapa lembar kertas laporan medis di dalamnya.Matanya langsung tertuju pada baris tabel paling bawah, pada bagian kesimpulan ilmiah yang tertulis dengan cetak tebal:Probabilitas Keayahan (Probability of Paternity): 0%Dengan ini disimpulkan bahwa Kavindra Syahreza DIBUKTIKAN BUKAN MERUPAKAN AYAH BIOLOGIS dari Sherly Syahreza.Kavind
Makan malam berlanjut dengan tawa yang lebih ceria. Arkan terus membicarakan rencananya untuk latihan basket di hari Sabtu bersama Abimanyu, sementara Aira sibuk meminta makanan penutup berupa mochi es krim. Bagi orang luar, mereka tampak seperti keluarga yang sempurna. Bagi Raisa, ini adalah titik balik, sebuah awal dari perjalanan panjang menuju ketenangan yang selama ini ia cari.Saat mereka keluar dari restoran, udara malam Jakarta terasa lebih bersahabat. Abimanyu menggandeng tangan Raisa, sementara Arkan dan Aira berjalan di depan dengan riang."Mas," panggil Raisa saat mereka sampai di parkiran.Abimanyu menoleh. "Ya?""Terima kasih untuk malam ini. Ini ... adalah malam yang tidak akan aku lupakan."Abimanyu tersenyum, senyum yang sangat menenangkan. "Iya Sa. Lagi pula masih ada banyak malam-malam indah yang menanti kita."Raisa mengangguk. Ia tahu ia membuat keputusan yang tepat. Urusan dengan Kavindra hanyalah satu bab terakhir yang harus ia tutup sebelum ia bisa mula
Raisa melangkah keluar rumah sakit. Di tangannya, selembar tanda terima berwarna putih terselip di dalam tasnya, sebuah dokumen yang menjadi saksi bisu atas permintaan aneh dari mantan suaminya."Satu minggu lagi, Mas Kavindra akan tahu jawabannya," gumam Raisa pelan pada dirinya sendiri.Ia teringat wajah Kavindra kemarin. Wajah yang biasanya angkuh, kini tampak memelas dan penuh ketidakpastian. Ada rasa iba yang menyeruak di dada Raisa. Meski luka yang pernah ia alami karena Kavindra sangat dalam, naluri medis dan sisi kemanusiaannya tidak bisa berbohong. Bagaimanapun, Kavindra adalah ayah dari anak-anaknya."Ibu Raisa?" Suara seorang pria dari meja resepsionis membuyarkan lamunannya. "Proses administrasi sudah selesai. Sampel telah kami terima dan akan segera masuk ke tahap analisis DNA. Hasilnya bisa diambil tepat tujuh hari dari sekarang."Raisa mengangguk mantap. "Terima kasih. Tolong pastikan kerahasiaannya tetap terjaga. Ini sangat sensitif.""Tentu, Bu. Kami menjamin pr
Suasana rumah Nadira masih tetap sama. Mewah dan dingin. Kavindra berdiri di depan pintu utama, menatap bayangannya sendiri pada permukaan pintu kayu yang dipoles mengilap. Ia merasa seperti orang asing di rumah yang dulunya ia tinggali selama bertahun-tahun.Seorang asisten rumah tangga membukanya. Nadira duduk di meja makan panjang, menyesap jus jeruk dengan gaun sutra hitam yang membalut tubuhnya. Sherly, putrinya, duduk di seberang meja dengan tablet di tangan, wajahnya tampak bosan."Vindra? Kamu datang juga?" Nadira meletakkan gelasnya. Matanya meneliti penampilan Kavindra dari ujung kaki ke ujung kepala. Kemeja murah, celana kain yang tidak disetrika sempurna, dan sepatu yang sudah terlihat lusuh. "Mau minta jatah bulanan lagi? Oh, aku lupa, kamu kan sudah melepaskan semua hakmu."Kavindra mengabaikan sindiran itu. Ia berjalan mendekat ke arah Sherly. "Hai, Sayang."Sherly mendongak. Matanya berbinar seketika. "Papa!" Gadis kecil itu melompat dari kursinya dan berlari meme
"Sama sekali tidak, Sa. Mereka pintar sekali, tadi sempat makan siang bareng dan tidur siang di dalam," jawab Kavindra, berusaha menjaga suaranya agar tetap terdengar tegap dan ikhlas. Ia lalu menoleh ke arah Abimanyu. "Terima kasih sudah mengantar Raisa ke sini, Dok."Abimanyu mengangguk sopan, tersenyum ramah tanpa ada nada merendahkan. "Sama-sama, Dokter Vindra. Kebetulan tadi saya sedang ada jadwal luang di rumah sakit, jadi sekalian menemani Raisa menjemput anak-anak.""Om Abi tadi bawa es krim cokelat loh di mobil buat Arkan sama Aira!" timpal Aira dengan polosnya, membuat Raisa buru-buru menyentuh pundak putrinya."Aira, tidak sopan bicara begitu di depan Papa," tegur Raisa halus.Kavindra hanya tersenyum getir, ia mengangguk pelan pada Aira. "Tidak apa-apa, Sayang. Bagus dong, dimakan ya es krimnya dari Om Abi."Melihat hari yang semakin sore, Raisa kemudian menunduk dan mengusap pipi Aira. "Ayo, anak-anak, kita pamit dulu sama Papa. Kita harus pulang sekarang.""Yah, c
"Itu tidak ada hubungannya dengan pekerjaan, Pak Direktur," sahut Raisa dingin.Kavindra melangkah satu langkah lebih dekat, merendahkan suaranya agar tidak didengar tamu lain. "Jangan bercanda, Raisa. Lihat anak laki-laki ini. Aku seperti melihat cermin masa kecilku. Bagaimana mungkin anak dari p
Raisa berdiri di depan pintu kayu bertuliskan Ruang Direktur Utama RS Medika Utama. Ia menarik napas panjang, menyesuaikan letak map di pelukannya, lalu mengetuk pintu dengan mantap."Masuk." Suara bariton dr. Gunawan terdengar dari dalam.Pria paruh baya itu mendongak dan tersenyum lebar saat me
Pagi itu, suasana di RS Medika Utama terasa sedikit berbeda bagi Raisa. Setelah memastikan teman sejawatnya bersedia mengambil alih jadwal praktiknya, Raisa melangkah menuju fasilitas daycare rumah sakit tersebut."Ingat ya, Aira, Arkan, hari ini kalian main di sini dulu sama Suster Via. Mama ada
Raisa duduk di tepi tempat tidur, menggenggam test pack. Di luar, suara tawa sinis Ibu Sofia dan suara rendah Kavindra masih terdengar. Tak lama kamar terbuka. Kavindra masuk dengan wajah tanpa dosa. Ia mulai melonggarkan dasinya, bahkan tidak menatap Raisa yang matanya sembap."Berhenti menangi







